Monday, February 27, 2017

Social Media Live! Mencari Ketentraman Ditengah Keriuhan

Social media live menjadi pembicaraan paling hot pekan lalu.


Setiap pagi, jika saya berkesempatan membuka medsos, yang pertama saya buka biasanya twitter. Di twitter, saya mulai dengan membuka notifikasi untuk membalas mention atau follow back, lalu melihat trending topics (TT). Biasanya yang TT di twitter akan terefleksikan pula di platform lain, seperti facebook, instagram, bahkan group chat semisal whatsapp (WA). Saya tidak punya akun path dan snapchat. Snapchat juga tidak populer di Indonesia.
Diantara deretan TT tentang acara-acara panggung gembira tv dan sinetron hari ini, muncullah "whatsapp". Pasti ada update luar biasa tentang fiturnya sehingga masuk TT. Agak lama saya scroll karena yang di deretan atas menggunakan bahasa latin semua. Baru kemudian nada-nada tidak puas dalam bahasa Inggris. Sementara tweet berbahasa Indonesia hanya sedikit, itupun santai saja. Padahal Indonesia termasuk pengguna twitter terbanyak sedunia. Mengapa tidak reaktif?

Intinya WA memiliki fitur baru, semacam instagram story. Saya sendiri belum update versi terbaru WA. Bukannya nggak mau ikut arus kekinian, melainkan belum sempat saja sih. 

Ketika masih newbie di twitter bertahun-tahun lalu, seorang pakar pernah tweet bahwa kemampuan kita untuk catch up follower itu hanya terhadap sekitar 1000 akun. Kenyataannya saya malah nggak mampu sebanyak itu. Yang saya perhatikan hanya sekitar beberapa puluh orang saja dengan kriteria:

  • Akrab sehingga enak diajak guyon untuk selingan.
  • Punya pengetahuan tentang blogging yang memadai.
  • Selalu punya info terkini tentang berbagai masalah.
Selebihnya saya biarkan saja lewat. Dahulu para "polisi twitter" sering mengingatkan agar rajin menyapa follower sebagai bentuk engagement. Sekarang helaw, suasananya sudah berbeda. Twitter sudah tidak sesantai dulu. Twitter sekarang dipenuhi dengan iklan, propaganda, penyuluhan dan beranteman. So, buat apa berakrab-akrab, mendingan buat kerja nyebar promo.

Manusia memang tidak pernah puas, ketika limit jumlah kata facebook di bebaskan, mulailah orang nyetatus berpanjang-panjang bak sebuah blog. Yang nyetatus cuma sebaris menjadi marjinal seperti orang-orang yang buang-buang waktu nggak ada kerjaan. Nyetatus kemudian menjadi beban yang sangat berat bagi saya ketika ada yang menulis bahwa Tuhan akan meminta pertanggungjawaban apakah status kita bermanfaat atau tidak. So, nyetatus "aku lapar" seperti jaman dulu tiba-tiba membuat diri kita tidak bermutu.

Sekali lagi manusia tidak pernah puas, karenanya menulis dan foto tidaklah cukup, meskipun sekarang di instagram kita bisa upload beberapa foto sekaligus. Tinggal gulir kanan dan kiri. Manusia pengin bisa ngomong langsung. Harus bisa siaran langsung. Jadi akhirnya, semua bisa shooting di facebook, instagram dan sekarang WA. 

WA adalah media komunikasi langsung one on one atau in group. Buat apa kita harus membuat semacam IG story? Apa bedanya dengan saya lakukan selama ini, yaitu membagikan video langsung ke teman-teman di kontak saya? Masa itu masih kurang?

Entahlah, misteri manusia modern dalam berkomunikasi memang seperti itu. 

Kalau bisa menyampaikan langsung, mengapa ibaratnya harus membawa corong di lapangan terbuka sehingga semua orang harus tahu juga? Tapi saya tidak mau antipati karena Mark Zuckerberg adalah seorang jenius. Pasti dia sudah punya riset valid terhadap fitur-fitur tersebut yang muaranya ke bisnisnya sendiri berbasis bisnis banyak orang. Dia akan pastikan orang lain juga mendapat keuntungan sehingga tak akan meninggalkan platform-platform miliknya.
Siapa tahu manfaatnya cukup besar buat Ladaka, meski selama ini pesanan dalam jumlah banyak selalu didapat dari website sedangkan dari IG dalam jumlah satuan. Siapa tahu dengan fitur baru ini pelanggan yang sudah berada di kontak saya bisa melihat stok saya lebih baik lagi? Saya hanya belum melihat peluangnya saja.

Tapi saya terus teringat prinsip 1000 akun tersebut. Kenyataannya saya memang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyimak perkembangan terbaru di semua platform. Tak jarang itu berakhir dengan saya tidak mendapat apa-apa yang berharga, bahkan sekedar pertemanan akrab karena tak jarang yang saya like atau komen adalah orang yang tidak saya kenal sama sekali. Entah mengapa saya berteman dengan dia di dunia maya. Mungkin karena waktu itu saya sedang mengejar target followers. 
Kalau akun-akun tersebut saya pedulikan semua, saya bisa gila karena mata terhipnotis arus kata-kata di layar, saya juga tidak akan punya waktu cukup untuk mengurus anak dan rumah, saya tidak akan sempat bersosialiasasi dengan tetangga dan sebagainya. Itu sebabnya banyak seleb medsos dengan puluhan ribu followers (jelas bukan saya) sering dinyinyiri karena tidak responsif. Padahal yang terjadi bukan melulu karena dia sombong tapi karena itu sudah diluar kemampuannya sebagai manusia normal.

Facebook, WA dan instagram sekarang adalah milik Mark Zuckerberg. Mungkin karena itu banyak fitur yang mirip. Entah akan disamakan atau tidak, yang jelas Mark melihat fitur-fitur itulah yang diinginkan konsumen. Tujuannya tentu saja membuat pengguna makin cinta dan berlama-lama online di platform tersebut. Itu berarti kita berekspresi di 3 platform yang berbeda tapi hampir sama. Itu berarti kita terpaku di 3 bisnis Mark yang isinya hampir sama. Itu berarti kita melakukan 3 kegiatan yang hampir sama tapi menghabiskan waktu 3x lebih lama dari sebelumnya. Mungkin karena orang Indonesia memang suka bicara dan tampil makanya tidak banyak yang protes ketika whatsapp TT.

Bagi yang bekerja mengandalkan personal branding seperti blogger atau influencer, update di media sosial adalah suatu keharusan untuk menjaga eksistensi. Tapi jika sekedar update tanpa menakar penting tidaknya update tersebut, jangan-jangan kita hanya membanjiri medsos tanpa bisa memberikan kesan apapun. Sayang waktunya, ya. Soal apa yang penting atau tidak penting untuk diposting itu hanya si pemilik akun yang tahu. Dialah yang punya tujuan.

Kita bahas yang lain saja tentang pengalaman saya dalam membatasi apa yang patut disimak tanpa bermaksud menyepelekan siapapun, melainkan semata-mata agar tetap waras.


1. Listing Akun
Fitur listing akun ada di twitter dan youtube. Kalau di youtube dalam bentuk playlist. Dulu saya melakukannya untuk akun lain yang lebih spesifik, sedangkan akun pribadi tidak. Saya pikir, akun pribadi ini, agak longgar nggak apa-apa kan? Tapi dari ngobrol dengan Carra www.carolinaratri.com saya putuskan untuk melakukannya juga di akun pribadi.
Intinya, saya memasukkan akun-akun yang saya anggap penting dalam beberapa kategori. Misalnya dalam kategori blogger akan saya masukkan Carra, blogelevated, KEB dan sebagainya. Contoh lain kategori Jogja maka saya masukkan akun teman-teman dari Jogja. Tak semua followers saya akan masuk list meski sama-sama blogger dan saya kenal baik kalau dia tidak pernah upload sesuatu yang berharga untuk saya ketahui. Hanya list-list tersebut yang saya lihat ketika membuka twitter. Dengan demikian, timeline saya tidak kayak pasar tapi hubungan dengan teman-teman yang tidak masuk list tetap terjaga. Daripada unfollow, kan bisa drama.
Mengapa tidak mute saja? Oya, itu saya lakukan pada yang tweetnya kebangetan. Sedangkan lainnya saya biarkan mengembara di timeline saya tanpa ter-capture di list agar bisa dilihat sewaktu-waktu karena kadang saya kangen juga sama mereka. Heheheee.....

2. Setting Fokus di Facebook
Yep, facebook saat ini lebih kejam dari ibukota karenanya harus dikendalikan melalui setting berikut:
  • Unfollow akun galak. Karena kalau unfriend bisa membully. Wkwkwkwk.....
  • Unfriend akun yang nggak suka statusnya dan nggak kenal baik orangnya. Ini sering saya lakukan lo meski saya tidak pernah sesumbar. Buat apa? Yang di unfriend sudah nggak bisa baca, sebaliknya hanya akan menghembuskan hawa panas di timeline teman-teman yang lain.
  • Setting see first (ini saran Carra). Jadi tiap kita buka facebook, hanya status orang-orang terpilihlah yang terlihat duluan. Giliran sampai yang nyinyir sudah capek kan, log out deh. Saran ini agak ribet menurut saya karena saya lebih suka fitur unfollow. Tapi akhirnya saya lakukan juga karena biasanya yang bawel gini rajin ngiderin penawaran job, jadi masih ada manfaatnya juga. Heheeee....
  • Uninstall aplikasi facebook di ponsel dan hanya membuka facebook di laptop. Kalau sedang idle dan pengin buka facebook, tinggal buka dari browser ponsel.
  • Sebenarnya saya ingin membuat facebook sebagai bloggersphere saja tapi mungkin tidak sekarang. Pertimbangannya selama ini paling sering berinteraksi dengan teman-teman blogger, sedangkan keluarga lebih banyak melalui japri. Bahkan anak-anak saya tidak punya akun facebook. Hanya saja masih mengganjal di teman-teman sekolah dan kuliah. Meski lebih banyak berinteraksi di group WA dan sedikit banget yang nongol di facebook, itupun yang nggak akrab, tapi yakin pasti bakal drama kalau saya gusur dari pertemanan supaya saya bebas share yang berkaitan dengan promo, iklan, event dan sebagainya. Nggak semua bisa paham ketika saya mempromosikan sebuah produk atau posting foto-foto gembira disebuah event. Kelihatan seneng banget disebuah hotel budget misalnya, bukan berarti saya tidak pernah nginep di hotel berbintang dengan membayar sendiri. It's my job, ladies.

3. Tidak Follow Akun Gosip
Dari awal mula mengenal media sosial, saya memang tidak follow akun gosip. Kalau ngintinp pernah lah. Nggak munafik, apalagi kalau gosipannya viral. Memang sih akun gosip kadang bisa untuk hiburan di hari yang garing dengan melihat kehebohan seleb yang digosipkan tersebut. Tapi entah bagaimana, berita gosip selalu bikin gatal untuk ngeledek bahkan berkomentar pedes. I feel bad after that karena saya juga nggak mulia-mulia amat.
Lebih sebal lagi kalau artisnya terlihat menikmati, sok penting gitu. I feel stupid menghabiskan waktu untuk menyimak tingkah orang lain.

4. Cut Group-group Yang Tidak Bermanfaat
Kalau saya sih ini termasuk group alumni sekolah. Ada group sekolah yang langsung saya tinggal pergi karena cowok-cowoknya, eh bapak-bapaknya sering upload foto cewek sexy. Sementara yang perempuang harus jaim. Yeah right, enak saja!
Group-group yang dipersatukan karena pekerjaan akan saya tinggalkan segera setelah semua urusan beres. Toh setelahnya masih banyak kemungkinan ketemu lagi jika dapat job yang lain. Apalagi blogger biasanya 4L, lo lagi lo lagi. Kalau tidak di cut, nambah terus jumlah groupnya. Belum lagi kalau OOTnya sudah kemana-mana. Pernah ada group kerjaan yang membernya posesif. Tiap pagi kasih salam. Kalau tidak bales salamnya seperti orang kesel.
Silaturahim kan nggak cuma itu sarananya. Di facebook atau platform lain masih ketemu. Namun sebelum pergi dari group, saya selalu pamitan pada semua dan menyatakan terima kasih pada pemberi job. Insya Allah kalau hubungan tetap baik akan diajak lagi di group pekerjaan yang baru. Amin.

5. Post With Purpose
Dengan banyaknya media sosial dan hampir semua live, saya kok jadi membayangkan gurita panik. Habis bikin konten disini, menclok bikin konten disana, lalu pindah ke konten yang situ. Capek. Jadi, walaupun posting jaman sekarang terasa berat karena harus dipikirkan responnya tapi ada manfaatnya juga. Postingan yang nggak jelas cenderung membuat saya berkelana kemana-mana, samber sana samber sini. Nggak terasa sudah beberapa jam saya scroll instagram dan facebook atau ngobrol berkepanjangan di group WA. Memang sih jadi banyak teman. Tapi seringkali berakhir dengan perasaan tidak jelas, kadang emosi jika habis membahas beberapa kasus atau gosip.
Dengan posting yang memang ada tujuan untuk mendapatkan respon, membuat saya tidak banyak berkeliaran di media sosial sehingga emosi terjaga dan waktu tidak terbuang percuma. Yang lebih penting lagi, tidak banyak kesempatan untuk menyakiti orang lain lewat kata-kata.

Dilema netizen itu kalau tidak update akan dilupakan. Tapi membanjiri akun dengan update juga tidak otomatis membuat kita diingat karena banyak update yang dilupakan orang segera setelah update tersebut melintas dari timeline-nya.
Buat saya, saya lo ya, yang memiliki anak-anak sudah besar, popularitas bukan lagi yang utama. My time slowly passes. Now it's their time. I will back them up 100%. Ketinggalan gosip, nggak pecicilan cari info. Followers sedikit, tidak stress. Kalah lomba, biasa saja. Nggak diajak ini itu, yah memangnya mau ngapain? Cari job juga nggak kebanyakan gaya. Ketentraman menjadi nomor 1 dan saya hanya ingin berbagi sebanyak yang saya bisa.

19 comments:

  1. Aku dapet pencerahan banyak dari pos Ini Mbak Lusi. Beberapa yang perlu dilakukan di sosial media nya juga saya lakukan. Imvu login Facebook dan muy di Twitter. Karena buku bagus sudah banyak tidak perlu membaca status-status tak membawa manfaat untuk saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku senang lihat mbak Evi yg menikmati jalan2 tanpa terlibat banyak drama. :))

      Delete
  2. Tulisan mamak idola ini selalu saja nyessss. Noted banyak hal dari sini. Toosss maklus buat gak pny path dan snapchat. Sy jg lebih sering unfol daripada blokir. Semoga yg kita sharingkan membawa manfaat utk semua ya mak. Aamiinn.

    ReplyDelete
  3. Bener Mbak, dunia medsos lebih kejam dari daripada ibukota apalagi ibu tiri :D Hiks. Eh aku baru tau ada listing akun segala. Ohya sekarang aku udah nggak nyaman paai facebook soalnya banyak banget hasutan dan ghibah yang bikin semakin kotor hati. Udah jarang juga baca buka fb kecuali share tulisan :D

    ReplyDelete
  4. whaaa ini sudah menyuarakan keresahanku juga kayaknya. ihihii soal twitter, itu yang paling kerasa bedanya ya mba. dan para pengguna twitter yg sudah punya akun sejak lama pasti kangen suasana twitter jaman2 dulu (yaelah..dulu)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Skrg kalau ngetwit santai malah merasa kayak lagi dipelototi motivator, dituduh nggak bermanfaat hahaaa....

      Delete
  5. Twitter ku mlh jarang aku buka. Aku kok blm nemu asyiknya twitter di mn.. Banyakan ditengok WA sama fb..paling gampng😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau jaman sekarang udah nggak asik sih, asiknya jaman duluuu bgt :))

      Delete
  6. banyak penderahan nih habis baca postingan ini, saya boleh nanya kan mba ?

    gimana caranya supaya Group asal-asalan gak bisa menambahkan saya ke groupnya di facebook. soalnya banyak group gak karuan nambahin saya ke groupnya. hatur nuhun mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa kok disetting. Jadi kalau nggak kita lolostkan nggak bakal masuk group tsb

      Delete
  7. Sepakat mak Lus, ketentraman itu nomer satu yaaaa. Nice post mamak cantik.

    ReplyDelete
  8. Aku bahkan hampir nggak pernah unfollow hihi, kapan-kapan bebersih deh. Tapi aku juga jarang nyetatus di fb atau twitter kecuali share postingan. Lebih sering main instagram sekarang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, penginnya kayak mak Lianny, nggak sibuk aja sama medsos :(

      Delete
  9. Eh, bener sekali tipsnya...Perlu lebih banyak orang seperti mba Lusi di dunia medsos biar adem tentrem.

    Aku suka header blognya mba Lusi, simple cute yet powerful.

    ReplyDelete
  10. Lah baru baca yang ini :)

    Saya buka FB dan twitter cuma buat share postingan aja mbak Lusi, habis itu kabur, kecuali ada notif baru dibuka. Followernya ratusan tapi nggak pernah berinteraksi hehe.. *nggak ada waktu :)

    Yang aneh di twitter atau IG tuh kalau ada yang minta difollback, setelah itu malah dia unfoll..lah maksudnya gimana? Kalau ketahuan saya infoll juga dan diingat2 nggak bakaln follow lagi meskipun dia follow lagi :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.