Thursday, September 01, 2016

Pengin Bikin Proyek DIY (Do It Yourself) Tapi Takut Gagal? Lakukan Antisipasi Ini

DIY (Do It Yourself) itu kemungkinan gagalnya tinggi karena kita memberanikan diri melakukan sesuatu sendiri.

DIY Do It Yourself
Photo: pexels.com

Ini untuk menjawab pertanyaan Adriana Dian yang takut gagal ber-DIY dan tidak bisa di-undo. Namun demikian, bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Yang penting jangan sampai bikin baper karena inti dari DIY adalah bersenang-senang mengisi waktu dengan kreativitas. Syukur bisa membuahkan karya yang keren tanpa banyak mengeluarkan uang, terutama untuk upah tenaga kerja. Sebenarnya DIY bukan hanya memperbaiki barang rusak, tapi juga kegiatan kreatif lainnya seperti craft, yang biasanya kita beli karena tidak tahu cara membuatnya.

Bagi saya, DIY itu jadi alasan untuk menggerakkan badan biar sehat. 

Selain itu, saya tidak suka memiliki banyak perabotan dan pernak-pernik, ribet merawatnya dan takut pindah rumah lagi, capek beres-beres. Jadi, sebisa mungkin manfaatkan semua yang ada dirumah dulu. Kalau benar-benar tak ada dirumah, dan ada keperluan untuk memakainya, misalnya mau ketempatan arisan nggak punya karpet, baru deh beli.
Di Indonesia, DIY sudah mulai banyak dilakukan, mungkin karena upah pekerja semakin mahal. Tukang saja sudah Rp 80.000,- per orang per hari, belum termasuk makan dan jajan. Di kota besar mungkin lebih mahal lagi. Disini diuntungkan dengan sistem sambatan. Misalnya, mau memangkas ranting, tinggal minta tolong (tapi bayar juga seikhlasnya) dengan tetangga yang biasa dipanggil untuk pekerjaan serabutan.
Sedangkan di negara maju, kebanyakan sudah melakukan semua sendiri. Tentu saja karena terpaksa pekerja serabutan tidak ada sementara tarif tukang mahal. Mereka juga terbantu dengan kebiasaan mengoperasikan peralatan sendiri, misalnya bor. Saya punya bor sudah bertahun-tahun saja tidak pernah menggunakannya sendiri, selalu dioperasikan tukang. Karena itu saya sering melongo kagum (ngowoh) melihat program-program TV asing misalnya The Block, dimana ibu-ibu juga bisa merenovasi rumah sendiri.

Menurut pembagian yang saya karang sendiri, DIY (Do It Yourself) itu ada 3 macam:

  1. DIY Creation
  2. DIY Makeover
  3. DIY Repair

1. DIY CREATION
DIY creation ini berarti membuat sesuatu yang baru. Ini lebih banyak dilakukan oleh penyuka craft. Tapi sekarang sudah banyak yang melakukan sendiri untuk hal lain, misalnya membuat media hidroponik, membuat taman, sampai membuat perabotan sendiri. Belakangan sedang marak membuat perabotan dari kayu bekas palet. Tinggal dibongkar, disusun ulang dan ditutup matras. Kadang malah mereka merasa tidak perlu melapisi kayu palet dengan pernis. Sebaiknya sih dilapisi meski penginnya tampak natural, takutnya nanti tlusupen (Eh bahasa Indonesia-nya apa ya?)
Di Indonesia, penyuka DIY creation didominasi perempuan yang suka craft. Sayangnya, meskipun sudah banyak yang membuat tutorialnya di blog atau facebook tapi yang mengunggahnya menjadi konten youtube masih sangat sedikit. Itupun gambarnya tidak sebagus dan seserius tutorial asing. Padahal craft yang dibuat channel asing banyak yang sepele lo, tapi dikemas dan dibranding dengan baik.
Terus ada yang tanya dong ya, kok nggak saya saja yang bikin videonya? Jawabnya ada di rerumputan yang bergoyang. Hehehee guyon. Saya juga sedang belajar ini meski lambat, sesuai dengan kapasitas diri. Baru sedikit yang sudah diunggah di channel youtube tapi masih dalam kondisi yang memprihatikan. Semoga kedepannya makin baik. Nama channelnya beyourselfwoman, linknya https://www.youtube.com/channel/UCeaoQBVHXhjKYnOQQ_A5iPA, baru ada 5 video, 2 diantaranya view lumayan dan 3 subscribers. Jangan lupa subscribe ya. Makasih.


Bagaimana jika DIY creation ini gagal?
  • Sebelum mulai, kuatkan tekad bahwa ini untuk bersenang-senang, daripada menyesal punya ide tapi tak berusaha diwujudkan. Kalau niatnya untuk dijual, ya boleh saja, tapi itu sudah masuk beginner's luck karena jarang yang bisa menjual sesuatu pada percobaan pertama.
  • Jika gagal, jangan langsung dibuang, dipotret dulu, bagus untuk bahan postingan blog tentang progress percobaan proyek DIY tersebut.
  • Jika gagal, simpan hasil kegagalan tersebut, bongkar dan pikirkan cara lain untuk memanfaatkannya. Bisa untuk bahan DIY makeover atau repair.
  • Jika gagal, yah namanya juga belajar, kadang sukses, kadang gagal total. Anggap saja itu biaya sekolahnya. Sekolahnya kan ada juga yang rapornya jelek. Yang penting terus belajar supaya naik kelas. Hehehee....
2. DIY Makeover
DIY makeover adalah berusaha membuat sebuah benda yang buruk rupa jadi cantik jelita. Apakah biaya yang dikeluarkan lebih sedikit dari DIY creation karena menggunakan barang yang sudah ada? Belum tentu. Kadang makeover bisa memakan biaya yang cukup besar, misalnya tampilan cat tembok dengan mural.


Bagaimana mengantisipsi kegagalan DIY makeover?
  • Karena makeover, tentusaja tidak menggunakan sesuatu yang baru kecuali bahan pendukungnya.
  • Pastikan benda tersebut benar-benar perlu untuk diperbaiki atau nothing to loose jika gagal, misalnya kursi jebol saya itu. Kalaupun gagal, misalnya catnya jelek, ya tempatnya tetap di belakang rumah seperti semula, tidak berubah.
  • Pilih benda yang rusak parah untuk latihan, dimana setelah disentuh sedikit saja sudah sangat mengubah penampilannya sehingga tidak ada kata gagal.
  • Jangan menggunakan benda "berperkara", yaitu benda yang sudah nggak karuan bentuknya tapi merupakan kesayangan. Misalnya kursi tua milik kakek yang penuh kenangan. Jangan mengubahnya menjadi apapun sebelum beliau mengikhlaskannya. Kadang yang kita lihat hanya duduk tapi bisa saja sebenarnya itu sedang menenggelamkan diri dalam kenangan.
3. DIY Repair
Apakah ibu termasuk yang bisa bongkar tapi tidak bisa pasang? Sama dong. Selalu kita mendapat saran untuk menyerahkan pada ahlinya jika ada sesuatu yang rusak dirumah, padahal itu berarti bayar. Tak ada salahnya mencoba dilakukan sendiri meski sepertinya mustahil. Misalnya seperti yang pernah saya lakukan yaitu membenahi nat kamar mandi.


Tapi ada yang harus diingat agar DIY repair ini tidak berakibat fatal, yaitu:

  • Jangan mencoba apapun yang berhubungan dengan listrik. Ini membutuhkan pengetahuan khusus. Bapak-bapak saja tidak semua bisa, ada yang harus dilakukan oleh tukang listrik bersertifikat.
  • Safety first. Memang tidak semua harus sedetil mau manjat genteng, ada juga yang cuma repair baju, tapi ini harus diperhatikan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan alat bantu berbahaya (pisau, pacul dan sebagainya) dan posisi tubuh tak wajar (manjat, titian dan sebagainya).
  • Jangan menyentuh apapun yang ada asuransinya. Iya iyalah, ngapain susah-susah, diklaim saja. Apalagi sering ada klausul yang menyebutkan bahwa kerusakan yang bertambah akibat perbaikan sendiri akan mengakibatkan klaim tidak berlaku.
  • Hindari memperbaiki gas atau selang gas sendiri. Yang boleh dilakukan hanya sekitar mengganti tabung kosong dan mengganti regulator.

Jadi begitulah kira-kira tentang DIY atau Do It Yourself. Jangan ragu untuk melakukannya agar hidup bersemangat dan suasana berganti lebih segar, namun ada rambu-rambu yang harus diperhatikan karena tidak semua bisa diutak-atik apalagi dibongkar. Jangan lupa bersenang-senang.

9 comments:

  1. wah kalau aku mah suka tak kuwel2 kalau sudah aggal gak dilanjutkan dulu sampai emosi reda. Kalau sudah baru mikir mau dicoba lagi atau cari yg baru

    ReplyDelete
  2. Kalo bikin DIY sendiri aku malah blm bisa dibikin di blog gitu.. agak rempong ya kayaknya..

    ReplyDelete
  3. *langsung cuss subscribe channel youtube Mak Lusi* DIY make over yang paling aku takutin itu kalo mau ngecat tembok mak, atau mau gaya bebikinan hand lettering atau gambar-gambar di tembok. Resikonya gede banget ya kalo gini maaahh. Tapi bener juga sih kaya kata mak Lusi, yang utama itu tujuannya seneng-seneng yaaaa. Sama mesti prepare segala peralatan dan hatinya ya mak, kalo gagal yaudah ikhlasin ajaaa x) Jadi makin tertantang nih untuk DIY. Makasi sharingnya ya maaak, mak Lusi memang selalu menginspirasiiii <3

    ReplyDelete
  4. kalau di kampung2 seperti kata mba lusi,bisa minta bantu tetangga dan bayarannya seikhlasnya saja ya.aku sekarang lagi pusing karena belum berani DIY ganti bola lampu. lampu di kamar putus dan hanya ada aku dan anak dirumah

    ReplyDelete
  5. Paling sering sih DIY makeover...kayak kamar atau ruang kerja. Jadi inget dl mau bikin saputangan bordir pake acara nggunting seragam sekolah karena ngga punya kain putih. Trus dimarahi abis2an sm ibuk

    ReplyDelete
  6. Selagi bisa saya kerjakan sendiri, hampir semua hal tak kerjain sendiri Mak Lus, tapi kalo DIY yang kreatif2 kayak bikin craft gitu angkat tangan mak Lus.

    ReplyDelete
  7. Belum pernah DIY mbak, pernahnya jadi asisten DIY suami. Kemarin baru nguras bak tandon dan saya yang mondar-mandir ambil ini itu dan angkat ember dari bak tandon untuk dibuang ke selokan. Lumayan capek sih siapa tahu bisa kurus ya, hehe

    ReplyDelete
  8. Wah belum pernah bikin DIY yang kreatif-kreatif gitu, nggak telaten. Kadang cuma bantuin anak-anak aja bikin DIY prakarya sekolahnya. Padahal kalo mau, banyak DIY keren di youtube ya, tinggal pelajari dan praktekin aja.

    ReplyDelete
  9. bikin DIY aku masih asal mbak malu difotonya

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.