Friday, June 17, 2016

3 Hal Yang Membuat Undangan Bukber Jadi Idaman

Kesentil nggak dengan kalimat ini, "Sudah safari Ramadhan kemana aja?"

undangan bukber idaman
Pic by pexels.com


Jleb jleb gitu ya? Safari Ramadhan dari mall ke mall. Hehee.... Beberapa hari ini memang saya buka bersama alias bukber diluar rumah. Nggak semua urusan brand sih, tapi ya tetap saja judulnya diluar rumah. Bahkan setengah jam lagi harus berangkat ke mall supaya kebagian parkir, sudah janjian ada bukber lagi. Nggak heran beberapa teman dengan tegas putus hubungan dengan media sosial dan group chat selama Ramadhan karena undangan bukber susah ditolak meski tahu momen berharga yang cuma setahun sekali ini harus kita korbankan.
Tapi bukan manusia namanya kalau tidak pandai mencari alasan. Bukber diklaim sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahim, padahal yang kemarin-kemarin sebelum Ramadhan juga ketemuan terus, sih. Bagi saya sendiri sebagai terundang, nggak enak saja menolaknya. Apalagi jika sudah kenal baik. Mau buat alasan sibuk ngurusi anak-anak, eh mereka sudah mandiri. Bagaimana dong?
Sebenarnya, mengundang orang untuk bukber itu pahalanya besar banget lho. Bahkan para ibu sering melebihkan masakan mereka agar bisa dibagi ke tetangga. Nah, kalau menolak undangan bukber kan berarti tidak membantu si pengundang dapat pahala. Hehehee....
Namun demikian (selalu ada "namun demikian"nya), ada beberapa hal yang apabila dijadikan pertimbangan pengundang akan meringankan langkah terundang, karena Ramadhan itu momen penting, jadi masalahnya bukan sekedar dapat makan gratis.

1. Keluarga boleh ikut.
Kalau ada undangan seperti itu pasti deh semangat berangkat semua nggak pakai mikir. Sayangnya sangat jarang yang seperti ini, bahkan undangan kantor seringkali dengan sadis hanya ditujukan untuk karyawan dan karyawatinya. Keluarga yang kemarin-kemarin sering ditinggal lembur, sekarang ditinggal bukber. Sentil bapak ibu direktur. Untuk yang mentraktir dari kantong pribadi, nggak enak juga sih kalau kita membawa rombongan sirkus, takutnya habis banyak, kan kasihan. Tapi bagaimana lagi, Ramadhan memang momen bersatunya keluarga. Kalau brand atau instansi, kecuali produk bayi dan anak, juga tidak menyertakan keluarga. Umumnya bukber dibarengkan dengan kerja juga, yaitu livetweet produk atau gerakan yang sedang dipromosikan. Susah juga kan kalau bawa anak? Sesekali boleh dong datang cuma makan aja biar bisa bawa keluarga heheheee....

2. Lokasi yang halal.
Bukber adalah bagian penting dari puasa. Dengan penuh syukur umat Islam mengakhirkan puasa. Tapi lama-lama bukber lebih diartikan sebagai makan bersama setelah puasa. Jadi, pemilihan tempat seringkali mengutamakan makanan yang enak, tempat yang nyaman dan mudah dijangkau, baru kemudian dicari yang ada tempat untuk sholat maghrib. Halal hanya dihubungkan dengan makanan, tidak terlalu detil soal tempat ibadahnya sehingga tidak dicek apakah mushola yang ada cukup layak. Sudah beberapa kali saya mendapati restoran besar tapi musholla kecil dan kotor. Bahkan ada yang cuma muat dua orang menghadap ke orang lalu-lalang pula. Padahal kan tidak boleh lewat didepan orang sholat. Sekarang banyak mall yang memiliki mushola nyaman. Ditambah dengan pilihan resto yang banyak, mall jadi sering dipilih. Namun ada juga yang meski nyaman, letak mushola jauh, apalagi kalau malnya cukup besar. Jadi, beri kelonggaran pada si terundang untuk sholat tanpa buru-buru. Kekurangan di mal lainnya adalah privacy yang tidak ada, jadi tidak bisa mengadakan kultum atau tauziah.

3. Kultum penyejuk jiwa.
Pernah livetweet sampai titik darah penghabisan, sampai detik terakhir sebelum dung buka puasa?Pernah main games seseruan dengan peserta bukber untuk nunggu waktu berbuka? Atau malah bengong-bengong saja nunggu adzan? Penginnya sih, sisakan barang 7 menit sebelum adzan maghrib untuk ceramah singkat tentang agama Islam karena buka bersama adalah event khusus umat Islam. Meskipun yang diundang beragam dari berbagai keyakinan, tetap momen itu adalah milik umat Islam. Meski singkat, cuma 7 menit, cukup untuk menghormati momen tersebut. Sama-sama toleransi kan? Yang Islam tidak mendominasi acara, cukup minta 7 menit, sedangkan yang non Islam mau bersabar menunggu sebentar saja. Insya Allah akan tercipta suasana yang adem.

Jadi, jangan lupa ya, bukber itu buka puasa bersama, bukan makan bersama biasa. Jadikan undanganmu idaman bagi umat Islam. Eaaa....

5 comments:

  1. Cari tempat bukber yang ada mushalla-nya.. Kalo bukber di mall suka ribet cari tempat shalat..

    ReplyDelete
  2. "Keluarga yang kemarin-kemarin sering ditinggal lembur, sekarang ditinggal bukber." hahaha... ini isi hatiku banget mak

    ReplyDelete
  3. Ramadhan kali ini cuma dua kali ambil acara bukber dgn blogger mak, satu saat acara bukber dgn anak2 di bantar gebang selain acara komunitas ya anak dan suami jg ikut. Dua, launching resto yg tepatnya di mall belakang rumah dan bisa bawa anak. Selebihnya kayanya mager aj bukber sm anak dan suami di rumah :)

    ReplyDelete
  4. Aku juga setuju banget mba kalau resto untuk bukber harus ada mushollanya yang bersih dan suci. Beberapa kali bukber ke resto besar adakalanya musholla sedikit memaksa untuk diadain dengan tidak sesuai standart, misanya kecil banget dan muat 2 orang :(

    ReplyDelete
  5. Duh saya kesentil bgt krn belom ada bukber kemana2.. Hiks

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.