Thursday, February 11, 2016

Gerakan 1821 Dan Alasan-alasan Kita

Yang punya group chat mungkin sudah mendapatkan broadcast tentang gerakan 1821, tapi banyak alasan yang kita lontarkan untuk membuatnya tidak mungkin dilakukan.

gerakan 1821


Pada dasarnya gerakan 1821 yang diklaim dari PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) mengajak para orangtua untuk fokus kepada anak pada jam 18.00-21.00. Maaf saya tidak bisa memverifikasi kebenaran sumber gerakan karena copas tersebut bukan dari saya. Fokus disini tidak perlu terlalu fokus pada pelajaran sekolah, tapi bisa juga dengan mengajak anak mengobrol. Programnya disebut dengan 3B: bermain, belajar dan bicara. Pada jam tersebut, orangtua diharapkan mematikan handphone dan televisi.
Mudah, bukan? Apalagi bagi muslim, maghrib sering dimanfaatkan untuk sholat bersama dan kumpul keluarga. Namun di group saya, gerakan sederhana ini jadi banyak pro kontra, lantaran di jam tersebut group WA (whatsapp) tetap ramai. Banyak alasan yang dikemukakan, misalnya sedang di jalan, sedang antri, LDR (Long Distance Relationship) dan sebagai. Bahkan seorang teman dengan tegas mengatakan bahwa kita berhak melakukan apapun, suka-suka kita, di jam tersebut. Wow.
Saya juga punya beberapa alasan ketika gagal dalam percobaan gerakan 1821, lho. Heheheee.... 

Jadi ini bukan postingan untuk menyinyiri kegiatan orang lain, tapi juga merenungi tindakan saya sendiri.

Mispersepsi Tentang Netizen
Lucunya, begitu copas tersebut dilempar, langsung deh banyak yang mengatakan, "Nah tu, yang sering twiteran dan facebookan. Taruh handphone."
Lebih lucu lagi karena yang bicara begitu adalah yang terus-menerus ngoceh di group WA pada jam primetime tersebut. Mereka tidak tahu bahwa netizen itu justru santai menghadapi gerakan tersebut. Mereka lebih siap karena mereka telah punya pengetahuan yang baik tentang cara beredar di dunia maya tanpa terus-menerus memegang hp. Netizen sudah mengerti beberapa tools yang bisa digunakan untuk status, tweet atau posting berjadwal, seperti dlvr, hootsuite, tweetdeck dan lain-lain yang disediakan platform. Beda dengan chat yang jelas-jelas pasti orang yang bersangkutan sedang pegang hp.
Mungkin masih ada yang ingat tulisan saya tentang bahaya laten group chat? Ketika kita mengira socmed adalah sumber habisnya waktu, kita tidak menyadari bahwa group chat lah yang telah memenjara kita.


Menjawab Alasan-alasan
Anak sedang les. Salah satu kegiatan yang sangat menyita waktu anak-anak jaman sekarang adalah les. Dalam hal ini, justru si anak yang tidak bisa menjalankan gerakan tersebut. Salah satu jawaban yang selalu saya usahakan adalah ngobrol dengan mereka ketika mengantar dan menjemput les. Musik di radio saya matikan. Namun, sayangnya, anak-anak sering ketiduran karena lelah. 
Ortu lembur diluar rumah. Yah, bagaimana lagi, nafkah harus dipenuhi, ortu harus patuh dengan tuntutan kantor atau usaha miliknya. Tapi lembur itu tidak tiap hari kan, ya? Kalau tiap hari, apakah harus berpikir pindah pekerjaan? Waduh, nggak tahu deh kalau seperti itu karena tiap keluarga punya tantangan yang berbeda. Ketika ortu sampai rumah, anak-anak sudah tidur. Waktu bertemunya hanya di jam sarapan. Jawabannya apa ya? Kok malah muncul pertanyaan? Bisakah orangtua menelpon sebentar di jam primetime tersebut, untuk memastikan bahwa anak-anak tahu kita selalu memikirkan mereka? Mungkin bisa pasang headset agar tangan bisa bebas bergerak sambil ngobrol. Bisakah lembur sambil memasang skype? Jadi seolah sedang mengerjakan tugas masing-masing bersama-sama.
Ortu bekerja di lain kota (LDR/LDM). Saya tak habis pikir dengan istilah "bulok" atau bujang lokal. No, anda bukan bujang lokal ketika LDM, anda tetap punya tanggung jawab ketika jauh dari keluarga. Jadi, ketika jam kerja sudah selesai dan anda kembali ke mess atau kos, anda tidak kembali ke ruangan kosong pada jam tersebut lalu cari hiburan di group chat, melainkan tetap kembali ke keluarga. Telpon dong, skype dong. Ngobrol apa gitu, nggak cuma basa-basi menanyakan sudah makan atau belum. Sekarang banyak paket telpon sejebolnya. Minta kantor pasang wifi di mess supaya bisa skype. 

Ikuti Gerakan 1821 atau Tidak?
Gerakan ini bagus karena berusaha mengembalikan arti sebuah keluarga. Hanya 3 jam sehari untuk break sejenak dari hirup pikuk dunia, mengumpulkan kekompakan, agar yang sudah ditangan tidak berantakan. Mengapa di jam tersebut? Karena umumnya anak-anak sudah selesai dari kegiatannya dan punya banyak cerita. Mereka akan senang jika ada yang mau merespon cerita mereka. Selain itu juga tidak terlalu malam yang membuat mereka mengantuk. 
Namun, kata "hanya 3 jam sehari" tak selalu mudah dilakukan oleh orangtua karena berbagai keadaan. Sebesar keinginan kita menghadirkan anak-anak didunia, seharusnya sebesar itu pulalah usaha kita untuk fokus dengan mereka, di jam cooling down mereka agar ikatan batin terjaga. Banyak anak yang memiliki hambatan komunikasi dengan orangtuanya. Ketika ketemu mereka tampak ceria dan manja, tapi ketika di telpon hanya bicara singkat-singkat saja karena merasa tidak nyaman. Tapi kita tak boleh menyerah, bukan? 

Anak-anak harus melihat dan mendengar bahwa orangtua benar-benar berusaha mengutamakan mereka dalam sempitnya waktu. 

Gerakan 1821 memang sulit dilakukan di jaman sekarang. Tapi daripada memberikan alasan-alasan, berusaha dulu, yuk. Nggak sempurna nggak apa-apa, kan? Nggak tepat di jam tersebut, nggak apa-apa juga, kan? Semoga anak-anak lebih menghargai kegigihan kita menyingkirkan segala sesuatu yang memecah fokus kita ke mereka dibandingkan hasilnya.

19 comments:

  1. sempat dengar tentang 1821 kapan hari,lupa kapannya...
    makasih mak sharingnya,buat bekal nanti hehehe..alhamdulillah meskipun LDR'an,setiap hari pas sampe mess suami lagsung videocall,tanya anaknya,masak apa dll...

    ReplyDelete
  2. waah baru tahu mba gerakan 18-21. tp saya sih di rumah baru menerapkan NO TV ba'da maghrib. apapun kegiatan anak2 stop buka TV. Selain sholat berjamaah biasanya anak2 jd main bareng sm kita juga ortunya krn mrk jg memberlakukan No gadget buat ortunya. Memang tidak lalu jd mudah tp secara prinsip sy sepakat malah maunya smp rumah ya anak2 full... hadir utuh buat mrk. tp memang gak gampang deh misahin diri dr gadget *PR dan resolusiku tahun ini sih hehehe

    ReplyDelete
  3. Baru tahu dari mbak Lusi ni tentang gerakan 1821 (saya kira gerakan senam atau apa haha).

    Sebenarnya saya mau kasih banyak alasan, tapi okelah dicoba dulu. Ngga ada salahnya juga mencoba sesuatu yang baik ya kan mbak :)

    ReplyDelete
  4. oh.. jadi itu yg dimaksud gerakan 1821, padahal emang barusan denger. Jaman dulu pas masih LDM-an malah saya seringnya bilang ke mas suami jangan sering2 telepon kalo nggak penting, wah berabe ya..

    ReplyDelete
  5. Aku baru tau sekarang gerakan 1821 ini. Agak susah juga karena anak2 biasa komunikasi dengan teman tentang pelajaran pake hp juga, biasanya bbm. Mungkin bisa dicoba nih untuk Sabtu dan Minggu.

    ReplyDelete
  6. Minimnya program berkualitas di TV lokal dan juga kami tidak tertarik jadi pelanggan TV kabel, maka sudah lama TV di rumah lebih bersifat sebagai ornamen aja, mba Lus. Kalo kepo dengan salah satu acara, sekarang bisa lihat tayang ulangnya di Youtube. Akhirnya ngga nonton TV, tapi jadi lihat Youtube hihi

    ReplyDelete
  7. Saya bisaaa, meski nggak 18-21 sih, seringnya pagi bangun yang bisa gak liat hp samsek krn ribet ma anak2, eh tapi kdng suka curang ngintip hehehe :P

    ReplyDelete
  8. Haha iya mbaak, kalo socmed bisa dischedule, waap ga bisa, asik ngobrol lupa belom masak hihii

    ReplyDelete
  9. Eh aku baru tahu mbak ada gerakan 1821 ini, belum ada yang share di grup chat.
    Mmmm.. saya mah ngikut jadwal suami sih, kendalanya malah bukan karena medsos tapi karena suami hobi lembur hehe, tapi kalo uda di rumah insyaallah fokus cuma untuk istri :)

    ReplyDelete
  10. Naaah, kayaknya ya, Mbak..grup chat yang sering ngabisin waktu daripada sosmed yang lain :D

    ReplyDelete
  11. pada ngerumpi apaan siyyy ...1821.,? hihihi kirain teh gerakan "demo".
    Terimakasih mba Lusi, hot topic nih.. aseli saya baru denger.

    Hayuuuk menjelang maghrib notifikasi di-off, tetap dpt denger ring telp (kali2 penting).
    Kita sbg ortu memulainya dg aktif, mengajak anak2 ngobrol bareng, ajak sholat jamaah (yg laki ke mesjid dg bapaknya). Kebersamaan yg berkualitas kini mjd mahal. Selamatkan ..!

    ReplyDelete
  12. aku kudet ajaa dong yah samapi ngg tau yang satu ini hehehe

    ReplyDelete
  13. Baru tahu dari postingan mbak Lusi juga. Jam 6 sore...biasanya mmng tv mati, hp taruh.. ( kdng msh bisa ngintip)... Nunggu anak ngerjain Pr, ndampingi belajar, nerangin klo blm paham materi..ato mbikinin soal2. Tapi selesainya fleksibel.. Kdng jam 8 dah kelar. Berlnjut nonton tv atau tidur...:-)

    ReplyDelete
  14. baru tahu saya gerakan 1821
    syukur juga kalau bisa, menambah kedekatan dengan anak

    ReplyDelete
  15. Baru baca tentang gerakan ini. Bagus juga, Mbak :)

    ReplyDelete
  16. Pada sejarahnya gerakan ini digalakkan stlh melihat bnyknya dua ortu bekerja. Kl ibu di rmh yg sebagian besar waktu bersama dihabiskan dg anak (lbh dr hape) logikanya tdk perlu ya. Namun yg mjd kontroversi disini adlh...pengetahuan ttg jam tidur anak dmn ada yg butuh 11 jam utk tidur. Bila 1821 diterapkan dg anak resikonya adlh anak akn krg tidur...silahkan cek web2 kesehatan ttg dampak krg tidur...sebelum tidur jg tdk boleh ada kegiatan yg memicu adrenalin...sebagai perlambang pentingnya mematikan hp bolehlah...tetapi lbh bijaksana bila kita mengkaji apa yg salah dg hidup kita slm ini..mengapa semua mjd demikian rumit...saat memiliki anak...spt knp kita kena sakit..jgn2 slm ini mmg kita jg yg salah?

    ReplyDelete
  17. saya pernah mendengar gerakan ini, tapi lupa kapannya. Cuma sebelum ada gerakan ini, usai maghrib memang selalu saya manfaatkan untuk lebih akrab dengan anak-anak. Trus setelat-telatnya pukul 9 malam mereka udah tidur.

    ReplyDelete
  18. Aku baru tahu ada gerakan 1821 mbak disini, kuper banget ya. Kadang kalau broadcast aku males baca

    ReplyDelete
  19. Justru utk menghormati kekayaan intelektual perlu diverifikasi, toh tehnologi informasi sdh semakin canggih. Hal ini yg sangat disayangkan. Adapun pengagas program 1821 adalah (abah) Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Terima kasih.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.