Friday, September 19, 2014

Liku-liku Hunting Rumah Di Jogja

Hunting rumah di Jogja? Langsung deh mendapat nada-nada prihatin dari saudara dan teman-teman. Heheheee.... Ya, Jogja dari dulu memang tidak luas, segitu aja. Tapiii.... penduduknya terus meningkat. Jogja memang ngangeni. Banyak yang setelah lulus kuliah malah menetap. Kalau pun keluar dari Jogja, setelah sukses ingin membeli rumah di Jogja untuk investasi atau liburan. Lahan semakin sempit dan akhirnya jadi mahal. Belum lagi banyak hotel baru berdiri, yang membuat harga tanah di Jogja melangit. Orang Jogja sendiri belum tentu bisa punya rumah. Puncaknya, timbul kampanye Jogja Ora Didol (Jogja Tidak Dijual) untuk menghambat laju pendirian hotel dan mall.

Lalu apa dayaku yang cuma punya uang hasil penjualan mobil? Di kota, harga lahan sudah mencapai 2-3 juta per meter. Sedangkan diluar kota tidak ada lahan kecil, kebanyakan ditawarkan lebih dari 1000 meter persegi. Buat apa? Menanam salak? Di group para emak, saya pernah menanyakan harga rumah tipe 70 ke salah seorang teman yang suaminya bekerja di developer, minimal seharga Rp 600 juta untuk wilayah Sleman. Di Bantul memang lebih murah, tapi aaah.... trauma terjebak gempa besar didalam rumah dulu belum hilang.

Karena terbatasnya gerak (waktu itu masih di luar Jawa), maka internet menjadi andalan untuk hunting. Beberapa website memberikan pandangan kira-kira daerah mana saja yang sesuai dengan kantong saya. Portal properti bisa di sort berdasarkan wilayah, tipe (lahan, rumah, kontrakan, dll), luas lahan, harga dan sebagainya. Dan semuanya mihil, saudara-saudara heuheuheu....

Karena di kota sudah tidak terjangkau, akhirnya saya menyisir daerah Sleman di internet. Sleman dikenal sebagai kawasan mahal, karena aman dari jalur gempa dan banyak terdapat kampus. Sedangkan Godean dan Wates tidak masuk pilihan meskipun kawasan itu berkembang pesat, apalagi ada rencana pembangunan bandara, karena arah matahari yang membuat kita dalam sikap hormat bendera tiap berangkat pagi dan pulang sore alias silau menentang matahari.

Tapi saya yakin pastilah ada yang butuh uang segera sehingga membuat pemiliknya tidak mematok harga terlalu tinggi. Selain itu, uang muka harus tidak lebih dari uang hasil penjualan mobil saya. Ketika hunting rumah baru, ada beberapa alasan yang harus diperhatikan. Beberapa poin tersebut sangat berguna memberikan panduan supaya kita yakin dengan pengeluaran terbanyak dalam hidup kita itu.

Ketika hunting melalui internet, wajib membuka tab peta, misal google map. Jangan percaya begitu saja dengan peta yang ada di brosur developer. Peta di brosur developer umumnya kemana-mana dekat, kemana-mana 5 menit. Dengan peta yang skalanya lebih riil, bisa dibayangkan lokasi rumah yang ditawarkan tersebut. Tapi ini bukan berarti hasil ideal loh. Ini hanya untuk membuat short list dari semua iklan yang ditawarkan supaya lebih terarah dan enggak muterin daerah-daerah itu berhari-hari.

Setelah shortlist terbentuk, kita wajib berkunjung ke lokasi, merasakan liku-liku jalanan ke daerah itu dan aura calon tempat tinggal kita. Kata orang, nyari rumah baru itu harus pakai hati, seperti nyari jodoh. Kalau hati sudah klik, nah baru deh usaha supaya tercapai, yaitu tawar-menawar. Beli sayur dipasar aja ditawar, masa beli rumah ratusan juta enggak? Jangan lupa untuk melakukan pembayaran berdasarkan progress agar kita tidak dirugikan.

Nah, inilah hasil hunting saya. Bismillah mulai dibangun. :D

8 comments:

  1. Alhamdulillah... ikut seneng mak, mudah2an dilancarkan segala sesuatunya... :)

    ReplyDelete
  2. Horeee...klo ke Yogja ada yang di jujug srkarang ;)

    ReplyDelete
  3. Yogyakarta itu kota idaman, sempet beberapa bulan tinggal disitu :)

    ReplyDelete
  4. ditunggu house warming-nya, mak Lusi ^_^
    jadi bisa mampir donk kalo dakuw ke Jogja

    ReplyDelete
  5. sementara di bangun sekarang tinggal di daerah mana mbak?

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, kalau ke Yogya ada tempat buat ngadem :)

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah, ikut seneng deh. Btw, Jogja tuh kaya Bogor deh mak. Mahasiswa yang lulus dari kampus bogor, kebanyakan ga mau berpindah dari bogor, sampe akhirnya menikah dan punya rumah di sana :D

    ReplyDelete
  8. Aseeekkk....udah mulai di bangun, nanti kalo ngumpul2 di Jogja aku mau nginep aja... :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.