Thursday, October 02, 2014

Jogja 258 Tahun, Bisakah Tetap Nyaman?

Sulit untuk tidak mencintai Jogja. Karena cinta, apapun kekurangan yang jelas terlihat bukan menjadi masalah. Jika anda mencintai Jogja sekian lama seperti saya, anda pasti mengerti maksud saya. Meskipun anda telah meninggalkannya cukup lama dan sedikit mengeryit melihat kondisinya sekarang yang tambah tambun, kisut dan kering, anda tak akan rela mendengarnya dihina. Seperti halnya ketika kita mencintai seseorang, kita terima wujudnya apa adanya, kusam, tua, keriput, bahkan cacat. Kita tak menyuruhnya melakukan apapun untuk memperbaiki penampilan orang yang kita cintai karena takut menyinggung perasaannya. Kita hanya berada sangat dekat dengannya, dan menjadi orang pertama yang hadir ketika orang yang kita cintai itu tergerak untuk memperbaiki keadaan dirinya.

Tapi bagaimana jika itu sebuah kota? Sebuah kota tak bisa berkata atas nama dirinya jika dia membutuhkan sesuatu. Orang-orang yang berada didalam kota itulah yang mengerti apa yang dibutuhkan oleh kota tersebut. Orang-orang yang berada didalam kota itulah yang berada dikedua posisi tersebut, sebagai sang pencinta sekaligus sebagai yang dicintai. Sebuah kota bukanlah terdiri dari benda-benda mati. Ia bersuara melalui orang-orang yang lebur ke dalam jiwa kota tersebut. Mari mendengarkan Jogja bersuara sejenak untuk dirinya.

#MelawanAsap

Jika anda pernah berkunjung di blog ini beberapa bulan lalu, mungkin anda sudah membaca tentang #MelawanAsap . Itu adalah hashtag untuk mendukung teman-teman Riau mengkritisi penanganan kabut asap. Saya tidak mendua, tapi itu wujud prinsip saya, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Hubungannya dengan Jogja apa? Saya heran ketika tiba di Jogja dan melihat orang memakai masker dimana-mana, di jalan, di mall, di pasar dan sebagainya. Untuk apa? Bukankah tidak ada kabut asap? Bukan seleb yang sedang menyamar juga kan? Atau memang sedang menyembunyikan jatidiri? Hayo memangnya lagi ngapain?

Dalam percakapan di facebook, teman-teman mengakui, kualitas udara Jogja menurun karena polusi udara dari kendaraan bermotor. Memang, laju pertumbuhan kendaraan bermotor di Jogja sangat tinggi. Lagipula, kata teman saya itu, para ahli mengatakan mengenakan masker itu baik kok. What???

Perlu seluruh orang Riau di media sosial untuk #MelawanAsap hingga presiden harus datang kesana. Untak apa? Supaya kami disana bisa melepas masker itu dan bernapas lega, menghirup oksigen langsung. Meskipun penyebabnya lebih dramatis di Riau tapi hasil akhirnya kan sama, sama-sama mengenakan masker, tidak bisa menghirup oksigen langsung. Masa solusinya cuma mengiyakan saja kata pakar tersebut? Tidak inginkah bernapas lega tanpa disaring masker?

Mural Bukan Vandal

Mural pernah menjadi kebanggaan masyarakat Jogja. Semua prasarana publik dilukis indah, meski teman saya di EO pernah saya protes juga karena membatik pohon. Heheheee.... Foto-foto mural diunggah oleh teman-teman dan mengundang kekaguman kota-kota lain. Mereka ingin meniru Jogja. Makin lama, warna-warna cat mural tentu memudar. Ada yang sudah diganti dengan kreasi baru, ada yang dibiarkan mengusam.

Sayangnya, seolah tak tertampung, prasarana publik dan personal pun dicat. Tidak dengan seni dan komposisi warna yang menarik, melainkan dengan cat semprot satu atau dua warna saja, sekenanya. Di deretan toko di pinggir jalan-jalan besar, nyaris tak ada rolling door yang tidak disemprot. Siapa mereka? Jogja juga? Apakah mereka orang-orang jahat? Apakah anak-anak nakal? Ataukah, kalau mau positive thinking, anak-anak kreatif yang marah karena tidak diajak dalam acara-acara pembuatan mural?

Suara Jogja yang diwakili anak kelas 6 SD mengatakan, "Jogja ini kok temboknya kotor semua ya?"

Semestinya suara Jogja yang diwakili kita yang lebih dewasa dan adik-adik remaja kreatif bisa mengatakan sesuatu untuk membalikkan keadaan tersebut.

Hotel Kebanyakan, Cukup atau Kurang

Karena saya memiliki saham sebuah penginapan, saya tahu bahwa di tanggal-tanggal tertentu setiap bulan penginapan selalu penuh. Padahal penginapan kami hanya kelas melati. Parkiran hotel lain juga penuh. Bahkan beberapa kompleks perumahan yang diam-diam menyewakan beberapa rumah untuk rombongan wisatawan. Tak semua rumah di Jogja dibangun untuk dihuni, ada yang dibeli untuk investasi.

Tapi apakah berarti saya setuju dibangun hotel besar-besar di Jogja? Tidak, saya tidak setuju. Bukan karena takut kalah saingan karena segmen jelas berbeda, melainkan karena daya dukung lingkungannya yang tidak memadai. Jogja ini sangat sempit dan tidak memiliki sumber daya alam pendukung. Kebutuhan akan air dan ruang gerak makin tertekan dengan pembangunan hotel-hotel berkapasitas besar tersebut.

Untuk mengatasi kebutuhan para pelancong, hotel bisa dibangun diluar kota Jogja. Toh jarak dari point ke point tempat wisata disini serba dekat? Toh kalau semua hotel tumplek blek didalam kota justru ruang gerak terbatas dan kemana-mana jadi serba susah karena macet? Pemerintah kota harus berani melakukan pembatasan hotel yang boleh dibangun didalam kota berdasarkan besar dan kapasitasnya. Juga perlu ada pembatasan jumlah ijin tiap wilayah kelurahan. Diluar itu, silakan mencari daerah lain diluar kota Jogja yang masih lapang. Tanpa pembatasan seperti itu, investor akan tetap berburu lokasi tepat ditengah kota Jogja. Kalau perlu nemplek Malioboro.

Jalanan Beradab

Salah satu yang membuat saya gagal ngampet untuk pindah posisi dari sang pencinta ke yang dicintai adalah peristiwa yang saya alami pagi ini. Tak mungkin saya tak berubah menjadi suara Jogja dan meneriakkan ini. Salah satu akibat dari sempitnya ruang gerak di Jogja adalah makin banyaknya orang kemrungsung, stress, lalu brangasan. Jika anda melewati perempatan Jlagran dari arah kota pada jam masuk sekolah pagi, anda akan kepepet oleh kendaraan dari arah sebaliknya. Antrian panjang membuat orang tidak sabar, mengambil hak jalur sebaliknya. Kalau kesenggol, justru mereka yang mendelik. Demikian pula jika anda berada diperempatan Jl Ahmad Dahlan ke arah Jl Wates di jam yang sama, anda harus super pelan supaya tidak nyenggol kendaraan yang buru-buru masuk Jogja dari arah yang berlawanan.

Intolerasi di jalanan Jogja terus meningkat. Mau menyeberang saja, meski sudah dapat separuh, yang dari arah berlawanan tidak mau memberi kesempatan, tetap tancap gas bahkan ditambah klakson panjang yang menyakitkan hati. Tadi pagi saya terjebak dalam antrian panjang karena jalan sempit, ada mobil parkir sembarangan di kanan dan kiri jalan. Begitu lega, saya tidak segera ngegas karena ada kakek renta yang berjalan pelan didepan mobil saya, mau nyebrang. Tiba-tiba ada dua laki-laki berboncengan seumuran bapak-bapak muda menyalip sambil berteriak keras, "GOBLOK!"

Begitu kakek tadi lewat, saya langsung tancap gas dan memburu motor tersebut. Mau ngajak ribut, ceritanya. Tentusaja saya tidak terima teriakan kasar tersebut. Sayang, mereka sudah hilang ditelan padatnya lalu lintas pagi. Di Jogja itu masih banyak simbah-simbah yang bepergian sendiri. Selain itu, masih banyak pula anak-anak yang kesekolah naik sepeda. Jika kita tidak mau menghadapi orang-orang yang intoleran tersebut, siapa lagi? Jangan biarkan Jogja menjadi liar.

Jogja Berhati Nyaman

Definisi nyaman tiap orang memang berbeda. Ada yang menganggap nyaman itu artinya hening, tenang, dinikmati secara perlahan. Ada yang menganggap nyaman itu artinya hangat, banyak teman, kumpul sana, ngobrol sini. Tapi bagi saya nyaman itu adalah sikap sosial yang beradab, dimana satu sama lain saling mengerti kebutuhan masing-masing. Aplikasi paling sederhananya misalnya, tak apa mengerem lima detik supaya anak-anak sekolah yang naik sepeda bisa nyebrang, nggak akan rugi bandar. Toh cuma menggerakkan kaki dan tangan dikit menekan rem, bukannya kendaraan jadi mogok dan terpaksa nuntun 5 km.

Sebagai kota budaya, tak mungkin Jogja meninggalkan adab. Jikapun ada yang luntur disana sini, masih banyak kok orang yang peduli. Beberapa kali Jogja disudutkan tapi selalu dengan mudah mengumpulkan para pecintanya untuk membela. Sekarang waktunya untuk membela Jogja dari diri kita sendiri. Sang pencinta tak akan merusak yang dicintainya.

7 comments:

  1. walah merinding baca tulisan mak Lusi...iya mak jogja berhati nyaman seharusnya bukan hanya slogan. Kalau lagi nyetir dan ketemu yang brangasan, kadang berdesir juga darah, tapi enggak bisa apa-apa hehe

    ReplyDelete
  2. aku belum pernah kejogja
    tapi kata kokoku di jogja jalanannya gak serem kayak di surabaya :D

    ReplyDelete
  3. Joga sekarang itu, lebih ramai dan riweuh :D
    Sama seperti di Jakarta, walau macet dan banjir, aku tetap suka sama Jakarta.
    Walau Yogya sudah ramai, tetap cinta dengan Yogya.

    ReplyDelete
  4. Bukan asli Jogja, namun entah kenapa selalu cinta Jogja....apapun adanya..semoga tetap berhati nyaman seperti saat belasan tahun lalu numpang sekolah di sini..

    ReplyDelete
  5. Selamat hari Jadi kota Jogjakarta yang ke 258 Tahun. Salam hangat penuh cinta dari kami di Pontianak. Kalimantan Barat. Jogja bagi saya sudah seperti kampung Halaman saja. Saya menikah juga di Jogjarkarta dan dengan gadis Jogjakarta juga. Alhamdulillah sudah dikaruniai sepasang putra putri dari Allah SWT. Kangen Jogja

    ReplyDelete
  6. Selamat ulang tahun Jogja :-D Diantara keriuhan (macetnya kota Jogja) aku tetap setia mengayuh pedal :-D

    ReplyDelete
  7. Saya selalu ingin mengunjungi kota ini mak, entah mengapa... mungkin terkesan pd kenangan lalu. Study tour bersama teman-teman dari SMA, atau rekreasi masa kecil bersama org tua saat kanak-kanak yg terekam manis dlm ingatan saya.

    Saat mengunjunginya bbrp waktu lalu dgn teman2 blogger, saya masih terpaku pd aura magisnya jogja. keinginan untuk mengajak anak-anak kesana sygnya sampai skg blm terwujud... :(

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.