Sunday, February 28, 2016

Hikmah Ibu-ibu Jadi Bahan Becandaan Di Media Sosial

Biarpun diketawain netizen sedunia, tapi tetap ada hikmahnya lo ibu-ibu jadi bahan becandaan di media sosial.



Hikmahnya adalah ternyata seluruh kerumitan dunia bisa kelar sama ibu-ibu. Wkwkwkkk
Memang sih bahan becandaannya selalu merujuk ibu-ibu lain. Nggak berani kan becandain istri atau ibu sendiri seperti itu? Meskipun sama saja sih perilakunya. Coba foto-foto itu nggak diunggah ke media sosial tapi dikirim ke istri. Bisa-bisa diatas piring isinya cuma serbet doang, nggak ada nasi sop tempe garit kesukaan. Iya kan?  Coba juga pas lihat istri atau ibu sedang sein kiri belok kanan di jalan, berani motret nggak? Berani upload di socmed nggak? Coba saja kalau berani.
Tapi kita, para ibu, tak boleh senewen. Kita harus bersatu padu, menjadi group support, agar ibu-ibu tak ragu untuk melangkah hanya gara-gara takut keluar memenya di media sosial. Jangan malah ikut-ikutan ngetawain dong dan malah ikut nyebarin meme kaumnya sendiri. Gimana sih?
Ibu-ibu memang terkesan keras kepala kalau dikasih tahu. Bukannya nggak mau ngerti, tapi seringkali prioritas keluarga mengalahkan segalanya hingga merugikan orang lain disekitar. Sebenarnya semua juga sudah memahami kesibukan ibu-ibu tapi gemes ya kalau lihat ibu-ibu seenak sendiri? Meskipun demikian, lebih baik dikasih tahu. Kalau nggak paham, besok dikasih tahu lagi. Jangan menyerah. 
Seperti kasih ibu yang tak bakalan putus bagaimanapun kelakuanmu.
Untuk cowok-cowok yang hobi bikin meme ibu-ibu, hati-hati ya, ntar kuwalat punya istri yang lebih parah dari itu. Amit-amit jabang bayi, ketok-ketok meja.

Nah, artikel ini saya tujukan untuk ibu-ibu korban becandaan di media sosial nih.


Ayo dong bu, jangan mau jadi bahan becandaan melulu. Kita ambil hikmahnya yuk!

Sein Kiri Belok Kanan. Akuin saja deh bu, kita sering lupa. Dulu saya punya sepeda motor dan sering jalan jauh. Belakangan saya kadang pinjam sepeda motor karena tidak punya lagi. Ibu-ibu sekarang kebanyakan menggunakan sepeda motor matic, jadi pinjaman yang saya dapatkan ya matic. Saya nggak ngerti sama sekali caranya, tapi berhubung pernah mengendarai motor manual, saya beranikan diri saja. Kalau sudah pernah naik manual, naik matic itu bisa cepat menguasai. Hanya saja pernak-pernaknya tidak paham dan mengabaikannya saja, yang penting bisa jalan. Salah satunya ya lampu sein itu. Beda dengan motor manual yang ada indikator dan bunyi sein mana yang sedang menyala seperti mobil, sedangkan matic untuk merk tertentu tidak ada tanda-tanda apapun. Kalau ingat baru deh ngecek posisi lampu sein.
Hikmahnya, sebelum jalan kita cek dulu cara pengoperasian sepeda motor tersebut. Lihatlah dari arah depan, kalau tombol dipencet, apa yang tampak dari depan. Begitupun fungsi motor yang lain, misalnya standard motor. Kalau di matic, motor tidak bisa menyala. Tapi di motor manual berbahaya sekali karena motor bisa tersandung dan ibu jatuh.
Tak hanya fungsi-fungsi sepeda motor, tapi juga mobil. Saya pernah berpapasan dengan mobil lain dan sopir tersebut mengerdip-ngerdipkan lampu dim dan terakhir menyalakan klakson kenceng banget ke saya seperti marah. Barulah saya sadar kalau saya menggunakan lampu jauh yang menyilaukan mata pengendara lawan saya. Tentusaja dia marah. Dan saya menggunakan lampu itu dalam kondisi demikian sudah lama sekali tanpa menyadari bahwa itu salah. Untung tidak ada yang membuat memenya.
Jadi, mari kita gunakan momen ini untuk mencaritahu cara mengendarai kendaraan yang benar dan mengutamakan keselamatan. Bagusnya sih ibu-ibu menyimak ujian teori sewaktu mendapatkan SIM karena disitu ada semua cara belok yang benar, mendahulukan kendaraan dari sebelah kanan, berhenti sebelum masuk ke jalan raya dan sebagainya. Kalau sudah lupa, browsing saja di internet, banyak kok. Polisi juga jemput bola, datang ke sekolah-sekolah untuk mengajari safety riding. Mintalah putra putri kita menyimak baik-baik.

Baca: Tips Belajar Mengemudi

A photo posted by lusitris (@beyourselfwoman) on

SEO Ibu-ibu. Ini adalah kasus terakhir yang menghebohkan dunia perbloggingan dan meluluhlantakkan teori para mastah. Terlepas itu benar atau tidak karena namanya tidak disebutkan tapi setidaknya itu membuka cakrawala kita bahwa apapun mungkin terjadi, termasuk yang paling susah dipahami ibu-ibu, yaitu SEO. Semua ilmu didunia ini berkembang dan manusia membuat terobosan-terobosan. Segala yang sulit akan terus diulik supaya lebih mudah dimengerti.
Karena itu, kita para ibu jangan mudah berkecil hati jika ada yang mengklaim bahwa teorinya yang paling benar. Tak perlu surut langkah jika ilmu yang sedang kita pelajari disepelekan oleh yang mengaku pakar. Maju terus saja bu, sampai kita mendapatkan jawaban yang paling pas untuk diri kita sendiri. Meskipun ada cara lain yang menurut orang lain lebih teruji, tapi jika kita nggak paham buat apa juga kan?
Jadi, mari kita gunakan momen ini untuk mengumpulkan tekad meraih apapun yang kita inginkan dengan cara yang paling membuat kita nyaman. Hidup cuma sekali, tak seharusnya mau didikte orang terus meskipun itu mastah yang sakti. Di masyarakat kita harus manut bu RT. Di komunitas kita sudah diatur admin. Pastilah kita ingin sesuatu yang bisa kita oprek sendiri dan puas dengan hasilnya.

Facebook Terlalu Tua Untuk Remaja. Sepupu saya mengatakan, "Memang kita ingin terlihat awet muda, tapi hendaknya kita berbicara sesuai dengan usia."
Jleb! Langsung tertikam di ulu hati. Media sosial memang membuat kita merasa lebih muda karena kita bisa berkomunikasi dengan siapapun juga tanpa melihat usia. Seringkali ketika saya berpindah obrolan dari group blogger ke group orangtua murid dibuat kagok karena suasana percakapan yang berbeda. Di group blogger bisa bicara dengan berbagai ekspresi, sedangkan di group ortu harus sangat memperhatikan tata krama. Meski sama-sama tidak melihat lawan bicara tapi kesadaran akan posisi saya sebagai sesama blogger dan ibu yang telah punya anak remaja, tentu memberikan atmosfir yang berbeda.
Meski kita tahu lawan bicara kita punya kisaran usia tertentu tapi kita tak canggung berinteraksi karena tidak berhadapan langsung. Barulah ketika bertemu ketahuan mana yang sudah mamak-mamak. Memangnya mamak-mamak tak boleh eksis? Tentu saja saya tidak setuju karena aktualisasi diri itu adalah kebutuhan manusia.

Namun disela tergelak-gelak menertawakan diri sendiri karena dianggap sebagai penyebab larinya remaja ke platform media sosial lain, terpikir pula bahwa mengapa ketuaan kita bisa sangat mengganggu sehingga para remaja harus menyingkir mencari tempat lain yang lebih fun? 

Bukankah para pakar parenting menasehatkan kita agar bisa menjadi sahabat anak-anak termasuk di media sosial? Berarti kita gagal dong? 
Ada kontradiksi antara bicara sesuai usia dan harus menjadi sahabat remaja. Atau barangkali karena kita tidak lagi memikirkan usia itulah makanya jadi serba tidak pantas. Bersahabat dengan remaja bukan berarti kita harus bertingkah bak remaja. Ibu adalah ibu, sekeren apapun harus ada keibuannya. Jika tidak, remaja justru melihatnya sebagai sesuatu yang aneh. Atau jangan-jangan karena kita tidak mau memberi mereka peluang, tertutup oleh ambisi kita yang belum kelar? Tapi bukankah itu sudah sifat alami manusia dalam melihat peluang-peluang? Mengapa disia-siakan? Atau ini hanya karena semata-mata kita terlalu memaksakan diri untuk diterima disemua usia?
Dari semua yang percikan-percikan didalam pikiran gara-gara pernyataan itu ada hikmah yang bisa diambil, yaitu bahwa usia kita memang terus bertambah dan sudah ada generasi lain yang perlu ruang. Ya sudahlah biar saja remaja menemukan tempat sendiri sementara kita tetap di FB. Malah bagus jadi kita bisa gunakan FB untuk obrolan-obrolan yang bermanfaat karena berarti banyak masukan dari teman-teman yang sudah dewasa, tak perlu melihat status-status alay. Tapiii.... jika ternyata kita malah sering nyinyir dan saling sindir, mungkin problemnya bukan di usia tapi para remaja ini males saja lihat ibu-ibu yang seharusnya keibuan malah pada beranteman.

58 comments:

  1. Yups, saya snagat sepakat pada tulisan ini. kadangkala akibat penggunaan gadget, orang lupa usia ya mba. Berusaha untuk proporsional saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, proporsional itu kata yg tepat, tidak berlebihan

      Delete
  2. Jarang lho mbak ada yg mikir bgini. Rata-rata mikirnya mah lucunya aja. Tanpa mikir "awas kualat" (termasuk saya hiks). Tapi dibalik itu smoga ini jadi pelecut semangat buat ibu-ibu ya supaya ga mudah berkecil hati :)

    ReplyDelete
  3. Hehehe.. sependapat dengan tulisan mba diatas. ^_^

    Saya pribadi juga lebih memilih fb saja lah.. lebih sesuai dengan pribadi dan jiwa juga hehehe

    ReplyDelete
  4. blognya keren. numpang lewat yah mbak. lagi blogwaking :)

    ReplyDelete
  5. Iya Nih, di FB makin berkurang ya ABG nya, ternyata pada lari ke LINE dan saat nyoba LINE itu emang jadi berasa mudaan mak Lus #eh. Btw, Itulah the power of emak-emak, apa aja kalah ama emak-emak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya aku juga ngeLINE, demi ngikuti anak2. BBku gak kepake :)

      Delete
  6. Ya, image ibu-ibu yang gaptek, suka nyebelin di jalan itu melekat banget di negeri patriarki....padahal kan ga semua begitu. Ibu-ibu secata individu memang lemah, tapi ibu-ibu kalau sudah keluar naluri melindungi dan sebagai kelompok itu sangat kuat lho. Pernah liat banyak kasus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hiks. Jangan sampai keluar cakar nih ibu2

      Delete
  7. Aku termasuk yang merasa jadi ibu2 itu. Padahal yo belum tua2 banget *lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha itu yg dibecandain semua ibu2 tua muda? Kebanyakan mestinya yg muda tuh krn yg udah tua anak2nya dah naik motor sendiri, ibunya diboncengin :))

      Delete
  8. Aku malah ngefans sama ibu SEO itu MakLus... SEO yang bikin males tapi sukses ditaklukan si ibu. Kalau ada lomba SEO wajib ikut nih, optimasi seperti ibu itu pas mau penjurian aja hihi

    ReplyDelete
  9. Jeli banget bu, pengamatannya. Hidup, Ibu!

    ReplyDelete
  10. saya masuk yang kelompok ibu2 pake matic tuh Mak.. tp ga sampe membahayakan org lain kok...tadinya ga bisa pake motor, karena "keadaan" mengharuskan pake kendaraan ini. awal2 malah panik ketika mesin motor ga nyala2 padalah kunci dah masuk.. ternyata standar belum naik... hihihi...

    ReplyDelete
  11. Aku ga paham nih yang soal SEO ibu ibu hahahah

    ReplyDelete
  12. buktikan..ibu2 tak cuma bisa ditertawakan... tapi bisa membuat para bapak2 ketawa #eh apa bedanya ya...

    ReplyDelete
  13. Maaakkk...aku termasuk yang ada di meme ituh....lupa sein, salah sein...yang di kepala cuma...berangkaaatttt...:D #JANGANDITIRU

    ReplyDelete
  14. hahaha..kadang sy masih suka ngalay...mungkin bergaul dengan anak2 muda di komunitas..jd sok merasa imut terus...hihihi

    ReplyDelete
  15. Eike dong, supaya nggak ketinggalan update anak2 sampai snapchat pun kuunduh 😂
    Padahal dipakai aja jarang.

    ReplyDelete
  16. iya nih bergaul dengan blogger bikin umur berkurang 20 tahun wk..wk...
    suka lupa aja udah golongan putih alias ubanan

    ReplyDelete
  17. hahhahaaa...iya banget sama tulisan di atas..
    ahh tetep cinta pesbuk, tetep line, dll aku instal buat ngintip anak abg barangkali macem2.

    Aku pengen ngikik, tatkala ngasih tips SEO blogging, ada pakarnya Ibu yg sok jago SEO mengajariku, itu tuuh yg lagi ngehits :v
    Selalu pengen ngakak aja, monggo...

    dooh lucuu emang memperhatikan ibu2 yaa..

    ReplyDelete
  18. aku ibu-ibu tapi selaluuu 9mencoba0 update huahahahaha...yang penting semangat. Perkembangan jaman yang marvelous ini perlu disikapi dengan bijak lhooo :)

    ReplyDelete
  19. itu yang kasus ibu2 ahli SEO warbiasah mbak, kalo ketemu dengan dia mau belajar ah hehe

    eh saya pernah baca begini: kalau ibu-ibu melanggar rambu lalu lintas jangan ditegur, ingat surga ada di telapak kakinya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa sih itu? Kasih tau kalau sudah tau ya. Penasaran

      Delete
  20. kalau menjandakan ibu-ibu bagaimana mbak? hehe

    ReplyDelete
  21. saya sering bertemu dengan ibu-ibu yang sein kiri dan belok kanan Mbak :)

    ReplyDelete
  22. Saya harus mawas diri jika nanti sudah menjadi ibu-ibu ^^

    ReplyDelete
  23. Saya harus mawas diri jika nanti sudah menjadi ibu-ibu ^^

    ReplyDelete
  24. kasihan banget ya ibu-ibu di judge gitu walaupun aku seringlihatnya ibu2 yang lupa pakai sein kkalau belok hehehe. sekalinya pakai sein nanti lupa matikan. Mudah-mudahan sih aku gak lupa :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sering lupa sih kalau motor, habis nggak bunyi kyk mobil. hiks

      Delete
  25. Wakssss bener banget kasih ibu ngak bakal putus bagaimanapun kelakuan nya hahaha

    ReplyDelete
  26. Yang SEO itu ceritanya gimana sih mbak, saya kok belum tahu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga nggak tau, nggak disebutkan namanya sama mastah yg bikin status

      Delete
  27. Balada Ibu-Ibu hehe. Emang siapa sih Ibu SEO itu? *Ibu2 suka kepo :D

    ReplyDelete
  28. Ah... ibu-ibu ini yaa... memang banyak pahalanya. UDAH luar biasa perjuangannya masih jadi bahan becandaan pula. Untung aku ndak pernah ngesyer memenya Qiqiqi.... ndak kuwalat.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.