Wednesday, June 22, 2016

Apa Yang Harus Ibu Lakukan Jika Buah Hati Mengalami Kegagalan?

Sudah banyak sekali artikel blog tentang kiat sukses atau kunci sukses mencapai sesuatu tapi masih sedikit yang bicara tentang kegagalan.



Mungkin teman-teman melihat sliwar sliwer catatan dari ibu Elly Risman tentang menempa anak beberapa waktu lalu. Memang benar bu, kita bukanlah anggota TIM SAR yang selalu siap sedia ketika si anak membutuhkan. Tapi bukan berarti pula kita harus lepas tangan ketika si anak mengalami kegagalan. Selama masih dalam pengasuhan kita, mari kita jadikan sarana latihan terbaik untuk menghadapinya. Anak-anak harus dilatih untuk menghadapi kegagalan-kegagalannya karena jika mereka dewasa nanti, kegagalan mereka akan beresiko lebih besar lagi. Pada waktu itu mereka sudah bertanggung jawab terhadap sebuah keluarga. Bagaimana jika mereka tidak siap?
Bill Gates mengatakan bahwa dunia ini memang tidak adil, maka kita harus terbiasa melihat keadaan seperti itu. Tentu saja maksudnya bukan membuat kita tak punya rasa, melainkan agar kita tak mudah patah.
Mental juara tidak dimiliki oleh mereka yang sering menang, tapi justru oleh mereka yang sudah merasakan jatuh bangun sehingga mereka tahu benar arti bangkit dan berjuang keras. Kenyataan beberapa waktu lalu bahwa anak-anak yang selalu juara, mudah putus asa terhadap sesuatu yang menurut orang lain bukan akhir dunia, yaitu nilai IPK, membuat para orangtua terhenyak. Apakah sudah tidak bisa diperjuangkan lagi? Apakah sudah tidak bisa diperbaiki?

Dalam sistem pendidikan Indonesia, anak-anak gifted (berIQ tinggi) tidak mendapatkan bimbingan yang semestinya. Mereka malah dieksklusifkan dan diberi target yang lebih tinggi dari anak-anak lain. Apresiasi yang mereka terima selalu terkait dengan angka-angka. Sisi psikologis tidak dijamah, padahal mereka sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, yang tentu saja tidak bicara tentang besar badan saja. Anak-anak inilah, seperti dalam Dead Poet Society, yang sangat berbahaya jika gagal. Padahal gagal adalah unsur kehidupan juga, mungkin terjadi pada siapapun. Bagi yang bermental baja seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg memilih untuk keluar dari sistem pendidikan konvensional dan mencari jalan sendiri untuk sukses.

Sebagai ibu, ketika anak gagal tentu saja ada perasaan kecewa. Entah gagal di pertandingan, ranking kelas melorot, nilai UN tidak bagus, tidak diterima di sekolah yang diidamkan, tidak lolos SBMPTN dan sebagainya. Semua usaha, waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan untuk mendukungnya tak mendapatkan hasil yang diharapkan. Tapi bayangkan jika berada di sisi di anak. Kecewa dengan dirinya sendiri, malu dengan teman-temannya dan takut pada orangtuanya. Pada anak yang biasa juara, rasa malu lebih mendalam lagi. Entahlah jika itu menjadi penyebab mahasiswa pandai yang nekad mengakhiri hidupnya beberapa waktu lalu karena mendapat IPK buruk.

Sebenarnya, anak-anak dengan nilai rata-rata juga tak kalah rentan. Keinginan untuk menjadi istimewa ada dalam diri kita semua sebagai manusia. Jika terus-menerus tak bisa bersinar, mereka akan merasa dirinya invisible, tak penting untuk ada maupun tak ada. Masa depan seperti apa yang akan mereka peroleh jika mereka sendiri merasa tak penting untuk ada?

Kegagalan bukan hanya terjadi dalam urusan akademik. Jika si anak sudah remaja, persoalannya lebih rumit lagi. Seorang sahabat dekat menasehati saya, "Ketika kamu melepas anak untuk mandiri, yang nomor satu kamu persiapkan bukanlah materi tapi mental. Jangan kebalik ya."

Itu didasarkan pengalaman pribadinya ketika si remaja berangkat kuliah ke sebuah universitas ternama di lain kota. Si anak mengalami masalah percintaan untuk pertama kalinya dan rupanya tidak beruntung berhadapan dengan seorang laki-laki yang senang membully jika si anak membuat kesalahan. Karena ketakutan, si anak tidak mau melanjutkan kuliah dan balik kampung. Meski sudah pindah ke sebuah perguruan tinggi setempat, tapi tak begitu saja keadaan normal kembali. Perlu satu semester bagi si ibu untuk melakukan pendekatan dan perlu satu semester lagi untuk membujuk si anak hanya agar mau datang kuliah saja setelah bolak-balik si anak dibawa berkonsultasi ke psikolog.
Memang tak adil menilai keberadaan seseorang berdasarkan angka-angka, bukan kepada manfaat. Tapi begitulah dunia seperti yang dikatakan Bill Gates. Maka ibu tak seharusnya melihat kegagalan si anak seperti cara orang lain melihat kegagalan anak tersebut karena si ibu lebih tahu apa yang sudah diperjuangkan anaknya.
1. Beri waktu pada diri sendiri dan anak.
Itulah mengapa dalam Islam dianjurkan untuk diam ketika marah dan kecewa. Jika tak mampu menahan, ambil air wudhu. Maksudnya adalah sebagai time out, untuk mengendapkan pelajaran yang baru saja diperoleh. Karena dalam kekecewaan, tak satupun jalan bisa terlihat. Time out memberikan kesempatan untuk mengambil hikmah dan munculnya kemungkinan jalan keluar.

2. Lindungi diri sendiri dan anak.
Tidak perlu sok tegar dalam menghadapi kegagalan karena kecewa itu sangat manusiawi. Karenanya jangan melukai diri sendiri, terlebih lagi si anak, dengan mencoba bersikap biasa disaat belum siap. Time out juga berlaku dalam hubungan dengan orang lain. Sayangnya di dunia ini ada aja orang-orang yang tidak bisa berempati, penasaran dan merasa lebih baik jika melihat kegagalan orang lain. Sulit menghindari pembicaraan dengan orang-orang seperti itu karena mereka akan terus bertanya. Kurangi saja kontak dengan mereka jika tak memiliki kewajiban apa-apa dengan mereka.

3. Kegagalan anak adalah kegagalan keluarga.
Jangan menimpakan seluruh penyebab kegagalan pada si anak karena dia sendiri sedang mencari jawaban penyebab kegagalannya tersebut, yang sebagian besar akan menyalahkan dirinya sendiri. Strategi matang yang telah dijalankan bukan jaminan untuk berhasil karena masih ada ridho Allah. Ridho Allah bukan semata-mata tanggung jawab si anak untuk mendapatkannya, melainkan juga dari ibadah, sedekah dan keikhlasan orang tuanya. Dan jika setelah semua usaha dan ibadah dilakukan tapi tetap gagal, mungkin Allah sedang menguji keimanan keluarga tersebut. Banyak hal didunia ini yang berada diluar perkiraan dan kendali manusia.

4. Keluarga adalah tempat berlindung, bukan tempat bersembunyi.
Memang ibu harus melindungi anak yang masih kecewa dengan kegagalannya. Ibu harus memberi tempat berlindung yang aman dari perasaan malu. Tapi keluarga bukanlah tempat untuk bersembunyi. Cepat atau lambat si anak harus menghadapi kegagalannya tersebut seperti yang ditegaskan oleh ibu Elly Risman. Anak-anak harus menghadapi pertanyaan seputar kegagalannya itu. Anak-anak harus menerima simpati atau cibiran. Adalah tugas orangtua untuk memperbaiki kondisi mentalnya. Ibu harus bisa menjalankan perannya, bicara dari hati ke hati pada si anak bahwa fakta tersebut pada akhirnya harus dihadapi. Kadang ada juga orangtua yang membiarkan anak tersebut menghadapinya sejak awal. Memang ada yang justru menjadi kuat, tapi tak sedikit yang patah. Bahkan ada pula yang akhirnya terbiasa dengan kegagalan dan tak mengambil pelajaran apapun karena toh keluarga membiarkannya menghadapi sendiri. Ibu harus menjalankan perannya untuk menyimbangkan kondisi mental anak saat gagal itu dan kebutuhan akan mental yang tangguh di masa depan.

5. Bangkit bersama dan berdiri sendiri.
Masih ingat Ohana di Lilo and Stitch? Family means no one gets left behind. Beri pengertian pada seluruh anggota (kakak dan adiknya) untuk memberikan dukungan moral pada si anak. Ceritakan padanya kisah-kisah sukses orang-orang yang pernah gagal untuk memberikan motivasi. Lebih baik lagi mengambil contoh dari saudara atau orang-orang terdekat agar dia bisa mendapatkan gambaran lebih jelas tentang betapa pentingnya untuk tidak menyerah. Dalam proses itu, perlahan ambillah jarak untuk mendorong keberaniannya melangkah sendiri, menghadapi kegagalan tersebut dan meneruskan hidup.

Menjadi orang tua, terutama ibu, adalah sekolah seumur hidup. Tidak mudah, karena akan ada ujian-ujian. Pendapat pakar seringkali berdasarkan penelitian secara umum, belum tentu tepat untuk si anak. Keyakinan ortu sendiri juga belum tentu tepat karena banyak hal-hal subyektif. Check and balance terus menerus harus dilakukan sehingga jika ortu keliru dalam membimbing si anak, masih banyak peluang untuk memperbaiki. Bahkan 5 hal diatas bisa saja tak memberikan jalan keluar apa-apa karena tingkat ketahanan seorang anak terhadap suatu kegagalan kadang tak terduga. Tapi adalah kewajiban orangtua untuk berikhtiar dan tidak menyerah. Kalau orangtua, terutama ibu menyerah, selesai sudah anak itu.


9 comments:

  1. Berat nih bahasannya... Smoga saya bs jd ibu yg kuat

    ReplyDelete
  2. Terimakasih mbak Lus.. Semoga bisa diamalkan *sambil berdoa, jauhkanlah anak-anak dari berbagai macam kegagalan.

    ReplyDelete
  3. makasih sharenya mba, pas banget nih dengan kondisi saya kadanga merasa membimbing anak kedua ini lbh banyak 'tantangannya' dibanding yg pertama :(

    ReplyDelete
  4. Memberi waktu sendiri itu memang paling efektif. Bukan cuma anak. Saya pun jika gagal butuh sendiri dulu

    ReplyDelete
  5. Penting. Jangan kayak sinetron. Anak salah...diusir dari rumah

    ReplyDelete
  6. Orang tua saya dulu agak cuek dengan pendidikan, mau anaknya nilai 100 atau 10 nggak masalah. Jadi sejak kecil saya nggak pernah terbebani dengan nilai, dapat nilai 100 atau 10 perasaan biasa saja krn penilaian orang bukan dr nilai sekolah tapi justru dr status sosial. Mau dapat nilai 100 kalau anaknya orang miskin tetap dicuekin, mau nilai 10 kalau anak orang kaya tetap dihormati, hehe

    Jadi saat inipun saya santai dengan nilai anak, justru suami yang agak 'lebay'. Saya sudah tanamkam ke anak bahwa sukses seseorang nantinya tuh bukan berdasarkan nilai sekolah, banyak hal lain yang mempengaruhi. Teman saya lebih ektrim lagi, katanya orang pintar itu nggak penting tapi orang bejo itu lebih penting, nha loh :)

    Tapi cita-cita saya tetap ingin anak belajar setinggi-tingginya, jangan niru orang tuanya yang bodoh. Dan apabila dia sedih karena merasa gagal, saya orang pertama yang akan membangkitkannya kembali, cieehhh :)

    ReplyDelete
  7. Sedang belajar menjadi orang tua dan perjalanan saya masih panjang, Mak Lus terhitung mama yg biijak dan anak2nya berhasil, semoga lancar ke depannya dan saya belajar dari yang lebih senior.

    ReplyDelete
  8. setuju mak....walaupun tidak semua banyak orangtua menyibukkan dirinya dengan angka-angak dan nilai sekolah termasuk saya dulu....sekarang saya lebih menanamkan bagaimana anak belajar mencintai dan semangat belajar dan mencari ilmu...

    ReplyDelete
  9. Yup mental juara itu yang paling utama. Kadang saat anak ikut lomba2, nggak selamanya menang. Saat kalah itu pasti kecewa banget, sedih, tapi bagaimanapun harus bisa move on, jangan sampai mutung.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.