Tuesday, January 12, 2016

Menyiasati Tingginya Social Cost Dalam Pergaulan

Pergaulan baik di lingkungan rumah maupun pertemanan membutuhkan social cost yang harus disiasati.

Menyiasati tingginya social cost dalam pergaulan


Seorang teman yang memiliki jabatan disebuah kantor pemerintahan kota kecil tampak selalu sibuk dengan berbagai acara, baik dirumahnya maupun di desa-desa yang sangat jauh. Aneka makanan tradisional sering ia dapatkan dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu kami, teman-temannya, berkomentar, "Wah enaknya, makan-makan terus."
Lalu diapun curhat bahwa kegiatan tersebut sifatnya pribadi, meski masyarakat yang mengundangnya melihat jabatannya. Karena sifatnya pribadi, semua yang mengandung sumbangan, keluar dari kantong pribadi pula. Dari mulai pengajian desa, selapanan, bersih desa, mantenan, dan sebagainya. Gambaran tersebut memang beda dengan para pejabat di kota besar.
Saya teringat orangtua saya. Pensiun yang berarti hanya memiliki sedikit penghasilan, justru diutamakan setiap ada acara di rumah saudara, kampung atau mantan kantornya dulu. Undangan lebih kerap dari biasanya. Habis dong uang pensiunnya? Ya, kadang-kadang memang kurang.
Dalam pergaulan kekinian pun kita butuh modal. Nongkrong di cafe-cafe yang rata-rata segelas jusnya Rp 30.000 tentu tak bisa sering-sering dilakukan, kecuali memiliki prospek bisnis. Belum lagi ibu-ibu yang ikut group ini itu dan senang mengenakan dress code, berarti harus ada pengeluaran busana selain makanan dan minuman.
Saya berdoa, teman-teman termasuk yang berejeki lancar. Tapi adakalanya kita memiliki banyak kebutuhan yang bersamaan dengan banyaknya undangan atau ajakan nongkrong. 

Tentu pusing membuat social cost terkendali dan semuanya cukup, nggak tekor.


Pilih Yang Penting
Dalam agama saya, undangan itu harus dianggap penting. Jadi jika diundang, datanglah. Dulu ketika masih jadi ibu muda, saya selalu enggan datang ke arisan RT. Sudah nggak ada masalah penting yang dibahas, besarnya hanya Rp 10.000 per orang, ngobrolnyapun bingung bagaimana mau memulai. Akhirnya selama acara cuma diam dan senyam senyum tanpa arti. Lalu saya berpikir, ya nggak apa-apalah blank selama satu jam. Toh cuma sebulan sekali. Toh manfaatnya sangat dibutuhkan bagi kenyamanan dan keamanan kita dan anak-anak. Bertetangga kan saling menjaga,
Begitu pula jika ada tetangga yang melahirkan, menikah, meninggal, syukuran dan hajatan lainnya, datanglah. Para orang tua selalu mendahulukan undangan yang seperti ini. Sementara kita sering mendahulukan kegiatan di lain tempat kerja atau kelompok hobi, dibandingkan dengan undangan dari lingkungan rumah.
Saya percaya, banyak teman, banyak rejeki. Tapi pertemanan tanpa kendali bisa bikin rugi. Kumpul-kumpul seringkali memunculkan ide atau menambah networking. Tapi seberapa sering? Kalau dalam sebulan jarang, maka kumpul-kumpul seperti menjadi penting sekali untuk didatangi. Jika sudah terlalu sering, teman-teman harus memilih mana yang benar-benar bermanfaat.

Pilih Yang Minim Kewajiban
Arisan itu perlu nggak? Arisan itu dibuat dengan sengaja supaya ada ikatan. Ikatannya bisa bermacam-macam, antara lain untuk menabung, untuk mencicil dan untuk keakraban. Semuanya harus disikapi dengan hati-hati karena mengandung kewajiban.
Ketika masih punya outlet disebuah mal dulu, saya pernah diajak arisan oleh pemilik lain yang kebanyakan ibu-ibu. Besarnya arisan Rp 1.000.000,- sebulan. Alasannya supaya lebih berasa kalau dapat dan bisa buat modal dagangan. Sampai disitu bisa saya mengerti. Tapi kemudian ada aturan tak tertulis kalau arisannya diadakan di beberapa resto terkenal di mal tersebut dan dibebankan pada host alias yang dapat arisan. Selain itu, ada tema dress code yang tidak hanya menyangkut warna tapi juga model tertentu. Jadi cash and carry-nya berapa setelah dipotong biaya makan dan penampilan? Entahlah, saya tidak mau ikut arisan tersebut.
Adalagi ajakan arisan yang sebenarnya tidak terlalu besar, Rp 50.000,- dan hanya dilakukan per 3 bulan, dengan landasan mempererat tali silaturahim. Masalahnya, tempat tinggal kami berjauhan, padahal arisan itu akan diadakan bergiliran dari rumah ke rumah, pada akhir pekan dan tidak membawa keluarga dengan alasan terbatasnya ruang. Ini juga tidak saya ikuti karena mewajibkan saya keluar kota tiap 3 bulan, meninggalkan keluarga dirumah pada akhir pekan. Belum lagi biaya transportasi dan akomodasi yang dikeluarkan.

Pilih Yang Sederhana
Diajak teman nonton konser? Mengapa tidak? Kita perlu bersenang-senang sekali waktu. Uang tidak kita bawa mati kalau ditumpuk saja. Tapi pilihlah karena memang suka, bukan karena kekinian. Begitupula jika nobar di cafe, tontonlah karena suka, bukan supaya kelihatan keren. Jangan kuras tabungan untuk bersenang-senang, lalu bingung jika sedang kesusahan.
Arisan ngirit bisa nggak? Bisa saja. Di kampung kami arisan tanpa konsumsi dan iurannya pun sangat sedikit, hanya ikatan saja supaya bisa ketemu secara rutin untuk berbagai pengetahuan atau update masalah sekitar. Tapi disinilah herannya. Semakin sederhana sebuah arisan, semakin tidak dianggap penting oleh anggotanya. Padahal yang terpenting bukan kocokannya, tapi isi dari arisan tersebut. Ayo bu, kreatif dalam mengisi arisan.
Bosan dirumah? Pengin ngumpul di cafe? Oke aja. Sekarang banyak cafe dengan menu murah dan suasana yang ramah. Googling artikel teman-teman blogger agar mendapat informasi cafe yang tidak menguras dompet.

Khusus untuk ibu-ibu, hati-hati dengan OOTD (Outfit Of The Day) dan dress code karena disinilah sumber pemborosan. 

Jangan terpesona dengan foto-foto OOTD ibu-ibu cantik di instagram yang sedang bersantai di cafe. Itu endorse, banyak yang bajunya nggak beli tapi dikirimi sponsor. Kalau ibu-ibu mau seperti mereka, tiap foto bajunya beda, padahal fotonya tiap hari, ya bangkrut atuh. 
Sebaliknya, jika kita mengadakan acara, jangan malu tampak sederhana. Hindari berhutang hanya agar dihargai oleh sekitar. Sebagus-bagusnya orang punya hajatan, pasti ada kurangnya dimata para tamu.

Pergaulan memang wajib, namanya juga makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri. Tapi ada biaya yang harus kita keluarkan dalam pergaulan tersebut. Social cost seringkali tidak kita masukkan dalam anggaran belanja rumah tangga karena kita tidak tahu rencana hajatan keluarga lain, kita tidak tahu kapan ada teman jauh yang datang, kita tidak siapa yang akan sakit, dan sebagainya. 
Semakin umur kita bertambah, semakin kita dianggap penting dalam pergaulan. Dalam undangan kita akan selalu didahulukan. Jika ada yang berduka, kedatangan kita juga yang paling ditunggu. Maka penting sekali untuk memilah-milah agar tidak sibuk kesana-kemari untuk bergaul, meninggalkan keluarga yang membutuhkan kita, dan yang paling penting tidak meninggalkan banyak hutang di credit card.

25 comments:

  1. Godaan untuk boros sungguh luar biasa.
    Kita memang harus mendahulukan mana yang penting.
    jangan hanya sekedar ikut gaya yang akhirnya bikin pusing isi dompet dan kepala.
    Tapi masalahnya mana ada yang kuat jika jadi bahan celaan karen tidak mampu bertampil modeis dan gaya ????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Modis itu tergantung yg makai juga sih. Biar barang murah kalau yg make pede insya Allah tetap keren :))

      Delete
  2. Iya mba, aku suka kurang menghargai undangan2 yg dari lingkungan kampung tempat tinggal. Males dengan segala obrolannya yg nggak nyambung. Tapi lama2 kupikir kok ya aku yg kurang peka. Orang kan memang beda2 ya, klo memang nggak nyambung yo anggep ae idhep2 paseduluran dengan org yg tinggal terdekat ama kita lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh mbak. Sambil ngantuk2 yo gpp, nggak tiap hari kok qeqeqeqe

      Delete
  3. Untung saya orangnya cuek mbak Lusi, tidak pernah tergoda segala macam 'tren' dan tidak pernah kepingin segala sesuatu karena gengsi atau semacamnya. Saya membeli sesuatu karena memang butuh bukan ikut-ikutan.

    Tapi kok tabungan tetap ngga ngumpul-ngumpul ya mbak, heran deh. Pasti ada yang salah nie :)

    ReplyDelete
  4. Kalau ada undangan sih pasti diusahakan datang.
    Kalau soal kehidupan sosial, setelah punya anak, apalagi hidup di kota rantau kehitung jari ketemu temen2, seringnya via sosmed hehehe. Tapi kalaupun ketemu/ kopdaran sih kuusahain jadi diri sendiri, gak maksain klo emang gak ada duitnye :D

    ReplyDelete
  5. manggut manggut ajah deh bacanya, betul semua mba

    ReplyDelete
  6. Arisan RT bingung mau bahas apa lagi. Yg dtg lu lagi-lu lagi. Hahaha.
    Mak, sy jrg ngumpul2 kek gitu. Prinsip sy sederhana aja menjalani hidup.

    ReplyDelete
  7. Pandai memilah supaya tidak boros parah ya mbaaa.. Memang terkadang social cost ini mengalahkan yg penting malah ya mba..

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah masih belum terpengaruh ama ootd, walaupun ootd ya bajunya itu2 aja diriku mak...hehehe

    ReplyDelete
  9. Ini artikel bagus banget, makjleb hahaha.... aku masih dlm kontrol kok mba, gak sampe ngutang credit card hahaha.

    ReplyDelete
  10. Setuju sekali, pikirkan kembali mana kebutuhan dan mana keinginan (yang mendesak) terimakasih atas pencerahannya : ) salam kenal

    ReplyDelete
  11. makasih sharenya mba...jd diingatkn, kadang sy nnolak datang k undangan krn urusan d rumah atau efisiensi (ongkos keluar rumah lebih besar) hiks, kecewa jg sih. sy pernah ditawari arisan 500rb/bln dan sy tolak mending buat sekolah anak :P

    ReplyDelete
  12. nah ini bu yang kadang jadi permasalahan pengeluaran. apalagi di jawa, ada beberapa istilah yang kadang sebenarnya kalo gak dilakukan gpp, tapi kalau dilakukan itung2 sedekah..contoh (mitoni, mapati,40an,pendakan, dan lainnya dari lahiran nikahan sama kematian) pasti klo di jawa ada seperti ini..apalagi mengundang orang :)

    ReplyDelete
  13. saya ikut banyak arisan..di kantor...di komplek, di organisasi dan koperasi..tp untungnya ga pake dress code dan wajib di tempat yg mahal..tujuannya untuk silaturahmi tadi..malah social cost timbul jika akhir pekan nongkrong dengan teman di cafe...itu juga melepas penat setelah 6 hari seminggu kerja...*bela diri :D

    ReplyDelete
  14. Sukaa sama tulisan ini. Dewasa. Aku juga nggak suku ngumpul2 yang intinya pemboroson itu. Dikampung ikut arisan, tp sekedarnya aja... Yang penting melu guyup.

    ReplyDelete
  15. sosialita memang butuh biaya ya mbak...
    yang penting bisa milih seperti yang ditulis diatas..
    jangan ikut yang nongkrong di cafe mahal dengan es teh saja bisa 20ribu..
    nyesek kan bayarnya...
    diwarung bisa dapat 2ribu... hadeh..

    ReplyDelete
  16. Untungnya saya termasuk orang yang sedikit tidak terganggu dengan tren kekinian, sudah nyaman dengan pakem yang saya buat sendiri. ada model baju atau tas baru yawes biarkan wong tas dan baju masih pada banyak dan layak pakai. Dulu pas di cikarang untungnya juga dapet pergaulan yang wajar2 aja, keluar main sekedar nonton di bioskop dan makan di resto fast food, meski kerja tp gak pernah meningkatkan lifestyle hehe.. kalo skrng cuma ikut arisan ibu2 di kantor suami sama yasinan aja, kok untungnya uda ada seragam jadi gak perlu dress code heheh

    ReplyDelete
  17. aku skr mulai membatasi pergi2 bareng temen2 dari ibu2 sekolah mbak, sebulan sekali oke lah, malu masa kalau jalan pakai dress code. eh yg utama sih karena mau ngirit hehehe. oops mudah-mudahan gak ada yang baca komenku

    ReplyDelete
  18. saya kalau arisan ada dress code nya, langsung mlipir. apalagi pergi ke mall, trus udah berasa-rasa mau dipalakin di resto. pelit ya...hahaha

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.