Friday, June 13, 2014

Dilema Blog Parenting dan Keluarga

Blog parenting adalah salah satu tema yang paling dicari. Itu sebabnya blogger perempuan tumbuh pesat karena parenting dekat dengan keseharian mereka. Yang sudah punya anak tentu lebih mudah lagi. Dalam 24 jam saja banyak yang bisa diceritakan. Berbeda dengan blog curhatan lainnya, curhatan parenting sangat menarik bagi para orangtua karena menjadi orangtua adalah pelajaran seumur hidup. Kampusnya di kehidupan sehari-hari. Dosennya anak sendiri. Sedangkan dosen tamunya adalah orangtua lain dengan pengalaman sama. Maka dari itu, curhatan parenting tidak pernah masuk kategori lebay dalam pergaulan sosial. Nyaris tak ada yang sia-sia membicarakan soal parenting.


Tapi ada dilema yang sejak dulu menghantui blog parenting dan kemudian juga blog keluarga, yaitu keamanan. Isu yang paling menjadi perhatian akhir-akhir ini adalah tentang pedofilia. Sesungguhnya, selain soal pedofilia, masih ada tentang penculikan, penipuan, bahkan perampokan. Akhir kisah perampokan pun tak kalah ngerinya, karena ada perkosaan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Ini cerita diserem-seremin ya? Iya, karena kejahatan adalah sesuatu yang tidak bisa kontrol sama sekali.


Kasus terkecil saja, yaitu penipuan, inipun bukan white collar crime yang njlimet. Misalnya saja penipuan yang sudah sering terjadi berupa telepon palsu untuk meminta sejumlah uang. Katakanlah si anak kuliah di lain kota, si penelpon bisa saja berpura-pura sebagai ibu kosnya atau malah polisi, mengabarkan kecelakaan pada orangtua si anak tersebut. Orangtua yang panik akan melakukan apapun juga yang dia pikir akan menyelamatkan anaknya. Begitupun ibu-ibu yang sedang galau atau malah sudah single parent, yang terbuka dengan statusnya di internet. Laki-laki yang tidak baik bisa saja melihat peluang.


Informasi mengenai jumlah keluarga, wajah, kegiatan rutin, lokasi, status dan sebagainya di blog adalah informasi privat yang kita sebar ke khalayak yang tak kita ketahui maksud dan tujuannya. Begitu pula ketika kita mengisi data diri di kolom komentar blog yang terbuka, misalnya untuk keperluan mendaftar lomba. Sekarang ada aplikasi yang mampu mengidentifikasi pemilik nomor telepon. Aplikasi ini menghimpun data yang tersebar bebas di internet. Pemerintah Amerika juga melarang mobil-mobil keluarga menempelkan stiker keluarga yang sedang trend disana karena memberi petunjuk gratis tentang jumlah keluarga pada para penjahat.


Apakah kita perlu se-paranoid itu? Bukankah banyak acara reality show yang malah menyiarkan kegiatan dalam rumah? Menurut saya, kita memang tidak perlu paranoid karena gerak kita jadi terbatas. Tapi kita sangat perlu untuk berhati-hati, mengerti mana batas yang bisa kita bagi ke orang lain atau tidak. Saya sudah mendapat pelajaran pahit soal ini. Reality show seperti di luar negeri itu aman saja dilakukan karena mereka selebriti kaya yang mampu menggaji bodyguard. Tapi orang awam seperti kita, yang kadang sudah menjadi korban saja tidak bisa berbuat apa-apa, sebaiknya mengekang banyak informasi privat.


Masalahnya, apalah arti blog parenting atau keluarga tanpa foto seluruh anggota keluarga yang hangat dan kisah suka dukanya yang dekat dengan keseharian kita? Nah, teman-teman bisa bantu?

6 comments:

  1. aku juga bingung mbak, masih pingin ngeblog tapi kalau tanpa foto kok rasanya gimana gitu ya

    ReplyDelete
  2. Aku mulai mengurangi foto2 pribadi Mak, paling foto2 yg ngga ada penampakan wajahnya.
    Aku juga ngga pakai nama asli di dunia maya, jadi kalau ada yang menyebut "dey", udah mulai curiga, pasti orang2 yg mengenalku lewat dunia maya.

    ReplyDelete
  3. kalau aku siasati foto2 keluarga diganti dengan ilustrasi, atau mungkin diblur wajahnya.
    Aku udah sepakat sama suami untuk gak pajang foto anakku, meski sempet dipajang, wekeke.

    ReplyDelete
  4. bener maak..aku juga merasakan hal yang sama...tapi masiiih aja memajang foto anak2 hiiks...apalagi kelaurga besar selalu kontak via socmed...balada LDR hehehehe..bismillah aja mak...moga2 all good..

    ReplyDelete
  5. iya, harus ati2, mak. apalagi jaman sekarang kita ga tau hati orang ya. aku jadi inget kisah temen yang kemalingan karena tahu suaminya pergi ke luar kota lama. memang harus ada batasannya apa yang dishare ya, mak.

    ReplyDelete
  6. waaaah... ngeri juga jadinya ya Mak.. kalau ternyata blog kita kemudian menjadi pintu masuk kejahatan. Nauzhubillahi mindzalik

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.