Wednesday, December 07, 2016

5 Tips Gaul Dengan Manula Sekitar Rumah

Tips gaul dengan manula sekitar rumah ini saya tulis dengan harapan agar kita juga memperhatikan eksistensi mereka.


Saking sibuknya kita mengerjar dunia, kadang kita lewat-lewat saja didepan tetangga yang sudah manula. Paling-paling mengangguk dan tersenyum dengan kaca mobil atau helm tetap tertutup. Padahal kaca helm atau mobilnya gelap. Padahal beliau rabun jauh. Wkwkwkk gak kesampaian deh maksud hati mau ramah.

Tak jarang pula kita menganggap mereka sebagai orang yang bikin ribet dan cerewet, meskipun sebenarnya memang demikianlah adanya. 

Namun demikian, kita harus ingat bahwa mereka telah memberi jalan ke dunia yang kita tempati sekarang. Misalnya perumahanmu ada di village apa ditengah sawah sana, mereka lo yang merintis jalan kesana. Misalnya beruntung dapat rumah dekat pasar, mereka lo yang merasakan kehebohan jaman pembangunannya. They have been through a lot. Kita belum apa-apanya. Hendaknya kita bisa menghormati mereka berdasarkan pengalaman hidup yang sudah segudang itu. Dengan begitu, karakter mereka yang bikin kita pusing, mungkin juga emosi, bisa tereduksi.
Misalnya, tetangga manula saya yang protes ketika 2 pohon di halaman rumah saya sendiri ditebang, Beberapa hari lalu malah menyarankan saya untuk menebang 1 pohon lagi yang tersisa suapaya daunnya nggak mengotori jalan dan kendaraan, utamanya mobil tidak tersangkut. Sebenarnya pohon tersebut rutin dipangkas tiap bulan, tapi pertumbuhan daunnya memang sangat cepat. Gantian saya yang mikir dong, karena jika ditebang, tak ada lagi pohon besar di halaman saya. Adanya tabulampot yang tidak bisa tinggi menjulang. Kalau musim kemarau halaman saya akan panas, nggak silir lagi. Belakangan beliau juga demonstratif, kalau pagi menyapu daun-daun tersebut, dikumpulkan didekat tempat sampah saya. Kalau orang lain mungkin tersinggung. Saya sih senang aja, terbantu karena kalau pagi kalang kabut banyak kerjaan. Heheheee....
Jika ada acara keluarga, saya sering mendapat tugas bagian per-eyang-an. Menurut mereka, saya luwes sekali kalau ngobrol dengan eyang-eyang. Bwahahahaa.... Sebenarnya saya malah tidak banyak bicara, lebih sering mendengarkan saja. Tapi memang untuk tugas khusus tersebut butuh kesabaran. Kesabaran tersebut saya terapkan juga ke manula di sekitar rumah. Banyak yang menganggap bahwa kesabaran itu makan hati banget. 

Padahal kesabaran itu bisa asik jika kita tahu dimana keasikannya.


1. Cek Kemampuan Fisik
Ketika memasuki usia lanjut, manusia mengalami berbagai penurunan kemampuan fisik. Dalam menit-menit pertama berinteraksi dengan manula sudah langsung ketahuan dimana letak penurunan terbesar beliau. Yang paling sering terjadi adalah di pendengaran dan penglihatan. Jika di pendengaran, bicaralah lebih pelan dan jelas. Beri penekanan pada keyword yang ingin disampaikan. Ulangilah kata-kata tersebut jika belum terkoneksi tapi jangan tinggikan intonasi. Beliau bisa tersinggung karena merasa tidak tuli. 
Penurunan kemampuan fisik selanjutnya biasanya pada kemampuan bangkit dan berjalan. Bantulah, pegang tangan beliau. Tapi lagi-lagi ingat, beliau tidak cacat, jadi jangan perlakukan beliau seperti orang cacat agar tidak tersinggung. Bantulah sambil ngobrol agar suasana cair dan itu seperti bantuan natural saja seperti yang kita lakukan pada orang lain selain manula. Meski daya ingat juga menurun, kamu akan selalu diingatnya.

2. Menyimak
Ekspresi menyimak ini penting banget. Pasanglah wajah seolah benar-benar memperhatikan walaupun sebenarnya pikiran sedang rungsing mikir cucian dan jemputan anak-anak. Kontak mata juga wajib. Jadilah orang yang lebih ekspresif, misalnya tertawa, mengkerutkan dari, takjub, dan sebagainya.
Dengan manula, menyimak itu jauh lebih penting dan lebih bisa dilakukan daripada bertukar-pikiran. Karena itu perbanyaklah mendengarkan daripada menyampaikan ide-ide. Lagipula seringkali beliau-beliau ini tidak menginginkan terobosan baru, sudah lelah, hanya ingin menyampaikan pendapat saja.

3. Demonstratif Vs Santai
Manula jika sudah tidak sabar seringkali demonstratif seperti cerita menyapu daun dari pohon saya diatas. Yang utama kita harus memaafkan diri sendiri dulu yang tidak sempurna ini karena masih aktif produktif sehingga kesulitan membagi waktu. Jika kita sudah bisa menerima kekurangan diri, niscaya kita akan menganggap hal semacam itu justru sebagai bantuan yang meringankan hari-hari kita, bukan malah sebagai sesuatu yang ofensif, melanggar urusan pribadi kita.
Jika bertemu, sampaikan rasa terima kasih. Mengeluhlah tentang bagaimana sibuknya dirimu agar beliau tidak beranggapan bahwa kita malas. Lalu minta maaflah karena telah membuat beliau ikut repot menyapu. Percayalah bahwa maksud beliau sebenarnya baik. Insya Allah hari-hari berikutnya beliau malah tambah rajin menyapu. Beliau merasa bermanfaat dan dihargai.

4. Keterbatasan, Bukan Manja
Kadang saya mengelus dada, prihatin jika ada yang mengeluhkan manula karena minta dijemput ke suatu acara. Alasannya karena rumahnya jauh lah, harus muterlah, buru-buru mau pergilah, dan sebagainya. Saya sampai sedih lo membayangkan jangan-jangan nanti setelah saya manula orang-orang akan melihat saya sebagai beban yang merepotkan seperti itu. Padahal sebenarnya bukan karena beliau manja, melainkan takut berjalan jauh. Kaki beliau gemeteran jika berjalan jauh, takut jatuh dan tidak ada yang menolong. Sementara anak-anak beliau di luar kota semua. Lagipula paling-paling acara tersebut hanya sebulan sekali, kadang juga 3 bulan baru beliau bisa hadir.
Kalau seperti itu, tawarkanlah bantuan. Ingatlah bahwa besok ketika anak-anak kita keliling dunia, kitapun butuh bantuan yang sama. Sesekali manula juga butuh keluar rumah, mencari hawa segar dan berbaur dengan tetangga-tetangga.

5. Jangan Pelit Pujian
Jika sedang punya waktu luang, berhentilah barang 1 menit untuk memberikan pujian pada hobi yang paling disukai beliau. Hobi itu tidak harus craft atau menciptakan sesuatu, Misalnya hobi jalan pagi, pujilah betapa bugarnya beliau. Kebetulan tetangga hobi tanaman, maka pujian tentang indahnya anggrek beliau saya hamburan. Anggreknya memang bagus-bagus pula. Dampaknya bagi saya sangat positif. Setiap saya buka pagar, selalu melihat bunga warni-warni yang indah. Lumayan buat cuci mata karena halaman saya sendiri tak terurus. Beliau juga menanami taman kompleks di sebelah rumah saya dengan mawar. Lagi-lagi saya kecipratan pemandangan bagus, Cuma ada pula tanaman bunga kenanga dan kamboja, serasa creepy. Hhihihiii...

Prinsipnya, ingatlah bahwa mereka pernah muda dan kitapun akan tua. Merasa lebih update dari manula akan membuat hidup kita susah sendiri karena secara emosi kita ingin dianggap paling benar, sementara para manula tersebut sudah berada di level puncak rasa percaya diri. Kita mau ngomong apa juga nggak berpengaruh bagi beliau. Menghargai keberadaan manula dengan segala kekurangan dan kelebihannya akan membuat hidup kita lebih nyaman karena pada dasarnya beliau ingin tetap bermanfaat.

20 comments:

  1. kalo eyang2 di sekitar rumahku masih pada aktif ikut kegiatan komplek. sayang eyang di rumah sendiri ga bisa ikut semua itu karena ngerasa 'beda kelas' dgn para tetangganya. yah saya mah ngikut aja apa maunya. gantinya jd aku yg gaul dg para eyang tetangga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang sabar ya mbak, kadang mereka memang begitu karena masih belum move on dg pencapaiannya yg lalu.

      Delete
  2. Manula berkisar umur brapa mbak wes embah embah gitu yo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah berapa ya? Sepertinya 60 keatas karena 55th baru pensiun & masih ada yg diperpanjang.

      Delete
  3. Tipsnya OK punya, mak. Saya juga senang menyapa manula di sekitar saya, kebanyakan mereka memang sua didengar. BItu gambaran masa depan kita juga , kan?..:)

    ReplyDelete
  4. Manula juga butuh dipuji ya. Di sekitar rumahku kebetulan enggak ada Manula. Tapi menjumpai di pasar tradisional buanyak nyaaah. Kadang suka jatuh kasihan sama mereka. Jadi enggak berani nawar, bahkan mereka melayani dengan semangat. makasih tipsnya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mbak. melihat mereka masih mau aktif saja sudah salut ya.

      Delete
  5. Baru aj kmrn mak dikasih pepaya sama oma sebelah rumah, bliau suka nanem2 alhamdulillah seneng bs deket sma manula itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya lo, kalau dibaikin mereka 3x lebih baik ke kitanya :))

      Delete
  6. hihi...kata suami, saya mbakatnya gaul sama mbah-mbah. ga tau kenapa. kalo ga dikasih tau saya juga ga menyadarinya.

    dua dari 'mbah' saya di sini udah meninggal semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya aura kita lembut gitu ya? Wkwkwkwkk

      Delete
  7. Memperlakukan manula sebenarnya hampir mirip2 dengan memperlakukan anak kecil. Mereka butuh didengar dipuji dan disenangkan hatinya.

    ReplyDelete
  8. Aku sering ketemu mbah2 di sekitar rumah, sama2 pas belanja sayur hehehe masih kuat dan semangat. so inspiring <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena mbah2 nggak manja, suka jalan kaki :))

      Delete
  9. yap...manula jelas lebih banyak pengalaman. harus respec dan menghormati mereka

    ReplyDelete
  10. disekitar rumahku juga banyak mba.. eyang-eyang yang lagi ngemong cucunya. Nah cucunya main sama anakku..otomatis sering ikut rumpi bareng

    ReplyDelete
  11. iya sih, kadang bingung kalau ada orang tua di sekitar rumah, mau ngobrol-ngobrol juga udah beda generasi n gak tau apa juga yang mau di obrolin. Jadi cuma bisa nyapa doank......
    btw thanks atas tips-nya

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.