Wednesday, June 08, 2016

Belajar Dari Sertifikat Halal Restoran Hokben

Ketika pertama kali pindah ke Yogyakarta, kami mengalami banyak kesulitan untuk memilih restoran halal. 

Hokben Halal


Restoran dan warung makan di Yogyakarta sering mengubah kata untuk menyampaikan bahwa restoran tersebut tidak halal dibandingkan dengan menuliskannya langsung. Misalnya tongseng daging anjing disebut sebagai tongseng jamu atau daging babi disebut B2. Di Pekanbaru, kami tidak mengalami kesulitan karena restoran yang seperti itu menempelkan tulisan "non-halal" di pintu. Lebih parahnya lagi, ada beberapa restoran yang tidak menuliskan apapun didepan pintunya. Baru setelah kami duduk, didalam daftar menu ada halal dan non-halal. Padahal bagi penganut agama Islam, penting sekali untuk tahu jenis makanan apa yang dijual sebelum masuk ke restoran tersebut. Meski ada menu halal dan non-halal, bagaimana kami bisa tahu bahwa mereka tidak menggunakan peralatan memasak yang sama? 

Agama kami menganjurkan, jika ada keraguan tentang kehalalan suatu makanan, lebih baik tidak jadi makan.

Bagi kami, alangkah leganya jika restoran memajang sertifikat halal seperti Hokben. Makan jadi lebih tenang dan nikmat, Sayangnya, di negeri ini banyak maksud baik yang tidak kesampaian akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sertifikat halal abal-abal bisa saja didapat. 

Baru minggu lalu saya tahu bahwa ternyata keaslian sertifikat halal Hokben itu bisa dicek dengan mudah mengikuti teknologi sekarang yang ada digenggaman.

Hokben Halal

Saya dan Hokben
Hokben adalah restoran pertama bergaya Jepang yang saya kunjungi. Itu berarti sudah sangat lama dulu ketika Hokben masih dikenal sebagai Hoka Hoka Bento, belum disingkat jadi Hokben. Dulu Hoka Hoka Bento adanya cuma di Jakarta, lalu di Bandung. Saya ingat tiap transit di Jakarta atau Bandung dari Jawa ke Riau dan sebaliknya, kami selalu memesan Hoka Hoka Bento. Kapan lagi bisa menikmatinya? Paling sering beli di stasiun kereta api. Baru ketika buka di Yogyakarta tahun 2010, kami bisa menikmatinya tiap mudik. 
Kata Hokben saya dengar pertama kali dari teman-teman yang tinggal di Jakarta. Saya pikir waktu itu hanya bahasa gaul anak Jakarta saja. Ternyata panggilan sayang itu lalu diadopsi oleh manajemen Hoka Hoka Bento yang kemudian melakukan re-branding agar lebih akrab dengan seluruh anggota keluarga sebagai konsumen utama Hokben.

Apakah Hokben Halal?
Sejak mula saya tidak pernah mempersoalkan kehalalan Hokben. Saya pikir restoran sebesar Hokben tak akan main-main dengan konsumen Indonesia yang mayoritas Islam. Ternyata menurut Ibu Ir. Hj. Osmena Gunawan,Wakil Direktur LPPOM MUI Pusat, kita tidak boleh percaya begitu saja meski restoran itu besar. Kita boleh dan berhak menanyakan kehalalannya. Apalagi yang dijual adalah makanan bergaya Jepang, yang meskipun tidak 100% Jepang tapi mungkin ada mirin atau minyak-minyak lain yang tidak halal. Tips dari bu Osmena sih tidak usah kebanyakan ribet, langsung tanya ke pelayannya saja apakah restoran tersebut halal atau tidak.
Wah beruntung sekali Komunitas Blogger Jogja diundang untuk menambah pengetahuan tentang produk restoran halal bersama MUI. Besok-besok lagi jangan pernah menggampangkan persoalan halal ini.
Ketika kami (saya dan teman-teman blogger) masuk, langsung bisa melihat dua buah sertifikat, yaitu Sertifikat Halal MUI dan Sertifikat Sistem Jaminan Halal grade A. Jika teman-teman menyangsikan, bisa dicek keasliannya di:
  • SMS 98555, ketik Halal Hokben, dengan tarif Rp 1.000,-.
  • Aplikasi Halal di Android / BB / iOS
  • www.halalmui.org
  • Email: info@halalmui.org
Hokben Halal
Sumber: MUI

Nah, setelah yakin, baru deh pesan menu Hokben yang sedang hits, diantaranya Omiyage yang artinya buah tangan.

Mengapa Sertifikat Halal itu Penting?
MUI mengakui bahwa tidak ada keharusan bagi restoran untuk mendapatkan sertifikat halal. Namun sertifikat halal dapat membantu konsumen restoran tersebut agar mantap memesan menu yang ditawarkan. Ini menjawab kegundahan saya diatas.
Ketua Majelis Fatwa MUI, Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML. mengatakan, "Jika suatu produk telah bersentuhan dengan teknologi dan sudah tidak nampak lagi bentuk asli dari produk tersebut, maka produk tersebut dapat dikategorikan sebagai produk yang syubhat (samar)."
Maka dari itu, yang samar harus dipertegas menggunakan sertifikat halal.
Sedangkan dasar hukum yang digunakan adalah QS Al Baqarah : 168, yang artinya, "Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu."
Maka dari itu umat Islam diwajibkan untuk makan yang halalan thayyiban. Produk yang halal adalah produk yang tidak akan membuat manusia berbuat dosa didunia dan tidak mendapat siksa di akhirat. Sedangkan thayyib adalah makanan yang sehat, proporsional dan aman.

Bagaimana Hokben Bisa Mendapatkan Sertifikat Halal?
Bahwa mengurus sertifikasi halal itu panjang dan lama hanyalah isu. Bu Osmena menegaskan bahwa yang terpenting adalah komitmen, maka sertifikat dapat diperoleh dengan mudah dan cepat.
Syarat utama memperoleh sertifikat halal: jujur, menggunakan bahan-bahan halal, serta tercatat dan mudah tertelusur.
Hokben mewakili produk makanan masa kini yang mudah disajikan dan berpenampilan menarik. Berhubung menu Hokben mengandung unsur olahan hewan dan tanaman, maka Hokben harus bisa meyakinkan MUI bahwa hewan tersebut disembelih sesuai syariah Islam, demikian pula dengan bahan tambahan dan proses pengolahannya. Sedangkan untuk sayuran, meski tak perlu menjelaskan kehalalan bahan mentahnya, namun karena diolah, diantaranya menjadi salad, maka Hokben wajib menjelaskan pada MUI bahwa bahan tambahannya halal.
Hokben resmi mendapatkan sertifikat halal untuk pertama kalinya tahun 2008. Sampai sekarang Hokben harus menjaga standar yang telah ditetapkan oleh MUI.
Inspirasi dari Restoran Hokben Halal
Bu Osmena yang memandu kami dengan penuh semangat juga memberikan beberapa tantangan dan ide. Bu Osmena menantang blogger untuk berperan lebih jauh lagi, tidak hanya sebagai konsumen tapi juga sebagai pelaku usaha. Misalnya dengan memasok bahan-bahan makanan halal. 
Sebagai kota wisata, bu Osmena melempar ide Jogja sebagai kota wisata halal, dimana fasilitas-fasilitas ibadah diperbaiki. Misalnya, tata letak mushola yang lebih baik karena masih ada yang bercampur dengan bau tak sedap kamar mandi. Usul saya sih seperti pembukaan artikel ini bahwa makin banyak restoran, kalau bisa semua, yang menulis dengan jelas apakah produk makanannya halal atau non halal agar wisatawan dan pendatang baru tidak kecele. 
Yang patut diapresiasi adalah keyakinan bu Osmena bahwa blogger merupakan media yang sangat strategis untuk menyebarluaskan pentingnya sertifikat halal.


Hokben Halal
Komunitas Blogger Jogja. Photo by Rian.

15 comments:

  1. Makin mantap makan di hokben, makasih sharingnya maklus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan maem bareng lagi kita disana ya heheee

      Delete
  2. ah, tenang deh mak kalo sudah halal begini :) Saya juga pertamakali coba makanan gaya jepang di Hokben

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngehits banget ya jaman belum menjamur resto Jepang dulu

      Delete
  3. Smg apa yg kita makan menjadi berkah... Amin...

    ReplyDelete
  4. waaah.. aku termasuk yg ga perhatian sama sertifikat beginian di resto2 cepat saji mba.. ternyata emg perlu yaaa... tfs mba lusi :D

    ReplyDelete
  5. Salah satu alasan kenapa sering jajan di sini sejak jaman kuliah adalah...halal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiaaah anak kuliahan jaman sekarang duitnya banyak hahaaa

      Delete
  6. Wah..keren nih Hokben, sudah dapat sertifikat halal :) Baru sekali cobain Hokben, pas ditraktir sama Teh Nchie di Baltos. Hihihi.. Alhamdulillah yaa udah pernah nyobain.


    Yaa maklum, di Mataram belum ada euy~

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.