Monday, April 03, 2017

5 Persiapan Utama Menjadi Dropshipper

Catatan: Persiapan Menjadi Dropshipper ini adalah kelanjutan dari Persiapan Menjadi Reseller di artikel sebelumnya. 


dropship


Baca: 5 Persiapan Utama Menjadi Reseller

Dropshipper itu hampir sama dengan reseller, hanya saja tidak melihat fisik barangnya. Pengiriman pesanan berdasarkan perintah dari dropshipper ke pemilik produk (bisa produsen, distributor atau agen).

Sepintas dropshipper itu kayaknya enak banget, cuma pencet-pencet ponsel dapat uang. Padahal ada hal yang harus dipersiapkan jika ingin serius menjadi dropshipper. Banyak yang menganggap resiko menjadi dropshipper itu nyaris tidak ada karena tidak perlu membeli secara grosiran dulu, tidak perlu tempat, tidak perlu produksi, tidak perlu packing, tidak perlu angkat-angkat barang ke kurir dan sebagainya. Karena itu banyak pula dropshipper tak bertanggung jawab dan merugikan si pemilik produk.

Saya ingat, waktu BlackBerry sedang hits, semua orang pengin jadi dropshipper, pegawai kantoran, ibu rumah tangga, apalagi pengangguran. Saya juga mengawali usaha dari coba-coba menjadi dropshipper. Mereka menganggap menjadi dropshipper itu mudah asal gaul dan sepertinya tidak beresiko.

Tentusaja tak ada uang, pesanan tidak dikirim. Jadi dimana ruginya? 

Well, dunia dropship itu penuh dengan printilan. Sukses atau nggak bakat jadi dropshipper itu tergantung usaha dan nasib. Tapi yang penting, jangan meninggalkan nama yang tidak baik sebagai dropshipper, baik di mata konsumen maupun pemilik produk.

Sebagai orang tengah, dropshipper itu sebenarnya nyaris tidak punya kontrol terhadap proses yang terjadi, selain aliran uang. Karena itu, jika terjadi sesuatu, misalnya pengiriman telat atau barang rusak, dropshipper hanya bisa bolak-balik telpon sana-sini. Sudah siap mentalkah? Mari kita obrolkan.

1. MEMILIH PRODUK

Berhubung dropshipper itu tidak melihat produknya, pilihlah yang minimal suka banget dengan produk tersebut. Syukur kalau paham spesifikasinya juga. Bagi yang belum paham spesifikasinya, bisa bertanya pada pemilik produk.

Ajukan pertanyaan sebagai berikut:
  • Terbuat dari apakah produk tersebut?
  • Dimanakah kota pembuatan produk tersebut? (Untuk penghitungan biaya kurir.)
  • Apakah ready stock atau made to order?
  • Seperti apakah sistem pembayarannya?
  • Bagaimana jika ada komplen?


Dropship itu tak harus sekota. Bisa saja dropshipper berada di Semarang, pemilik produk ada di Jogja, sedangkan pemesan ada di Jakarta. Yang penting komunikasi lancar. Memang sih kemudian ada pertanyaan seperti ini:

  • Apakah ini bukan berarti ketidakefisienan harga sebuah produk? 
  • Konsumen kan rugi? 
  • Mengapa pemilik produk tidak menjual langsung ke Jakarta?

Sesungguhnya pemilik produk dan dropshipper saling membutuhkan dan menguntungkan. Pemilik produk tetap bisa menjualnya sendiri kok. Tapi mungkin dia tidak bisa menjangkau pasar di lingkaran dropshipper tersebut. Dropshipper membantu pemilik produk menjangkau pasar yang lebih luas. Ada rejeki masing-masing. Sedangkan konsumen terbantu dengan adanya informasi tentang produk tersebut. Dropshipper menyediakan etalase yang bisa tinggal pilih, nggak perlu ngobrak-abrik supermarket atau mall.

Pembelian secara ready stock atau made to order harus disepakati. Jangan sampai dropshipper sudah promo kesana-kemari, begitu ada yang sudah deal membeli, ternyata produk tersebut tidak siap kirim. Kalau di istilah online shop, ready stock lebih dikenal sebagai ready saja. Ada konsumen Ladaka yang meskipun sudah saya jawab ready stock, tetap bertanya apakah ready? Heheheee.... Sedangkan made to order lebih dikenal sebagai PO. Yang bekerja sebagai staf pembelian di kantor mungkin akrab dengan PO atau Purchase Order, yaitu surat perintah pembelian. Entah bagaimana awalnya di olshop kok jadinya "pe a pe o" di media sosial dan chat setiap akan memesan produk made to order alias produk yang dibuat karena ada yang pesan.

Sistem pembayaran itu agak tricky. Kalau minta dikirim dulu, pemilik produk banyak yang nggak mau. Kalau dibayar dulu takutnya nggak beres. Sebaiknya, kalau sudah mantap dengan pemilik produk tertentu, cobalah pesan, meski produk termurah. Perhatikan bagaimana pelayanan mereka dan kualitas produk sampai di alamat. Karena banyak juga pemilik produk yang menipu. 
Kalau pelayanan dan produk prima, barulah melakukan pendekatan untuk menjadi dropshipper. Setelah itu mulailah menerima pesanan dengan jumlah terbatas dulu sambil melakukan adaptasi. Kalau sudah mendapatkan sinergi yang baik dengan pemilik barang, barulah menerima pesanan dalam jumlah banyak. Untuk pesanan jumlah banyak, Ladaka menerapkan DP 60% dan sisanya harus dilunasi sebelum pengiriman. Pemilik produk lain mungkin menerapkan hal yang berbeda. Agar tidak cemas, mintalah foto progres produk tersebut. Dan bayarlah hanya jika ada bukti foto bahwa produk tersebut sudah siap kirim. 

Sebenarnya jika hubungan dengan pemilik produk baik dan track of record dropshipper bagus, bisa cincailah. Hahaaa....


2. PENDEKATAN YANG SOPAN

Misalnya teman-teman menjadi pemilik produk, ujug-ujug ada seseorang tak dikenal menghubungi dan bilang, "Sis, minta daftar harga resellernya dong, aku mau bantu jualin ke teman-temanku."

Terus terang saja ya, hal seperti itu sering diobrolkan oleh teman-teman pemilik produk. Hanya saja mereka terlalu sibuk bekerja, nggak kebanyakan ngomong di blog seperti saya. Anggap saja ini meneruskan curhatan hati mereka. Saking banyaknya model yang seperti itu, mereka hanya ngobrolin saja, nggak sempat baper karena sudah harus bekerja keras lagi. Kalau diobrolkan satu-satu mah bisa bikin daily curhatan pakai warna warni status facebook yang gonjreng nonjok mata itu.

Setahu saya, nggak banyak pemilik produk yang mau begitu saja memberikan daftar harga reseller pada orang yang tak dikenal. Kalau daftar harga jual sih biasanya malah sudah dipampangin dimana-mana. Rata-rata teman-teman saya para pemilik produk kerajinan itu sederhana tapi jangan meremehkan. Kalau dalam sebulan mereka bisa menjual berpaket-paket kerajinan, mereka tidak butuh seseorang yang memegang daftar harga reseller tapi hanya mampu menjualkan 1-2 pieces. Mau untung darimana? Karena kalau harga reseller itu berarti mereka memotong marjin sendiri untuk dibagi dengan dropshipper, berharap dropshipper menutupnya dengan volume penjualan. Bahkan tak sedikit dropshipper yang mengumpulkan daftar harga reseller hanya untuk perbandingan dengan pemilik produk lain agar mendapatkan marjin paling besar.

Bisnis memang kejam tapi sebaiknya kita bukan jadi orang kejamnya. Pada waktu saya masih menjadi dropshipper, saya tidak akan memesan produk yang didesaign A pada B meski saya bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak di B. Saya bisa saja meminta B membuat produk yang sama dengan harga B, tapi itu tidak pernah saya lakukan. Hubungan saya dengan mereka tetap baik sampai sekarang meski lama tak pesan lagi. Bahkan ketika saya berangkat ke Inacraft, saya mendapat pinjaman banyak sekali produk mereka untuk menambah yang sudah ada, yang boleh dibayar sepulang saya dari pameran. Modalnya hanya percaya saja.

Jadi, dalam mendekati pemilik produk, perkenalkan diri dengan baik. Informasikan nama, kota domisili dan niat untuk menjadi dropshipper. Lebih baik lagi jika sudah browsing lebih dahulu tentang produk tersebut, minimal sudah tahu kota produksinya dan produk apa saja yang bisa dibuat. Contoh yang tidak mau riset dulu adalah beberapa orang mengira Ladaka diproduksi di Jakarta, padahal di semua publikasinya sudah tertulis Yogyakarta. Kalau konsumen biasa sih bisa diterima ketidakcermatan tersebut, tapi jika itu dilakukan oleh seseorang yang berniat menjadi dropshipper, wah si pemilik produk sudah membayangkan ribetnya berurusan dengan dropshipper yang nggak update.

3. PERANGKAT DAN APLIKASI WAJIB

Menjadi dropshipper berarti bermain di ranah internet. Jadi, wajib punya smartphone dan paket internetnya. Syukur punya laptop dan kamera memadai. Tapi smartphone saja sudah cukup.

Smartphone tersebut digunakan untuk:

  • Komunikasi langsung melalui Whatsapp (WA), LINE atau Telegram, tergantung dimana kantung konsumen produk tersebut. Misalnya jika kebanyakan pelanggan adalah remaja, biasanya mereka ngumpul di LINE. Kalau ibu-ibu lebih nyaman berkomunikasi via WA. Soal apakah dropshipper mau ditelpon atau tidak, bisa disesuaikan dengan keadaan. Misalnya untuk Ladaka, saya hanya mau ditelpon jika sudah deal. Maksudnya adalah agar semua jawaban saya terketik untuk menghindari kekeliruan atau tertukar dengan pelanggan lain. Kalau email bagaimana ya? Heheheee.... Selama ini Ladaka olshop nggak lebih dari bilangan jari dalam mengirim invoice resmi melalui email. Semua minta dilakukan via chat, termasuk foto atau download lembar tagihan diatas 10 juta.
  • Membuat etalase di internet, seperti website, instagram, facebook dan sebagainya tergantung dimana kantung konsumen produk tersebut terdapat. Sebaiknya gunakan akun terpisah dengan akun pribadi walaupun akun pribadi sering share. Keuntungan akun terpisah adalah teman-teman pribadi nggak bete melihat dropshipper yang promo terus-menerus, dokumentasi lebih rapi dan sebagai branding produk. Memangnya nggak pengin suatu saat bisa punya usaha yang lebih mapan, tidak hanya menjadi perantara saja? Rintislah branding produknya sejak masih menjadi dropshipper. Ini tidak berlaku bagi dropshipper produk yang sudah bermerk. Soal penggunaan akun pribadi, pernah dapat curhatan teman dropshipper yang entah bagaimana bisa tahu bahwa beberapa temannya mute akunnya. Ya, memang bisa saja teman kita tidak berkurang karena sungkan. Tapi kalau di-mute atau kalau di facebook di-unfollow, what's the point?
  • Download aplikasi pendukung seperti edit foto, bikin banner dan rate kurir. Pilih kurir yang punya sistem track bagus berhubung dropshipper bisa saja tidak sekota dengan tempat produksi. Yang lebih krusial adalah kurir tersebut mudah dihubungi dan responsif. Ada dong kurir yang telponnya tidak diangkat ketika dihubungi padahal sudah mendesak. Dan seringnya jika ada masalah keterlambatan pengiriman, justru pengirim yang diminta cek ke kantor asal, bukannya mereka yang cek sendiri ke rekan-rekan mereka. Kan itu tidak mungkin kalau dropshipper beda kota dengan pengirim. Kurir-kurir seperti itu tidak usah dipakai. Memang sih bisa saja ngarep pemilik produk yang follow up kurir, tapi kalau mau cepat ya harus mau handle sendiri.


4. PENENTUAN HARGA

Jika masih ragu dan ingin belajar dulu menjadi dropshipper, pilih produk yang sudah memiliki brand dan dengan harga fixed. Contoh, menjadi dropshipper produk merk Mawar. Merk Mawar sudah menyediakan foto (dengan logo Mawar) dan harga yang diketahui konsumen. Keuntungan dropshipper tetap, misalnya 5% dari harga jual. Tinggal kejar volume penjualan jika ingin untung banyak. Jenis dropshipper seperti ini tidak perlu terlalu banyak pendekatan karena biasanya pemilik produk memang membutuhkan sebanyak mungkin dropshipper, tak peduli sudah berpengalaman atau belum. Mereka menetapkan aturan sama untuk semua dropshipper agar pengelolaan mudah. Tapi sebagai penghargaan, mereka kerap memberikan bonus atau hadiah pada dropshipper beromset tinggi.

Jika tidak ada sistem harga tetap, ya jangan pula menaikkan harga seenaknya. Lihat kualitas produk dan saingan. Jika kualitas produk meyakinkan, harus yakin dengan harga yang telah ditetapkan meski banyak dropshipper dari pemilik produk yang sama.

Saya pernah menjadi dropshipper dari 3 pemilik produk dengan jenis yang sama. 2 pemilik produk merupakan teman sendiri, sedangkan 1 lagi sengaja saya cari karena melihat harga di pasaran yang murah. Setelah saya jejerkan (saya selalu membeli sample), saya baru menyadari bahwa ono rego ono rupo, ada harga ada kualitas. Tapi bagaimana membuat konsumen paham tanpa mengurangi kesempatan yang saya berikan kepada 3 pemilik produk tersebut? Lalu saya buat 3 sebutan yaitu regular untuk yang paling murah, special untuk yang harganya menengah dan exclusive untuk yang paling mahal. Tapi kemudian saya terpaksa menghentikan produk regular karena produk termurah tersebut membuat saya menerima banyak komplen terkait dengan kualitas. Pelanggan mengirimkan foto-foto produk yang tersebut dan saya langsung mengelus dada. Seperti itu kok dikirim? Tapi dropshipper kan tidak bisa mengawasi pengiriman? Akhirnya saya bertahan dengan harga yang agak tinggi tapi kualitas terjamin.

5. SIAP MENTAL

Memang benar, resiko menjadi dropshipper itu kecil tapi bukan berarti tak ada. Dropshipper tidak punya kontrol terhadap beberapa hal penting, terutama kualitas produk dan pengiriman.

Contoh 1, konsumen A melakukan pemesanan. Ketika dropshipper melakukan perintah pengiriman pada pemilik produk, ternyata produk tersebut telah habis dan pemilik produk belum sempat memberikan update. Dropshipper harus melakukan renegosiasi dengan A, apakah pesanan batal dan uang dikembalikan ataukah mau menunggu produksi? Kadang ini menjadi masalah sepele kalau konsumen memaklumi. Tapi kalau ketiban konsumen sedang PMS, bisa-bisa dropshipper malah dibilang bikin repot aja. Heheheee....

Contoh 2, konsumen B komplen barang rusak ketika diterima. Dropshipper meneruskannya ke pemilik produk supaya diganti. Pemilik produk menolak karena yakin sudah mengirim barang yang bagus. Haruskah dropshipper menyalahkan kurir? Ini akan jadi proses penyelesaian yang mengesalkan. Harus bersabar agar bisa diselesaikan.

Banyak dropshipper yang tidak siap mental dengan berbagai kemungkinan dan tidak kreatif mencari alternatif penyelesaian. Yang dilakukannya hanya marah-marah ke pemilik produk via telepon. Apakah masalah bisa selesai dengan marah-marah? Mungkin bisa, mungkin tidak. Tapi yang jelas hubungan dengan pemilik produk jadi tidak nyaman. Kalau pemilik produk yang salah, masa tidak boleh marah-marah? Salah itu ada 2, karena ketidaksengajaan dan karena etos kerjanya tidak baik. Jika tidak sengaja, ikutlah mencari solusi. Di waktu lain, ketika dropshipper yang mendapat masalah, percayalah pemilik produk akan habis-habisan membantu. Tapi jika etos kerjanya yang tidak baik, sebaiknya tinggalkan saja pemilik produk tersebut dan cari gantinya.

Nah sudah panjang dan saya ngantuk. Semoga bermanfaat ya. Diatas bukan teori para pakar atau pengalaman konglomerat, melainkan hasil ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman pemilik produk kerajinan.

Disclaimer, ini adalah artikel murni berbagi, Ladaka tidak sedang mencari dropshipper.



18 comments:

  1. iya mbak, saya berencana untuk menjadi dropship, cuma mental saya belum siap. akan tetapi akan saya coba dengan hal yang sudah di ulas diatas. makasih mbak

    ReplyDelete
  2. aku inget nih jaman aku lagi suka-sukanya pake sepatu crocs... jadi ceritanya aku beli sepatu ama penjual A di jakarta (sengaja milih yang tinggal satu kota agar ongkir nggak mahal tadinya). Terus, pas aku tanya ongkir, alhamdulillah krn jabodetabek jadi free ongkir. Tapi pas barangnya dah datang ternyata sepatunya kekecilan gitu, dan karena sejak awal aku emang konsul ke penjual bahwa aku gak tau ukuran kakiku apa jadi sama dia dikasi saran nomor yang ternyata kekecilan itu. jadi aku kontak deh ke penjualnya. Sama dia disuruh baliki ke agen dia diii..... surabaya. Waa... tapi kan sayang kalo gak dituker gak bisa dipake. Jadi aku tuker ke surabaya... terus dari sana, mereka minta ongkir buat kirim balik ke jakarta lagi. Waa... aku kena double ongkir surabaya -jakarta, jakarta- surabaya... huhuhuhu... sejak itu kalo mo beli barang lagi aku selalu tanya, ini doorship atau punya sendiri? kalo doorship aku pingin tau dimana letak pengirimannya karna takutnya harus dituker dan aku nggak mau kena mahal ongkirnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah juga tu beli dompet, sudah deal tapi pas dikasih tau ongkirnya kok beda dg kota penjualnya. Jadinya lebih mahal deh dr perkiraan heheee. Sebaiknya sih yg dicantumkan bukan kota dropshippernya tapi kota asal pengiriman.

      Delete
  3. Menarik sekali mbak Lusi. Mungkin saya lebih memilih jadi reseller daripada dropshipper, karena meskipun lebih rumit tapi kita tahu secara langsung kualitas barang yang akan kita kirim ke konsumen. Sehingga apabila terjadi komplain kita tahu dimana letak kesalahannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akupun mbak. Nggak mantap kalau ngecek sendiri sebelum dikirim ya.

      Delete
  4. nah ini yang harus di pelajari betul sebagai dropshipper pemula. makasih mba sudah berbagi ya. kebetulan saya baru mau mulai dropshipper

    ReplyDelete
  5. Mak Lus, saya sering jadi dropshiper. Apa yg ditulis Mak Lus bener semua. Yg paling bete nunggu respon dari supplier cz pembeli nanyain mulu. Pengen ngilang kalo suasananya kayak gini. Hehehe.

    ReplyDelete
  6. Aku juga pernah dropshipper alhamdulilah lancar jaya untungnya juga lumayan tapi sayang produknya susah dijual ahahha akhrinya ya ga lagi deh

    ReplyDelete
  7. dulu waktu olshop-an pernah juga ngedropship gini, tp memanga ada aja kasus konsumen komplain karen abrang beda photo dg aslinya, krn gak lihata slinya kita suka merasa bersalah. jd kt harus bener pilih distributor/produsen yg bagus

    ReplyDelete
  8. Wahh aku banget ni mba, sekarang jadi marketing beberapa perusahaan buku direct selling, dan memang ada tantangan tersendiri buat jadi dropshipper, kita harus kenal betul produk yang kita jual ya..

    ReplyDelete
  9. kalau dikampung belum ada dropshipper gan! sy baru tahu istilah dropsiper

    ReplyDelete
  10. jadi inget masa kuliah dulu. ada barang bagus bawannya pengen dijualin juga. hehhe. nice review btw :)

    elisabethgultom.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  11. Wah baru tahu nih hihu, tfs ya Mbak salam kenal^^

    ReplyDelete
  12. Waktu pertama kali jualan online, saya jadi dropshiper. Ada suka dukanya. Salah satu sukanya karena gak perlu nyetok. Tapi dukanya kalau ada komplen karena bener banget sebagai dropshiper kita gak punya kontrol penuh terhadap barang. Deg-degan tiap kali nunggu testimoni dari pembeli :D

    ReplyDelete
  13. Bagus sekali artikelnya,,
    Dari dulu suka.coba2, bnyk nemuin kendala. Dan akhirnya ganti2 pruduk.
    Stelah baca ini jadi pngen coba lagi..

    ReplyDelete
  14. saya masih baru belajar jadi dropshiperm meski barang yang dujual masih kecil-kecil..

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.