DIY Alat Penyiram Sederhana Untuk Tanaman Dalam Pot

Tuesday, September 13, 2016

Menyiram tanaman merupakan masalah besar buat saya.



Sehari-hari tidak ada yang membantu saya menyelesaikan pekerjaan rumah. Eh, udah langganan laundry ding. Tapi saya tetap sibuk ya. Iyain saja, biar artikel ini punya benang merah. Seringkali, tanaman yang cuma sedikit itu terbengkalai, kering, lalu mati, Hiks. Kalaupun sempat menyiram, biasanya di pagi hari. Sore hari mereka sudah kering kehausan karena panas sepanjang siang. Saya baru sempat menyiramnya lagi keesokan harinya. Saya butuh sistem pengairan yang menjamin tanaman saya adem seharian.
Penginnya sih bikin springkler seperti di film-film Hollywood itu ya, bisa disetting pada jam tertentu air menyirampi tanaman dan rumput yang luas. Sayangnya, kami terpaksa harus realistis karena halaman imut begitu kalau dikasih springkler airnya bisa nyiram teras. Selain itu, nggak sebanding dengan modal yang dikeluarkan untuk membeli peralatannya. Jadi, otak diajak prihatin, diajak mikir.
Alat bantu sederhana ini didasarkan pada prinsip air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Setelah itu, harus ada cara untuk mengalirkannya ke beberapa pot sekaligus. Berhubung tidak ada mesin sama sekali, maka tidak bisa menggunakan pengatur waktu, kapan harus mengalirkan air. Jadi, yang bisa dilakukan adalah membuat pintu-pintu agar air mengalir terus dalam volume kecil agar tidak banjir dan membusukkan akar. 

Bukankah cara kerja seperti itu mengingatkan pada selang infus di rumah sakit?

Nah, selang air dirumah sakit itu terdiri dari: 
  1. botol infus
  2. pengatur besar-kecil aliran infus 
  3. selangnya
  4. jarum
Ember bekas pengankut adukan semen supaya tidak eman-eman dilubangi.
Itulah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk berbeda. Botol infus diganti dengan ember agar bisa berisi banyak. Ukuran ember bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya rumah mau ditinggal beberapa hari, bisa menggunakan gentong atau ember yang lebih besar. Untuk sehari-hari, ember seperti foto saya tersebut sudah cukup. Ember tersebut merupakan bekas untuk mengangkut adukan semen tukang. Nggak mau rugi ya, gunakan ember tak terpakai saja.
Untuk selang, usahakan membeli yang mirip dirumah sakit itu. Selang seperti itu bisa dibeli di toko pernak-pernik akuarium seharga RP 1.500 per meter. Agar bisa mengalir ke beberapa ember sekaligus, berarti harus ada selang bentuk T sebagai pembaginya. Ini juga ada di toko peralatan akuarium dengan harga Rp 1.000 per buah. 
Sedangkan untuk keran pengatur alirannya dijual dengan harga Rp 2.500 per buah di toko yang sama. Perlu diperhatikan, jika sampai kehabisan air di ember, selang akan berisi angin. Jika diisi air lagi tidak kan keluar. Karena itu, jika mau digunakan lagi, buka lebar-lebar putaran kerannya agar angin keluar dulu, baru digunakan lagi dan akan berfungsi seperti sebelumnya.
Untuk melubangi ember, gunakan solder listrik. Kalau dilubangi dengan paku sepertinya ember bisa pecah. Setelah itu masukkan selang. Agar selang tidak bergerak dan air tidak merembes seputar pertemuan selang dengan lubang ember, lem sekelilingnya. Kalau punya sealant yang untuk mengelem akuarium itu sih lebih bagus lagi. Tapi kalau tidak ada, cukup dengan lem tembak listrik yang biasa digunakan ibu-ibu untuk craft flanel. 

Sepertinya cuma ini saja bagian yang perlu waktu agak lama.

Yang kuning itu adalah kran pengatur aliran air. Foto yang kanan menunjukkan T sebagai pembagi aliran ke pot-pot
Selebihnya tinggal memasang T sesuai dengan jumlah pot dan memasang kran pada ujung-ujungnya. Karena settingnya mengalir kecil dan pelan berarti tidak dapat menyiram lahan yang luas, misalnya halaman dimana rumput terhampar.

Hasilnya bagaimana? Alhamdulillah tanaman bunga yang nyaris wassalam bisa segar kembali dan berbunga indah. Selamat mencoba. Oiya, tampilannya belum rapi ya, karena itu baru menyelesaikan rangkaiannya dan belum sempat merapikan selangnya, sampai sekarang. Heheheee....

You Might Also Like

18 comments

  1. Wah keren buanget, tapi sayang ga ada timernya jadi harus benar2 diperhatikan dulu takaran airnya

    ReplyDelete
  2. Ih lucuk Mbaaaaak, ada infusnya gitu. Ihihihi :D

    Sayangnya sejak ngekos aku gak pernah lagi nih nanem apa apa. Huhuhu.

    ReplyDelete
  3. wahh, praktis banget Mba, tak coba di rumah yo :)

    makasih :)

    ReplyDelete
  4. Ada nih bab nya di mata kuliah teknik irigasi hihihi. Kalau yang udah canggih namanya sistem irigasi tetes. Terbukti lebih efisien

    ReplyDelete
  5. wah,ide bangus nih...boleh juga dicoba^^

    ReplyDelete
  6. Wah ini kreatif banget Mak Lusi.. Horee, gak bakal diomelin Mamaku karena lupa nyiram tanaman deh :))

    ReplyDelete
  7. ada aja ih idenya mbak lusi ,saat menyiram ga tumpah2 ya jadinya

    ReplyDelete
  8. Hahaha... Bisa aja nih mba idenya. Kreatif bgt sih, sekali tuang air, 2,3,4, pot tersiram:D

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.