Thursday, November 05, 2015

Jelajah Gizi Bali: Kopi, Jamu dan Es Campur

Jelajah Gizi Bali yang diadakan di musim kemarau membuat urusan minuman jadi sangat menarik, terutama kopi, jamu dan es campur.

Welcome drink di Nusa Lembongan, orange juice yang kaya vitamin C.
Begitu melihat jadwal kegiatan kami yang dikirimkan Nutrisi Anak Bangsa melalui email, saya langsung terbelalak. Ke wisata agro kopi? Yang benar saja! Saya senang bukan main karena selama ini saya dikenal sebagai penggemar kopi. Penggemar kopi disini bukan berarti saya bisa minum kopi berliter-liter tiap hari ya, melainkan saya suka mencoba berbagai jenis kopi. Pikiran saya cuma satu, saya akan mencicipi kopi Bali. Saya bahkan sejenak lupa bahwa saya kesana untuk mengetahui kandungannya dengan bimbingan Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS. PhD..
Selain kopi, sepanjang perjalanan selalu ada menu minuman, baik yang disajikan oleh warga setempat, maupun diperagakan oleh Chef Muto. Apakah minuman ada gizinya? Nah, di postingan ini saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya tulis sendiri di postingan Jelajah Gizi Bali sebelumnya.

Kopi, Berbahaya atau Tidak?
Kalau minumnya satu liter sehari sudah jelas bahaya ya, nggak usah dibahas. Heheheee.... Tapi apakah kita harus benar-benar menghindari minuman yang dikenal memiliki kandungan kafein yang tinggi ini? Bali Pulina Agro Tourism tidak akan sebesar itu jika kopi harus sama sekali dihindari. Demikian pula dengan perkebunan lain di sekitarnya.
Bali Pulina adalah sebuah perkebunan yang menanam, mengolah dan memasarkan sendiri kopinya. Ada dua jenis kopi yang ditanam disini, yaitu arabika dan robusta. Setelah diolah dengan campuran berbagai bahan rempah, kita akan mengenalnya sebagai kopi Bali. Di Bali Pulina ada pula kopi luwak yang sangat terkenal itu.
Proses membuat kopi Bali.
Kopi luwak menjadi perhatian utama karena harganya yang terkenal mahal. Di Bali Pulina, secangkir kopi luwak dihargai Rp 50.000,- dan harganya bisa sepuluh kali lipat di luar negeri. Sedangkan biji kopinya sendiri ditawarkan dengan harga Rp 4.000.000,- per kg.

Luwak sudah bisa memproses kopi didalam perutnya pada umur 6 bulan sampai 10 tahun. Agar tidak stres, luwak tidak ditugaskan untuk memproses kopi setiap hari. Di Bali Pulina ada 3 jenis luwak, yaitu ketan, injin dan pandan yang mengeluarkan bau harum. Setelah keluar dari tubuh luwak, kopi dicuci bersih dan dikeringkan selama 2 minggu hingga mengelupas sendiri. Untuk 1 kg biji kopi harus disangrai selama 45 menit dengan gerakan teratur agar aromanya keluar dan tidak gosong. Setelah itu baru ditumbuk, diayak dan siap dikonsumsi.

Kopi luwak diklaim lebih aman bagi lambung dibandingkan dengan jenis kopi lainnya. Ini karena kopi luwak telah mengalami proses fermentasi didalam perut luwak sehingga kadar kafeinnya lebih rendah dan kandungan asamnya hilang. Namun demikian, dianjurkan untuk tidak menambahkan gula agar kandungan asamnya tidak muncul lagi.
Luwaknya yang di pucuk itu. Kelihatan nggak?

Nah, bagaimana dengan kopi pada umumnya, yang kandungan kafein dan asamnya tetap tinggi? 

IOC (International Olympic Commitee) awalnya melarang atlet minum kopi, tapi sekarang kopi hanya dikenal sebagai alat bantu meningkatkan metabolisme energi, bukan doping. Prof. Eman menginformasikan ada studi genomik yang menyimpulkan bahwa memang ada manusia yang genomnya cocok untuk minum kopi, malah pusing jika tidak minum kopi. Bahkan pada orang dengan gen tertentu kopi mampu mencegah penyakit jantung dan kepikunan. Namun demikian, supaya aman, sebaiknya jangan minum kopi ketika perut dalam keadaan kosong. Minimal ngemil dulu. Selain itu jangan minum lebih dari 2 cangkir per hari.
Jadi, jika teman-teman menemukan artikel tentang kopi yang saling bertentangan antara apakah kopi boleh dikonsumsi atau harus dihindari, itu kemungkinan karena orang yang menjadi patokan dalam artikel tersebut memiliki genom yang berbeda.
Apakah Loloh Cem-cem Itu Jamu? 

Loloh itu memang artinya jamu. Heheheee.... 

Meski bisa juga untuk menghilangkan bau amis ketika memasak ikan, daun cem-cem sangat terkenal karena diproses menjadi loloh atau jamu. Tapi ini bukan sembarang jamu karena biasanya kita mengenal jamu itu rasanya pahit. Jangan anak-anak, ibu-ibu aja nyengir kalau disuruh minum jamu.
Loloh cem-cem ini beda dan bikin pengin terus karena rasanya kecut segar seperti kedondong. Warnanya hijau seperti warna asli daun cem-cem. Loloh cem-cem paling segar diminum dalam kondisi dingin. Sayangnya, minuman ini tidak tahan diluar kulkas lebih dari sehari, jadi tidak bisa buat oleh-oleh karena saya masih harus tinggal di Bali 2 hari lagi.
Cara membuat loloh cem-cem khas Bangli ini cukup mudah, yaitu meremas daun cem-cem dengan air hangat untuk mengambil sarinya. Setelah itu ditambahkan air kelapa, gula aren, garam dan asam. Dengan demikian, loloh cem-cem memiliki kandungan vitamin, mineral dan serat.
Adakah korelasi antara kandungan loloh cem-cem dengan keharmonisan rumah tangga?
Meski ada rasa asam, PH loloh cem-cem masih tinggi sehingga tidak berbahaya bagi yang punya sakit maag. Yang paling terasa adalah bagus untuk kebugaran. Saya yang agak lesu karena udara panas sebelumnya, langsung segar meski cuma minum satu cup kecil loloh cem-cem. Jadi hampir seperti cincau juga yang bisa meredakan panas dalam. Namun, manfaat yang paling terkenal untuk penambah stamina pria.
Jadi apakah bapak ibu pemilik rumah no 21 yang telah menikah selama 49 tahun dan fotonya saya muat di postingan sebelumnya awet berkat loloh cem-cem? Hmmm... bisa jadi.
Es Campur 
Kita mengenal es campur sebagai pelepas dahaga ketika cuaca sedang panas-panasnya. Karena ada es dan sirup manis, orangtua sering berpesan kepada anaknya untuk tidak banyak-banyak minum es campur atau bahkan untuk tidak minum es sama sekali karena bisa batuk. Namun di Jelajah Gizi Bali ini, Chef Muto memasukkan es campur di semua daftar menunya. Setelah diterangkan oleh Prof. Eman, saya jadi paham bahwa es campur bisa pula memiliki manfaat.
Es kuwut
Ada 3 macam es campur yang saya nikmati di Jelajah Gizi Bali, yaitu es kuwut di Paon Bali Ubud, es campur Bali di Nusa Lembongan dan es kacang merah di Bloem's di Kuta.

Sesuai dengan bidangnya, Chef Muto menekankan pada penyajian. Chef Muto senang mengunakan gelas bening panjang, agar gradasi warna terlihat sehingga es campur tersebut lebih menggugah selera. Caranya mudah kok. Urutkan saja bahannya dari bawah ke atas dan jangan diaduk.

Es kuwut adalah yang pertama kali dipraktekkan. Tampilannya menggoda karena menggunakan sirup berwarna merah. Bahannya disusun urut dari bawah keatas berupa sirup, melon, selasih, kelapa muda, dan air jeruk nipis. Esnya menggunakan es serut. Lihat saja bahannya penuh vitamin, belum lagi selasih yang bikin badan adem.
Berebut mengabadikan es campur Bali. Sebenarnya saya ingin berebut minumnya. Tapi harus jaga sikap kan? :D
Es campur Bali dipraktekkan ketika berada di Nusa Lembongan. Di cuaca pantai yang panas seperti itu sebenarnya pengin langsung meneguk begitu jadi, tapi sayang harus ikut lomba masak dulu. Bahannya berupa kolang kaling atau buat atep, cincau hitam, nangka. dawet, kelapa muda dan tapai. Tentu saja ditambahkan sirup dan es batu. Kolang-kaling ini bagus untuk kesehatan sendi dan pencernaan karena kaya serat. Kelapa mudanya kayak dengan kalium. Sedangkan tapai ada vitamin B-nya. Khusus yang punya penyakit maag, jangan banyak-banyak makan tapai dan nangka ya.

Di acara makan malam, kami juga mendapat es campur yang menyerupai es teller. Bahannya hampir sama dengan es campur Bali, yaitu sirup, es serut, kelapa muda, nangka, kolang-kaling dan tapai. Sepertitnya masih ditambah santan.
Es kacang merah dari Bloem's. Sueger banget. Ini kacang merahnya masih ada kok tenggelam, belum saya makan. Benaran.
Bloem's Waroeng menyiapkan es kacang merah dengan bahan yang lebih minimalis tapi kesegarannya sama. Bahan yang digunakan es serut, santan, gula dan kacang merah. Kacang merah bagus dimakan beserta kulit arinya karena lebih kaya serat sehingga menyehatkan tubuh.

Dari Jelajah Gizi Bali ini saya jadi mengerti bahwa sumber gizi itu asalnya macam-macam, bukan hanya dari makanan pokok. Pangan lokal sangat beragam, berarti sumber gizi pun berlimpah.


25 comments:

  1. Denger namanya loloh cem cem itu kok jadi inget minyak rambut yang bisa menghitamkan dan melebatkan rambut. Itu apa ya, ada kata cem cem an juga klo nggak salah :D
    Seger banget es nya, enak ya diminum saat hawa panas gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau minyak rambut yg cem-ceman itu, ingat saya, bikinnya pakai daun mangkokan (bunga yg tak berbunga). Itu kakak saya rajin banget dulu, terbukti hasilnya rambutnya bagus banget hingga kini usianya jelang separuh abad

      Delete
    2. Nah tu bener, kalau cem2an dr daun mangkokan :D

      Delete
    3. Jahhhahaha...inih, cocoklogi, berasa minyak cem2an bisa diminum gitu yak :)(

      Delete
  2. Menarik sekali proses pengolahan kopi.
    Tiap2 pemrosesan memiliki rahasia tehnik hingga didapat berbagai hasil akhir citarasa kopi yg berbeda2.

    Di sinilah uniknya suatu "brand" kopi yg sll diburu para kopi lovers.

    Mba itu daun loloh saya baru tahu, kira2 "nama lain"nya apa? saya suka yg seger2 herbal gitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh apa ya? Ntar sy cari kontak Prof Eman dulu, tak tanya.

      Delete
  3. satu cangkir 50.000? hm suamiku sekarang jadi penikmat kopi, lamaaa aja kalau sudah di gerai kopi. Wanginya emang bener bener mengenakan kepalaku. Etapi sekarang aku menggunakan kopi untuk mengusir tikus ;(

    ReplyDelete
  4. banyak juga ya ragam dari makanan yang bergizi di bali, oh ya ternyata kopi luak harga nya cukup mahal ya, saya kurang begitu suka kopi karena punya asam lambung, tapi penasaran sama kopi luak yang katanya ga berpengaruh sama penyakit lambung

    ReplyDelete
  5. Bikin loloh cem-cem prosesnya emang mirip bikin cincau ya. Tapi kok kegunaannya lebih ke pria? Hahaha..

    Kopi luwaknya pasti enak banget ya, Mak.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kopi luwake pahit krn gak disarankan pake gula, ntar asamnya keluar lagi pdhl lambungku gak tahan. :)

      Delete
  6. dan saya pun sbg anak bali blm pernah ngerasain yg begini2, kashan yak, hiks...
    senengnyaaaa..

    ReplyDelete
  7. Kok aku malah tergoda es kacang merahnya ya

    ReplyDelete
  8. Ngiler es kacang merahnya wlo ga keliatan hhihi

    Mbak, klo kopi luwak itu aku oernah dikasih tau, klo kita ga perlu melihara luwak buat dpt dapetin kualitas kopi terbaik.

    ReplyDelete
  9. aku penikmat kopi, meski minumnya gak tiap hari...kalo suami kopi addict.. kalo gak minum kopi, katanya bisa pusing.. pun kalo minum kopi menjelang tidur, gak ngefek katanya. tidur mah tidur ajaa :D

    ReplyDelete
  10. Kopi, jamu, dan es campur, masing-masing punya kandungan gizinya, ya, Mak. Tergantung pinter-pinternya kita dalam megolahnya :)

    ReplyDelete
  11. Belum pernah coba kopi luwak. Rasanya seperti apa ya mbak. Harganya 4 juta per kg? Wow....

    ReplyDelete
  12. Ngomongin kopinya ._. sebenernya berbahaya karena kita berlebihan mengonsumsi sih ya? kan apapun yang berlebihan itu nggak baik ._.

    Aaah es campurnya nggak nyantai :3 sini mbak mintaak :D

    ReplyDelete
  13. waktu pertama nyoba kopi, sy juga gemeteran mak. tp lama2 biasa kalo nggak malah suka pusing sekarang

    ReplyDelete
  14. Saya penyuka kopi nih Mbak...
    Dan, gawat, saya meminum kopi lebih dari 2 cangkir per hari nya...

    Salam,

    ReplyDelete
  15. Jadi tahu ada menu "Loloh cem cem" di pulau Dewata mbak karena postingan ini. Siapa tahu kapan waktu saya juga bisa menikmatinya :)

    ReplyDelete
  16. mupeeeng baca acara jalan2nya mba lusiiii..seru niaaan....penasaran cem2 annya hihihi

    ReplyDelete
  17. Yang paling bikin ngiler itu es campurnya, serasi banget penyajiannya, kereeen :D

    ReplyDelete
  18. tuhaaaan...makin akut ngilernya liat yang satu ini..es kacang merah kan favorit saya selaluuuu hiiiks..

    ReplyDelete
  19. semuanya aku suka..tapi aku suka kopi dan es campurnya...

    ReplyDelete
  20. segernya minum loloh, sayang disini gak ada

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.