Tuesday, May 10, 2016

Yang Perlu Para Ibu Persiapkan Sebelum Melepas Putri Tercinta Kos Di Jogja



Mengapa judulnya cuma putri? Putranya bagaimana? Judul seperti itu saya ambil karena saya lebih paham persoalan perempuan. Jadi, kalau dibilang pilih kasih, ya memang, daripada ngawurina, lebih baik hanya saya tulis yang saya ketahui saja. Lagipula satu tema ini saja bakalan panjang kok.
Bulan ini mungkin masa-masa yang sangat berat bagi para ibu yang anaknya sudah diterima di perguruan tinggi. Jogja merupakan kota yang banyak dipilih oleh para pelajar di Indonesia. Namun, bagaimana jika ibu tinggal jauh dari Jogja? Kos adalah pilihan yang tak terhindarkan, kecuali ada
saudara yang bisa dititipi. Tak terbayangkan di manja sekarang harus mandiri, nyuci baju sendiri, cari makan sendiri dan kemana-mana tidak ada yang mengantar. Bisa dimengerti kalau ibu sangat khawatir. Belum lagi beberapa pemberitaan tentang musibah yang dialami para mahasiswi membuat para ibu makin was-was. Tapi mau bagimana lagi ya, bu. Ini adalah tahapan kehidupan menuju kemandirian yang harus dilalui atas pilihan anak-anak kita.
Meski sebagian dari para ibu tak siap menyapih sang putri untuk tinggal sendiri di tempat yang jauh, mau tak mau ibu harus mengikis rasa khawatir itu. Dibawah ini ada beberapa persiapan untuk mengalihkan perhatian para ibu agar tidak khawatir berlebihan. Syukur jika bisa sepenuhnya berhasil. Kalaupun tidak, yang penting sudah mencoba, daripada baper terus seperti saya, si tukang mewek kalau nggak lihat anak sehari saja.

Boleh mewek, tapi didepan anak harus happy. Ini adalah keputusan penting dalam hidup anak. Tak ada lain yang mereka harapkan kecuali rasa bangga dan dukungan orangtua. Ibu harus menunjukkan semangat agar tekadnya bulat. Terlebih jika kemudian si anak tampak ragu dengan pilihan yang telah dibuatnya, ibu harus bisa menunjukkan mengapa dulu ananda memilih kuliah di Jogja. Mungkin ibu bisa menunjukkan hal-hal menarik di Jogja. Dibalik itu jika ibu pengin nangis-nangis takut kangen, terserah saja, asal tidak didepan anak. Tapi kangen itu tetap harus ditunjukkan lo, jangan sampai si anak tidak merasa disayang dan ikatan kekeluargaan luntur karena jarak. Tapi itu nanti, kalau si anak sudah sampai di Jogja dan dapat teman.

Cari tahu tentang kos daerah didekat kampusnya. Sekarang banyak jasa mencarikan kos. Menurut saya, itu pilihan terakhir saja kalau tidak segera nemu yang pas. Usahakan pertama kali menghubungi saudara atau teman-teman. Ibu jaman sekarang kan teman facebooknya banyak, group chat berendeng, manfaatkan itu. Tanyakan pada mereka tentang situasi kos-kosan di dekat kampus si anak. Memang, belum tentu mereka tahu, tapi kalau ibu bertanya dan kebetulan teman tersebut selo, pasti akan dicarikan infonya. Cara ini bukan karena semata-mata gratis daripada pakai jasa pencari kos-kosan, tapi yang namanya teman atau saudara pasti sangat memikirkan keselamatan putri ibu, nggak asal dapat. Sebagai tanda terima kasih, bisalah nanti bawa oleh-oleh kalau ke Jogja. Ada lo daerah kampus di Jogja yang dekat dengan night club. Itu bisa dilihat dari banner promonya yang disponsori merk minuman asing di sekitar situ.
Teman-teman kosnya juga perlu ditanyakan pada pengelola calon kos-kosan yang diminati. Siapakah mereka? Apakah sama-sama mahasiswi di kampus anak kita? Apakah ada yang karyawati? Adakah yang asal daerahnya sama dengan kita? Bukan bermasud SARA, tapi untuk memahami kepedulian pengelola terhadap jatidiri penghuninya karena dengan begitu kita bisa memperkirakan apakah anak kita akan betah disana dan dikelilingi oleh teman-teman yang baik.

Tetapkan syarat minimal kos yang sesuai untuk si anak. Karena ini pengalaman pertama sang putri lepas dari ibu, jangan biarkan dia menetapkan standar kos-kosan sendiri. Ibulah (bersama si bapak) yang harus menetapkan standar kelayakan kos bagi sang putri. Harga sewa kos hanya akan mempengaruhi fasilitas kamar, tapi soal standar keselamatan dan sebagainya, biasanya pemilik kos menerapkan peraturan yang berbeda. Banyak sekali kos murah tapi aman yang bisa dipilih. Berikut syarat minimal yang perlu disepakati dengan anak sebelum mencari kos-kosan:
  1. Jarak dengan kampus. Ini berhubungan dengan transportasi. Apakah ibu akan mengijinkannya membawa sepeda, sepeda motor, mobil atau memintanya naik kendaraan umum?
  2. Kos-kosan harus khusus perempuan. Kos campur, meski terpisah, dengan laki-laki atau keluarga kecil sangat tidak nyaman dan tidak aman.
  3. Jumlah kamar yang terlalu banyak seperti asrama juga tidak nyaman dan tidak aman. 20 kamar saja sudah kebanyakan. Jangan dikira mahasiswi tidak bisa mencuri dompet teman se kos-nya. Bukan menakut-nakutin lo, tapi itu bisa terjadi dan saya pernah mengalaminya. Jumlah kamar yang terlalu banyak menyulitkan pengawasan karena sulit untuk akrab dengan semuanya.
  4. Penjaga laki-laki atau satpam jangan diijinkan untuk memanggil hingga didepan kamar jika ada tamu. Harus ada batas dimana ia boleh masuk. Statusnya sebagai penjaga tidak lantas membuatnya boleh masuk.
  5. Untuk awal kuliah, lebih baik ada ibu kosnya karena jika hanya ada penjaga, cenderung kalah dengan kemauan penghuni. Nanti jika sudah di pertengahan masa kuliah, bolehlah mencari yang tidak seketat diawasi ibu kos kalau sekiranya si anak menunjukkan tanggung jawab. Nantinya ibu harus kenal dan punya hubungan baik dengan ibu kos tersebut.
  6. Mempunyai ruang tamu sehingga tamu laki-laki tidak boleh masuk.
  7. Ada jam malam sehingga tamu harus sudah pulang di jam tersebut. Jam malam juga untuk mengontrol putri ibu agar tidak terbiasa pulang larut malam.
Budget per bulan yang harus ditaati si anak. Salah satu manfaat kos adalah membuat anak mandiri dalam menghadapai kesulitan dan bertanggung jawab jika ada kelebihan. Sistem uang saku bulanan bisa membuatnya belajar memperhitungkan semua tindakannya. Berapa budget yang pas untuk hidup di Jogja tergantung dengan kemampuan ibu. Di Jogja, kalau mau cari yang murah banyak, tapi yang mahalpun ada dimana-mana. Sebagai contoh, sarapan Rp 6.000 sudah bisa dapat nasi soto ayam yang segar dan mengenyangkan. Lebih murah dari itu banyak karena bubur sayur pedas cuma Rp 2.500,- tapi yang lebih mahal juga ada misalnya bubur ayam Rp 7.000 atau gudeg Rp 10.000. Untuk makan siang dan malam kisarannya Rp 15.000. Kalau anak perempuan sih sepertinya lebih kreatif dalam mengirit, apalagi jika di kos ada dapur bersama. Umumnya, kos-kosan tidak mengijinkan kompor didalam kamar karena bahaya kebakaran. Adanya dapur bisa membuat mereka masak bareng-bareng dan share biaya belanjanya. 
Selain makan, bugdet terbesar adalah transportasi. Jika kos dekat kampus, dia bisa jalan kaki saja. Tapi kebanyakan mengharapkan diberi sepeda motor agar bisa berkegiatan dengan leluasa. Angkutan massal di Jogja hanya ada Trans Jogja dengan tujuan terbatas. Biaya lain adalah untuk buku dan internetan. Akan sangat membantu jika kos ada wifi. Jika tidak, sediakan budget ntuk thetering daripada harus malam-malam ke warnet untuk mengerjakan tugas. Meski Jogja seakan melek terus sampai dini hari tapi bukan berarti 100% aman, apalagi bagi anak gadis untuk keluar malam-malam.
Jika budget sudah disepakati, tekankan pada anak untuk membuat semacam laporan keuangan di bulan yang telah terlewati dan proposal untuk bulan depannya. Dengan demikian, tidak ada biaya mendadak kecuali untuk emergency, misalnya sakit. Jika ada biaya kegiatan yang mendadak, sarankan pada anak untuk bernegosiasi dengan pengelola kegiatan tersebut agar pembayaran ditunda bulan depan. Jika tidak bisa, dia harus menyisihkan dari uang bulanannya sendiri. Mau nggak mau bulan itu dia harus super irit. Beri gambaran pada anak seandainya dia berada di posisi mahasiswa yang tidak mampu, jangankan menunda, darimana uangnya pun tidak tahu. Ini untuk memberikan pelajaran padanya bahwa uang tidak bisa jatuh dari langit detik itu juga, melainkan harus diusahakan orangtuanya dengan bekerja.

Beberapa barang keperluan kos ada yang harus dipunyai tapi tidak harus beli semua. Umumnya pemilik kos sudah menyediakan tempat tidur, meja belajar dan lemari. Membeli perabotan sendiri dirasa merepotkan calon penghuni yang belum paham Jogja ketika awal kuliah dan kerepotan menjual atau membawanya pulang ketika lulus. Karenanya, kos-kosan sekarang umumnya sudah memiliki perabotan utama tersebut. Perabotan tambahan lain yang diperlukan antara lain, kipas angin (jika tidak ber-AC), ember untuk mencuci, peralatan mandi, setrika dan peralatan memasak praktis lainnya. Jika diinjinkan, membawa pemanas air listrik akan sangat membantu melalui hari-hari lembur tugas. Peralatan memasak sebaiknya diletakkan di dapur agar aman. Sudah banyak juga kos-kosan yang menyediakan dapur bersama lengkap dengan peralatan masak dan kulkas. Untuk satu orang, tidak usah repot-repot masak, beli saja. Dulu kos saya ada tukang cuci dan bersih-bersih yang disediakan ibu kos tapi kami beri tugas tambahan memasak untuk semua dengan sistem patungan. Ini sangat meringankan kami karena jauh lebih murah dan bergizi. Ketika lulus nanti, barang-barang pribadi bisa dilelang ke adik angkatan atau dititipkan di toko barang bekas untuk dijualkan.

Nongkrong boleh atau tidak? Ada 3 tujuan anak-anak kuliahan nongkrong, yaitu mengerjakan tugas, gaul dengan teman-teman dan pacaran. Jogja menyediakan tempat nongkrong yang sangat banyak. Tinggal pilih yang murah lesehan atau ke cafe. Cafe di Jogja, asal ada free wifi, berjubelanlah sepeda motor mahasiswa di parkiran. Ini akan berhubungan erat dengan budget diatas, karena segelas minuman di cafe tidaklah murah, Rp 30.000 keatas. Kalau dibelikan nasi ayam penyet bisa dapat 2 bungkus. Belum lagi kalau ikut-ikutan merokok. Yup, banyak mahasiswi yang merokok. Beberapa cafe ada yang buka hingga dini hari, bahkan 24 jam. Jangan lupa mengingatkan ananda bahayanya bagi perempuan diluar rumah atau kos terlalu malam.
Namun demikian, cafe juga merupakan tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas, baik sendiri maupun berkelompok. Jika dirasa meragukan, ibu bisa main ke cafe favorit ananda. Kalau suasananya mengkhawatirkan, misalnya banyak yang merokok, banyak yang pacaran atau terlalu bising, ibu bisa bertanya pada ananda bagaimana ia bisa belajar dengan suasananya seperti itu? Ibu bisa mengajaknya survey iseng-iseng ke cafe lain. Jika ada yang lebih cocok untuk belajar, pujilah tempat itu setinggi langit agar sang putri terpengaruh. Ini lebih efektif meskipun harus sedikit usaha, daripada langsung melarang, sedangkan ibu sendiri sering kopdaran komunitas di cafe kan? Cara ini juga berlaku untuk cafe tempat hangout.

Bagaimana dengan pacaran? Mungkin ini adalah masalah remaja putri diambang dewasa yang paling ditakutkan para orang tua, terutama oleh ibu. Dan memang awal kuliah adalah periode krusial karena masih ada euforia kebebasan mengekspresikan cinta kepada lawan jenis. Itu adalah masa merekahnya sekuntum bunga. Pada awal saya kuliah ada 2 teman yang hamil diluar nikah, satu teman kuliah, satunya lagi teman kos. Mereka bukanlah teman-teman yang bandel, mereka cerdas dan berlaku baik. Euforia perasaan yang sulit dibendung itulah peyebabnya. Jika sebelumnya ada ibu sebagai tanggul perasaan itu, maka ketika kos, tanggul itu jebol lalu perasaan meluah seperti bah.
Pacaran boleh atau tidak, itu tergantung prinsip yang dipegang para orangtua. Apapun itu, jadilah teman curhat si gadis. Jika ibu melarang, sampaikan dengan baik agar dia tidak merasa menjadi anak bandel yang telah melanggar aturan orangtua sampai ibu harus menghardiknya. Jika boleh, jangan sungkan untuk dekat dengan si pacar juga, meski belum tentu dialah mantu ibu kelak. Ini semata-mata untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu romantis, melainkan seperti layaknya sahabat dekat yang sedang mengejar cita-cita untuk masa depan bersama.
Godaan bagi si gadis ini di Jogja sangat besar. Banyak yang berbocengan mesra didepan mereka. Saya sendiri sudah beberapa kali mengklason mobil remaja yang penumpangnya sempet ciuman ketika menunggu antrian keluar mal atau berhenti di lampu merah. Apalagi film AADC2 yang sukses menampilkan sisi romantis Jogja. Karenanya, jangan buru-buru memberikan larangan keras, pahami perasaan mereka yang melihat godaan berseliweran, yang baru mereka lihat pertama kali seumur hidup. Biarkan anak-anak bebas berkomentar agar ibu tahu sampai dimana pemahaman mereka tentang pacaran, lalu ibu bisa meluruskannya.

Si manja jadi sekeras batu. Di kampus, semua ideologi dibahas, ikut demo itu biasa. Bisa saja pembahasan tersebut sekedar wacana atau penambah pengetahuan. Lebih bagus lagi jika dijadikan upaya ikut serta dalam berbagai gerakan perubahan ke arah perbaikan di masyarakat. Sayangnya, tak sedikit pula ideologi baru membuat ananda bertanya-tanya tentang hidupnya sendiri. Bersiaplah jika sang putri tiba-tiba menanyakan prinsip hidup yang selama ini dijalani keluarga. Seringkali orangtua tak siap melihat perkembangan pemikiran si anak yang jauh diluar apa yang telah ditanamkan orangtua. Bahkan si anak berani adu argumen dengan berbagai dalil. Mereka jadi banyak mempersoalkan hidup dan tidak ada hubungannya dengan prodi yang mereka ambil. Radikalisme umumnya mulai mereka kenal ketika kuliah. Cermati perubahan awalnya, jangan sampai terlalu jauh.

Jadi begitulah adanya, tanpa bermaksud menakut-nakuti. Yang mengalami kejutan budaya ditengah lingkungan kampus yang beragam hanya sebagian kecil kok. Selebihnya, sebagian besarnya, akan sukses menjadi kebanggaan orangtua. Percayakan pula pada Allah untuk menjaganya. Selamat datang di Yogyakarta.

16 comments:

  1. Mak Lusi, jangan-jangan yang Mak Lusi klakson saat berciuman itu aku dan Adit? Soalnya kita sering colong-colong. Hahaha. But, then again, emangnya kami remaja? Eh iya deng, kan aku masih tampak remaja. BAHAHAHAHAHA *___*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ternyata kalian? Besok2 aku klakson lebih kenceng ah ))

      Delete
  2. Untuk kos anak perempuan memang ketat ya Mbak Lusi. Berhubung anak saya cowok dan sudah besar pula, saat kos di Yogyakarta segalanya ia siapkan sendiri. Kami hanya pergi mengantar saja :) Ah emang ibunya yang malas kayaknya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ungkapan Jawanya, "Anak lanang ki diglundungke wae wes beres. (Anak laki2 itu digelindingkan saja sudah beres)

      Delete
  3. Nice sharing mak.. Pengalaman di lingkunganku yang banyak bertebaran kos-kosan, orangtua kudu kontrol juga. Sering saya lihat, ada orangtua yang sebulan sekali jenguk anaknya *jarak dari rumah orangtua dan kos jauh*, bagi saya bagus banget. Dan saya setuju banget poin milih kos ada ibu kosnya.

    Jadi baper ya mak saat anak mau ngekos :((

    ReplyDelete
  4. duh aku jadi sedih juga nih kalau anakku kost gimana uya. Cari sekolah di Jakarta ajalah hehehe. Eh tapi aku sih dukung aja mau sekolah di kota mana pun gak mau membatasi pilihan

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, Taruli dan Kayla belum niat keluar dari Yogya, lha di sini aja banyak kampus kok, katanya.
    Ini berdasarkan pengalaman pribadi waktu kost ya, Lusi :)))

    ReplyDelete
  6. AKKKH jadi inget masa-masa kuliah dulu, btw thanks sharingnya ya mak, meski anakku laki2 tapi harus tetap memperhatikan poin penting mana saja yg harus disiapkan, btw Jogja makin tenar ih gara2 AADC

    ReplyDelete
  7. Duh... nunggu antrian kok sempat sih ciuman.. hahah
    Tapi anak anak sekarang emang harus diawasi pergaulannya. Ggbisa dikengkang juga sih...

    ReplyDelete
  8. Emaknya hobi kopdaran di cafe? siapa tuuuuhh...yg nulis postingan ini ya hahahaa...

    Aku ya persiapan ah utk sulungku yg udh mau mulai remaja. Ini aja ngeliat teman2nya yg cowok main ke rumah sudah langsung mendelik2 aku mba, padahal masih kelas 6 SD. Gimana ntar ya klo dia udah SMA or kuliah gitu. Emaknya bawaannya pengin nggragoti tuh cowok kalik ya :))

    *ibu aja dulu pacaran, mosok aq enggak (duh moga2 dia ga kepikiran bilang gitu ya)

    ReplyDelete
  9. Baca ini jadi nostalgia pas melepas adik PKL 3 bulan di Jogja. Walo cowok tapi juga was-was. Apalagi ibu saya langganan Koran Merapi yang bikin beliau sering bacain berita kriminal sampe ngecap Jogja nggak aman.

    ReplyDelete
  10. Syarat kos kosan di atas aku langgar hampir semua. Tahun pertama d asrama...selanjutnya nyewa rumah. Gda satpam..kemalingan mulu mba

    ReplyDelete
  11. masih sekitar 14 thn lagi aku bakal ngalamin ini :D.. Kayaknya masih belum kebayang sih mbak ntr bakalan gimana pas ngelepas anak.. Tapi aku bayangin bakalan sama kayak ortuku dulu ngelepas aku sekolah di luar kali ya.. aku dan adikku malah udh disuruh pergi pas smu. Tapi semua poin2 yg mbak tulis di atas, itu dilakuin semua ama ortuku :D.. jd aku pasti ngelakuin yg sama juga..

    Malah kalo bisa, aku pgnnya anakku dapat tempat tinggal yg model homestay kayak aku dulu.. jd aku dulu tinggal ama 1 keluarga gitu, dan cuma aku 1-1 nya yg nge kost.. enak jadinya, lebih akrab , jd kayak keluarga bgt. bukan kos-kos an.

    ReplyDelete
  12. ngomong2, gosip2 kos kosan di jogja itu benar ngga sih? kedengarannya rada gimana gitu, padahal tahun 95an saya kos di jogja beberapa tahun

    ReplyDelete
  13. membaca tulisan Mba Lusi ini seketika membuatku teringat saat kuliah dulu :)
    waktu kuliah dulu saya juga cari kost yang dekat kampus dan harus ada ibu kostnya :)

    ReplyDelete
  14. Wow punya anak perempuan memang luar biasa, penjelasannya detail banget Mamake.
    Masih menunggu 5 tahun ke depan, eykeh was2 di tinggalin kos niy,
    ahh,,kalo keterima di Yogya biar tak suruh kos di rumah Mak Injul or Mak Lusi *kaboor

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.