Monday, April 21, 2014

Semua Ibu Terbaik Bagi Keluarganya

Selamat buat Arin dan Rina yang barusaja launching buku Mommylicious. Insya Allah saya ikut giveaway Every Mom Has A Story: #StopMomWar bukan karena pengin hadiahnya. Hadiahnya bagus, tapi saya sudah tidak punya anak kecil lagi yang sesuai dengan hadiah yang disediakan. Mungkin buat cucu saya kelak. Hihihiii.... Nggak pengin menang? Pengin dong. Banyak kok teman-teman saya yang siap menampung hadiah-hadiah tersebut kalau saya menang. Saya ikut giveaway ini karena ingin urun rembug.
Sebagai peserta yang mungkin paling matang (Awas kalau bilang tua!), sebelumnya saya minta maaf kalau ada kesan menggurui. Saya akan berusaha untuk tidak demikian, melainkan untuk berbagi pengalaman.
Jalan bareng ibu-ibu dan anak-anaknya begini menyenangkan banget. :))
Sedih ya kalau melihat postingan, status atau tweet yang menilai kegiatan ibu yang lain, bahkan "nyokorke" kalau ibu tersebut mendapat musibah yang membuat keputusan ibu tersebut menyulitkan. Misalnya kasus JIS atau daycare seperti yang ditulis di pengantar GA ini membuat si ibu dinilai kurang memperhatikan perubahan si anak sehingga kejadian tersebut sampai berulang.
Saya punya tetangga yang menyekolahkan anaknya di full day school padahal dia tidak bekerja. Penghakiman pun langsung berapi-api diarahkan kepadanya. "Memangnya ngapain saja dirumah sampai anaknya harus sekolah seharian, pulang jelang maghrib? Kan enggak kerja kantoran to?"
Sebagai tetangga, saya paham benar betapa repotnya ibu ini mengurus lima anak waktu itu (sekarang enam anak). Kadang ibu itu bercerita baru selesai menyetrika jam 03.00 dinihari. Entah seperti apa pula nyinyiran yang diterima teman saya yang lain, yang anaknya cuma dua, tapi si sulung disekolahkan di boarding school. Menurut saya tidak apa-apa karena si anak senang dan ibunya sibuk dengan bisnis kue yang makin maju. 
Sebaliknya, mengurus anak sendiri secara keseluruhan kok ya tidak lepas dari pendapat yang tidak mendukung. Teman saya, mak Irul, yang menyekolahkan semua anaknya dirumah alias home schooling mungkin sudah kenyang dianggap tertutup dan tidak peduli dengan perkembangan sosial anak. Padahal apa salahnya karena mak Irul dirumah dan lulusan perguruan tinggi terkenal sehingga secara intelektual mampu membimbing anak-anaknya.
Di pihak lain, saudara saya yang bekerja disebuah instansi pemerintah sering pula digunjingkan. "Buat apa meninggalkan anak untuk pekerjaan yang enggak seberapa? Disana kan dia bukan apa-apa, cuma staf administrasi? Suaminya bisa kok mencukupi? Daripada anaknya keluyuran saja?"
Padahal si anak itu memang tipe anak aktif, banyak kegiatan, banyak ekskul, banyak panitia ini itu. Si anak pun bangga dengan ibunya dan tak keberatan makan catering sekolahan karena si ibu tak sempat memasak.
Di media sosial perang "merasa yang paling benar" itu mungkin lebih sadis lagi. Enggak seperti kehidupan sosial di masyarakat yang memungkinkan kita bisa melihat lebih banyak, di media sosial kita hanya melihat sebagian kecil saja aktivitas seseorang. Itu berbahaya sekali jika digunakan untuk menilai seseorang karena hanya berlandaskan dugaan. Tapi apa boleh buat, orang-orang malah seperti berlomba-lomba "merasa yang paling benar". Kalau tidak sesuai dengan nilai yang dipercayainya, mereka tak ragu memberi cap macam-macam.
Saya selalu sedih jika melihat seorang ibu yang terlalu yakin dengan pilihannya dan menyudutkan ibu lain. Dalam hati saya, "Duh bu, perjalananmu masih panjang, anakmu masih kecil-kecil dan jalan kehidupan itu tidak lurus terus-menerus sesuai dengan rencana kita. Semua itu ditangan Allah semata. Apa yang menjadi pilihanmu sekarang bisa saja berbeda sama sekali dengan apa yang kamu kerjakan dimasa depan. Musibah yang terjadi pada diri ibu lain bukanlah untuk kita tepuk-tangani, melainkan sebagai pengingat bahwa semua manusia itu sesungguhnya rapuh dalam genggaman takdir Allah. Daripada sibuk menilai orang lain, lebih baik energi kita gunakan untuk menjaga keluarga kita baik-baik dan berdoa agar terhindar dari musibah."
Memang, tugas manusia adalah saling mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan. Tapi tak semua harus kita campuri. Semua ibu adalah yang terbaik bagi keluarganya. Kamu mungkin saja sangat hebat menurut keluarga dan teman-temanmu tapi kamu tak akan mungkin menyuruh ibu lain untuk menjadi sepertimu di keluarganya. Karena tiap keluarga memanglah berbeda.

2 comments:

  1. Jadi kangen ibuk di kampung :(

    ReplyDelete
  2. Setuju semua ibu adalah yang terbaik untuk keluarga karena dia selalu berusaha memberikan yang terbaik

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.