Sunday, August 24, 2014

Workshop Rinding di Yogyakarta Gamelan Festival

Amphitheatre Taman Budaya Yogyakarta (TBY)
Ini adalah salah satu event yang mbrudul di Jogja. Kabarnya semalam sangat meriah karena ada kolaborasi antara gamelan dan group band Letto. Sayangnya acara-acara Yogyakarta Gamelan Festival 2014 selalu digelar malam. Tidak mudah bagi saya untuk keluar rumah setelah maghrib. Ketika melihat twitter akun-akun Jogja, sepintas saya melihat ada workshop gratis, bagian dari event ini, yang diselenggarakan pada siang hari. Saya langsung capcuss berangkat. Setelah tiga kali berputar (karena satu lokasi dengan Pasar Kangen Jogja), akhirnya dapat parkir juga. Tadinya saya mengira workshopnya adalah latihan gending. Setelah dibagikan materi workshop jadi bingung karena asing dengan alat musik ini.

Mbak bule sedang bertanya tentang detil pembuatan rinding.
Pada dasarnya, Rinding Gumbeng adalah alat musik yang berasal dari bambu. Satu group rinding memainkan alat rinding, kecrek, gumbeng, gong dan kendang. Rinding dan kendang terbuat dari bambu petung, sementara lainnya dari bambu wulung. Namun dalam workshop ini hanya dicontohkan rinding saja. Rinding ini cukup kecil, tinggal dimasukkan ke saku. Cara memainkannya adalah dengan mulut. Heheheee.... Sementara alat lain lebih besar dan akan dimainkan bersamaan pada pagelaran malam harinya. Sayang saya tidak bisa datang, padahal panitia menyiapkan rinding gratis bagi peserta workshop. Saya dengar penampilan Rinding Gumbeng Nguri Seni dalam group besar malam ini sangat sukses.

Rinding ini berasal dari Dusun Duren di kawasan desa wisata Wonosadi, Gunung Kidul. Alat musik ini dimainkan untuk mengarak hasil panen pertama atau Mboyong Dewi Sri dan setelah sadranan (sebelum bersih dusun). Ia merupakan simbol rasa syukur atas panen yang berlimpah. Saat ini kendalanya adalah panen padi sudah tidak dipetik lagi menggunakan ani-ani, melainkan langsung dibabat menggunakan traktor.

Mbak Sri dan pak Supat, para penerus Rinding Gumbeng.
Dalam acara itu terdapat anak muda dari Jawa Barat yang membawa karinding. Setelah didiskusikan, ternyata bentuk dan bunyi karinding hampir sama dengan rinding. Hanya saja, karinding punya beberapa ukuran dengan nada yang berbeda, sedangkan rinding hanya punya satu suara dengan volume kecil dan besar. Mengapa bisa mirip? Entahlah, itu tugas kalian yang berminat di musik tradisional untuk mempelajarinya.

Anak muda itu memberi sedikit kesegaran pada musik tradisional sementara mbak Sri (Rinding Gumbeng) menyatakan sedang mencari cara yang pas untuk regenerasi. Anak muda itu menginformasikan bahwa karinding sudah berkolaborasi dengan alat musik lain bahkan dicoba masuk ke aliran metal. Sementara rinding diminta untuk mempertahankan nilai tradisinya oleh Dinas Pariwisata sehingga hanya berkolaborasi dalam batas tertentu.
Membandingkan dengan karinding dari Sunda.
Di akhir workshop kelompok Rinding Gumbeng dan anak muda tadi melakukan jam session (genjotan). Awesome! Really! Namanya seniman itu tidak tua, tidak muda, tidak tradisional, tidak modern, begitu ketemu langsung bisa membuat komposisi tanpa latihan. Penutupan yang mengagumkan. Eh masih ada acara lain ding, yaitu makan snack sambil ngobrol bebas. :D

4 comments:

  1. Rinding? Hmm jadi penasaran melihat bentuk aslinya. siapa tahu di daerahku di Sumatera ternyata ada alat musik kerabat Si Rinding ini ;)

    ReplyDelete
  2. Waah, ketinggalan info. Saya ngefans banget sama letto :(

    ReplyDelete
  3. saya juga kadang suka terheran2 sama para seniman. Kayaknya begitu mereka ngumpul suka langsung 'klik'. Padahal belom latihan sebelumnya :)

    ReplyDelete
  4. huaaa ada Letto , udah lama gak lihat di tv

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.