Saturday, November 05, 2016

Tips Merapikan Kwitansi dan Bon Di Rumah

Tips merapikan kwitansi dan bon dirumah ini ala saya ya, bukan ala Konmari Kondo yang lagi ngehits saat ini.


tip merapikan kwitansi dan bon
Oh my.... berantakan bener.


Saya juga ngefans lo dengan Konmari, itu sudah saya terapkan untuk menata baju dan belum selesai. Sekarang baru sampai kerudung atau jilbab. Padahal nggak banyak, tapi kok ya makan waktu lama juga karena banyak dramanya, antara give them away atau keep. Walaupun sudah setahun ada yang nggak dipakai, penginnya tetap keep. Hhihihiii.... Padahal yang dipakai ya itu lagi, itu lagi, sampai bosan.
Kembali ke kwitansi dan bon. Saya pernah tanya sih di facebook tentang cara merapikannya. Eh, malah diketawain oleh salah satu ibu karena beliau tidak pernah menyimpan macam-macam kwitansi. Kalau sudah bayar, ya sudah, lupakan. Buat apa sih nyimpen-nyimpen segala? Saya jadi bete, meskipun beliau ada benarnya juga. Tapi ah, menurut saya nggak seluruhnya benar. Ada beberapa kwitansi yang harus disimpan. Selain itu juga tidak boleh asal buang.
Yuk, cekidot (ih udah lama banget nggak bilang cekidot, jadul wagu, hahaaa).

AWAL MULA TIMBUNAN KWITANSI DAN BON

Seringkali ibu-ibu terkejut kan, tahu-tahu dompet tebal susah ditutup. Begitu pula laci kudu didorong kuat supaya bisa tertutup. Kok bisa ya, ada kertas kecil-kecil segitu banyak? Bahkan di dashboard mobil juga kadang nyumpel kertas parkir, tiket masuk, bon  mini market dan kertas-kertas tak jelas karena waktu itu kita mencatat sesuatu dalam kondisi darurat. Cuma dengan rajin mungutin kertas kecil yang berserak itulah tumpukan bisa dihindari. Tapi yaaah... ada saja yang membuat kita menunda dan akhirnya menumpuk.
Kwitansi atau bon yang sering "dikumpulkan" oleh ibu-ibu secara garis besar adalah:
  • Karcis parkir.
  • Bon belanja.
  • Bon cuci kendaraan dan bon air galon yang ada gratisannya setelah 10x kesana.
  • Tagihan listrik, air, telepon, TV kabel dan sejenisnya.
  • Iuran warga.
  • Uang sekolah dan les.
  • Macam-macam pajak.
  • Dan sebagainya.
Tidak sadar, jika dikumpulkan lama-lama banyak juga, seperti arsip kantor kelurahan. 

Teman-teman biasanya menyimpan kwitansi atau bon dimana sih? 

Kalau saya punya otner khusus, yang kecil itu. Untuk arsip yang berupa form, ada otner lain yang lebih besar. Nah, penyakitnya nih kalau lagi sibuk kesana-kemari, ndilalah nyari pembolong kertas tidak ketemu, akhirnya diselipin saja dimana-mana. Karena itu, sekarang saya sudah memindahkan arsip-arsip dekat dengan meja kerja saya, supaya saya bisa sekalian merapikan ketika menunggu loading page akibat sinyal disini naik turun.

SIMPAN ATAU TIDAK?

Ketika memutuskan akan menyimpan atau membuang kwitansi atau bon, ingatlah beberapa hal penting ini.

1. Kwitansi angsuran. Idealnya, hidup itu nggak ngutang. Tapi jika dalam keadaan mendesak terpaksa harus mencicil sesuatu, maka jangan terburu-buru membuang kwitansi tersebut. Kumpulkan sampai angsuran lunas dan ada tanda lunas. Ini untuk menghindari jika kita dituduh wan prestasi padahal rajin mengangsur.

2. PDAM dan PLN. Saya selalu menyimpan satu bulan terakhir untuk jaga-jaga kalau dituduh belum bayar. Emang pernah? Pernah dong di rumah lama, waktu itu masih ngontrak. Tahu-tahu listrik disegel, padahal sudah sore dan besok Minggu. Ternyata yang belum bayar kontrakan sebelah yang beralamat sama. Kok ya nggak ngecek no seri or something like that lah pokoknya. Berhubung kepepet, saya buka saja segelnya walaupun ada ancaman-ancaman yang tertulis di stiker. Yang penting saya sudah bayar dan punya kwitansinya. Tinggal lapor saja hari Senin. Kalau sekarang mungkin tidak perlu begitu ya, karena call center-nya 24 jam. Terus ada juga yang menyimpan minimal 3 bulan kwitansi untuk keperluan angkat kredit. Tapi kalau listrik pakai pulsa seperti sekarang itu bagaimana ya? Maaf saya belum terlalu paham yang ini.

3. Kwitansi iuran-iuran. Nah, ini agak tricky. Retensinya mau berapa lama disimpan? Soalnya ini antara penting dan nggak penting. Nggak penting karena kadang iurannya tidak banyak, seperti iuran warga, iuran sampah, iuran satpam dan sebagainya. Penting karena pencatatannya adalah sesama kita-kita juga, yang kadang ada yang rajin, ada yang pelupa karena disambi. Karena sesama kita, jika ada yang tidak sinkron, dramanya bisa melebihi drama Korea atau drakor. Namanya juga ibu-ibu, nggak boleh tersinggung sedikit. Agar tidak menyimpan terlalu banyak, lebih baik ditanyakan di pertemuan atau arisan bulanan, apa saja kewajiban kita yang belum lunas. Bisa juga di cek via WhatsApp. Terutama yang pembayarannya melalui transfer ATM. Jika sudah dikonfirmasi lunas semua, kwitansi bisa dibuang, jadi tidak perlu menyimpan sama sekali.

4. Garansi. Kwitansi yang berhubungan dengan garansi harus disimpan sampai berakhirnya masa garansi produk tersebut. Ini untuk klaim jika alat elektronika dan lainnya yang kita beli rusak. Untuk laptop atau gadget entahlah, di beberapa brand sudah punya sistem data yang bagus sehingga mereka bisa cek sendiri apakah masa berlaku kartu garansi kita masih valid. Tapi untuk alat elektronik lain masih perlu bukti hitam atau biru diatas putih.

5. Reimbusment. Bukti tiket perjalanan atau kwitansi kesehatan yang mendapat ganti dari kantor memang wajib disimpan. Meskipun sudah ada BPJS atau asuransi swasta lainnya, kadang pasien dirujuk ke tindakan lain yang tidak ada di fasilitas kesehatan tersebut sehingga harus pergi ke fasilitas lain yang tidak di-cover dan menggunakan uang sendiri. Tak jarang asuransi bersedia menggantinya karena itu merupakan rujukan. Dari pengalaman, sistem BPJS justru lebih mudah karena diawali dari faskes I terus ke faskes tingkat lanjutannya. Sedangkan asuransi swasta seringkali harus membuat saya balik lagi ke faskes sebelumnya untuk minta tanda tangan dan cap. Ribet! Tapi memang biasanya fasilitas yang didapat dari asuransi swasta lebih baik karena pagunya lebih tinggi. Selain itu, asuransi swasta sering menunjuk rumah sakit besar yang sudah modern dan peralatannya lengkap.

tip merapikan kwitansi dan bon
Disitu rupanya hpku hihiii.....


LANGKAH MERAPIKAN KWITANSI ATAU BON

Awal langkahnya hampir sama dengan Konmari, yaitu keluarkan semua dan sortir. Detilnya sebagai berikut.

1. Keluarkan dan kelompokkan. Jadi semua kwitansi dan bon saya keluarkan, baik yang di laci, tas, dompet, maupun dus bekas sepatu. Yap, saya juga menyimpan kwitansi di dus bekas sepatu. Heheee.... Lalu sortir berdasarkan kategori yang telah teman-teman tetapkan sendiri. Kalau kategorinya sama dengan saya, nanti tidak bisa mengakomodir kebutuhan teman-teman. Kan aktivitas kita beda? Misalnya kategori pendidikan, maka disana isinya ya kwintasi pembayaran sekolah dan les. 

2. Ambil dan sisihkan yang tintanya tidak kelihatan. Ini biasanya dari print out ATM yang menggunakan tinta murahan, cepat pudar. Buat apa disimpan, sudah tidak bisa dijadikan bukti.

3. Ambil dan sisihkan sisa retensi, voucher dan garansi. Misalnya di tumpukan tagihan, kita cuma perlu kwitansi 3 bulan terakhir, maka buang saja sisanya. Demikian pula untuk kwitansi yang hanya kita perlukan bulan terakhirnya saja. Hal yang sama untuk kartu garansi atau voucher yang sudah kedaluarsa.

4. Ambil, catat dan sisihkan kwitansi yang bukan untuk pembuktian. Ada kalanya kita menyimpan kwitansi bukan untuk pembuktian melainkan hal lain, misalnya karena dalam kwitansi tersebut ada alamat dan telepon toko, siapa tahu kapan-kapan butuh. Kadang juga karena untuk jaga-jaga siapa tahu suatu saat mau belanja lagi disana dan sudah punya ancar-ancar harganya. First of all, alamat dan nomor telepon dicatat saja di buku alamat, lalu buang kwitansinya. Saya selalu meletakkan buku alamat dan nomor telepon disamping telepon rumah. Kalau tidak ada nomor telepon yang saya cari disana, baru saya telepon 108. Soal harga, kan sudah mencatat no telepon toko tersebut, tinggal kontak saja kalau butuh info? Dari pada menyimpan setumpuk kwitansi padahal belanja disitu setahun kemudian, mendingan mencatat nomor teleponnya saja agar bisa bertanya di kemudian hari. Dijamin harganya beda.

5. Robek kwitansi dan bon yang telah disisihkan tadi. Dalam hal merobek, lakukan dengan gemas hingga menjadi bagian yang kecil-kecil. Ini demi keamanan agar data kita tidak dikumpulkan orang jahat di tempat penampungan sampah.

6. Siapkan otner dan tata didalamnya. Untuk kwitansi dan bon cukup dengan otner kecil. Sedangkan untuk formulir, jika berupa kwitansi biasa, bisa ditekuk sebelum dilubangi untuk dimasukkan ke otner. Jika tanda terima penting, misalnya formulir aplikasi pembayaran produk perbankan, sediakan otner khusus yang lebih besar. Cara melubanginya, tekuk salah satu sisi yang akan dilubangi hingga ada garis pas ditengah. Tak perlu merapikan garis tersebut hingga ujung satunya. Langsung saja letakkan tanda panah pelubang kertas tepat di tekukan itu. Posisi lubang pasti pas membuat kertas rapi ditengah otner.

7. Siapkan pembatas. Pembatas ini untuk menandai tiap kategori agar mudah ketika mencari kwitansi atau bon yang dimaksud. Pembatas bisa dari kertas karton atau kertas bekas lainnya yang kaku agar memberi batas yang jelas.

Sekarang kwitansi sudah rapi, jadi ketahuan apa saja yang belum dilunasi. Saya belum bayar telepon rumah untuk wifi dan PDAM nih. Tapi kan paling lambat tiap tanggal 20? Santai dulu aaaah.

4 comments:

  1. Wah,itu parah bgt main segel,mana salah pula >_<

    ReplyDelete
  2. Syukurnya aku masih termasuk rajin beberes kwitansi dan bon-bon itu, mba Lusi. Rutin siy ngerjainnya, seminggu bisa 2x. Selama ini siy ngga sempet numpuk. Dan semuanya aku pisahin pake kotak-kotak gitu di dalam lemari :).

    ReplyDelete
  3. Aku sebisa mungkin langsung eksekusi mba.. Kalau udah numpuk gawaat heheehhe

    ReplyDelete
  4. Waduh iya, jadi inget belum bayar wifi. Masih tanggal 20 sih paling lambat :)
    bener banget dompet tebel bukan karena duit tapi kertas-kertas hahaha, emang harus dipilah-pilah lagi, cuma kadang emang suka males merapikannya.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.