Thursday, December 15, 2016

Klithih, Kejahatan Remaja, dan Kewaspadaan Orangtua

Klithih, terutama kejahatan yang dilakukan remaja, belakangan mengundang keprihatinan banyak pihak sehingga banyak orangtua yang ekstra waspada.

Klithih, menurut wikipedia, adalah kekerasan yang terjadi di Jogja, dilakukan oleh remaja dan biasanya dilakukan secara bergerombol. Sebenarnya klithih juga dilakukan oleh para pelaku kriminal yang sudah dewasa. Tapi yang terjadi dikalangan remaja sungguh membuat prihatin karena mereka masih dalam tanggung jawab orangtua. Sayangnya, banyak pula yang menganggap hal itu tidak mungkin terjadi pada anak-anaknya karena semua temannya dia kenal baik. Pertanyaannya, berapa jam sehari kita, para orangtua bisa ikut gaul dengan teman-temannya? Masih pede mengatakan kenal baik dengan teman-temannya? Bagi orangtua yang membanggakan anaknya bisa dipercaya, dalam beberapa kasus ini bukan soal kepercayaan. Kadang si anak bisa saja menjadi korban salah sasaran.

SMA dan LAKI-LAKI
Setahun lalu salah satu orangtua murid sekolah anak saya bercerita pada saya betapa leganya sang kakak laki-laki telah lulus SMA. Kekerasan remaja memang kental dilakukan di usia SMA dan menimpa anak laki-laki. Kekerasan remaja merupakan problematika perkotaan dimanapun, tidak hanya di Jogja, terlebih di Jakarta yang sering terekam di TV ketika tawuran. Mungkin ada masalah hormon atau psikologis pada remaja laki-laki. Tapi saya tidak mau terlalu teknis, takut salah karena bukan ahlinya.
Selama 3 tahun di SMA, si ibu tidak lepas dari rasa cemas tiap kali si anak terlambat pulang dan tidak bisa dihubungi. Kecemasan tersebut muncul setelah salah seorang temannya tiba-tiba disabet dengan pedang oleh orang tak dikenal ketika sedang mengendarai sepeda motor. Si teman tersebut selamat meski harus dirawat lama dirumah sakit karena dia juga terjatuh dari motornya cukup keras. 

TINDAKAN SEKOLAH dan DINAS PENDIDIKAN
Institusi pendidikan disini sudah berbuat banyak untuk mencegahnya, antara lain:
1. Jaman dulu beberapa sekolah memiliki sebutan tertentu untuk geng mereka. Mungkin teman-teman di group chat sudah mendapatkan daftar nama geng itu ya? Sekolah yang pro aktif membeberkan ciri anggota geng tersebut dan meminta para orangtua untuk segera melapor ke sekolah jika melihat anaknya punya atau mengenakan ciri-ciri tersebut. 
2. Banyak sekolah yang kemudian membatasi jam kegiatan ekstra kulikuler. Ada yang jam 16.00 semua harus pulang dan pagar digembok. Ada yang sampai jam 17.00. Tujuannya agar anak-anak tidak menggunakan alasan kegiatan ekskul kepada orangtua supaya mengijinkan mereka pergi hingga malam.
3. Mengganti badge nama sekolah dengan badge pelajar kota.
4. Melarang alumni terlibat dalam proses orientasi siswa agar siswa baru mendapatkan pendahuluan yang benar tentang sekolah mereka dan tidak mewarisi dendam para alumnus terhadap sekolah lain.
5. Menyelenggarakan kegiatan damai bersama, misalnya gantian mengirim wakil upacara, membeli tiket pertunjukan drama sekolah lain, berpartisipasi di pensi sekolah lain dan sebagainya.
Meski telah banyak yang dilakukan, tapi tetap saja masih banyak yang harus dikerjakan. Geng yang berkamuflase sebagai teman ngumpul tetap ada. Yang keluyuran hingga dini hari juga ada. 

DIMANA ORANGTUA?
Meski masih SMA, banyak orangtua yang mengirim anaknya sekolah di Jogja dan kos tanpa menunggu menjadi mahasiswa. Alasannya agar mendapatkan sekolah terbaik untuk berkompetisi masuk perguruan tinggi. Ada pula yang domisilinya memang di Jogja tapi orangtua bekerja di kota lain. Orangtua berpikir Jogja adalah kota yang paling aman dan pergaulannya masih baik bagi keluarga jika ditinggal mencari nafkah jauh ke kota lain. Apakah itu merupakan penyebab utama seorang anak menjadi pelaku klithih? Dari berita-berita yang saya ikuti, kebanyakan justru tinggal bersama orangtuanya.

Pelajar SMA Jogja boleh dibilang sangat sibuk dengan organisasi, ekskul, lomba, pemetasan, pameran dan kegiatan positif lain. 

Umumnya sudah maklum jika anak-anak kelihatan sangat sibuk menjadi panitia ini itu. Hangout itu wajar karena mereka juga butuh refreshing. Tapi kalau untuk buang-buang waktu tidak jelas, rasanya itu seperti rejeki nomplok yang jarang didapat. Tapi mengapa ada yang sempat berkumpul untuk berbuat kejahatan?

APA YANG HARUS DILAKUKAN ORANGTUA?
Berikut adalah catatan tentang apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah anak menjadi pelaku maupun korban klithih. Catatan ini saya dapatkan dari para ibu. Sayangnya saya kurang mendapat masukan dari para bapak karena yang aktif di group maupun rapat orangtua murid kebanyakan ibu-ibu.

Jika teman-teman punya saran lain, mohon ditambahkan di kolom komentar untuk saya masukkan sebagai update artikel ini.


1. Penuhi kewajiban dasar memberikan contoh dan pengetahuan tentang agama, kasih sayang, toleransi, pertemanan, konsekuensi hukum, konsekuensi hidup dan sebagainya. 
Jika ada korban klithih yang sampai tewas seperti kemarin, dalam pikiran saya selalu bertanya, "Apakah pelaku itu tidak berpikir bahwa orang disabet clurit bisa tewas? Apakah dia nggak mikir kalau dengan sengaja menewaskan orang lain itu berarti habis sudah masa depannya. Misal orangtua pelaku powerful sekalipun, bisa menyelamatkannya dari hukuman penjara dengan berbagai alasan, terutama alasan masih dibawah umur, sejarah kejahatan itu akan tetap menempel di jidatnya."
Kejadian ngeri seperti itu selalu membuat saya bertanya, apakah orangtua gagal menjelaskan konsekuensi hidup yang akan ditanggung pelaku? Apakah dia tidak paham bahwa teman-teman se-geng nya tak akan mampu rame-rame menyelamatkan dirinya demi solidaritas jika dia ditangkap polisi dan dipenjara? Yang ada malah para orangtua pelaku berusaha menyelamatkan anak mereka masing-masing dari hukuman berat. Dia sendiri hanya bisa bergantung pada pertolongan orangtuanya. Itupun kalau orangtuanya belum stroke karena kaget dengan kejahatan anaknya.

2. Tegas membicarakan kejahatan sebagai kejahatan, beda dengan kenakalan, agar dia paham bobot konsekuensi hukumannya. 
Yang satu disetrap, yang satu masuk penjara. Semua yang bisa merugikan atau mencelakakan temannya adalah kejahatan. Misalnya, ngerjain teman dengan tikus palsu itu masih merupakan kenakalan. Paling-paling kalau kelas jadi gaduh, kena setrap. Tapi kalau ngerjain teman ulang tahun dengan mengikatnya di tiang listrik dan melemparinya dengan telor busuk, itu bisa masuk kejahatan jika korban terluka. Pernah kan ada berita tentang anak yang tewas karena kejutan seperti itu? Saya sendiri pernah melihat ketika melintasi sebuah sekolahan. Untungnya ikatan tersebut lepas dan si anak lari tertawa. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat mereka yang tidak menyadari betapa bahayanya itu dan bisa menjadi sebuah kejahatan dalam sekejap.
Media dan institusi pendidikan kadang juga membuat derajat bahaya perbuatan pelaku turun. Sudah jelas-jelas melakukan pengeroyokan hingga korban patah tulang, tapi masih ditulis sebagai kenakalan remaja. Menurut saya, sebut saja sebagai kekerasan atau kejahatan agar perbuatan tersebut tampak serius dan sangat berbahaya sehingga hukumannya sepadan dan tidak membuat kita permisif atau terlalu banyak memaklumi.

3. Setelah anak punya SIM, bukan berarti orangtua bebas.
Anak punya SIM itu seperti gerbang kemerdekaan orangtua. Tidak ada lagi kehebohan antar jemput sementara orangtua sendiri sibuk. Justru dengan adanya SIM tersebut, orangtua harus lebih kenceng berdoa agar si anak selalu dalam lindungan Allah SWT. Sebaliknya, si anak juga akan mengalami euforia, terbang bagai burung lepas dari sangkar. Dia akan menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan penjelajahan bersama para sahabat.
Masa kritis peralihan dari remaja ke dewasa ini harus berada dalam kendali ketat orangtua. Tetap lakukan antar jemput jika ada kegiatan yang terlalu malam, misalnya pensi yang kebanyakan selesai diatas jam 22.00.
Ajak anak untuk membicarakan kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya klithih agar mereka waspada. Jangan menggurui atau terus menerus mengingatkan, apalagi meminta mereka mencurigai temannya sendiri. Anak-anak di usia tersebut seringkali tidak mau disetir. Dengarkan pula pandangannya karena anak-anak biasanya sudah tahu lebih dahulu di group chat mereka hanya saja tidak mau membahasnya dengan orangtua. 
Dalam suatu kejadian, ternyata korban hanyalah sasaran. Sebelumnya, sepeda motor korban dipinjam temannya yang sedang berselisih dengan remaja lain. Nopol motor tersebut telah ditandai dan mengira pengendaranya adalah orang yang sama. Sebagai teman, tentu korban tidak berpikir macam-macam ketika motornya dipinjam karena itu merupakan hal yang biasa saja. 

4. Anak-anak sekolah disini sangat banyak kegiatan positif, baik bersama sekolah, sanggar maupun komunitas. Jika anak kita terlihat tidak ada kegiatan, hanya main bersama teman-temannya, itulah waktunya untuk waspada.
Memang ada sebagian anak yang tidak punya minat sama sekali dengan ekskul sekolah dan lebih suka menyendiri.
Orangtua wajib melakukan pendekatan pada anak untuk chit chat tentang apa yang menarik disekolah dan apa yang diminatinya. Jika si anak tampak enggan, bahkan marah, cobalah untuk konseling dengan wali kelas. Diskusikanlah tentang minat si anak dan ekskul apa saja yang bisa diikutinya. Cobalah melihat apakah wali kelas meresponnya dengan baik atau jangan-jangan malah curhat tentang kenakalan anak kita. Mungkin dari sana bisa dicarikan solusi bersama, sebelum terlambat. Anak-anak yang energinya sudah terkuras untuk kegiatan positif tak akan punya ide untuk nakal karena tak punya waktu untuk memikirkannya.

5. Menyepakati kondisi-kondisi rawan bersama anak.
Seringkali orangtua terlalu paranoid, sedangkan anak-anak terlalu gegabah dalam melihat kondisi rawan kejahatan. Karena itu harus disepakati bersama agar orangtua tidak freak out dan si anak tidak malah menantang bahaya untuk membuktikan kebenarannya.
Pagi ini sudah beredar info-info daerah rawan klithih di group-group WA. Sebaiknya diwaspadai saya meski sumbernya belum jelas. Sempatkan googling jika daerah yang sering dilewati anak-anak kita ada dalam daftar tersebut, lalu diskusikan dengan anak-anak tentang tindakan pencegahan yang bisa mereka lakukan karena kita tidak bisa setiap detik mengawal anak-anak yang sebenarnya memang sudah waktunya untuk belajar mandiri.
Jika si anak kos, mintalah pendapatnya tentang rumah kos yang aman. Lebih baik jika hal ini dilakukan sebelum diterima di SMA pilihan. Karena jika dilakukan setelahnya, pendapatnya tidak netral lagi. Kewaspadaannya akan berkurang. Dia akan mencari kos yang membebaskannya bertemu dengan sobat-sobatnya. Lebih baik lagi memilih kos yang tinggal nyebrang ke sekolah. 
Anak-anak tentu tak ingin kita pasangi GPS karena mereka juga butuh dipercaya. Sayangnya, di kota yang bertabur mahasiswa ini sering membuat pengelola tempat hiburan menyamaratakan pelayanan. Entahlah apakah mereka sudah menerapkan screening menggunakan KTP bagi pengunjung yang dicurigai masih dibawah umum seperti di luar negeri atau belum. Hanya para orangtua yang sudah terlatih matanya yang bisa melihat perbedaan antara anak SMA dan mahasiswa meski badan mereka sama besar. Rata-rata pegawai tempat hiburan juga anak-anak muda dan mereka tidak peduli. Di kota ini sangat banyak cafe yang buka hingga dini hari, jam rawan terjadinya klithih.
Meski tidak ada minuman keras, mungkin harus ada aturan bahwa anak SMA tidak diperbolehkan hingga dini hari seperti mahasiswa. Mereka harus kembali ke orangtuanya sebagai penanggung jawab pada jam tertentu yang wajar (perlu pembahasan teknis tentang jam malam anak sekolah). Orangtua sendiri seharusnya punya peraturan jam malam yang wajar bagi anak remajanya. Saya sendiri memberlakukan antar jemput diatas waktu maghrib kepada anak-anak karena perempuan. Mungkin keluarga lain lebih longgar, terutama yang anaknya laki-laki, silakan. Sesuaikan saja dengan jam rawan klithih dan kondisi jalan yang dilewati, apakah sepi atau kondusif.

Anak adalah amanah yang luar biasa. Mendidik dan menjaganya lebih luar biasa lagi. Perlu kesabaran tak berbatas, kerja keras tanpa henti dan doa yang tak putus. Tak boleh paranoid tapi juga dilarang menyepelekan. Jangan sampai menyesal. 

16 comments:

  1. iya ini mbak. saudara-saudara di grup wa juga share wilayah rawan klithih.

    sedih. anak-anak jadi beringas kayak gitu. menurut saya besar kemungkinan pelaku dalam pengaruh miras/obat terlarang.

    ReplyDelete
  2. anak saya cowok, dan yg paling saya takutkan beberapa tahun kedepan dia salah pergaulan :( klo liat remaja skrg kekerasan sudah menjadi hal yg biasa. Mudah2an saya bisa mengatasinya nanti, makasih mba saran2nya ;)

    ReplyDelete
  3. jamanku SMP paling parah mba. bahkan aku sendiri sering jd objek. SMA aman dan tentram...sekolahku kayaknya strict banget.

    ReplyDelete
  4. Benar mak harus jelas menjelaskan mana kenakalan dan mana kejahatan yah, btw mak warna blog kita hampir sama yah

    ReplyDelete
  5. Ulasan mba ngena sekali. Banyak org tua yang kadang melupakan pondasi kelekatan dengan anak, saya pikir hal2 begini sudah harus gencar kita lakukan sedini mungkin, supaya mereka tidak mudah terbawa arus teman2nya.

    Semoga kita bisa menjadi orang tua sebaik2nya dan menjaga amanah yang dititipkan pada kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga anak2 selamat semua melewati masa remaja.

      Delete
  6. klithih, istilah unik buat saya yang bukan Jawa. Katanya anak2 laki2 itu punya hasrat kearah sana (ini mungkin pilihan katanya gak pas, tapi mudah2an dimengerti) dan sukar dibendung. Saya pernah mengajar di SMU yg notabene anak cowoknya wah-wah (yg ini juga semoga bisa dimengerti). Sebagian menganggap diri mereka sudah sampah, jadi kenapa gak sekalian aja bandelnya.
    Kalau dipikir Rasulullah memang minta anak laki2 diajarkan memanah, berkuda, berenang....
    Yang kesemuanya itu juga mengajarkan anak2 untuk melatih kesabaran.
    Jadi mereka memang butuh penyaluran atau pengalihan kayak ekskul. Murid2 saya yg gak doyan ekskul (olahraga), biasanya sudah habis energinya lewat pikiran.
    Tapi gak cuma pengalihan aja, banyak faktor juga sama seperti yang mbak tulis.
    Yah, begitulah pokoknya. Jadi panjang komen ini.

    Iya, jangan dikasih gps lah, hilang sudah kepercayaan mereka nantinya dan mereka akan bangun dunia mereka sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihii iya ya masa anak dikasih GPS. Makasih tambahannya mbak. Means a lot.

      Delete
  7. Aduh saya baru dengar klithih ini dan jd was2. Secara anak sy sdh mulai ABG. Makasih info dan saran2nya Mak. Semoga kita semua dimampukan dlm menjaga amanah2 kita ini. Dan semoga anak2 kita selalu dlm lindunganNya.

    ReplyDelete
  8. Terminologinya klithih ya mba.. selalu prihatin jika melihat kaum muda yang 'di luar jalur' begini.. sayang banget waktu dan potensinya terbuang percuma ;(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak banyak ana muda ang energinya sia2.

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.