Tuesday, February 07, 2017

Menyatukan Daluang, Doodle dan Clutch Bag Di Pesona Jogja Bareng Kriya Indonesia

Menyatukan daluang, clutch bag dan doodle di Pesona Jogja bareng Kriya Indonesia memang penting semua untuk disebutkan di judul karena secara bersama-sama mengisi setengah hari weekend saya dengan penuh manfaat.



Ketika tim Kriya Indonesia menyebarkan banner workshop di Jogja, gratis pula, saya langsung mendaftar. Pengin banget lebih rajin datang ke workshop jahit, tapi sayang, jadwal dari Jaric, komunitas jahit yang saya ikuti, belum juga cocok. Jam selo blogger dan crafter memang beda. Heheheee.... Tempatnya dimana lagi kalau bukan di Pesona Jogja, favorit para emak blogger.


Berhubung sudah bolak balik ke Pesona Jogja, saya nggak ada masalah datang tepat waktu. Bagi yang pertama kesana, mungkin agak ragu ya, karena berada ditengah perkampungan. Tapi jangan takut, ikuti google maps. dan plang penunjuk jalan. Yang bikin betah disana itu pegawainya baik-baik. Apalagi mbak Widi yang serba bisa, dari mengkoordinir tamu, bantuin macam-macam sampai bantuin parkir. Keren deh.

Suasana registrasi. Pesona Jogja sekarang jadi favorit teman-teman.

Peminat workshop ini cukup banyak, sampai dibagi 2 sessi. Untung saya dapat yang pagi, karena kalau siang nggak bisa datang lagi deh. Semua panitia workshop ini adalah blogger, jadi asik-asik aja. Begitu datang, saya tertarik untuk membeli buku tentang menjahit baju yang dibuat Astri Damayanti. Saya memang pengin banget bisa menjahit baju yang bener. Sementara ini saya masih menggunakan cara copas dari baju yang sudah ada yang paling enak saya pakai. Astri ini adalah blogger lama. Pertama nggak nyangka dia itu seorang crafter sejati karena momennya adalah gathering pemenang lomba blog sebuah merk mobil di Jakarta. Heheheee....

Acara dimulai dengan pengenalan tentang daluang dan produk terbaru mesin jahit Brother sebagai pendukung workshop.

DALUANG

Tentang daluang dibawakan oleh Prof Sakamoto dari Jepang. Daluang adalah kulit kayu yang dianggap sebagai fosil hidup karena ada sejak jaman megalithikum. Karenanya UNESCO mengakuinya sebagai warisan dunia tak benda.

Pemateri: Astri Damayanti, Tanti Amelia dan Prof Sakamoto. Sensei mengenakan kemeja dari daluang.

Jejak daluang tersebar di ras Austronesia, yaitu Thailand, Jepang, Melayu, Hawai, hingga Madagaskar. Daluang masuk ke Indonesia melalui Sulawesi. Perkembangan daluang ini tidak ramai klaim, seperti batik. Saat ini Indonesia dan Hawai lah yang masih giat mengembangkan daluang. Secara internasional, daluang dikenal sebagai tapa, sedangkan di kalimantan dengan nama fuya.

Daluang dibuat dari pohon sae, sejenis mulberry. Cara membuat daluang yang tradisional adalah menggunakan kei dengan cara ditempa, tidak dibuat bubur seperti produk turunan dari pohon lainnya, misalnya kertas atau papirus. 255 kulit kayu ditumpuk dan ditempa dalam 7 tahap dan tidak boleh berhenti sampai jadi, karena akan mengering. Jika mengering, teksturnya tidak bisa seperti kain. Hasilnya bahan sepanjang kira-kira 2 meter.

Kata Astri, dahulu daluang bisa dibeli dengan harga murah karena orang tidak paham value-nya. Berkat edukasi ke masyarakat, daluang makin bersinar. Sekarang daluang berukuran 90x75 cm dihargai Rp 350.000,-. Kertas atau kain biasa bisa hancur dalam beberapa tahun, tapi daluang bisa bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun. Karena itu juga digunakan untuk manuskrip. Wow, daluang yang diberi panitia wajib saya simpan nih sebagai warisan.

Prof Sakamoto menaruh harapan yang sangat besar pada para blogger untuk membantu mempopulerkan daluang. 

WORKSHOP CLUTCH BAG

Ketika workshop clutch bag dimulai, peserta di sessi pertama ini dibagi menjadi 2 regu, menjahit dan doodle. Nanti kami akan bertukar tempat jika sudah selesai di masing-masing kegiatan. Dengan dibagi seperti itu, diharapkan semua bisa pegang mesin jahit.

Mesin jahit yang digunakan adalah Brother GS2700 dengan 27 jenis jahitan. Ibu-ibu pasti pengin deh karena pengoperasiannya sangat mudah. Nggak perlu ngonthel, cukup digas saja pedalnya. Meski begitu, saya sempat mengalami kendala karena setting ketegangan benangnya kurang pas. Tapi teman-teman yang berminat dengan mesin jahit ini jangan khawatir, ada buku petunjuk setting tiap jenis jahitan supaya menjahitnya lancar. Untung dibantu oleh peserta lain, Rira, yang ternyata crafter dari komunitas jahit yang sama dengan saya. Mungkin lain kali disiapkan kain seadanya untuk latihan sebentar dengan mesin jahit baru. Kalau langsung ke media yang akan dijahit, sayang ya kalau salah. Apalagi daluangnya itu mahal lo.


Urutan pembuatan. Clutch bag yang sudah komplit dengan daluang yang didoodling adalah milik Yoanna Fayza.

Cara menjahit clucth bag.
  1. Awalnya kami membuat clutch bag dengan manyatukan kain dan busa tas. 
  2. Pasang kancing magnet bagian bawah.
  3. Setelah itu bagian busa diberi pelapis dan disetrika. Maaf kemarin tidak mendengarkan jenis pelapisnya. Sepertinya tricot karena berpasir dan tidak ada lem seperti vislin. Nanti saya tanya lagi deh.
  4. Jahit bagian samping kanan, samping kiri dan bawah tas dengan posisi permukaan kain yang bagus di bagian dalam. Setelah itu dibalik.
  5. Pasang kancing magnet bagian atas.
  6. Tutup flip luar dengan daluang.
  7. Jahit keliling daluang dengan jenis jahitan yang menarik.
Ilmu dari Astri ini akan saya praktekkan untuk bahan lain jika sudah selo nanti agar bisa mengerjakannya lebih tenang dan hasilnya lebih rapi. Terima kasih ya, Astri.


WORKSHOP DOODLE

Ini kedua kalinya ikut kelas doodle dengan Tanti tapi sama-sama terbatas waktunya. Semoga lain kali ada waktu yang lebih baik. Sebagai pakar doodling, tentu saja Tanti bisa mewujudkan tema apapun juga dengan mudah. Takjub ya lihatnya.

Tahap pertama kami diminta menggambar suka-suka buat nglemesin jari dan biar pede. Biarpun menggambar untuk diri sendiri tapi banyak lo yang nggak pede.

Peserta dengan hasil doodlingnya. Tema satu tapi hasilnya bisa macem-macem seperti itu.

Setelah itu kami doodling bersama-sama mengikuti Tanti. Kami mendoodling tentang Jogja, lengkap dengan mesjid, gereja, kota dan gunung. Tak ketinggalan Tugu sebagai penanda Jogja. Hasilnya, tak satupun yang sama dan itu tidak apa-apa. Dalam doodling tidak ada benar dan salah karena doodling memang dimaksudkan untuk mendobrak pakem.

Setelah itu, kami diminta menambahkan ilustrasi di bagian daluan clutch bag tadi. Group kami kehabisan waktu sehingga tidak sempat doodling di daluang. Nggak apa-apa sih, sayang juga kalau daluang yang sangat berharga itu digambari karya saya yang nggak jelas. Group sebelum bisa selesai dan cantik-cantik hasilnya. Tanti menyarankan menggunakan cat akrilik tapi kemarin itu menggunakan marker dari Stabillo dan hasilnya bagus-bagus.

Acara diakhiri dengan makan siang bersama. Untuk blogger diajak makan siang agak sore di Omkara Resort yang terkenal. Sayang saya tidak bisa ikut. Semoga ketemu lagi di workshop selanjutnya ya. Terima kasih atas kesempatannya. 

7 comments:

  1. Terimakasih banyak mbak Lusi Tris .. Iya ya kemaren ga sempat gambar di daluang nya...

    Cuma mau benerin dikit yang ini nih :


    "Kata Tanti, dahulu daluang bisa dibeli dengan harga murah karena orang tidak paham value-nya."

    Astri kali ya yang ngomong hihihi...

    ReplyDelete
  2. Seru ya maklus, banyak pelajaran sarat makna mulai dari Daluang, Doodling sampai Clutch, senangnya.. Kapan Kriya Indonesia bikin acara lagi, ditunggu yaaa.

    ReplyDelete
  3. abis bikin ini aku langsung pengen njait2 apalg gitu. ternyata njait candu ya :D

    ReplyDelete
  4. aku pulang workshop malamnya njelasin ini itu ke sibapak tentang mesin jahit canggih itu. dan si bapak agak terharu juga sih liat hasil karya ku :D

    ReplyDelete
  5. aku jugaaaa pengeeeen ikutan workshop kayak beginiii..pasti seru bangeeet :)

    ReplyDelete
  6. Seru dan senang bisa ikut acara ini, Mbak. O ya, aku nyulik satu foto ya ;D Trims

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.