Thursday, October 01, 2015

House of The Spirits: Pemberontakan dan Ikatan Keluarga

House of The Spirits adalah film tentang pemberontakan dan ikatan keluarga yang sangat mengesankan bagi saya.

Sumber: http://brianrowereviews.com/tag/winona-ryder/

Film ini saya tonton ketika masih kuliah unyu-unyu sebanyak dua kali di bioskop, sekali bareng teman-teman kos, sekali bareng gebetan. Uhuk! Asiknya lagi, durasi film ini tiga jam, jadi bisa lamaan. Heheheee.... Baru-baru ini ketemu lagi dengan makhluk yang dimaksud itu dan penampilannya tetep keren seperti dulu hahaaa... sementara saya udah tante-tante banget. Ya sudahlah, yang penting tetap berteman baik. Oya, teman-teman yang penasaran tiga jam itu saya ngapain aja, ya serius dong nyimak filmnya. Dih, kayak nggak tau saya aja.
House of The Spirits adalah film serius pertama yang saya tonton di bioskop. Kalau nonton bareng teman-teman di bioskop, biasanya saya cari yang menghibur. Tapi waktu itu studio lainnya memutar film action, jadilah kami cewek-cewek ini memilih House of The Spirits.
Film ini diambil dari novel pertama Isabel Allende yang langsung meledak meski sebelumnya ditolak oleh berpuluh-puluh penerbit. Makanya teman-teman yang pengin jadi penulis terkenal, tetap semangat ya. Dibintangi Merryl Streep, Jeremy Irons, Glen Close, Winona Ryder dan Antonio Banderas, House of The Spirits menjanjikan kualitas terbaik dari segi peran maupun sinematografi. Sangat jarang ada film berdurasi hingga tiga jam, tapi skrip yang menawan membuatnya sulit untuk dipenggal jadi dua jam.

Berlatar kediktatoran Chile, sepanjang cerita memperlihatkan kekerasan para tokoh laki-lakinya dan bagaimana perempuan-perempuan yang bertutur lembut melakukan pemberontakannya. 

Laki-laki digambarkan seperti sifat umumnya, yaitu pekerja keras dan pengejar kesuksesan. Esteban memiliki semua karakteristik laki-laki yang egois. Baginya yang penting adalah bekerja keras, mengumpulkan harta dan menjadi senator yang sukses. Hal-hal sentimentil tidak pernah masuk dalam pikirannya.
Bagi Esteban, seorang pemimpin rumah tangga adalah yang mampu menjamin kenyamanan keluarganya, selebihnya adalah urusannya sendiri. Apapun yang dilakukannya, membunuh orang atau mendatangi PSK, bukan urusan keluarganya. Esteban melimpahi istrinya dengan kehidupan mewah, hasilnya banting tulang membuka lahan sebagai tuan tanah. Namun dibalik itu, kehidupan keras di pertanian membuat Esteban menjadi laki-laki yang ambisius dan tidak mau dibantah.
Clara, istri Esteban yang lembut, memang bukanlah cinta pertamanya. Esteban menikahi Clara setelah patah hati karena calon istrinya, kakak Clara, meninggal. Clara tahu jika suaminya punya perempuan simpanan di pertanian bernama Pancha hinggga punya anak dan tahu bahwa suaminya sering mengunjungi seorang PSK bernama Transito. Ada gitu ya, perempuan bernama Transito? Mungkin karena sering jadi tempat transit. Clara tidak pernah mengungkit itu hingga suatu hari Esteban menamparnya dan mengusir anak mereka, Blanca, yang menjalin cinta dengan Pedro, anak buruhnya. Clara melakukan perlawanan dengan diam. Clara tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari, termasuk melayani Esteban, tapi Clara tidak pernah bicara lagi. Esteban tersiksa.
Blanca tak ubahnya seperti sang ibu yang lembut dan bertutur kata halus. Namun cintanya pada Pedro membuat Blanca memberontak pada sang ayah. Blanca bahkan berani meninggalkan Jean yang disodorkan Esteban untuk menikahinya ketika ketahuan hamil dengan Pedro diluar nikah. Esteban menjadi politikus yang sukses ditengah karut marut keluarganya. Namun Esteban menjadi sangat kesepian, apalagi kemudian istrinya meninggal dalam diam dan kesedihan.
Adalah Alba, anak Blanca, yang akhirnya bisa menyatukan ikatan keluarga tersebut. Blanca yang pulang setelah disiksa oleh saudara tirinya, anak hasil hubungan gelap Esteban dengan Pancha, yang saat itu telah dewasa dan menjadi tentara militer yang kejam setelah melakukan coup d’etat, diterima kembali oleh Esteban. Alba menjadi jembatan yang mengikat kembali keluarga tersebut, hingga Esteban mau membantu Blanca bersatu dengan Pedro yang lari ke Canada karena kejaran militer. Alba pula yang menghidupkan kembali roh Clara di hacienda (semacam ranch) milik mereka.
Sumber: http://brianrowereviews.com/tag/winona-ryder/

Selama tiga jam, kisah ini sama sekali tidak membuat ngantuk karena alurnya yang padat dengan makna. Meski berlatar diktator militer, tapi sebenarnya ini adalah sebuah drama keluarga, yang memberi inspirasi bahwa apapun yang terjadi, ikatan keluarga tidak akan pernah putus. Keluarga bisa saja tercerai berai karena ambisi, tapi suatu saat ia akan kembali rekat.

Kisah ini, mungkin karena penulisnya perempuan, menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan bisa begitu teguh dalam menentukan sikap, bahkan lebih kuat dari laki-laki yang tampak luarnya sekeras baja. 

Keteguhan hati memang tidak perlu ditunjukkan dengan kata-kata yang meledak-ledak, karena kadang itu hanya luapan emosi seseorang yang membutuhkan perhatian. Jadi jika kita menginginkan sesuatu atau sebaliknya tidak menyukai sesuatu, yang terpenting bukan sekedar ekspresi kemauan, tapi kegigihan untuk bertahan pada keinginan tersebut. Dalam kisah ini juga ditonjolkan tentang pencarian cinta. Bahwa cinta sebenarnya adalah yang mampu mengikat ambisi-ambisi dan hati yang patah bersatu kembali untuk merelakan yang telah terjadi. 

14 comments:

  1. Saya masih ngedraft...
    Kapan2 kalau ketemu mau dunk pinjem CDnya mbak...

    ReplyDelete
  2. ceritanya bagus mbak, pingin nonton, cari ah DVDNya mudah-mudahan ada. Wynonanya masih muda banget ya disini

    ReplyDelete
  3. Kadangkala perempuan yang tampaknya lemah malah lebih "perkasa" dari laki-laki. Aku nggak pernah nonton film ini *eh tapi emang jarang sih nonton bioskop :D

    ReplyDelete
  4. cari ah mak di yutub udah ada blm yaa

    ReplyDelete
  5. Glenn Close itu kalau ga salah yang main di 101 dalmations itu ya mbak...wah nggemesin banget aktingnya waktu itu *pingin nyubittt...
    terus kalau di film ini jadi gimana ya...berbalik 180 derajat kayaknya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hampir sama, membawakan karakter jutek heheheee.....

      Delete
  6. Belum lama ini aku baru nonton di HBO maklus, baguss...aku suka film2 bersetting beginih.

    ReplyDelete
  7. Boleh nich ntar aku cari di you tube

    ReplyDelete
  8. Aku baru nonton Everest, dan itu film benar-benar mengajarkan kalau segala hal itu harus pakai perjuangan, bukan datang tiba-tiba :)

    ReplyDelete
  9. Drama kayak gini saya demen banget...
    Kok kelewat yaks nonton yang ini, perasaan sezaman kita mak lusi *uhuk
    kebayang saya terbawa dalam konfil dan cerita di dalamnya deh..
    actornya juga keren2 ituuh

    ReplyDelete
  10. 3 jam kaya film india mbak, tapi kalau kita nonton sampai lupa waktu berarti film ini amat sangat wajib ditonton, makaish ya mbak atas partisipasinya

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.