Friday, September 11, 2015

Tentang Loyalitas

Kadang heran tentang loyalitas ini.

Ada yang sudah diperlakukan dengan baik, tapi tidak tahu berterima kasih, malah seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ada yang diperlakukan seenaknya tapi nempel terus seolah tak ada pilihan lain.
tentang loyalitas

Ceritanya beberapa hari lalu saya main ke outlet furniture teman. Outletnya cukup besar, kelompok usahanya juga cukup besar karena sudah ekspor. Volume ekspornya naik turun tergantung kondisi ekonomi dunia, bahkan kadang juga tak ada order. Karenanya rata-rata eksportir yang saya kenal di Jogja juga memiliki outlet, atau setidaknya ikut pameran lokal untuk menghidupi kegiatan operasionalnya sehari-hari.
Kebanyakan eksportir jarang berada ditempat karena sibuk berorganisasi atau melakukan kegiatan marketing untuk menjaga eksistensi. Pemilik usaha memang seringkali harus high profile untuk mendongkrak brand usahanya. Karena kehadirannya yang terbatas itu, mereka punya orang-orang kepercayaan untuk secara de facto menguasai kegiatan operasional usaha, sekaligus menjamin kelancarannya. Yang saya temui di outlet tersebut, sebut saja Princess, adalah orang kepercayaan teman saya itu.
Saya mengenal Princess sudah sekitar 15 tahun, jadi akrab saking lamanya. Pertama kali saya kenal Princess ya di perusahaan teman saya tersebut, yang berarti Princess sudah bekerja disana lebih lama lagi, mungkin sekitar 20 tahunan, melewati masa jaya dan masa terpuruk perusahaan teman saya itu. Princess bekerja tak mengenal gaji. What? Benar! Di masa susah, Princess sering tidak digaji hingga beberapa bulan, tapi Princess tetap bekerja seperti biasa. Bahkan saking berdedikasinya hingga sering lembur, Princess belum menikah sampai sekarang. Tidak ada waktu untuk gaul. Kerja, kerja dan kerja terus.
Teman saya adalah seorang yang keras dan maunya serba cepat, tipikal seorang pengusaha. Siapapun yang tidak punya etos kerja tinggi, tak akan sanggup bekerja bersamanya. Tapi satu hal yang patut diapresiasi darinya adalah, semarah apapun, dia tidak pernah mengungkit karakter orang yang bersangkutan. Ketika dia menerima seseorang bekerja dengannya, berarti dia sudah tahu dan siap bahu membahu bersama orang dengan karakter tersebut. Yang dia tagih terus menerus adalah output pekerjaan sesuai dengan target.
Teman saya bilang, mempermasalahkan karakter seseorang adalah tindakan sia-sia, apalagi jika sudah dewasa begini, tak mungkin diubah kecuali ada suatu peristiwa yang bisa menjadi titik balik. Jika tak cocok, jangan menerimanya sejak awal. Menggugat karakter seseorang juga berbahaya, karena dalam karakter itu terdapat emosi-emosi yang terbentuk karena pengalaman hidup orang tersebut selama ini. Jika salah urus, dari sana pula dendam muncul.
"Semarah-marahnya aku, intinya cuma tentang pekerjaan. Hari ini marah, besok sudah lupa tentang marah hari ini, ganti marah yang lain. Heheheee.... Tapi kalau kamu menyinggung karakternya, dia tak akan pernah lupa," begitu katanya.
Loyalitas seringkali haram dihubungkan dengan uang. Namun, loyalitas pun tak berarti mati kelaparan bersama. Loyalitas itu tidak bisa terbentuk hanya dari satu sisi, melainkan timbal balik. Perlakuan berdasarkan porsinya. Hmmm.... masuk akal.
Jadi jika kita mengharapkan loyalitas dari anak buah, karyawan atau kolega, kita harus bertanya dulu apakah kita sudah meletakkan orang tersebut sesuai pada tempatnya? Apakah kita tidak menuntut lebih dari yang seharusnya kita dapat? Jadi, berkaca dulu sebelum mempertanyakan orang lain.  Jika semua sudah kita laksanakan ternyata orang tersebut tetap tidak loyal, berarti kita harus belajar lagi bagaimana menilai seseorang.
Demikian pelajaran yang saya peroleh dari 30 menit ngobrol heheheee.... tanpa konsumsi pulak, aus...

9 comments:

  1. setujuuuuuu.. kadang cermin memang harus ada dalam sehari2..bukan pengusaha saja...
    kalau karakter emang susah mbak...kan sifat org beda2 kalau kudu diubah harus ada someting happen yang bikin dia berubah bener..
    hebate temen mbak... semoga selalu sukses

    ReplyDelete
  2. Hm, di satu sisi aku kasihan Princess, sudahlah loyal, rela pulak gak menikah.. :(

    ReplyDelete
  3. wah princess...sungguh setia. semoga menemukan jodoh yg tepat

    ReplyDelete
  4. betul mba, kalo membahas karakter org itu gak akan aa habisnya

    ReplyDelete
  5. Loyalitas tanpa batas, insyaAllah akan indah pada waktunya. Amiiinnn XD

    ReplyDelete
  6. Kalimat yang terakhir nendang banget mak!

    ReplyDelete
  7. setuju banget, Mbak. Kalau marah sebaiknya gak meleber kemana-mana termasuk menyinggung karakter seseorang. Kalau marah karena kerjaan, fokus aja di kerjaan

    ReplyDelete
  8. paling enak kalo ketemu ornag yang kayak gini,hari ini marah dan kalo masalahnya udah kelar,ya udah biasa aja..paling sebel yang ngngkit2,jaidnya melebar

    ReplyDelete
  9. Wihiiir, keren dong dia. Punya loyalitas tinggi sampe betah kerja di situ 20 tahun lamanya... Berarti bosnya baik kali ya?

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.