Thursday, September 11, 2014

Jatuh Bangun Ferry Yuliana - Gendhis Bags

Sebenarnya saya datang ke Seminar Wirausaha Perempuan Berdaya Saing Tinggi untuk memberi support pada Carolina Ratri (Carra) yang baru saja menerbitkan bukunya, dimana saya menjadi salah satu narasumbernya. Lagipula saya lihat seminar ini sangat cocok dengan kegiatan yang saya jalani bersama Ladaka Handicraft. Di seminar tersebut Carra menjadi pembicara ketiga, sementara pembicara pertama dan kedua adalah seorang pengusaha perempuan yang sangat tangguh, Ferry Yuliana, pemilik Gendhis Bags, dan Herlina P Dewi, pemilik Stilleto Book.
Ferry Yuliana (kiri) dan Lulu (MC)

Nama Ferry dan Gendhis Bags sudah lama saya dengar. Maklumlah, meski pengusaha kerajinan sangat banyak di Jogja, tapi yang fenomenal hanya ada beberapa, sehingga mudah terdengar diantara komunitas pengusaha kerajinan. Saat ini Gendhis Bags sudah mendunia, tidak sekedar mengekspor, tapi juga punya outlet di Amerika. Pencapaian ini luar biasa, mengingat produk Indonesia sulit menembus pasar luar negeri dengan brand sendiri. Seringnya, pengusaha kerajinan Indonesia hanya menjadi pemasok brand-brand terkenal dunia, seperti H&M dan Ikea.

Sessi mbak Ferry ini sangat mengesankan karena beliau tidak mengumbar tips sukses seperti kebanyakan pembicara seminar wirausaha. Tanpa menggunakan makalah apapun, mbak Ferry mempesona peserta seminar dengan kisah jatuh bangunnya selama menjadi pemilik Gendhis Bags. Beliau tak memungkiri kadang lalai, kadang terlalu maruk dan sebagainya. Baginya, semua itu adalah pelajaran berharga untuk selalu rendah hati dan ikhlas. Kiat usaha beliau hanya satu: selalu berinteraksi dengan Tuhan.

Begitu tingginya keyakinan mbak Ferry pada Tuhan didasarkan pada pengalaman pahitnya bahwa sebaik apapun suatu usaha bisa habis begitu saja dalam sekejap. Diceritakannya, pada tahun 2010 ketika sedang berjaya, tiba-tiba orang kepercayaannya keluar, membawa serta seluruh kemampuan berproduksi berikut para pelanggannya. Tidak hanya itu, brand yang sudah dijaganya selama sepuluh tahun tiba-tiba membanjiri pasar Beringharjo dengan harga yang sangat murah. Tentu saja karena yang dipasar adalah tiruan, tidak ada penghargaan terhadap karya penciptanya. Seketika mbak Ferry dan keluarga benar-benar jatuh hingga ketitik nol. Mbak Ferry menangis terus-menerus selama seminggu.

Mbak Ferry juga bercerita suka dukanya sebagai eksportir. Meski saya sudah lama tahu (saya dulu bekerja di eksportir) susahnya melayani buyer yang kadang memang nakal dan mempersulit, tapi tak banyak pengusaha yang mau mengakuinya di seminar-seminar atau secara publik. Mereka menjaga image sebagai perusahaan yang sukses mengekspor, meski di kalangan terbatas sudah sama-sama tahu bahwa perusahaan tersebut baru saja terkena klaim. Tapi mbak Ferry tidak demikian. Saya salut beliau mau bercerita apa adanya tentang klaim hingga satu kontainer dari buyer dan sebagainya.

Tentu saja yang ajaib adalah mbak Ferry masih bertahan dan berdiri didepan seminar tersebut untuk bercerita. Pengusaha memang seperti itu, selalu punya akal untuk bangkit lagi.

Pada sessi tanya jawab, saya bertanya apa yang perlu diperhatikan ketika membuat gallery atau representative untuk pertama kalinya. Seperti diketahui Ladaka Handicraft berjualan secara online dan sesekali ikut pameran. Pelanggan yang kebanyakan di Jakarta seringkali ingin mampir ke Ladaka di Jogja. Mbak Ferry menyarankan untuk tidak keluar modal terlalu banyak dulu, malah menganjurkan memanfaatkan ruang tamu rumah, bahkan garasi. Yang terpenting, dimanapun itu, display tidak boleh main-main, harus the best we can do. Mbak Ferry mengawali usahanya dari door to door, online, membuka gallery di ruang tamu, menyewa dan akhirnya sekarang punya workshop dan outlet dimana-mana. Display penting sekali karena akan membuat produk yang kita pajang tampak mewah dan istimewa.

Kepada para pemula, yang masih mencari-cari produk yang pas, beliau menyarankan untuk memanfaatkan teman. Kalau selama ini kita sering memanfaatkan teman untuk kita jadikan konsumen, tidak demikian dengan konsep teman mbak Ferry. Beliau memanfaatkan teman sebagai semacam tes pasar. Jika 8 dari 10 teman mengatakan uji coba tasnya bagus, beliau akan memproduksinya secara massal. Jika hanya 3 yang mengatakan bagus, maka produk itu tidak dilanjutkan.

Dalam menghadapi persaingan yang makin hari makin kejam karena banyaknya orang yang ingin enak tapi tidak mau susah payah berkreasi, beliau menasehatkan untuk selalu melihat dari sisi positifnya dan mengafirmasi diri dengan hal-hal positif pula. Contohnya ketika beliau ditikung oleh kompetitor di sebuah pameran sehingga menjual dengan produk yang nyaris sama tapi dengan lokasi yang kalah strategis, beliau malah mengajak para karyawannya untuk tetap tersenyum dan ikut bersyukur karena produk kompetitor tersebut laku. Aura positif yang ditularkannya tersebut (meskipun dalam hati sangat gemas) membuat suasana booth menyenangkan dan lambat laun menarik pengunjung.

Sebagai pemilik usaha, kita juga harus percaya diri dengan produk kita. Mbak Ferry tak gentar ketika produknya dianggap mahal sementara banyak yang sejenis tapi lebih murah. Mbak Ferry membekali produknya dengan sertifikat yang menjelaskan proses pembuatan hingga nama penganyamnya. Jika tidak ada sertifikat tersebut, maka dapat dipastikan konsumen sudah membeli Gendhis Bag KW. Mungkin Gendhis Bags adalah satu-satunya produk dalam negeri yang memiliki grade KW dipasaran. Brand dalam negeri lain tentusaja banyak juga yang dijiplak tapi tidak mengeluarkan sertifikat otentifikasi seperti Gendhis Bags.

Pada akhirnya, apapun usaha kita, kita harus benar-benar mencintai proses berkreasinya, sehingga apapun yang terjadi, termasuk ketika sedang terpuruk, kita punya keinginan untuk bangkit lagi.


Jatuh bangun aku mengejarmu.....

14 comments:

  1. Nice share, Mak. TFS, jadi dpt ilmu yg berharga banget ini. Sdg merintis bisnis online, jatuh bangun luar biasa ini, Mak.

    ReplyDelete
  2. dapet suntikan semangat nih Mak.. dari Mak Lusi juga dari Mbak Ferry.. keren..

    ReplyDelete
  3. Ayo ke gendhis, penasaran sama produk ini, belum pernah lihat soalnya.

    ReplyDelete
  4. sambil memikirkan usaha apa ya yang mau aku jalani mbak

    ReplyDelete
  5. Semakin besar yang di dapat, semakin besar pula resikonya ya mbak

    ReplyDelete
  6. Tips nya bagus banget mba untuk calon pengsusaha saperti aku (aammiin hehe). Barangnya udah di KW, berarti barang bagus tuh mak :D

    ReplyDelete
  7. yang saya suka dari gendhis bags itu model dan bahannya yang ethis tapi modern

    ReplyDelete
  8. Gendhis ini terkenal banget, walaupun harganya mahal tapi tetep punya pasar sendiri. Pengen beli deh ntar kalo mampir ke Jogja ^^

    ReplyDelete
  9. Mak,...pengen nih tasnya ^_^
    Udah diniatkan kalo ke jogja mau melipir ke sana tp kok ya gak kesampaian trus ya hiksss...

    ReplyDelete
  10. wow,keren ya mak...makasih sharingnya,buat bekal kl buka usaha hehe

    ReplyDelete
  11. Mba Ferry patut ditiru nih... kapan ya aq bisa punya outlet BC Collection... selama ini cuma jualan online :)

    ReplyDelete
  12. Wah keren nih, jatuh bangun tapi akhirnya sukses. Btw mak Lus yg pakai baju putih kerudung biru ya? *fotonya kecil2 nggak lkiatan. Meski salah kostum tetap seksi kok #eh :)

    ReplyDelete
  13. Inspiratif gak cuma buat pengusaha tapi buat kita2 untuk menjadi wanita yang tangguh menghadapi apapun ya Mak..

    ReplyDelete
  14. Pas ke beringharjo lihat ada Gendhis, seorang teman langsung beli saja dong. Meski udah tau KW.
    Kasihan yang punya brand ya kalau ada kawe2an gini. Mending cabe2an, kan? :D

    Itu endingnya nyanyi terus sambil joged2 karena salah kostum, ya? Grrrr

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.