Saturday, October 08, 2016

3 Prioritas Pekerjaan Rumah Tangga Work At Home Mom Agar Tidak Dinyinyiri Tetangga

Penting nggak sih peduli dengan apa yang diomongkan tetangga?

Photo: pexels.com
Penting nggak penting sih, sama seperti perlu tidaknya kita membranding diri di media sosial. Kalau kita tidak pelihara sedangkan habitat pekerjaan kita di dunia maya, kita akan mengalami banyak kerugian. Tapi jika kita menganggap branding itulah yang terpenting, maka kita tidak akan menikmati proses kreatifnya. Bahkan bisa saja mengaburkan realita diri kita sendiri sehingga tak pernah puas mengejar popularitas.

Work at home mom seperti blogger, penulis, bahkan pemilik olshop punya dilema dalam memprioritaskan pekerjaan rumah agar tidak dinyinyiri tetangga. 

Tak seorangpun tahu apa yang dilakukannya didalam rumah, kecuali anggota keluarga. Tapi rumah seringkali tak serapi rumah lain karena si ibu tersebut tidak banyak waktu untuk mengerjakan semuanya. Tetangga hanya melihat apa yang tampak diluar, tidak menyelidik sampai kedalam. Kalau halaman luar kotor, berarti ibu pemilik rumah adalah seorang yang malas.
Di lingkungan tetangga, boleh saja kita tak peduli dengan omongan mereka. Tapi seorang ibu adalah representasi sebuah keluarga. Dialah yang paling sering berinteraksi dengan para tetangga baik untuk urusan serius misalnya nengok orang sakit dan jadi panitia kawinan, maupun untuk hal-hal rutin seperti sama-sama belanja sayur didepan rumah. Sikap ibu yang tidak ramah akan sangat tidak menguntungkan seluruh anggota keluarga. Sebesar apapun keinginan kita untuk tidak mau direcokin tetangga, tetap kita sangat membutuhkan mereka, baik ketika kita ada dirumah dan justru ketika kita tidak ada dirumah.

Prinsipnya, batas teritori keluarga kita adalah pagar rumah. 

Karenanya, prioritas kita adalah yang berada diluar pagar rumah. Sedangkan yang didalam rumah, bisa nanti saja, tunggu capeknya hilang setelah leyeh-leyeh. Nah, apa saja sih yang berada diluar pagar itu?

1. Jalan yang menempel dengan pagar. Meski tidak berada di halaman kita, tapi jalan yang menempel dengan pagar kita atau yang berbatasan dengan halaman kita (jika tidak ada pagar) adalah tanggung jawab kita. Segala daun, kertas atau sampah yang ada disana meskipun bukan sampah kita, adalah urusan kita. Karena itu secapek-capeknya ibu, dulukan menyapu dan merapikan bagian tersebut. Meskipun di belakang cucian menumpuk setinggi gunung, tetap prioritasnya menyapu bagian tersebut. 
Menyapu pinggir jalan, apalagi jika rumahnya tidak terlalu lebar, paling-paling cuma butuh 5 menit. Hasilnya apa? Ibu punya kenyamanan hidup selama 24 jam, jauh dari nyinyiran tetangga sampai waktunya menyapu lagi besok. 
Kalau sudah disapu kotor lagi bagaimana? Kan capek bolak balik nyapu? Tipnya, menyapulah dengan saksi mata, yaitu menyapu ketika ada tetangga sedang didepan rumah. Semacam pencitraan gitu deh. Jadi, ketika pinggir jalan tersebut kotor, sudah ada saksi bahwa itu bukan karena ibu malas tidak mau menyapu, melainkan sudah disapu tapi kotor lagi.

2. Si kecil harus bersih dan wangi bedak di jam prime time. Jangan sampai ya, ada omongan, "Mamahnya facebookan terus sih jadi anaknya kumal nggak terurus."
Tapi kan anak susah disuruh bersih terus? Barusaja dimandiin, eh sudah belepotan lagi. Benar! Karena itu tak perlu sepanjang waktu manis, cukup di jam tertentu saja wangi, setelah itu terserah mau mandi pasir atau bagaimana. Waktu tertentu tersebut adalah jam prime time pamer anak-anak, yaitu pagi dan sore. Yang anaknya sudah sekolah di pagi hari tentu tidak ada masalah. Tapi yang belum sekolah, usahakan ketika mengajak anak belanja sayur dalam keadaan bersih dan segar habis mandi. Demikian pula sekitar jam 16.00 ketika para ibu dan baby sitter keliling kompleks untuk jalan-jalan dan menyuapi. Jangan lupa, baby sitter kadang pengaduan.
Mengurus anak-anak memang tidak mudah. Tapi hanya dengan setengah sampai satu jam sehari memperlihatkan anak-anak yang manis dan kinclong, ibu punya waktu tenang dari nyinyiran tetangga sampai keesokan harinya. Yang penting tetangga pernah melihat anak-anak dalam keadaan terbaiknya setiap hari sehingga mereka bisa memaklumi ketika melihat anak-anak dalam keadaan berantakan. Lalu mereka akan berkata, "Namanya juga anak-anak."

3. Senyum dan sapa. Selain mencegah nyinyiran, ini ada nilai ibadahnya, tidak pakai modal dan bikin awet muda. Karena itu, jika melangkah keluar pagar dan melihat tetangga, tersenyum dan menyapalah dulu. Jika naik mobil, turunkan kaca agar tetangga bisa melihat senyum kita. Efeknya tidak hanya terhindar dari tuduhan sombong, juga mempermudah hidup. Misalnya, mereka akan dengan senang hati menyingkirkan penghalang jalan kita jika sedang berada di tempat yang sama. Padahal ini cuma butuh beberapa detik saja sambil lewat kalau tidak mau terjebak mengobrol.

Nah, cuma itu kok yang harus dilakukan. Sedikit banget. Apalagi yang nomor 3 itu sebenarnya bonus saja bukan pekerjaan rumah tangga. Nggak perlulah mencak-mencak, "Don't judge."
Daripada sibuk mengatur orang untuk tidak berprasangka buruk pada kita (dimana itu seringkali mustahil), mendingan lakukan sedikit usaha maka tetangga akan diam dengan sendirinya. Lagipula banyak untungnya buat kita, kan? Pasti suka kan kalau halaman dan anak bersih?

24 comments:

  1. Hahaha. Bener banget Mbak tiga hal tersebut adalah hal yang harus didahulukan. Ibu-ibu di lingkungan saya besar dulu juga begitu.

    ReplyDelete
  2. Cuekin aja Mba kalo ada yg nyinyir sama iburumah tangga yg belerja di rumah.. mungkin mereka gak tahu kalo sebenarnya kita punya aktifitas lain yg menghasilkan seperti jadi blogger..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini untuk semua ibu kok mbak. Anak2 saya udah gede, separuh aman lah heheee

      Delete
  3. Nomor 1 itu :D akoh jarang nyapu halaman, karena halamanku seuprit hiks dan seuprit itu diisi rumput gajah, nah di rerumputan itu akoh paling rewel kalo ada yang buang sampah entah apapun itu. Kalo rumput udah agak lebat biasanya bibi yang cabut.
    Nomor 2 hastajah MakLus, aku sampe ngikik ((Prime time)) :D, aku tipikal malas keluar rumah, jam 4 sore anak2 udah mandi, Mamanya yang lusuh hiks.
    Di tempat tinggal baruku ini merasa bersyukur karena penghuni sedikiiitttt mana sibuk masing-masing pula :D
    Tapi, aku setuju 3 poin ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh aku pun ogah ngurusin rumput. Seringnya minta tolong tetangga.

      Delete
  4. Hahaha... Kudu dipraktekin ini. Tapi bener juga. Aku sering dinyinyiri gara2 rumput halaman yang dicuekin. Dibilang bakal jadi sarang ular lah, ulatnya terbang2 ke teras tetangga lah, dsb dsb. Nah kemaren nyoba motong sendiri. Susah ternyata. Ya weis akhirnya manggil tukang. Dan ngeluarin duit 50rb. Adem deh dari segala nyinyiran. Duh... malah curcol. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Aku juga ogah ngurusin rumput. Minta tolong tetangga bapak2

      Delete
  5. Haha kocak mba nomor 2, jam2 prime time itu krusial banget ya xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hahahaaaa, meski cuma beberapa menit tapi yang penting pernah bersih

      Delete
  6. Senyum dan sapa. Ini aku yang kurang. Kadang senyum aja...dan dibilang sombong, padahal aku orangnya malas basa basi...takut ganggu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senyumnya sambil ngebut aja, pokoknya kliatan ramah hihihii

      Delete
  7. Hahaha, biar ndak dinyinyiri tetangga. :D
    Emang tuh ya ... zaman sekarang masyarakat kita belum terbuka dengan pekerjaan yang tinggal duduk di rumah, tapi tetep punya penghasilan.

    Taunya cuma kerja itu gak ada di rumah doang. x)

    ReplyDelete
  8. Aku lho nyabutin rumput mpe luka. Itu rumput kuat banget nancepnya mana di sela-sela paving.
    Mau bayar orang kok, eman, hahaha.

    ReplyDelete
  9. maak, kepikiran aja deh. tp pener bgt sih ;D
    "bedakin anak*

    ReplyDelete
  10. Hehe ternyata ada ya yang suka nyinyir gitu... baru tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntung dirimu gak punya tetangga yg begitu

      Delete
  11. serba salah ya kalau sama tetangga. Ankku ga pernah main mbak, wong pulangnya sore itu aja suka jadi omongan

    ReplyDelete
  12. wadaw...nomer 1 & 2. kesindir saya. hahaha...

    ReplyDelete
  13. wah inspirasi baru ini buat calon ayah, hhe gpapp kan gabung ni :-)

    ReplyDelete
  14. wah artikel satir nih. tapi bikin sadar juga. thanks

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.