Wednesday, November 23, 2016

Women In Their 40s, Dari Curhatan Perubahan Fisik

Women in their 40s, perubahan fisik adalah sesuatu yang tak terhindarkan.


Kata teman saya sih, "Makan angin aja bisa gemuk mah sekarang ini, nggak usah itung-itungan diet deh, nggak mempan."
Ya, bagi sebagian perempuan, usia 40-an itu memasuki zone tubuh sak karepe dhewe, semaunya sendiri, susah diarahkan seperti kehendak kita. Makan kerupuk, perasaan jadi nambah berat badan 1 ons. Minum air segelas, perasaan nambah berat 2 ons. Katanya minum air banyak bisa bikin langsing? Mana buktinya mah? Coba-coba makan buah doang, lah hari ke-2 sudah masuk angin. Jangankan body Donna Harun yang sudah oma, Donna Harun di-double aja nggak kepegang.
Herannya, yang langsing pun punya problem sendiri. "Aku kok merasa bodyku mengkerut gitu deh. Aku dulu kan termasuk yang tinggi loh, kenapa sekarang kalau di foto itu kayak tenggelam, ya?"
Jadi memang, kurus maupun agak subur, perubahan fisik itu ada. Sebenarnya perubahan itu tidak mendadak, tiba-tiba taraaa... gitu, melainkan ada prosesnya yang pelan tapi pasti sejak usia-usia sebelumya.

Tapi ketika menginjak usia 40 itulah biasanya perempuan mulai mengawasi lekat-lekat perubahan tersebut. 

"Walah! Udah ubanan nih."
Padahal mungkin saja uban tersebut sudah keluar satu persatu di usia sebelumnya, tapi kita melihatnya dengan cara yang berbeda gara-gara umur sudah 40-an. Seolah begitu umur 40, tanda-tanda penuaan muncul serentak. Hahaaa....
Kalau dihitung prosentasenya, yang paling sering dicurhatkan perempuan berumur 40 tahunan itu masalah berat badan, uban, kerutan, lalu yang macem-macem lainnya misalnya pelupa, perlu kacamata, gampang capek dan sebagainya. 
Entah mengapa urutannya begitu. Yang jelas, jangan coba-coba ditengah gerombolan ibu-ibu ini bilang, "Aku tuh padahal doyan makan lo, kok nggak gemuk-gemuk ya?"
Jangan, pokoknya jangan sekali-sekali ngomong begitu meskipun kenyataannya memang begitu. Pendam saja dalam hati ya. Kalau nggak tahan banget, curhat saja dengan teman-teman yang paling dekat dan nggak kedengeran atau kebaca siapa-siapa, ya.

Terkait berat badan ini, jadi ibu-ibu kompleks akhirnya sepakat ikut kelas yoga tiap Selasa dan Sabtu pagi setelah mengantar anak-anak ke sekolah. Setelah berbagi alasan bermunculan, jadilah sekarang group yoga yang baru sekali tayang tersebut bubar. Kamipun rujakan sambil curhat betapa sulitnya meluangkan waktu demi body yang istimewa.
"Saya tu nggak paham. Apa bedanya nyapu dan ngepel dengan yoga? Sama-sama keluar keringat to? Mendingan yang tadinya ngepel dua hari sekali jadi setiap hari. Gratis, plus rumah tambah kinclong."
"Trus, jadi kurus, te?"
"Nah, itu yang saya nggak paham. Kok nggak ada perubahan? Malah boyokku pegel."

Kadang saking berlebihannya menggambarkan perubahan fisik, ada juga yang nyeletuk, "Aku males lihat instagram. Isinya makanan thok. Kalau sudah usia-usia seperti ini melihat makanan saja bisa tambah berat badan."

Women in their 40 memang sedang dalam masa perubahan menuju ke tahap usia yang lebih rentan soal kesehatan dan penampilan. 

Banyak yang akhirnya baper kebangetan seolah sudah benar-benar uzur. Padahal itu justru masa keemasan seorang perempuan sebelum kemudian surut untuk pensiun, menopuse dan sebagainya.

Seminggu ini saya tergeletak melulu di kasur setelah mengerjakan beberapa tulisan nonstop (disela makan dan sholat aja) dari pagi sampai malam. Otot leher tegang, telapak tangan bengkak. Seperti umumnya women in their 40, saya pun langsung menuduh darah tinggi, kolestorel, asam urat dan segala macem yang serem-serem.
Ketika cek di dokter ternyata tekanan darah tinggi saya normal, asam lambung yang pernah akut pun baik-baik saja. Sang dokter langsung bengong mendengar cerita kegiatan terakhir saya. Saya pun diberi obat untuk melemaskan otot dan nyeri serta dilarang berlama-lama didepan laptop. Dik dokter masih membawakan surat pengantar cek kadar kolesterol dan asam urat di laboratorium jika sakit belum hilang selama 3 hari. Pesan terakhirnya, "Ibu jangan stress mengejar target, ya."
What? Bukannya santai, saya malah tambah stress, takut kalau nggak sembuh-sembuh dan harus cek lab. Kalau hasilnya nggak bagus, berarti harus ada diet dan terapi macam-macam which makes me officially old. Saya pun makan teratur, nggak boleh sampai lapar, dan tentu saja menghindari kopi. Tapi kok leher masih pegel? Haduh, berarti besok malam bersiap puasa untuk cek lab keesokan harinya. 
Terus, tiba-tiba kok ting... eh iya sejak sakit belum makan buah. Karena buah-buahan kami di kulkas semua, kalau sakit malah nggak makan buah karena menghindari makanan yang terlalu dingin, Terus saya irislah buah naga merah kesukaan saya. Segeeer.... Dan ajaib! Pegel lehernya hilang! Hahahaaa.... gombal banget udah menye-menye lebay sok sakit, ternyata kalau mau sehat ya makan yang seger.

Menghayati perubahan fisik itu memang tak mudah bagi perempuan usia 40-an. 

Jika dulu bisa geber fisik demi tulisan berlembar-lembar setiap hari, ternyata sekarang sudah tidak bisa lagi seperti itu. Beradaptasi dengan porsi "sekarang" itu memang butuh kesadaran dan penerimaan. Namun bukan usia yang membuat kondisi kita cepat menua, melainkan judgement kita sendiri terhadap perubahan itu.
So here saya list beberapa aktivias yang telah dan akan saya lakukan yang mungkin bisa membuat perubahan itu tidak terlalu bikin khawatir untuk dijalani.
  • Belanja sayur ke warung tidak naik motor, melainkan jalan kaki. Berhubung telapak kaki saya tidak boleh kena impact berlebihan dengan tanah yang mengakibatkan saya dilarang jogging, maka saya selalu menggunakan sepatu kets jika berjalan agak jauh. Agar tidak terlalu aneh ke warung pakai sepatu kets, biasanya saya sempatkan muter kampung dulu sekalian olahraga jalan pagi. Baru pulangnya mampir warung. Ini sempet terhenti gara-gara saya sakit tapi akan segera dilanjutkan.
  • Punya persediaan buah di kulkas. Saya masih makan dengan pola bervariasi kok menurut PGS (Pedoman Gizi Sempurna), bukan yang total makan raw food.
  • Didepan laptop maksimal 2 jam, lalu tutup dan melakukan aktivitas lain dan baru buka kembali setengah hari kemudian.
  • Ngecat rambut. Yup, rambut saya ubanan sebelum usia 40 akibat dulu sering dicat warna macam-macam, paling suka warna mahogany. Meskipun mengenakan jilbab, warna rambut yang fresh akan membuat suasana hati seperti terbaharui.
  • Maskeran. Dulu termasuk rajin maskeran, terus berkurang cuma kalau mau acara saja. Lama-lama enggak lagi. Padahal rasa fresh di wajah itu enak banget, menambah semangat berkegiatan. Mau bedakan juga bagus, nempel dan nggak blentok-blentok kalau keringetan. Jadi berasa cantik terus.

Nah, kemudian saya mendapat curhatan terakhir sebelum menulis artikel ini. Ceritanya ketika saya menyapu halaman. Tetangga datang dan mengatakan kalau hasil cek kolesterolnya tinggi.
"Loh, badan njenengan kan bagus, to jeng. Lebih ideal ketimbang saya. Njenengan juga masih muda. Kok bisa kolesterol tinggi?"
"Gara-gara dedek A nggak mau ditinggal di sekolah, bude. Jadinya tiap hari saya nunggu dengan ibu-ibu lain di kantin, ngobrol, sambil nyemili gorengan tempe gembus."
"Ooo...."

16 comments:

  1. Iya ya, perempuan itu perubahan fisiknya lebih kentara hiks T.T

    ReplyDelete
  2. BUAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAH!!!!

    Masya Allahhhh ... dapet hiburan jalan-jalan dini hari =))))))))
    Aku tahun depan 40. Piye kih, Mbaaak? Malah stres dewe aku. :))

    ReplyDelete
  3. Haahhahahhahaaa..lucuu deh kalo dah denger obrolan ibu2 komolek selalu seruuu. Hmm apalagi obrolan 40 thn...

    Untung aku ndak pernah gabung ma ibu2 komplek, sekalinya ketemu nyeroco, karepe dewe lah opo sing diomongin *manggut2 aee akika.
    Mendingan ikotan nyemil gorengan anget tempe gembos maak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asli kalau ngobrol kayak lalin jakarta, ruwet, nggak jelas temanya hahaaa

      Delete
  4. Katanya sih, umur 40 itu perempuan lagi matang-matangnya ya. Life begins at 40 katanya hahahha

    ReplyDelete
  5. Hihihi...yang terakhir ituh. Btw, aku beberapa taun lagi juga 40 😀

    ReplyDelete
  6. ibuku tak dorong2 ikutan yoga ndak mau. alasanya, jalan ke sawah aja udah olahraga. heuehu.

    aku lho ini lagi sering nyeri leher mba, hiks. nanti tak coba deh beli buah naga. dengan sugesti sukses story artikel ini moga enteng

    ReplyDelete
  7. akh...diriku counting down ke 40 nih (beberapa tahun lagi) tp efek gampang lelah mulai terasa huhuhu

    ReplyDelete
  8. Budeee.. Aku baru 31 juga udah ubanan. :((( Gara2 sering smoothing dan warnain rambut. Dan perutku juga sudah menggelambir kayak hamil 2 bulan. Hamil beneran ajalah ya... Biar gendutnya termaklumi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dulu mulai cat rambut umur2 dibawah 30-an, waktu masih awal2 kerja & belum berjilbab.

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.