Jualan Modal Tampang

Sales Promotion Girl (SPG) adalah ujung tombak penjualan langsung. SPG selalu dikaitkan dengan gadis-gadis cantik berpakaian minim dengan sepatu hak tinggi. Kehadiran mereka sengaja dibuat "mencolok" untuk menarik perhatian pembeli. Umumnya kita mengira bahwa para gadis itu dipajang untuk menarik perhatian bapak-bapak berduit. Tapi hasil dari survey abal-abal saya menunjukkan ibu-ibu pun suka dilayani SPG berpenampilan seperti itu, terutama di bagian kosmetik. Dalam pikiran ibu-ibu ini, kalau yang melayani cantik mulus seperti itu, pastilah hasil dari aplikasi kosmetiknya akan sebagus itu. Yang mengejutkan adalah ada juga ibu-ibu yang mengaku suka aja menyuruh-nyuruh gadis-gadis sexy ini. Waduh, bu!


spg pameran

Saya percaya bahwa menjual adalah ilmu yang melibatkan faktor psikologis. Karena itu, saya rajin menimba ilmu ke pakar-pakar marketing yang tidak melulu memberi motivasi yang menggebu-gebu. Penjualan atau sales ternyata bisa dilakukan dengan smooth, memanfaatkan kerentanan psikologis konsumen. Dan itu tidak perlu nasehat pakar, bahkan sudah dipraktekkan oleh para pedagang kecil.

Suatu malam yang sepi dan dingin, disebuah perempatan lampu merah, jendela mobil saya diketuk anak kecil penjaja koran. Sebagai seorang ibu, perhatian saya tidak lagi ke korannya tapi ke anak itu. Kasihan sekali malam-malam jualan koran, seharusnya mereka belajar dirumah. Langsung saja koran itu saya beli. Sampai dirumah barulah saya melihat ternyata koran tersebut sama sekali tidak bermutu. Beritanya ngawur dengan bahasa yang tidak sopan. Siapa yang mau membeli koran seperti itu kecuali jika dijual oleh anak-anak yang bertampang polos malam-malam?

Suatu siang di perempatan lampu merah lain saya melihat bahwa semua penjual koran di empat penjuru adalah nenek-nenek. Karena siang hari, kita dapat melihat dengan jelas koran yang mereka jual, yaitu koran-koran dengan reputasi bagus. Tapi tunggu dulu, berapa yang dibayar bapak-bapak dan ibu-ibu perlente yang melintas disana? Untuk koran seharga Rp 3.000,- mereka membayar Rp 5.000,- dan Rp 10.000,-. Orang muda kan harus memberikan sebagian kecil banget rejekinya ke nenek-nenek.

Siang ini saya juga heran. Waktu hendak membeli baju batik di sebuah toko terkenal, saya melihat mbak-mbak SPG-nya seolah hilang. Yang mencolok terlihat adalah banyaknya mas-mas di seluruh gedung mengenakan beskap Jawa Yojonan. Strategi ini cukup membuat suasana toko sangat segar. Ibu-ibu jadi semangat belanja. Heheheee. Dimana lagi ada salesperson yang didominasi laki-laki dan didandanin biar ganteng gitu? Mbak-mbaknya kemana? Ada, tapi mengenakan baju biasa, rok dan blus yang dibuat tidak mencolok, seolah tak ada, supaya pelanggan memperhatikan mas-mas itu.

Sejauh mana jualan modal tampang akan kita lakukan? Saya tidak tahu karena saya banyak di online. Tapi terus terang sewaktu pameran offline tak terpikirkan bahwa menyiasati kondisi psikologis calon pembeli ketika bertemu dengan SPG bisa mendongkrak penjualan secara signifikan seperti diatas. Yang saya tekankan ke SPG hanyalah mereka harus ramah dan sabar. Tampaknya saya masih harus belajar lebih banyak lagi. :D

11 comments for "Jualan Modal Tampang"

Lidya September 18, 2014 at 4:54 AM Delete Comment
kalau di layani mas-mas ganteng lumayan mbak untuk hiburan hehehe
rahmi September 18, 2014 at 1:08 PM Delete Comment
Semangat belanja kalo liat yang ganteng2 ya mak, tapi begitu melihat pricelist nya mahal mundur teratur kalo aku hihihi #MakIrits
alaika September 18, 2014 at 8:52 PM Delete Comment
Hehe, bener juga ya, Mak, menyentuh ke aspek psikologis pembeli, itu yang terkadang luput dari dari perhatian kita. :)
Ratna September 18, 2014 at 9:41 PM Delete Comment
SPG or SPB(oy), I don't care. Poko'e tempat belanja batik kalo ke Jogja ya Mirota.
#MirotaMania

^_^
HM Zwan September 18, 2014 at 10:13 PM Delete Comment
jadi gagal belanja,maunya narsis sama mas2nya hahaha
Uniek Kaswarganti September 18, 2014 at 10:43 PM Delete Comment
Kalau aku yg belanja di situ (Mirota Batik), mas2e mesti langsung takgeret ke lantai 3, takminta nemenin makan di bagian tengah cafe yg ada patung mbah2 itu ;)
Hilda Ikka September 18, 2014 at 10:53 PM Delete Comment
Hmm... berarti kesimpulannya, lebih baik menggunakan SPG?SPB berpenampilan menarik atau orang-orang yang membuat hati mudah tersentuh? #bingung
E. Novia September 18, 2014 at 11:20 PM Delete Comment
jadi sekarang bukan SPG lagi dong, Mak. Tapi SPB alias Sales Promotion Boy :D
Ranii Novariany September 18, 2014 at 11:33 PM Delete Comment
Iya sih, kalau belanja terus yang ngelayanin ganteng/cantik seneng juga.. tapi paling seneng sih yang ngelayanin ramah, jadi asik belanjanya :D
Indah Juli September 19, 2014 at 12:04 AM Delete Comment
Pengen ke sana ah, lihat mas-mas ganteng :D
lieshadie September 20, 2014 at 9:01 PM Delete Comment
Hmmmm....tar ikutan belanja ke sana ah, liat yg seger2 :)