Tuesday, August 04, 2015

The Next Gen Grandma

Bukaaan... grandma-nya bukan saya sekarang... tapi saya dan teman-teman semua dimasa depan, the next gen grandma.

Sabar ya, heheee....

Beberapa hari belakangan ini tersebar sebuah pamflet dari negeri sebelah tentang bagaimana seharusnya kegiatan seorang nenek. Kitapun memuji-muji cara berpikir orang sebrang dan mempertanyakan tindakan kita terhadap ibu kita. You know what, tak perlulah menjelekkan diri sendiri! Meski sama-sama Melayu, budaya, kebiasaan dan cara pandang tetaplah beda.
Gambaran nenek yang nelangsa nyuapin cucu tak sepenuhnya bisa kita temui di sekitar kita. Banyak kok nenek yang nyuapi cucu dengan wajah cantik ceria, karena banyak nenek yang bangga jika dibutuhkan anak cucunya. Kalau dibilang gara-gara cucu, nenek tidak bisa mendatangi pengajian atau majelis taklim, enggak juga. Nenek-nenek Indonesia biasanya menghadiri pengajian beberapa kali sebulan sore atau siang hari. 

Soal bersosialisasi, nenek-nenek Indonesia dengan trampil memanfaatkan jalan-jalan sore bersama cucu atau belanja pagi di tukang sayur untuk ngobrol dengan tetangga. 

Memang tetap ada nenek-nenek yang bak pembantu mengurus semua yang ada dirumah agar anak-anaknya bebas beraktivitas diluar rumah, tapi apa yang menjadi pemikiran orang sebrang tidak bisa seluruhnya diamini dan tak semua perlu karena kita punya kearifan lokal seperti diatas.
Beberapa hari ini ibu saya datang kerumah dan memang tidak untuk berlibur tapi saya mintai bantuan untuk beberapa urusan. Dari cerita-cerita beliau tentang teman-teman seusianya, saya menangkap bahwa kehidupan seorang nenek di Indonesia tidaklah semenderita yang digambarkan di pamflet tersebut. Tentusaja jika kondisi keluarganya normal, tidak sedang mengalami kesulitan serius. 
Ibu saya bersama teman-teman seusianya selalu berusaha sholat di mesjid. Jika ada temannya yang lama tidak tampak, kata ibu saya kemungkinannya ada dua: sedang sakit atau sedang mendapat "panggilan tugas" mengurus cucu. Sepulang dari "tugas" tersebut, teman ibu saya selalu membawa oleh-oleh cerita seru tentang cucunya. Seperti yang orang Indonesia maklumi, sebandel-bandelnya sang cucu, tetap terlihat lucu aja dimata nenek dan si nenek akan menceritakannya dengan bangga.
Melihat ibu saya dan membayangkan kemungkinan sepuluh tahun lagi saya jadi nenek juga, ada beberapa catatan tentang seperti apa kiranya nenek di masa datang itu.

Nenek Bukanlah Baby Sitter
Begitulah yang ada di pamflet tersebut dan memang benar. Nenek masa depan adalah yang sekarang ini merupakan wanita karier, wirausahawati ataupun ibu-ibu rumah tangga yang mandiri. Ketika mereka menjadi nenek, akan menjadi nenek yang serba bisa pula. Banyak juga yang tidak biasa merawat anak karena dulunya lebih banyak beraktivitas diluar rumah. Apakah berarti nenek masa depan tidak bisa dititipi cucu? Tentu bisa dong, karena sekarang atau masa depan nenek bukanlah baby sitter melainkan orang yang paling kita percaya untuk mengawasi pertumbuhan anak kita jika kita tidak dirumah.
Jadi, kalau terpaksa mengirimkan "panggilan tugas" ke nenek, ingatlah bahwa job descriptionnya hanya seperti itu, meski tidak ada asisten rumah tangga lain. Cucian bisa dibawa ke laundry, makan bisa pesan catering dulu. Alhamdulillah kalau nenek tersebut masih kuat dan menawarkan diri untuk memasak dirumah. Seringkali nenek begitu kan? Beliau senang luar biasa kalau cucunya menghabiskan masakannya. Jadi bukan karena kita masa bodo dengan urusan anak-anak dan rumah dibawah nenek.

Nenek Suka Jalan-jalan
Pekerja di negara maju akan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dinikmati di masa tua. Ada yang membeli paket perjalanan ke benua lain, ada yang ikut kapal pesiar dan sebagainya. Menikmati masa tua jaman dulu dengan masa datang akan berbeda. Nenek jaman dulu puas dengan menghabiskan banyak waktu untuk ibadah dan menikmati hari yang tenang dirumah. Mereka juga menjadi warga yang paling rajin datang di acara-acara seputar rumah.
Nenek masa depan akan memanfaatkan waktu melihat tempat-tempat yang tidak sempat mereka lakukan ketika masih aktif bekerja atau beraktivitas sosial lainnya. Perubahan tersebut sudah bisa dirasakan sekarang sih. Nggak harus jalan-jalan seperti piknik tapi ada juga yang menggabungkan dengan ibadah, misalnya umroh bersama teman-teman. Kondisi tersebut didukung oleh anak-anak mereka yang membuat pilihan-pilihan yang lebih mandiri dalam keadaan darurat sehingga tidak terlalu bergantung pada bantuan nenek.

Digital Grandma
Nenek jaman dulu dan masa depan mungkin kelihatan sama ya, hobi merajut, menjahit dan sejenisnya. Heheee.... Tapi tentusaja ada yang beda. Nenek masa depan akan lebih progresif. Pengetahuan dan fasilitas yang lebih baik membuat nenek masa depan tetap bisa menghasilkan karya yang up to date. Seperti ibu saya yang hobi merajut ini. Ibu saya punya ketrampilan merajut menggunakan hakpen dari nenek saya. Belakangan ibu saya tergiur mempelajari merajut ala bule menggunakan breien yang sekarang sedang digemari para mahmud alias mamah muda. Ibu saya menghabiskan waktu berjam-jam mempelajarinya dari youtube. Sepertinya besok kami harus nongkrong di toko yang punya komunitas rajut didekat rumah saya, yang kami temukan lewat facebook, untuk membeli keperluan merajut menggunakan breien ini.

Nenek Awet Muda
Beberapa bulan lalu teman saya mantu. Tapi bukan karena anak-anak yang menikah di usia muda yang akan membuat orangtuanya jadi kakek nenek dengan penampilan muda. Nenek masa depan akan lebih sadar dengan gaya hidup sehat. Soal umur tetap Allah yang menentukan, ya. Nenek jaman dulu banyak yang berusia lebih panjang karena jaman dulu belum banyak stress dan polusi. Namun jaman dulu, begitu punya cucu, banyak perempuan bersikap "tua" karena nenek digambarkan sebagai seorang yang banyak nasehat dan tempat mencari ketenangan. Nenek jaman sekarang digambarkan lebih fun, bisa naik motor boncengin cucu, ngemall mengawal cucu, bahkan berpanas-panas antri mengantar cucu audisi jadi idola. Gambaran yang lebih fun ini membuat nenek masa depan kelihatannya awet muda.

Seperti apapun the next gen gradma yang sebenarnya nanti, don't forget to be happy. :D

25 comments:

  1. Bener, agak kurang setuju sama gambar2 yg juga pernah saya liat di facebook. Terkesan kakek nenek klo di indonesia kaya babu, padahal kasus nyatanya misal di tante saya, dia happy2 aja sama cucu, karena sebagai teman main juga kan. Yg parah kalau anaknya ga balik2 ke rumah, entah pisah rumah dsb, itu malah yg bikin org tua sedih. Ga bisa bareng2 anak cucunya IMO hehee

    ReplyDelete
  2. dan,saya lagi pengeennn banget beli hakpen buat ngerajut lagi...^^
    digital granma masa depan kayaknya banyak yang asik ngeblog ya hehe

    ReplyDelete
  3. nenek jav, dua2nya bukan tipe baby sitter, sukanya main aja, tp perhatiannya banget2, hihihi...

    ReplyDelete
  4. Kayaknya, gak nyampe 10 tahun ke depan aku bakalan jadi nenek juga insya Allah. Secara putra sulung ku dah 21 jalan 22 dan dah lulus kuliah n dah kerja juga. Hmmm....

    ReplyDelete
  5. waaahh jadi pingin nii bisa ngrajutt.. kalau nenek ngeblog masih bisa gak ya? hehehehehe..

    ReplyDelete
  6. sepertinya kalo aku nenek yg suka jalan2 deh..soale sekarang udah punya kaki yg gatal..hahaha

    ReplyDelete
  7. Hihihii... Samaaa dong maaak.. Mamaku gaul abeeeez ;).. Tapi tetep mau momong kook hehe

    ReplyDelete
  8. Kalau nenekku hobinya main bulutangkis dan hangout di mall sama temen-temen seganknya. Tapi naluri nenek tetep gak bisa dibohongin, kalau aku mampir ke rumahnya langsung dipaksa makan ini-itu dan dibilang kurus. Kalau muka belum merah belum disuruh berenti makan, huahahaha :D

    ReplyDelete
  9. nenekku hobinya menyanyi dalam bahasa belanda dan senang ngobrol dengan cucu2nya..ah kangen beliau...

    ReplyDelete
  10. Mbak, kalau aku sdh jadi nenek sekarang. Secara beberapa keponakan sudah ada yg mneikah dan punya anak-anak. Otomatis, status nenek pun dilekatkan padaku. Tapiiii...secara saya kan merasa imut, jadi manggilnya teuteup Tante....hehehe

    *workshop batiknya itu undangan dr balai batik. Kalau mau mandiri juga bisa di sana, jika gak salah biayanya sekitar 1,5 juta utk workshop seminggu (utk bahan, dll)

    ReplyDelete
  11. nantinya kita akan menua seperti mereka y mb, hiks

    ReplyDelete
  12. Sangat setuju sekali mbak Lusi. menurutku kasus yang beredar di medsos itu hanya satu dua kasus saja. Tidak bisa generalisasi juga, saya malah kayak mb Lusi, sering nemu neneka yang bahagia saat mengasuh cucunya.
    Mertua saya, juga ibu saya

    ReplyDelete
  13. ibu sama mertua, kebetulan bukan nenek-nenek yg dititipi cucu.. walau sesekali harus 'dititipi' juga kalo baby sitter mendadak pulang kampung :D

    ReplyDelete
  14. Wahhh asyik kayanya gambaran nenek di masa depan nih mak, ibu saya yang sudah memiliki 5 org cucu malah masih asyik ngantor ^_^

    ReplyDelete
  15. Nenek dan kakek jaman sekarang lebih OK dah....
    Nenek saya dirumah senangnya karaoke Mbak...

    ReplyDelete
  16. Kirain Mak Lus udah jadi grandma. Untung baca disclaimernya. Heheheheh...
    Sangat setuju dengan poin Nenek bukan baby sitter. Gara-gara ini, aku juga resign kerja kantoran. Kasihan mama, udah tua masa riweuh ngurus anak-anak aku. Dulu ngurus aku dan kakak-adik, masa sekarang udah tua capek lagi. :D

    ReplyDelete
  17. Ibu saya malah minta dibuatin cucu dan siap merawat cucunya Mak. "Buat yg banyak ya" hahaha itu pesan ibu saya. Bahkan sekarang saya hamil yg heboh ibu saya. Mungkin karena saya anak tunggal jadi ibu saya seperti itu. Kalau misalnya di balik saya yg jadi nenek, nenek macam apa ya saya?

    ReplyDelete
  18. nenek masa depan...aaaakk...sukaa banget!
    mari jadi tua dan gaul bersama ^_^

    baca pamflet itu jg. sempat gemes n pengen bikin postingan. ee udh keduluan mak lusi :D

    ReplyDelete
  19. merajut ini, dulu aku pernah belajar trus males =))
    *menatap benang yng udah kebeli

    ReplyDelete
  20. Happy Grandma happy grand child, dan buat bikin happy harus sering jalan-jalan dan melepas penat

    ReplyDelete
  21. kapsul waktu nih! kita baca lagi postingan ini 10 tahun ke depan yuk. kira-kira sesuai nggak dg gambaran kita masing-masing.

    ReplyDelete
  22. Emakku sosook nenek yg gk mau diajak jln2, pusing katanya, mgkin krn faktor penyakit hipertensinya ya, di luar kan emg bs bikin stress jd dobel, apalagi klo jalanan macet. Tp klo bkn tipe yg diem aja d rmh jg, masiih aja uprek, smpe ke ladang dan ikut mburuh di sawah. Ngurus cucu, mau bgt, berkali2 minta malahan, tp akunya yg gk kuat nitip anak ke seberang. Haha...

    Nah, klo aku di masa depan, piye ya, blm kebayang :v

    ReplyDelete
  23. Ya Allah Maaaak sukaaaa banget sama postingan ini.
    Pas baca pas ndengerin lagu slow.
    Bagaimanapun, Indonesia adalah negara kita. Saya yakin, masyarakatnya akan maju, lbh peduli pada kesehatan.
    Cayo the next gen grandma :))

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.