Friday, January 29, 2016

Aktif Di Media Sosial Tanpa Stress

Aktif di media sosial bisa kok tanpa stress.

Aktif di media sosial tanpa stress


Enak sih kalau bisa ngomong, "Kalau medsos bikin stress aja, mendingan delete akun. Kelar! Hidup normal lagi."
Masalahnya, ini bukan soal kecanduan atau FOMO, melainkan pekerjaan. Jika punya pekerjaan yang berbasis followers, entah itu blogger, e-commerce maupun online personality, tutup akun berarti tutup toko. Dapat penghasilan dari mana? Lalu bagaimana kehidupan medsos bisa nyaman di tengah makin sesaknya perkampungan maya? Haruskah jadi robot yang tidak perlu menyapa dan ketawa sana-sini?
Jika hiruk-pikuk dunia maya sudah melampaui batas ketabahan saya, berikut cara-cara yang sering saya lakukan. Tapi ini melalui latihan berdasarkan saran teman-teman juga lo, karena sebelumnya saya kebanyakan mikir sebelum bertindak. Sekarang sih langsung babat aja karena kehidupan medsos tidak boleh mempengaruhi kehidupan kita lainnya. Tidak semua yang melintas di timeline kita perlu ditanggapi, dipikirkan atau sekedar dilihat.

Maya dan Nyata Beda
Pertama kali terjun ke dunia maya, saya dipengaruhi oleh pemikiran bahwa dunia maya dan nyata itu sama. Kita harus sopan, ramah dan menjadi diri sendiri. Makin lama dan makin banyak orang menggunakan medsos, saya menyimpulkan bahwa kita harus bersikap berbeda. Sudah pernah melihat akun twitter ustadz dimaki anak muda? Hal-hal seperti itu terjadi di medsos tapi tidak di lingkungan rumah. 
Sopan tetap karena untuk apa bersikap sebaliknya? Kepuasan seperti apa yang didapat dari bersikap kurang ajar? Ramah juga tetap karena dari situlah tujuan kita ber-medsos tercapai. Jujur harus tapi apa adanya jangan. Maksudnya, jangan berbohong untuk pencitraan atau berbisnis. Percuma tetap di medsos kalau akun tidak dipercaya. Tapi jangan apa adanya semua diceritakan karena audience kita tak terbatas, seluruh penjuru dunia bisa lihat. Orang bisa mengumpulkan informasi tentang kita, baik data maupun kepribadian, bak memunguti puzzle. Hanya Tuhan yang tahu tujuannya. Teman-teman sudah pahamlah, cuma bandel aja tetap upload, ya kan? 

Filter Mata
Yang paling penting untuk dijaga di medsos adalah mata. Begitu mata menangkap ada kasak kusuk, langsung deh scroll mencari sumber kemeriahan. Setelah ketemu balik lagi diurutkan ujung masalahnya sampai mana. Terus ikut komen, ikut ngejek, ikut nyinyir dan sebagainya. Filter mata yang utama adalah singkirkan akun-akun kompor. Akun kompor begini selalu tak mau ketinggalan bikin status atau komen di thread yang lagi ramai (dalam artian negatif). Meskipun kenal di dunia maya sudah lama tapi selama itu tidak ada sesuatu yang mengikat (bisnis atau kerjasama) dahulu langsung saya delete begitu saja. Belakangan saya pikir, sayang juga karena mengumpulkan followers itu susah, jadi untuk twitter saya mute, sedangkan facebook di-unfollow saja.
Filter mata juga berlaku jika kita mudah down atau bahkan iri. Perasaan-perasaan seperti itu tak selamanya menunjukkan keburukan hati kita, kadang itu juga dilandasi latar belakang yang sangat manusiawi. Karena itu jika tetap ingin jadi orang baik, tidak jutek atau pedes melihat kesuksesan orang lain, mendingan kita pakai filter mata. Misalnya usaha kita sedang dalam kondisi sulit, sementara akun lain bolak balik posting, "Alhamdulillah kirim ke Afrika orderan 5 karung beras." atau "Alhamdulillah rejeki anak sholeh dapat transfer satu trilyun."
Mbak Indah Juli pernah menasehati kalau sedang stalking jangan menggunakan touchscreen supaya tidak kepleset dan mencet love atau like tanpa sengaja, terutama stalking mantan. Tapi mendingan nggak usahlah. Nanti kalau mantan posting foto mesra dengan si dia lalu hatimu hancur berkeping-keping, siapa yang mungutin kepingannya?

Hindari Bahaya Laten
Dijaman serba mobile, gadget dan sinyal sangat mendukung aktivitas medsos. Tapi coba dilihat lagi, apakah kita tidak salah memanfaatkannya dan tak salah dalam berasumsi. Di sebuah group WA, seorang teman mengatakan bahwa sebagai orangtua, hendaknya kami tidak memantau facebook terus, letakkan gadget untuk menemani anak-anak belajar. Sampai disini semua setuju. Tapi kemudian dia melanjutkan bahwa sebaiknya kami meninggalkan facebook karena pengaruhnya yang buruk. Nah, disini terlihat bagaimana dinosaurus-nya beliau. Saat ini facebook telah berkembang menjadi berbagai manfaat, antara lain untuk berkomunitas, berusaha dan menyebarkan gerakan kemanusiaan. Anehnya, group chat yang tanpa henti dari subuh hingga mau tidur kembali dianggap sebagai ajang silaturahim yang wajib dipelihara. Bukankah itu lebih parah daripada ber-medsos karena berarti seharian pegang gadget? Kapan ngurus anak? Jaman sekarang, yang sedang LDR bukankah bisa menggunakan waktu luang untuk skype mengecek PR anak daripada ngobrol yang tidak jelas? Diskusi atau tepatnya adu argumentasi tersebut ditutup dengan anjuran bahwa saya harus khusnudzon dengan teman yang bisa chatting lama. Seperti itulah contoh bahaya latennya. Group chat tidak tampak memiliki pengaruh buruk, padahal telah menyita waktu seharian.
Bahaya laten lainnya adalah bisa membuka akun medsos dimanapun juga, membuat kita bisa mengikuti semua perkembangan. Misalnya ada kehebohan tentang follow-followan di twitter. Sudah melihat threadnya, tapi mau komen sedang dijalan. Rasanya kemrungsung, ada yang mengganjal dihati pengin dimuntahkan. Belum lagi ingat followers sendiri yang masih sedikit, jadi pengin cepat-cepat buka gadget lagi untuk follow yang banyak supaya dapat follow back. Yang harusnya kita menikmati belanja sayur, jadi kepengin cepat-cepat mojok untuk ikut heboh di medsos. Kalau seperti ini dibatasi aja. Misalnya hanya buka facebook kalau didepan laptop supaya mau gak mau kita menyetop stalking begitu laptop ditutup. Lagipula, aplikasi facebook di gadget itu termasuk yang paling banyak memakan memory. Atau bisa dengan aturan hanya membuka medsos di jam tertentu dan sebagainya sesuai dengan kesibukan teman-teman.


Turunkan Harapan, Tinggikan Usaha

Dikit-dikit baper ketika ber-medsos? 

Mungkin karena harapan kita ketinggian. Contoh lagi yang ngehits aja ya, tentang follow-followan twitter. Mengharapnya kan ketika kita follow seseorang, langsung di follow back. Tapi itu tidak terjadi. Jangan baper dulu, karena ini masalah kecil di medsoso. Kalau yang kayak gini diributin, betapa banyaknya masalah di medsos? Bikin stress dong.
Coba cek dulu, mungkin bio kita tidak menunjukkan siapa kita. Saya sendiri minimal menuntut harus ada keterangan di bio pada orang yang tidak saya kenal. Misalnya, momblogger, pedagang beras, pemilik jasa sapu-sapu dan sebagainya. Kalau cuma username dan alamat blog, biasarnya tidak saya follow back, apalagi cuma ada username. Bio lengkap juga belum tentu di follow back jika isi twitter kita terkena filter mata yang bersangkutan. Ini bukan berarti tweet kita jelek lo. Itulah bedanya didunia maya dan nyata. Di lingkungan nyata kita "dipaksa" menerima keberagaman. Di dunia maya, jika kita tidak nyaman dengan perbedaan, boleh banget tidak mau tahu daripada memunculkan ketegangan.
Di medsos itu jangan ngarep melulu, tinggikan usaha dong. Kalau usahanya cuma, "follow back kakak" ya dapatnya cuma teman-teman yang sudah kita kenal di akun medsos lainnya, misalnya facebook. Ngetwit begitu dengan orang yang sama sekali asing, responnya bisa tidak terduga, apalagi orang twitter itu banyak yang suka bicara frontal. Kita bisa belajar dari teman-teman yang followers diatas 5000. Lihatlah bagaimana santainya mereka bertegur sapa dan berbagi informasi sehingga followers mereka cepat bertambah.

Tools
Tools semacam hootsuite atau tweetdeck adalah alat bantu anti stress jika kita tegas mengatur setting dan tidak tergoda untuk melanggarnya sendiri. Misalnya sedang ada hiruk pikuk dukung mendukung pilpres seperti dulu, kita bisa mematikan fitur timeline atau home atau feed sehingga tidak perlu melihat orang lain nulis apa tapi tetap eksis di medsos. Dengan demikian kita tetap bisa posting dan hanya menanggapi yang mention di kolom notifikasi, tanpa terbawa emosi akibat gontok-gontokan partai tersebut.

Media sosial dibuat agar manusia mudah berhubungan dengan manusia lain. 

Jika medsos malah membuat kita stress, mungkin kita belum tahu cara memanfaatkannya dengan benar. Ada banyak cara untuk mencegah stress ber-medsos, sebelum terlambat tak bisa melepaskan semua yang sedang ngehits dari pikiran. Di dunia remaja malah lebih berbahaya lagi karena meski dibully habis-habisan, ada yang tidak bisa melepaskan diri dari medsos.
Jadi, apakah medsos sudah memudahkan hidup teman-teman atau malah bikin emosi melulu?

40 comments:

  1. saya termasuk yang g mau pusing sama urusan orang lain,tl lagi ribut apa ya biarin aja,hehehe..untuk maslah follow,saya lebih bahagia follow dengan hati,nggak terlalu mempermaslahkan folbek...kalo difolbek ya alhamdulillah,kalao nggak ya g maslah..pokoknya dibuat gampang gitu mak hehe

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah memudahkan sekaligus menyusahkan, Mbak. Tapi butuh pakai banget, jadi ya memang bikin filter sendiri agar tdk stress bermedsos. Tfs ya. Artikelnya bencerahkan. Pengen bikin artikel tanggapan tapi lihat waktu, semoga bisa.karena I like it so much. :D

    ReplyDelete
  3. Iya ya Facebook itu memakan banyak tempat di smartphone. Tapi Mak, kok bisaaaa sih nggak ikutan latah??? Hahaha. Dikeplak mak Lusi nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Latihan bertahun-tahun bertapa di suatu gua dulu hahaaa

      Delete
  4. ya jangan terlalu lebay deh kalo di medsos :)

    ReplyDelete
  5. Makin lama menggeluti dunmay makin punya keyakinan bahwa bersikap di dunmay ngga beda kok dengan dunia tidak maya. Sama-sama harus punya sikap yang baik sesuaikan dengan sikon yang dihadapi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sikap kita harus tetap baik. Ekspektasi yg beda

      Delete
  6. apa yg terjadi di dunia maya,biarkan saja di sana.. main medsos itu, cukup dipake having fun aja, gak usah dimasukin ati.. ntar bisa baper berkepanjangan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. YUp, kalau dicampur-campur, lagi makan kepikiran klout heheee

      Delete
  7. Wah saya jadi ingat kalau sudah lama ngga nengok FB :)

    Saya baru beberapa bulan punya twitter mbak Lusi, dengan satu alasan yaitu waktu ikutan GA ada syarat harus follow twitter dan FB. Twitter saya kosong melompong, hanya untuk memfollow GA aja :)

    Apalagi IG, ngga ada.

    Gimana mau medsos-an mbak lha wong kerja berangkat pagi pulang petang dirumah ada pekerjaan, capek terus tidur. Kalau ada waktu mending buat nulis blog mbak :)

    ReplyDelete
  8. whahaha iya follow2an ini heboh banget. ya sekarang saya folback dulu yang kira2 bionya jelas. tapi let see besok..kalau jarang update..ya mending unfollow..hiiiihihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bio jelas juga jadi syarat aku follow back

      Delete
  9. jaraaang banget bikin status di medsos, cuma dipakai buat share postingan baru he..he...
    emang cuma punya waktu dikit, mendingan posting dan bw aja deh

    ReplyDelete
  10. Saya jg sekarang mending BW daripada baca status2 nyinyir di fb dan twitter mak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku... selalu ingat pekerjaan suamiku jika nulis status atau ngeblog..hahahha.. krn mahasiswa beliau setidaknya baca apa yg aku tulis biasanya

      Delete
    2. Info yg didapat sama juga ya. Lomba2 & review dapat bocoran dari blogwalking

      Delete
  11. Halo. Biasa saja, ya, medsos, tidak ada keluhan. Sisi positifnya, bisa bergabung di grup-grup yang memberikan banyak informasi dan pelajaran. Status-status sebetulnya bila sudah mengganggu bisa di unfollow namun tetap berteman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya juga banyak manusia, banyak karakter, banyak ambisi

      Delete
  12. Klo baper kan ktnya taro aja di baperware yaah mba hihihiii..saya kadang ada bbrp akun medsos cuma pingin isinya orang tertentu aj :D (aku kayanya udah follow mba lus hehe)

    ReplyDelete
  13. Aku ogah bikin status2 yang bisa bikin ribut seantero Mba.. Kalo mau komen juga aku mikir2 jangan sampai komenku itu bikin gaduh dan menyinggung orang lain.. Nah..kalo lg musimnya follow2an kayak gini aku latah ikutan, haha.. Soalnya mumpung lagi rame kita bisa nambah follower, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau semua bisa seperti dirimu, dunia aman nyaman :)

      Delete
  14. Aku taun 2014 sempat beneran off dari semua medsos termasuk blog, mbak, krn saking banyaknya kerjaan di kantor, masuk 2015 mulai medsosan lagi tp gak seaktif dulu dan sudah gak terlalu ambil pusing dengan gosip timeline. apalagi twitter beneran siwer kalo diliatin terus, apalagi hamil gini males banget ikut euofria medsos.

    ReplyDelete
  15. waktu awal-awal mengenal medsos saya suka baper Mbak, seiring berjalannya waktu akhirnya saya sadar bahwa tidak semua yang dituliskan di medsos itu seperti keaadaan yang sebenarnya :)
    sekarang saya malah santai dalam menanggapi hal-hal yang dituliskan oleh teman-teman dan idem sama Mbak Leyla, mending BW daripada baca status nyinyir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yang kita nggak ngerti sebenarnya seperti apa & tak perlu juga kita tau

      Delete
  16. Iya bener maa, konsekwensi sebagai pekerja onlen mah riskan yaa,
    kudu banyak ati2 dan pintar2 bergaul onlen .

    Aku sih termasuk orang yang cuek sama urusan orang lain, cuma terkadang suka ga nyangka ntu orang pinter, aktif, beken tapi kurang attitudenya dalam bersosmed. kasian ..hihihi

    mendingan nyetatus asik sendiri, narsis aja myok maak ! eeaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dirimu mah yg penting narsis cantik. Itu dah yg paling bener :))

      Delete
  17. idem sm mbak hanna, *ideman orgnya..

    ReplyDelete
  18. Akhir2 ini aku memang melihat di media sosial, khususnya twitter, orang2 kok kayaknya mudah sekali menghujat/menghina/memfitnah orang lain dengan mudahnya. Bagi orang2 yang gak mau berpikir panjang memang akan jauh lebih mudah terprovokasi, mak.
    Aku sendiri mulai membatasi diri di media sosial, penyebab utamanya sih karena sibuk aja dengan dunia nyataku hehehe.

    Apa kabar mak Lusi? Miss you...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Ren, kok lama nggak kelihatan ya?

      Delete
  19. Menurut saya sih mending ngeblog ya daripada ngemedsos :D
    orang blog itu jauh dari kata lebay dan alay..
    pandanganya juga jauh lebih dewasa.. info yang ditulis para blogger pun juga bermanfaat..

    ReplyDelete
  20. Setujuu mbaaa kalau baper, bakalan menderita di sosmed, sedikit bete, sedikit2 jengkel...fiuhh...

    ReplyDelete
  21. ternyat adunia maya juga kejam ya mbak :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.