Wednesday, February 10, 2016

7 Hal Yang Bikin Kangen Pekanbaru

7 hal yang akan bikin kangen Pekanbaru itu apa saja ya?

Sarapan lontong sayur.
Pekanbaru adalah ibukota propinsi Riau di pulau Sumatra. Meski Riau dikenal sebagai salah satu cikal bakal kejayaan etnis Melayu, tapi keberadaan Pekanbaru sendiri cukup unik. Dominasi etnis Minang sangat terasa baik dalam pemerintahan maupun perdagangan. Paling mudah melihatnya adalah ketika musim liburan, dimana orang Pekanbaru akan berbondong-bondong bedol kota ke Sumatra Barat. Bagaimana sejarahnya begitu banyak etnis Minang di Pekanbaru, perlu dipelajari dulu. Yang jelas, jarak antara Pekanbaru dengan perbatasan Sumatra Barat memang tidak terlalu jauh, hanya perlu melewati Bangkinang di Kampar. 

Asimilasi budaya Minang, Melayu, Batak  dan Jawa, kadang membuat pendatang tidak bisa membedakan. 

Banyak orang Batak yang bekerja di perkebunan-perkebunan tapi keluarganya berdomisili di Pekanbaru. Sedangkan orang Jawa nyebar bekerja di banyak sektor. Yang unik, orang mengira pemilik warung sop tunjang paling top disana adalah orang asli lokal. Ketika saya bertemu dengan pemiliknya, ternyata dia orang Jawa. Dengan berkelakar dia mengatakan, "Kalau masih seputar kuah-kuah sih, pastilah orang Jawa, mbak."
Memang benar, orang Jawa mendominasi perdagangan bakso dan soto, kecuali soto padang dan soto medan. 
Selain etnis tersebut, masih banyak etnis lain yang turut menyumbangkan keberagaman di Pekanbaru, misalnya Sunda, bahkan yang sangat jauh dari Nusa Tenggara sana.

Namun demikian, beberapa hal yang bikin kangen Pekanbaru ini mungkin bisa disepakati bersama. 

Kalau nggak sepakat ya nggak apa-apa, kita masih temenan kok.

Pertama, Tukang Rumput
Hiyah, pada salah nebak ya? Pasti mengiranya makanan. Di Pekanbaru peranan tukang rumput sangat penting karena umumnya halaman rumah cukup luas dan rumputnya gampang tinggi karena bekas rawa-rawa. Tukang rumput ini berkeliling naik motor atau sepeda, lengkap dengan peralatan memotong rumputnya yang menggunakan tenaga bensin. Saya minimal sebulan sekali memanggil tukang rumput dengan biaya Rp 50.000,- sekalian menyapu. Hasilnya, rumput jadi rata dan enak dilihat. Warga lama biasanya punya halaman yang jauh lebih luas dan masih ditambah kebun. Rejeki bagi tukang rumput. Jika jenis rumputnya tidak diinginkan, mereka juga menyediakan jasa roundup, alias menyemprot rumput dengan racun supaya mati.
Di Jawa ini sangat merindukan tukang rumput. Berhubung tidak ada yang keliling, maka sesekali minta bantuan tetangga. Mereka mencabut rumput menggunakan tangan, tidak dengan bantuan mesin pemotong rumput. Tapi mungkin saja itu lebih tepat karena gulmanya sangat rapat. Susahnya, nggak ada yang paham roundup untuk mematikan gulma tersebut.

Kedua, Lontong Sayur
Nah, kalau yang ini baru makanan. Lontong sayur Pekanbaru sedikit berbeda dengan yang di Batam, karena umumnya tidak menggunakan sambal teri kacang. Memang ada yang menggunakan, tapi semua. Umumnya sayur yang digunakan adalah gulai nangka (nangka muda atau gori). Yang paling saya sukai adalah lontong sayur yang ada gulai daun pakunya. Meski santannya terlihat sangat pekat, tapi rasanya tidak eneg sama sekali. Ini karena berbagai rempah yang digunakan. Lontong sayur paling sedap adalah yang pedas

Ketiga, Bumbu Halus
Pekanbaru adalah surga bagi ibu-ibu yang suka masak tapi nggak mau ribet, Mungkin ibu-ibu akan bilang, "Ah, di Jawa juga ada di pasar."
No! Tidak sama! Bumbu halus ada di semua pasar di Pekanbaru. Di penjual besar, semua bumbu ada, tidak hanya cabe dan bawang, tapi juga lengkuas, kemiri, adas, bahkan serai halus. Kalau mau bikin sop, tinggal bilang. Mau bikin asam manis, tinggal bilang. Mau bikin soto, tinggal bilang. Penjual akan meramunya untuk kita. Apalagi rendang yang ribet itu. Haduuuh di Pekanbaru tinggal cemplung-cemplung sambil mainan twitter. Penjual akan menanyakan untuk daging berapa kilo. Dia akan meramunya pas, tak perlu tambah gula dan garam lagi. Tinggal ditambah santan kental yang biasanya jualan disebelahnya.
Masih ada lagi sambal ijo favorit kami, yang tinggal menuangi minyak sayur panas dan ditambah teri kalau suka. Duh, langsung ngences.

Ikan pari (kanan) bakar paling suka karena tekturnya lembut

Keempat, Ikan
Pernahkah kamu makan ikan di restoran yang disajikan dalam 15 style yang berbeda. Saya pernah! Saya sampai tak percaya demikian kayanya resep ikan dan ada resto yang mau repot-repot membuatnya. Favorit kami tentusaja ikan bakar. Ikan bakar yang enak dimasak dengan kesabaran tinggi karena harus dikuas dengan bumbu dan dibalik sampai berkali-kali. Selain dibakar, ikan disajikan dalam bentuk goreng, asap, asam manis, asam pedas, gulai, masak cabai dan sebagainya. Meski demikian, pepes jarang ditemui di restoran lokal.

Kelima, Kopi Hitam
Kopi hitam ngebul.

Kopi hitam disediakan di kedai-kedai kopi. Meski sekarang mulai banyak cafe gaul bertema kopi, tapi kopi hitam tetap bikin kangen. Kopi di Pekanbaru tidak ditanam di Riau, melainkan berasal dari Sumatra Barat dan Jambi. Minum kopi paling nikmat di pagi hari sambil sarapan bubur ayam ala Chinese. Kedai kopi yang terkenal umumnya ada di kawasan pecinan. Meski cara meraciknya tidak seheboh kopitiam di Batam, tapi citarasanya sama.

Keenam, Pustaka
Entah mengapa orang Pekanbaru menyebutkan pustaka, bukan perpustakaan, untuk Perpustakaan Wilayah Soeman HS. Dibandingkan dekat perpusptakaan kota lain, design gedungnya yang megah dan berbudaya bolehlah dibanggakan. Selain itu, letaknya yang berada di pusat kota, bersaing dengan perkantoran dan mall, merupakan penghambat perkembangan kehidupan hedonis karena banyak keluarga yang memilih ngadem di pustaka sehingga setiap hari selalu ramai. Ini merupakan langkah berani yang menentang pendapat bahwa perpustakaan haruslah di pinggiran kota yang tenang. Padahal justru di keramaian kota, orang butuh asupan otak yang bergizi dengan membaca buku.



Ketujuh, Joget Melayu
Acara apapun di Pekanbaru, entah resmi, entah gathering, tak lengkap tanpa joget Melayu. Biasanya si empunya hajat akan menyewa organ tunggal dan penyanyi. Lalu tamu akan bersuka ria ikut menyanyi dan berjoget. Tua, muda, guru, perempuan, laki-laki, pegawai, ibu rumah tangga dan lain-lain bersenang-senang bersama. Kalau ada yang duduk manyun saja itu mungkin baru seminggu pindah dari Jawa. Hahaaa....


13 comments:

  1. Wah murah bayaran tukang rumputnya. Di tempatku 200 rb sekali babat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pakai jasaku saja. Gratis, asal makan sebulan ditanggung.

      Delete
  2. Widiih.. Jadi pengen deh, pergi ke Pekanbaru :)

    ReplyDelete
  3. Hhiihihihihi.... iya, aku tertipu. Yang pertama kirain makanan. Eh ternyata tukang rumput. Mak Lus, ajakin ya kalo ke Pekanbaru. Bukan buat motong rumput tapi. Pengen joget dan makan lontongnya. :D

    ReplyDelete
  4. Tukang rumput ? Kenapa tidak mengundangku saja. Biar aku ada pemasukan selain ngeblog.

    ReplyDelete
  5. wkwkwkwkwkk..masak rendang sambil twitteran,bener juga sih
    duh,mendadak jadi kangen Siak...>_<
    Di Siak juga banyakkk banget orang minang, jawa sama batak.. alm nenek kos orang jawa medan,jadi kalo lagi ngerumpi di depan kos seringya ngobrol pake bahasa jawa xixixixi....

    ReplyDelete
  6. Kopinya emang mantap mb. Aku pernah ke Pekanbaru cuman 3 hari aja, tapi masakannya bikin kangen :D

    ReplyDelete
  7. wuaahhhhh lontong sayurnya itu mbaaaa ^o^.. amat sangat menggoda.. apalagi kalo pake daun pakis, duuuh itu mirip lontong sayur di sibolga, kampungku... aku prnh ke pekanbaru tp pas msh SD :D.. wkwkwkw.. jd udh lupa samasekali ama kotanya..

    tapi sbnrnya ga jauh beda ama medan dan aceh sprtinya mba... di aceh juga ada toko bumbu... dan aku paliiiing suka kalo k toko bumbu.. itu wangi bumbunya aduuhaiii... lgs kepikiran ama rendang, gulai dkk nya :D..

    ReplyDelete
  8. Perpustakaannya keren ya mbak Lusi. Saya juga suka ikan pari biasanya dimasak mangut tapi ukuran lebih kecil hehe. Lontong sayur mirip tahu campur ya. Kalau tukang rumput, untung rumah saya ngga ada halamnnya, eh kok malah untung sih :(

    ReplyDelete
  9. Wah enaknyaaaa, bumbu halusnya diracikin. Jadi praktis banget kalo mau masak ya.
    Kalo aku bersih2 rumput manggil bapak becak, ya dicabut biasa aja sih nggak pake mesin.
    Cuma sekarang bapak becaknya ini sudah berumur, jadi harus mulai cari penggantinya.

    ReplyDelete
  10. ngga heran kalau Pekanbaru ngangenin bangeeet mbaaa..semuanyaa enaaak :)

    ReplyDelete
  11. Huaaa sayang pas ke Pekanbaru nggak nyobain kopi hitamnya hiks. Eh lontong sayurnya juga nggak nyobain. Aaak jadi pengin ke Pekanbaru lagi :(

    ReplyDelete
  12. Mbak LUsy di tempatku ada penjual bumbu halus beraneka rakam bumbu loh

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.