Tuesday, October 14, 2014

Membesarkan Anak Seperti Petani

Hari Sabtu lalu, saya datang ke sebuah seminar menarik yang dibawakan oleh teman saya, seorang konsultan keluarga, mbak Ida Nur Laila. Pengalaman beliau dalam konsultasi masalah keluarga sudah sangat kaya, bahkan sudah berkeliling Indonesia dan ke beberapa negara karenanya. Ingin saya berbagi tentang apa yang saya dapatkan dalam seminar tersebut. Namun materi yang diberikan sangat banyak untuk dapat ditampung otak saya dan semuanya sangat berharga. Beberapa bisa kita baca di blognya ida-nurlaila.blogspot.com. Beliau juga salah satu kontributor e-book #KEBAgentOfChange yang bertema Stop Child Sexual Abuse. Jika berminat dengan e-book gratis tersebut, hubungi saya, ya.

Hari ini saya tergerak untuk buru-buru membuat sedikit tulisan yang terinspirasi dari seminar tersebut. Di media sosial tersebar video tentang anak sekolah yang dibully. Entah video yang mana, saya tidak paham. Yang menarik adalah melihat reaksi para orangtua yang sedemikian keras hendak melindungi anak-anaknya dengan memutuskan mata rantai kekerasan (setidaknya yang dia anggap demikian). Ada yang anti wilayah perkampungan, ada yang keukeuh tinggal di kompleks perumahan yang memiliki kesamaan latar belakang, ada yang menolak sekolah umum, bahkan ada yang dengan ekstrim tidak mau tinggal di Indonesia. Itu hak masing-masing orangtua. Toh kalau terjadi apa-apa, orang lain hanya menonton dan adu komentar, tidak memberikan dukungan yang signifikan seperti kasus-kasus kekerasan terhadap anak-anak yang terjadi belakangan ini.
Sambil masak, saya teringat dengan status facebook yang pernah saya buat bertahun-tahun lalu. Disitu saya "ngrasani" anak-anak remaja tetangga (perempuan) yang sering nongkrong nggak jelas diteras hingga tengah malam. Keluarga mereka seperti tak peduli. Diantara komentar-komentar yang turut "ngrasani" tersebut, ada satu komentar yang membuat saya "tertampar". Teman saya itu bilang, "Kalau kamu melihat kondisi seperti itu, mengapa kamu biarkan pintu rumahmu tertutup?"
Pertanyaan itu membuat saya merenung sangat lama. Ah, kasihan anak-anak itu. Kalau pintu rumah saya terbuka, mereka tak perlu nongkrong tak jelas seperti itu dan mengundang bahaya dari laki-laki iseng yang lewat. Mereka akan lebih aman didalam rumah saya, mungkin bisa saya suguhi bakwan sambil saya ajari ngeblog untuk menyalurkan kegalauan. Memang orangtuanyalah yang harusnya bertanggung jawab. Tapi jika orangtua tersebut tak mampu memberikan perhatian yang seharusnya, apakah anak-anak itu pantas dihukum oleh lingkungan? Tapi, saya, seperti kebanyakan orangtua, memilih menutup pintu dan melarang anak-anak kita untuk berteman dengan mereka.
Seminar mbak Ida Nur Laila ini bertemakan pengenalan pendidikan seksual sejak dini. Tapi mbak Ida sendiri lebih senang dengan judul Tarbiyah Jinsiyah karena pendidikan seksual terhadap anak itu tidak bisa fokus terhadap hal-hal seksual saja, melainkan meliputi seluruh tatanan hidup keluarga dan masyarakat. Ini cakupannya sampai ke masalah bully tadi.

Ada satu analogi dari mbak Ida yang mengingatkan saya pada status facebook saya itu. Mbak Ida bercerita, ada seseorang yang ingin menjadi petani sukses meski tak memiliki kompetensi. Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya petani tersebut sampai pada kesimpulan, kalau ingin memiliki tanaman dengan hasil bagus, ia tidak hanya harus merawat tanamannya baik-baik tapi juga memastikan tetangganya melakukan hal yang sama. Ia mencari dan berbagi ilmu pertanian bersama para petani disekitarnya. Karena apapun yang terjadi di sekitarnya sampai radius tertentu, misalnya hama, akan tertiup angin dan jatuh dilahannya juga.
Demikian pula dengan anak. Sekeras apapun kita berusaha melindunginya, tak mungkin 100% berada dibawah pengawasan kita. Ada saatnya dia belajar, berkompetisi dan bermain diluar pengawasan kita, misalnya disekolah, di tempat les atau di lingkungan luar rumah. Karenanya, kita harus memastikan bahwa lingkungannya pun baik. Caranya bagaimana? Apakah harus mengecek satu-satu latar belakang dan gaya hidup tetangga, ortu teman sekolah anak kita dan sebagainya? Wah, haruskah seketat itu? Dengan perlindungan ekstra ketat begitu, apa bisa anak kita tumbuh jadi anak yang tough ketika dewasa nanti? Bisakah dia menghadapi tantangan hidup yang makin keras jika sudah waktunya mandiri?
Menurut mbak Ida, yang kita perlukan adalah kepedulian. Jangan memenjara diri sendiri. Jadilah bagian dari solusi masalah di lingkungan kita, kalau perlu tanpa membatasi diri. Toh kita ini blogger, bisa bersuara sangat jauh melalui blog. Jangan tutup pintu begitu saja seperti saya tadi. Karena sebenarnya anak-anak tadi adalah anak-anak pandai yang sedang galau dan tidak punya ibu lagi untuk tempat berbagi rasa.  
Kita mempertanyakan bully dan pelecehan terhadap anak oleh anak yang terus terjadi. Kita mengkritik tatanan hidup msayarakat. Jangan-jangan itu terjadi karena orang-orang seperti kita yang memilih untuk melindungi anak sendiri dan tidak peduli dengan sekitar kita. Dan bukankah masyarakat itu ya kita sendiri? 

9 comments:

  1. Bagus sekali analoginya, ya, Mak..
    dan memang benar, kita nggak bisa menutup diri. Saya tahu, tapi... hiks.. padahal saya orangnya sangat pasif dan tertutup :(
    Oiya, tentang analogi petani ini, saya jadi ingat dengan bukunya A. Fuadi, dkk "Menjadi Guru Inspiraif". Di sana beliau menganalogikan guru juga bagai petani, yang menyiapkan bahan dan lahan, memelihara, menyirami, dan memupuk anak-anak didik untuk menjadi pencetak peradaban. Kiranya mendidik anak juga serupa itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iya A Fuadi memang pandai memberikan analogi supaya kita bisa lebih memperhatikan pendidikan anak2

      Delete
  2. Makasih mak Lusi. Reviewnya istimewa. Semoga membuka mata lebih banyak org untuk peduli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. TErima kasih juga pencerahannya ya mak :))

      Delete
  3. Makasih mak Lusi. Reviewnya istimewa. Semoga membuka mata lebih banyak org untuk peduli.

    ReplyDelete
  4. Analoginya pas, memang seberapa ketat perlindungan orang tua kalau lingkungan tidak mendukung juga seperti menabur benih di lahan kering

    ReplyDelete
  5. mantep banget cerita petaninya... sbg orang tua emang hrs lbh peduli dgn lingkungan sekitar jg yah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih mantap lagi kalau mendengarkan sendiri penuturan mak Ida :))

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.