Thursday, February 12, 2015

[WAHM] Setelah Gadget Dipisah

Setelah gadget dipisah. Apanya yang dipisah ya? Heheee.... Saat yang tepat untuk mereview kegiatan kita adalah ketika kita merasa tidak cukup waktu untuk apapun, bahkan yang sepele tapi penting misalnya maskeran. Jika maskeran dirumah saja yang bisa disambi kesana kemari sudah tidak sempat, apalagi untuk kegiatan rekreatif lainnya yang lebih menyita waktu. Padahal kegiatan rekreatif membantu menyegarkan badan dan pikiran untuk membuat karya lebih baik lagi.
Satu yang saya sadari benar adalah ikatan saya dengan gadget. Sebagai pemilik online store Ladaka dan penanggung jawab sosial media Kumpulan Emak Blogger (KEB), rasanya tak mungkin saya tidak membuka gadget meski hanya sehari. 

Setelah saya tinjau, ternyata saya cukup seimbang membagi waktu antara mengurus Ladaka dan KEB. Saya mengambil waktu-waktu primetime yang berbeda dari keduanya dan berusaha tak mencampurkannya. 
Dulu saya pernah mencampurkannya dengan maksud supaya praktis sekalian buka laptop. Apa yang terjadi? Saya mengikut arus mana yang sedang ramai sehingga salah satunya terbengkalai. Bahkan tak bisa memasang target yang jelas dan terukur. Sekarang tidak demikian. Misalnya saya sedang fokus di Ladaka, maka saya sama sekali tidak berusaha mengintip kegiatan di KEB.
Setelah mengecek durasi saya didepan laptop, ternyata tidak lama. Rata-rata 4 jam sehari, kadang lebih, kadang kurang. Otomatis mobile gadget yaitu handphone dan tablet menjadi tersangka. 
Saya tidak bisa dipisahkan dengan handphone, terserah anggapan buruk orang terhadap gadget. Bahkan tidurpun saya pastikan handphone didekat saya dalam keadaan baterai full dan pulsa banyak. Saya punya dua trauma yang mengharuskan demikian. Pertama ketika gempa besar Jogja yang menewaskan ribuan nyawa dan saya terjebak bersama anak-anak. Sebelum semua koneksi benar-benar mati, saya masih sempat menghubungi orangtua untuk minta dijemput. Kedua, ketika rumah kami dibobol perampok. Saya langsung memblokir semua rekening dan menelpon orang-orang untuk minta bantuan karena rumah yang kami sewa luas sehingga tetangga tak mendengar. Jadi apapun kata pakar tentang bahaya menyanding handphone ketika tidur, saya tak peduli.
Saya juga tipe orang dengan satu mobile gadget saja. Dua terlalu banyak, bikin ribet. Tapi berhubung handphone tersebut sudah menjadi tersangka, saya melakukan analisa lebih dalam lagi. Saya pikir kalau urusan serius dan gaul bisa saya pisahkan, saya bisa memprioritaskan yang serius dan sesekali menanggapi yang gaul ketika sedang ada waktu longgar. Oke, jadilah punya dua gadget.
Urusan serius yang saya maksud tentulah keluarga, Ladaka dan KEB. KEB pun ada dua, yaitu sebagai admin (serius) dan sebagai sesama anggota (gaul). Urusan gaul lainnya adalah teman-teman sekolah, sesama orangtua murid, keluarga jauh, tetangga dan sebagainya. Apa yang terjadi?
Ternyata urusan serius saya itu bisa ditangani dengan baik. Sedangkan urusan gaul ini, masya Allah, notifikasi tanpa henti. Jadi ini biang keladinya. Oke, that's it, setelah ketemu gadget urusan gaul jadi lebih banyak menghuni tas daripada dipegang. Wkwkwkkk.... Jadi sempat maskeran, deh.
Mengapa tidak didelete saja urusan gaul itu? Buat saya, berteman sebanyak-banyaknya itu penting. Selain untuk silaturahim, juga untuk networking. Mungkin kita tidak perlu kerjasama dengan mereka sekarang, tapi bisa saja di masa datang. Atau mungkin bentuknya tidak kerjasama melainkan sekedar info, seperti ketika keponakan kebingungan mengurus visa ke Perancis, saya mencolek beberapa teman yang sebenarnya tak akrab tapi masuk dalam lingkungan pertemanan saya. Jalan tengahnya ya begitu, biar saja tetap disana tapi tak perlu ditongkrongin terus. 
Temuan itu semakin menguatkan saran saya kepada teman-teman yang memiliki banyak kegiatan terutama yang berhubungan dengan dunia usaha untuk memisahkan akun personal dengan akun usaha atau organisasi.

15 comments:

  1. Yes...dapet istilah baru.serius dan gaul xixixi.
    saya juga termasuk yg naruh hp fi deket kasur dan harus dipastikan batre harus penuh sblm tidur ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kira2 yg serius itu kalau salah bisa dibully gitu deh hihihii. Gaul juga tp klo yg mbully temen sendiri it's oke

      Delete
  2. Yes...dapet istilah baru.serius dan gaul xixixi.
    saya juga termasuk yg naruh hp fi deket kasur dan harus dipastikan batre harus penuh sblm tidur ^^

    ReplyDelete
  3. aku bisa hidup tanpa tv mbak, tapi kalau gadget harus :). Walaupun online 24 jam tapi gak buka sosmed sesuka hati malah kadang lupa gak dibuka. Yang aktif wa aja sama bbm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah gimana lagi. Banyak urusan disana. HP bukan utk galau, mana sempat?

      Delete
  4. Ini pasti terinspirasi postinganku inih. Pastik! Xixixi
    Iya, maaak, gak perlu ikutan mainstream, karena cuma diri sendiri yg tau prioritas masing2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang mana ya? Tak baca semua blogmu soalnya. Habis itu lupa tapinya ^.^

      Delete
  5. Saya pun demikian Mak, memakai gadget seperlunya saja.
    Klo tidur HP di samping sih tapi dalam kondisi off.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hp saya nyaris nggak pernah off sejak beli. Kalaupun off karena lupa bawa powerbank. Maksimal cuma silent

      Delete
  6. Wah.. keren Mak Lusi bisa mengmanage kegiatan.. kayaknya aku perlu seperti itu deh. Lebih disiplin. habis, aku sering melanggar komitmen T^T

    ReplyDelete
  7. pentiiing tuh...bisa maskeran heheehe...aku pegang gadgets 2, satu untuk game mak hehehe..tapi gawat memang kalau tidak bisa memanagenya ..habis waktuuu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak suka games mak, nggak sabaran hihiii

      Delete
  8. aku jauh dari hape amat sangat nggak bisa mak, harus mobile terus masalahnya hahaha :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. *toss. Penting juga kalau ada apa2 dijalan ya mak

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.