Thursday, March 17, 2016

Inilah Perbedaan Pameran Untuk Buyer dan Pengunjung Umum

Ada perbedaan besar antara pameran untuk buyer dan pameran untuk umum, yang seringkali tak dipahami oleh exhibitor atau peserta maupun visitor atau pengunjung.


pameran untuk buyer dan umum


Buyer memang artinya pembeli. Namun kata dalam bahasa Inggris ini dalam dunia perdagangan (setidaknya di kerajinan) merujuk pada pembeli dalam jumlah besar. Mereka tidak sekedar kulakan, tapi juga memesan berdasarkan design sendiri. Bagi pengusaha, terutama pengusaha kecil, buyer dan pembeli umum sama pentingnya. Pesanan buyer biasanya diperlakukan sebagai penyokong kemakmuran, sedangkan omset dari pembeli umum untuk hidup sehari-hari. Yang diharapkan adalah keduanya seimbang. Pesanan buyer butuh waktu lama dalam pengerjaannya sehingga perlu pemasukan untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari yang didapatkan dari pembeli umum, atau sering dikatakan juga sebagai jualan ritel.
Pameran untuk buyer memang mendapatkan perlakukan khusus karena besarnya nilai transaksi butuh konsentrasi dan kehati-hatian. Tak jarang panitia sengaja menutup akses umum agar buyer tidak terganggu. Bayangkan saja ketika buyer sedang memikirkan kemungkinan pesanan sebesar 200 juta, tiba-tiba disebelahnya ada cewek cakep asik selfie didepan display produk-produk keren. Konsentrasinya akan pecah dan bisa saja tiba-tiba kehilangan mood untuk menutup tranksasi. Meski hitungan bisnis itu pakai otak, tapi mood yang terganggu berpengaruh besar.
Namun, kebanyakan panita atau event organizer mengakomodasi kedua belah pihak demi pemasukannya sendiri. Biasanya hari dimana pengunjung umum boleh masuk adalah hari-hari terakhir dan bayar. Di JIFFINA lalu, pengunjung umum harus membayar tiket seharga Rp. 100.000,-. Saya sendiri tidak membayar karena mengenakan co-card yang disediakan panitia.
Tak semua pameran menarik biaya tiket setinggi itu, tergantung dengan tujuan pameran. JIFFINA memang diadakan secara exclusive untuk buyer. Sedangkan pameran seperti Inacraft itu menarik tiket yang tidak terlalu tinggi, sekitar Rp 20.000 karena umumnya pengrajin ikut pameran ini untuk berjualan ritel sehingga mengharapkan pengunjung umum sebanyak-banyaknya.

Baca juga: Kembali ke Pasar Kangen Jogja
Pameran juga banyak yang tak mengenakan tiket masuk alias gratis. Misalnya pameran di mall yang fasilitasnya terintegrasi dengan mall sehingga penyelenggara tidak perlu mengadakan parkir, listrik atau pendingin ruangan tambahan. Pameran di luar mall juga bisa saja tidak mengenakan tiket masuk.

Jadi, jika ada yang mengupload foto-foto menarik dari suatu pameran, lihat dulu ciri-cirinya sebelum terlanjur datang dan harus membayar tiket mahal.

  1. Publikasi pameran untuk buyer biasanya yang bersifat seremonial, sedangkan untuk pengunjung umum akan dengan jelas mengundang khalayak sebanyak-banyaknya, baik melalui promosi di media cetak maupun elektronik. Untuk pengunjung umum biasanya ada tulisan htm free atau jumlah tertentu.
  2. Nama peserta pameran untuk buyer jarang terdengar di masyarakat karena membawa nama perusahaaan, bukan merk-nya, meskipun ada juga yang nama perusahaan dan merk sama.
  3. Pameran untuk buyer seringkali tak mengijinkan anak-anak masuk meski mau membayar tiket masuk. Ini untuk mencegah kerusakan produk yang dipajang karena umumnya hanya diwakili satu sample. Anak-anak punya rasa ingin tahu yang tinggi dan suka berlari-lari di ruangan yang besar.
  4. Tiket masuk pameran untuk buyer berlipat-lipat lebih tinggi dibandingkan pameran umum untuk menyaring profil pengunjung, yaitu yang benar-benar serius hendak melakukan bisnis. Buyer sendiri tidak perlu membeli tiket masuk karena sudah mendapatkan pass dari panitia, baik yang diundang maupun yang mendaftar on the spot dengan mengisi formulir yang disediakan.
  5. Produk yang dipamerkan tidak banyak, rata-rata hanya satu per model sebagai sample saja. Jika sudah ada transaksi, barulah peserta pameran membuatnya. Buyer tidak membeli secara eceran. Namun demikian, seringkali sample juga dijual di akhir pameran agar peserta tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk membawa pulang sample tersebut.
  6. Produk yang ditawarkan di pameran untuk buyer umumnya produk baru atau unggulan peserta, bukan yang sudah banyak di pasaran. Sehingga kita maklumi saja jika panitia sangat protektif terhadap peserta.
  7. Aturan dokumentasi yang ketat, antara lain no camera. Ini untuk melindungi hak cipta peserta. Jadi ingat tempo hari ada blogger yang senewen lalu mention-mention sebuah supermarket furnitur karena dilarang memotret. Gaes, kita tidak bisa memaksa orang atau perusahaan agar mau kita review sedahsyat apapun blog kita. Apalagi di industri furniture. Meski sebenarnya foto produk tersebut sudah tersebar, ada dampak ekonomis dan development yang tak terpikirkan oleh blogger. Hanya orang-orang yang berkecimpung di industri tersebut yang paham plus minusnya, karena masing-masing punya strategi. Di JIFFINA tertempel no camera baik dari ponsel maupun kamera konvensional di beberapa tempat, demikian pula di Inacraft meski secara  individual stan, tak sebanyak di JIFFINA. Foto-foto JIFFINA yang saya unggah adalah foto-foto karya seni yang tidak diperjualbelikan. Kalaupun ada yang diperjualbelikan, saya sudah minta ijin pemiliknya.
Semoga suatu saat saya bisa melihat produk teman-teman di pameran-pameran ya. 

10 comments:

  1. Iya, saya pernah mendatangi pameran tapi disana gak boleh memotret :D, awalnya sempet merasa aneh tapi ternyata sekarang saya paham :D

    ReplyDelete
  2. Bener juga ya mba, dulu aku pernah dateng satu pameran khusus untuk buyer, peraturannya mayan ketat, ga bole ini ga bole itu, bahkan motret juga dibatasi :).

    ReplyDelete
  3. tampilan blognya baru yah Mbak Lusi?? makin cantik :)

    ReplyDelete
  4. pantesan kalau ada yang jual furniture kayu juga ada tulisan no camera mbak, ternyata begitu ya penjelasannya

    ReplyDelete
  5. Seringnya ke pameran elektronik sama buku, jadi belum menemukan peraturan yang sedemikian ketatnya. Noted, mak Lusi :)

    ReplyDelete
  6. Jadi paham, ada macam pameran begini. TFS Mak Lusi.

    ReplyDelete
  7. ternyata peraturan pameran banyak juga ya, mbak

    ReplyDelete
  8. Bentar oot dulu mak, aihhh sukaaaaaak tampilan layout baru ini maaak ^.^

    Back to topic..
    Jadi tau saya pameran khusus buyer seperti itu. Emang wajar sih kalo nggak dibuka untuk umum karena seriusnya mereka untuk mendapatkan buyer yang sesuai.
    Paling suka sih saya kunjungi pameran yang UMKM hehehhe senang banget lihat usaha-usaha mereka dan beli juga biar nggak banyak :D

    ReplyDelete
  9. Oooh baru tau, jadi kita nggak boleh motret sembarangan ya saat ada pameran, mesti minta izin dulu. Waktu ke Museum Sampoerna di Surabaya juga seperti itu, semua boleh dipotret kecuali pekerjanya.

    ReplyDelete
  10. Di NYC rata-rata pameran yang ada untuk buyer mba..seperti NY Now yang pernah aku tulis. Dan memang pameran ini tidak sembarangan, aku pun masuk dengan ID kantor or exhibitor. And no camera is the rule of the game. Kecuali memang diizinkan oleh si empunya booth :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.