Friday, March 24, 2017

Dialog Gubernur DIY dan Netizen Tentang Digital Government Services (DGS)

Dialog Gubernur DIY dan netizen ini diselenggarakan di Bangsal Kepatihan, Komplek Kepatihan, tanggal 20 Maret 2017 lalu.

Jogja digital government services dgs

Terakhir saya ke Bangsal Kepatihan ketika menyaksikan Gusti Pembayun beksan.


Kepatihan adalah komplek dimana Gubernur DIY, Sultan Hamengku Bawono X, berkantor. Ini bukan kali pertama saya mendengarkan langsung pemaparan beliau. Sebelumnya, saya datang ke acara Urun Rembug Nasional Untuk Strategi Kebudayaan, dimana Gubernur DIY menjadi narasumbernya.


Informasi mengenai dialog ini saya dapatkan dari group Komunitas Blogger Jogja. Setelah lolos saringan dari pihak Humas bareng Wawan, barulah saya tahu kalau harus mewakili suara KBJ juga. Saya nggak masalah, karena memang banyak uneg-uneg yang berkaitan dengan hubungan Pemeritah Daerah DIY dan masyarakat dalam era digital ini.

PARTISIPAN

Disinilah saya terdampar di kerumunan MasDJo (Masyarakat Digital Jogja) yang anggotanya kebanyakan dari PAIJO (Paguyuban Admin Jogja). Entah kaitannya bagaimana, yang jelas, itu adalah admin akun-akun besar yang followersnya nggilani jumlahnya. Saya sih hanya remahan kulit gabah yang tersebar di pinggir jalan dithothol ayam dibandingkan dengan mereka. Ada juga teman-teman dari Duta Damai, Malam Museum, Kompasiana, Info Cegatan Jogja, dan sebagainya. Ternyata MasDjo, sesuai dengan namanya, kebanyakan laki-laki.

Jika ingin melihat lagi jalannya acara, teman-teman bisa follow akun twitter saya @beyourselfwoman dengan hashtag #JogjaIstimewa.

Acara diawali dengan makan malam sambil menunggu kehadiran Gubnernur DIY. Menunya enak-enak, ada nasi liwet, bakmi, sop, sate klapa dan es degan campur selasih. Saya paling suka sate klapa. Di acara makan malam ini saya sempat kecele, duduk sendirian nggak ada temannya, sementara yang lain makan sambil berdiri. Ada sih yang duduk di undhak-undhakan, tapi saya nggak mau. Takutnya nanti ada yang capture terus jadi postingan nyinyir "blogger pemburu makan malam" deh. Heheee....
Kehidupan digital memang seperti itu. Orang bisa begitu saja menginterpretasikan apa yang kita lakukan tanpa konfirmasi. Saya rasa, latar belakang dialog ini sedikit banyak juga dipengaruhi hal-hal seperti itu.

Jogja digital government services dgs


Sebagai tuan rumah adalah GKR Hayu yang merupakan pengageng Tepas Tandha Yekti atau urusan IT dan dokumentasi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat,  Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi DIY Rony Primanto Hari, serta Perwakilan dari Polda dan Dinas Perhubungan. Para pejabat SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) juga hadir. Pembawa acaranya MC kondang Anang Batas.

GKR Hayu yang aktif di media sosial sering di-mention atau di-tag bertubi-tubi untuk masalah yang beliau tidak terlalu paham karena merupakan area Pemerintah Daerah DIY. Namun demikian, GKR Hayu memahami bahwa itu terjadi karena tidak adanya saluran yang bisa menampung keluhan, saran atau umpan balik dari warga ke pemerintah daerah. Secara bersamaan, Gubernur DIY merasa bahwa cita-cita menjadikan DIY sebagai cyber province harus mendapatkan perhatian serius.

CITA-CITA CYBER PROVINCE

Cyber province adalah cita-cita yang sangat masuk akal bagi sebuah propinsi dengan kota pelajar dan kawasan pariwisata utama Indonesia ini. Saya tak dapat membayangkan bagaimana sebuah propinsi yang memiliki kota pelajar malah ketinggalan di bidang teknologi informasi untuk pelayanan publik. Yang terjadi sekarang, visi dan blue print DIY sebagai cyber province sudah mendapatkan pengakuan secara nasional dan internasional. Namun bagaimana implementasinya?

Ukuran keberhasilan sebuah sistem layanan masyarakat adalah kepuasan publik, bukan penilaian intern. Seorang pejabat SKPD boleh saja memiliki program bagus tapi kalau masyarakat tidak puas, berarti program tersebut belum berhasil.

Gubernur DIY memaparkan bahwa DIY memiliki target menjadi cyber province di tahun 2019. Cyber province akan berhasil jika didahului dengan layanan publik berbasis digital atau Digital Goverment Services (DGS). Untuk mencapainya, Pemerintah Daerah sudah mengupayakan dukungan dari Microsoft di tahun 1999 dalam bentuk mempersiapkan tenaga IT. Tahun 2013, DIY mendapat bantuan 50 komputer untuk melatih guru dan PNS dibidang IT. Perjalanan yang berlangsung lambat ini memang dikarenakan kendala teknis.

Gubernur DIY menggarisbawahi tidak ada waktu lagi untuk menunda. Terlebih sudah dimulainya pembangunan bandara Intenasional di Temon, membuat DGS ini harus segera terwujud. Tidak ada lagi istilah "mekaten mawon cekap" (begini saja cukup) atau "mekaten mawon pajeng" (begini saja laku). Pendatang, baik pelajar, wisatawan maupun pebisnis, akan menuntut mutu layanan yang sesuai dengan standar internasional.

Saya salut dengan sikap Gubernur DIY, yang juga raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini, karena tidak ragu mengakui kekurangan kinerja anak buahnya dibidang IT dan dengan rendah hati mau mengajak pihak lain, dalam hal ini netizen untuk berperan aktif sesuai dengan bidangnya. 

KONTRIBUSI PARTISIPAN

Sebelum acara dimulai, saya sempat ngobrol dengan Elzha dari Duta Damai bahwa kami akan diminta memperkenalkan komunitas kami, memberikan sumbang saran dan menawarkan kontribusi. Sayang, karena keterbatasan waktu, tidak semua memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Kedepannya akan ada forum rutin untuk pembahasan lebih detil.

Yang pertama diberi kesempatan adalah mas Eko Nuryono dari @infoseni_ dalam kapasitasnya sebagai wakil MasDJo. Saya sudah kenal mas Eko karena bertemu dalam beberapa kesempatan. Entah mas Eko-nya hapal dengan saya apa enggak. Hehehee.... Di twitter, mas Eko ini sering ngompori berbagai hashtag yang ngeyogyani. Beliau menjelaskan bahwa sebenarnya MasDjo sudah berperan dalam meredam peredaran berita-berita negatif tentang Jogja di media sosial.

Pipit dari @kulineryogya juga mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Pipit sering mengajak saya berwisata budaya sekitar Jogja bareng Erwin dari Malam Museum. Sayangnya, tak semua bisa saya sanggupi. Sebagai kawasan pariwisata, kuliner adalah salah satu produk utama DIY. Pipit menyayangkan makin mahalnya kuliner khas di Jogja. Selain itu, Pipit yang hobi ngintip melalui CCTV ini memuji fasilitas-fasilitas yang dimiliki Dishub dan berharap instansi lain yang memiliki fasilitas CCTV di tempat umum untuk memanfaatkannya dengan baik seperti Dishub. Bagaimanapun itu kan dibeli dengan uang rakyat, jangan cuma jadi pajangan.



Yang fenomenal tentu saja mas Antok dari ICJ (Info Cegatan Jogja). Ini pertama kali saya ketemu mas Antok. Makna info cegatan sendiri sebenarnya lucu. Itu adalah bahasa lokal yang merujuk ke razia SIM dan STNK dari Kepolisian. Jadi, jika ada yang melihat cegatan di suatu ruas jalan, infopun disebar agar pengendara "siap". Iya siap-nya pakai tanda kutip. Dalam perkembangannya, ICJ menjadi forum silaturahim antar pengguna jalan. Karena ketiadaan saluran komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah daerah terkait dengan makin sesaknya ruas-ruas jalan di Jogja, akhirnya ICJ malah menjadi tempat untuk menyuarakan keprihatinan pengguna jalan. Yang menonjol tentu saja viralnya beberapa bantuan anggota ICJ kepada pengguna jalan yang mengalami musibah atau kesulitan tanpa pamrih. Gubernur DIY sangat mengapresiasi ICJ dan meluangkan waktu khusus untuk mas Antok.

Meski Jogja memiliki segudang masalah publik, tapi transportasi memang sangat mendominasi. Gubernur DIY mengatakan bahwa kota Yogyakarta sejak awal memang tidak didesain untuk menjadi kota besar. Sekarang yang penting bagaimana mengelola keterbatasan ini, antara lain dengan menambah armada Trans Jogja dari 78 menjadi 198 dengan rute yang lebih merata dan akan membangun fly over di Kentungan dan Gejayan seperti di Jombor.

Karena keterbatasan waktu, dialog kemarin memang baru menyentuh masalah perkotaan. Semoga dalam diskusi selanjutnya, netizen dari wilayah lain di DIY mendapat kesempatan untuk mengemukakan masalah digital di wilayahnya. Masih banyak wilayah di DIY ini yang bahkan belum melek TIK.  


KONTRIBUSI BLOGGER

Media online dan blogger itu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Media online unggul di jangkauan, sedangkan blogger bisa memanfaatkan kebebasannya. Blogger bisa menulis sepanjang yang dia mau dan meletakkan foto sebanyak yang dia suka. Seperti yang saya lakukan ini, tetap bisa berpendapat walaupun tidak di forum tersebut.

Blogger bisa diajak bekerjasama dalam sosialisasi program DGS. Saya tahu, pasti ada blogger tekno di Jogja mengingat adanya beberapa universitas yang memiliki jurusan IT bergengsi. Namun karena itu bukan niche saya, maka saya hanya bisa berkomentar untuk blogger secara umum.

Blogger di lingkungan komunitas saya itu rata-rata telaten ngulik suatu tema. Ketika dia harus mereview sebuah aplikasi, dia akan terangkan secara terperinci menggunakan infografik dan screen shoot. Belakangan malah ada yang sudah melengkapi dengan video tutorial.

Saya bayangkan jika DGS ini sudah menemukan bentuknya, pemerintah daerah bisa mengerahkan blogger untuk membuat review yang bisa digunakan sebagai panduan bagi masyarakat DIY maupun pendatang. Blogger memiliki bahasa yang mengalir dan akrab. Mereka juga rajin membalas pertanyaan di blog dan berinteraksi dengan followers di media sosial. Sistem sebesar DGS harus disebarkan dengan berulang-ulang, detil serta persuasif, jangan hanya menggunakan saluran resmi.

Tak hanya untuk DGS, sebenarnya blogger bisa diberdayakan untuk unsur lain. Selama ini, yang sudah sering bekerja sama dengan KBJ adalah Dinas Pariwisata Sleman. Padahal, saya punya beberapa teman seleb blogger nasional di daerah Bantul dan Gunungkidul. Blogger memang tidak mendapatkan pengakuan resmi tapi networking mereka cukup luas dan mereka adalah influencer yang baik.

Sebenarnya blogger tidak hanya bisa diajak jalan-jalan ke tempat wisata atau ke acara-acara seremonial. Mereka juga bisa diajak untuk menjawab pertanyaan publik atas pembangunan di daerahnya. Misalnya, untuk menjawab pertanyaan sampai dimana progress pembangunan bandara internasional di Kulonprogo, pemerintah daerah bisa mengajak blogger untuk melihat langsung. Bahasa digital sekarang itu sangat visual. Blogger yang umumnya sudah sepaket dengan media sosial, tahu bagaimana memanfaatkannya untuk menarik perhatian atau menyampaikan informasi.
Pada akhirnya, saya mengharapkan yang terbaik untuk DIY. Saya terlalu mencintai DIY untuk membiarkannya berkembang apa adanya. Harus ada sistem yang mengelola perkembangan tersebut. Mungkin Gubernur DIY juga demikian, makanya beliau mengajak netizen untuk berkontribusi.
Sanggupkah teman-teman berkontribusi mendukung pelaksanaan Digital Government Services untuk mewujudkan DIY sebagai cyber province?

DGS Jogja Cyber Province
Foto milik TIM HUMAS DIY


Sumber tambahan: http://www.jogjaprov.go.id/warga/catatan-sipil/view/netizen-diminta-untuk-berpartisipasi-dalam-digital-government-services


10 comments:

  1. Setuju, Mak. MEmang sudah seharusnya sebagai kota pelajar, Jogja menjadi salah satu kota yang terdepan untuk urusan cyber tanpa meninggalkan ciri khas budaya tradisionalnya yang kental

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong, banyak orang pintar, semoga pemda bisa mengelola orang pinter jd penggerak kemajuan digital.

      Delete
  2. diskusi yang menyenangkan ya, memang semua kota memerlukannya buat kemajuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jaman sudah mengharuskan kota2 bergerak ke arah digital.

      Delete
  3. Harus banget mbak Jogja yang dikenal sebagai kota pelajar , harus update teknologi juga

    ReplyDelete
  4. Langsung teringat dengan kekreatifan orang Yogya. Saya paling suka dengan ungkapan 'Pecas Ndahe' itu keren banget, hehe..

    Kalau bis trans ditambah lagi nggak akan bentrok dengan angkot lain tuh mbak Lusi? Semoga aja enggak sih :)

    Satu lagi, suka banget dengan jalur yang memisahkan antara kendaraan bermotor dengan mobil, itu cuma di Yogya atau Semarang aja yang belum yaa??

    * Duh maaf, komentarnya ngga nyambung dengan artikel :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaaaa gpp mbak komen panjang. Yuk ah kapan2 kita ngobrol dong. Pemisahan jalur di ring road itu sebenarnya bukan antara mobil & motor tapi jalur cepat & lambat. Tapi akhirnya motor nggak berani lewat jalur cepat :)

      Delete
  5. Kereeen..
    Di Pekalongan mulai agak anget nih mba, pemda ngajak netizen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah. Pekalongan kurang banget bekerja sama dg netizen.

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.