Wednesday, June 29, 2016

5 Jebakan Konsumerisme Lebaran

Jebakan konsumerisme sudah ditebar dimana-mana jelang Lebaran.


Di 10 hari terakhir Ramadhan, jebakan paling populer adalah kue kering dan mid night sale. Camilan dan baju baru akan menyemarakan Lebaran, tapi hati-hati jika itu berubah menjadi jebakan yang mengaburkan mana yang diwajibkan agama dan mana yang kita wajibkan sendiri. 

Uang kita memang terserah kita bagaimana memanfaatkannya sehingga no comment untuk yang memang berkelebihan. 

Seperti yang banyak dilontarkan di media sosial, jangan suudzon terhadap gaya hidup orang lain. Bisa saja dia mengeluarkan 5 juta untuk keperluan Lebaran dirumahnya, tapi sudah menyumbang 10 juta untuk anak yatim tanpa kita ketahui karena dia tidak ingin riya. Tak ada kewajibannya untuk lapor ke masyarakat.

Tapi bagi yang sebenarnya pas-pasan namun terbawa arus gaya hidup Lebaran masyarakat yang konsumtif, ayo dong kita cek bareng-bareng dan kita koreksi yang tidak perlu agar hidup lebih santai.

1. Midnight Sale dan Online Sale
Midnight sale diadakan dengan pemikiran untuk memberikan kesempatan belanja bagi umat Islam yang baru pulang tarawih. Awalnya hanya diselenggarakan di mall tertentu. Tapi sekarang, hampir semua toko, terutama toko busana muslim besar, juga menyelenggarakannya. Kenyataannya, mendekati Lebaran, dari pertama toko tersebut buka di pagi hari sudah dipenuhi konsumen. Jadi, midnight sale saat ini diadakan karena jumlah konsumen yang sudah berlipat-lipat sehingga perlu jam tambahan.
Promosipun makin hari makin tak terkira. Nyaris di tiap belokan ada saja spanduk midnight sale. "Kalau uangnya ada, mengapa enggak? Kan habis dapat THR? Lagipula cuma setahun sekali."
Benar, tapi dalam midnight sale banyak faktor psikologis yang mempengaruhi kendali diri dalam belanja. Suasana malam yang seharusnya digunakan untuk istirahat, ditambahkan dengan ramainya pengunjung, membuat pikiran "asal dapat" menguasai konsumen agar cepat bisa pulang. Konsumen menjadi kurang teliti dalam membeli karena sudah penat mengantri. Padahal sale habis-habisan seperti itu seringkali adalah kesempatan bagi toko tersebut untuk "membuang" stok lama. Kelayakan stok lama dan harga diskon tak lagi dicermati. Apalagi model yang sudah kedaluarsa. Promosi sale dan midnight sale seolah membuat kita merasa dikejar-kejar deadline sehingga rela stress mencari parkiran dan berdiri lama untuk antri membayar. Padahal, Lebaran tak harus mengenakan baju baru kan?
Trend mode saat ini juga ditandai dengan muslimah modis yang menganggap penting semua perawatan tubuh dan wajah dari mulai pengelupasan kulit supaya wajah merah merona, make-up berlapis-lapis, soft lens mata belok, bulu mata cetar, behel warna warni, sampai kutek halal. Dan itu cost-nya luar biasa. Bujukan tutorial make-up Lebaran membuat muslimah menyalurkan sebagian pemasukan untuk membeli kosmetik yang menambah percaya diri di saat Lebaran nanti. Apalagi dengan adanya jor-joran diskon di online store. Tampilan hari raya keagamaan pun tak beda dengan pesta gala dinner, penuh permak disana sini padahal "cuma" mau sholat di mesjid atau lapangan dan seluruh tubuh ditutup mukena. Foto keren telah mengambil alih makna utama Lebaran.

2. Kue Kering dan Ketupat Opor Ayam
Tradisi kunjung mengunjungi membuat kue kering populer sebagai sajian. Selain bentuknya yang bermacam-macam, juga karena tahan lama sehingga tuan rumah tak perlu pusing meski tak belanja selama seminggu Lebaran karena sudah menyetok cukup banyak. Kue kering menjadi bisnis yang menggiurkan. Dan seolah merasa diwajibkan setelah digempur dengan foto-foto yummy, alokasi sebagian besar THR pun larinya kesitu. Seolah Lebaran kita nggak bener hanya karena tidak ada kue kering. Bagaimana jika diisi dengan aneka kerupuk yang lebih murah meriah? Apakah lantas sah bahwa kita menjalani Lebaran dengan tidak sempurna?
Selama bertahun-tahun saya mengirim THR ke orangtua untuk menambah tabungan beliau, tapi apa yang beliau lakukan? Heboh menyiapkan kue kering dan ketupat opor ayam untuk keluarga saya, yang artinya uang tersebut kembali ke saya lagi. Padahal sayur bening dan tempe garit tidak mengurangi kebersamaan Lebaran. Tapi kita selalu memilih membahagiakan orangtua dan membiarkan mereka melakukan apa yang membuat mereka bahagia.
Sebagai penyeimbang, tak perlu berlaku sama di rumah sendiri. Jika waktu lebih banyak digunakan untuk mudik, lebih baik tidak nyetok kue kering dirumah sendiri. Mengherankan banyak kue kering yang tersisa dirumah teman-teman saya hingga berbulan-bulan kemudian tapi tetap menyediakan kue yang sama di Lebaran berikutnya. Kata mereka, sudah tradisi, jadi dimakan atau tidak tetap harus ada di meja. Tidak ada ide untuk mengubahnya dengan cemilan lain yang meski snack biasa saja tapi lebih disukai sehingga tidak mubazir.

3. Bukber dan Halbil
Barusaja menghadiri hattrick bukber setiap hari, sudah sibuk merencanakan halal bihalal. Ramadhan hingga sebulan setelahnya membuat kita sibuk kesana kemari. Padahal yang dianjurkan adalah membuka rumah kita sendiri dan halaman mesjid untuk  menyediakan buka puasa bagi orang yang tidak mampu. 
"Lha kan ini ditraktir, malah lebih ngirit dong."
Betulkah? Yakin nggak gengsi terlihat mengenakan baju yang sama di foto-foto bareng yang diunggah ke media sosial? Bagi perempuan, datang ke suatu acara seringkali tak sederhana, apalagi di jaman selfie, wefie dan unggah ke media sosial on the spot. Belum lagi kesepakatan dress code agar acara lebih seru dan bagus di foto. 

4. Mudik dan Wisata
Mudik sedianya adalah untuk kembali ke kampung halaman, pulang ke orangtua, untuk membahagiakan mereka dan memohon ampun. Bertemu dengan saudara-saudara yang lama terpisah karena kesibukan belajar dan bekerja adalah bonus yang luar biasa. Belum lagi bisa bertemu teman-teman lama untuk menyambung silaturahim. Dengan waktu cuti yang terbatas dan jarang diperoleh, membuat banyak keluarga menggabungkannya dengan wisata di daerah yang dilewati atau di tujuan mudik. Padahal, di musim mudik semua menjadi lebih mahal karena penyedia jasa juga harus memberikan kompensasi pada karyawannya yang tidak cuti Lebaran.
Yang berkelebihan biasanya memiliki perencanaan lebih baik karena bisa booking semuanya jauh-jauh hari sehingga bisa memilih fasilitas yang sepadan dengan harganya. Tapi bagi kita yang baru bisa berencana setelah THR ditangan, hati-hati, dengan waktu berpikir yang sempit seperti itu seringkali kurang teliti ketika membooking, asal dapat dan bahkan go show, yang membuatnya tak sepadan dengan uang yang telah dikeluarkan.

5. Kenang-kenangan dan Oleh-oleh
Mumpung mudik, diboronglah semua yang ada di kampung halaman, entah perlu atau tidak. Kapan lagi bisa memilih langsung produk daerah? Segala macam makanan dan kerajinan berjejalan di bagasi kendaraan. Rasanya seru melihat mobil berisi barang-barang khas daerah yang dilewati. Saya pernah beli kendi di Kasongan ketika mudik hanya karena lucu dan di kota tempat tinggal saya waktu itu tidak ada. Setelah menempuh 10 propinsi, akhirnya kendi saya letakkan didekat tempat cucian piring dan tak pernah sekalipun digunakan.
Saya pernah menulis tentang traveling ala James Bond karena terinspirasi prinsip seorang teman saya yang tidak mau repot. Yup, James Bond kalau pergi kemana-mana tidak membawa oleh-oleh. Oleh-oleh kita berikan untuk menambah keakraban dengan tetangga dan teman-teman. Kita sendiri senang kan, jika mendapat oleh-oleh dari orang lain? Namun tak perlu berlebihan. Yang terpenting adalah tetangga sekitar rumah yang ikut mengawasi rumah kita dan teman-teman sekerja yang mem-backup pekerjaan kita selama cuti. Pernah ada pemikiran, "Nggak apa-apalah keripik ini, murah dan banyak. Kalau dibagi se-gang bisa dapat."
Sekali lagi kalau sedang berkelebihan tak apa-apa. Tapi jika pas-pasan, pikirkan apakah kita masih perlu dana untuk membelikan seragam anak, merenovasi dapur atau membeli sepeda motor untuk belanja.

THR bukan dana khusus untuk bersenang-senang saja, tapi juga kesempatan untuk mewujudkan kebutuhan penting yang selama ini tertunda. Yang utama dalam Lebaran adalah zakat fitrah dan sholat ied, selebihnya adalah bonus jika ada kelebihan.

5 comments:

  1. Tahun lalu saya kejebak sama kuker Mbak. Dan pas beberes beberapa minggu lalu, nemu dong itu kuker tahun lalu yang isinya masih>70%! Padahal kami gak terlalu suka nyemil eh tahun lalu kalap. Huhuhu...

    ReplyDelete
  2. Gw masih galau nich, menentukan ntar lebaran makan opor ayam nya di rumah siapa hahaha

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah setiap lebaran enggak tergoda buat ke tempat wisata, soalnya muaacceeet. Masa di Jakarta ngrasain macet, trus pulkam juga harus ngrasain macet lagi, enggak mau ah, hehe.
    Untuk urusan mudik, saya dan suami sudah menyiapkannya dari setahun sebelum lebaran, Mba Lusi, alhamdulillah enggak terlalu keteteran. Walaupun tetep adaaa aja keperluan tak terduga begitu sudah sampai di kampung :).

    ReplyDelete
  4. Berhubung ada double posting dari blogspot yang tidak saya mengerti, maka komen dari double posting itu saya pindahkan kesini supaya yang satunya bisa saya delete. Mohon dimaklumi

    Effendi Nurdiaman https://www.blogger.com/profile/01163377603780628580
    Point ke 4 tuh jarang saya lakukan mba karena semua keluarga ada di satu daerah yang sama jadi tidak perlu mudik :)

    Rita Asmaraningsih http://www.rita-asmara.com/
    Wah...kudu hati2 nih..jangan sampai kena jebakan sale Lebaran ya Mba.. bisa ludes nih THR dalam sekejap..hehe..

    Leyla Hanna Menulis https://www.blogger.com/profile/06313026337183683579
    Aku malah belum beli baju lebaran hehe


    Pondokinfo.com http://www.pondokinfo.com/
    Kalau no. 1-3 mungkin bisa ditahan tapi kalau soal mudik terutama yang memang jauh dari keluarga dan jarang pulang kayaknya ga bisa ditahan deh hehehehe tp harus diperhitungkan selain biaya transportasi juga harus nyiapin "angpao" & oleh2 buat sodara-sodara :D
    Selamat berkarya kawan & sukses selalu dimanapun kita berada :)

    ReplyDelete
  5. Allhamdulillah aku gak terjebak mbak, gak belanja juga lebaran ini

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.