Wednesday, September 27, 2017

Belajar Macrame Untuk Menghias Sandal Jepit

Belajar macrame atau makram atau makrame ini sudah beberapa waktu lalu sih tapi harus antri untuk diblog. Hehehee... sok sibuk banget ya?

Pic from google search.
Selain belajar DIY (Do It Yourself) dan craft dari internet, baik melalui website, blog, youtube dan pinterest, saya juga belajar dengan para mentor secara langsung. Kalau di instagram, saya suka eksplor untuk melihat ide-ide yang sudah tersebar. Sayangnya tutorial di IG tidak sebanyak di media lain.

Belajar langsung dengan mentor itu butuh usaha karena harus keluar rumah, menempuh perjalanan dan sabar. Agar mendapatkan kelas yang murah, kalau perlu juga gratis, saya memang ikut beberapa komunitas dan rajin melihat banner event di akun-akun medsos lokal. 

Di komunitas itu banyak ragam tingkat ketrampilan dan kebutuhannya, jadi kudu sabar saja mengikuti ritmenya. Kadang kita harus menunggu yang kurang terampil, kadang kita yang harus ngos-ngosan mengikutinya. Yang jelas, semua anggota sudah punya minat yang sama. Kita juga harus keluar uang untuk penyelenggaraan workshop karena sifat komunitas yang non komersil jadi tidak punya dana. 

Sedangkan banner yang tersebar di medsos yang kebanyakan merupakan program instansi atau asosiasi, seringkali gratis karena didanai oleh anggaran pemerintah atau instansi yang bersangkutan.

macrame sandal jepit
Perlengkapan membuat macrame sandal jepit. 
Sebenarnya saya ikut workshop macrame ini karena kebetulan lagi tidak ada kegiatan dan pengin menambah pengetahuan tentang craft. Setelah ikut, barulah saya paham bahwa macrame pernah sangat ngetop sebagai gantungan pot karena ibu saya dulu juga membuatnya. Setelah saya cek di internet, ternyata macrame ini bisa diaplikasikan ke berbagai aksesoris. Kalau di negara barat, macrame banyak digunakan untuk hiasan kaki (bukan sandal jepit) dan scarf tapi untuk aksen saja. Mereka memadukannya dengan gaya bohemian atau boho dan shabby.

Kalau melihat foto-foto macrame orang barat di internet lalu dibandingkan dengan macrame di sandal jepit atau pot gantung kita memang bikin minder sih. Heheheee.... Macrame mereka tampak elegan sekali. Suatu hari nanti pengin bikin seperti yang difoto paling atas itu.

Menurut saya, macrame itu seni tali temali. Jadi bertumpu pada ketrampilan tangan. Teknik tali temalinya ada yang mirip merajut dan ada yang persis dengan tali pramuka. Jika teman-teman pertama kali belajar macrame, gunakan 2 warna benang agar lebih mudah mengikuti mentor dan bisa dipelajari lagi dirumah. Kemarin saya menggunakan satu warna sehingga sering kehilangan jejak mana yang harus kekiri dan mana yang harus kekanan. Lebih bagus juga jangan menggunakan sandal jepit seperti punya saya, melainkan yang full color. Tidak perlu bermerk yang mahal sih, karena sandal yang ada tulisan Jogja itu harganya cuma Rp 10.000,-.

Kunci menguasai macrame ini adalah repetisi, terus-menerus berlatih. Begitu kita sudah mendapatkan ritmenya, cepet banget selesai deh. Itu tergantung juga dengan daya tangkap kita sih. Sebelah saya bisa dengan cepat menangkap gerakan mentor. Sementara saya harus merenunginya agak lama dirumah, membongkar pasang temalinya, sampai kemudian menemukan ritme saya sendiri.

Yup, saya memang tidak bisa menyelesaikannya di workshop padahal itu teknik paling mudah, kata mentornya. Ini adalah bagian dari dinamika belajar bersama yang harus kita maklumi, tak boleh membuat kita kapok meski kesal. Karena kalau kapok, kita yang rugi, nggak pinter-pinter.

Jadi ceritanya, ada anggota yang datang terlambat. Sudah begitu, mereka duduk dekat mentor dan mendominasi mentornya. Padahal kami (yang datang tepat waktu) sudah berjalan beberapa langkah. Akibatnya mentor mundur dari awal lagi menjelaskan pada yang terlambat satu per satu, bukannya yang terlambat dikumpulkan saja jadi satu. Sementara yang datang tepat waktu dan duduk agak jauh dari mentor jadi kurang perhatian. 

Mentor sendiri tampaknya tidak memiliki cara mengajar yang mantap karena kami tidak bisa melihat gerakan tangannya. Tali diletakkan di pangkuannya. Beliau juga tidak mengajak peserta mengikuti langkahnya, melainkan sibuk melayani peserta didekatnya (yang pada terlambat tadi). Padahal beliau seorang diri. Habislah waktunya. 

Meski begitu, saya beruntung duduk bersebelahan dengan mbak Qoulan yang cepat sekali menerima pelajaran. Bahkan beliau yang menyarankan saya menggunakan jempol kaki untuk menahan benang supaya lebih mudah mengaitkannya. Kalau di youtube itu pakai penjepit tali. Sehari-hari mbak Qoulan memiliki usaha dibidang rajut-merajut. Sama seperti saya, beliau ada disana untuk menambah pengetahuan. Meski tak selesai, berkat beliau, saya bisa melanjutkannya dirumah.

macrame sandal jepit
Buatan saya. Bagus, nggak?

Tips bagi teman-teman yang ingin belajar berkelompok atau workshop craft seperti itu:

1. Jangan terlambat karena akan merugikan peserta lain dan bikin peserta lain kesal.

2. Kalau harus terlambat, karena manusia itu tidak punya kendali atas nasib, jangan ketawa-ketiwi saja. Kita tidak tahu goal tiap orang karena mungkin saja ada yang benar-benar serius belajar untuk persiapan usahanya. Jangan suka menggampangkan situasi. Minta maaflah pada semua peserta lalu diam dan ikuti arus, jangan rewel minta mentor mengulang karena itu berarti membuang waktu peserta lain. Pada waktunya mentor akan menyempatkan diri mengecek apakah semua peserta bisa mengikuti. Tapi jika mentor tidak melakukannya, itu hak beliau. Makanya jangan terlambat.

3. Persiapkan alat sesuai dengan yang sudah diberitahukan. Kemarin itu bahkan ada yang belum membawa sandal sehingga harus pergi lagi untuk membelinya. Jika terpaksa meminjam peralatan orang lain, jangan lupa minta ijin dan kembalikan ke pemiliknya sesegera mungkin karena dia membawa alat tersebut untuk digunakannya.

4. Jika teman-teman termasuk lemot menangkap pelajaran seperti saya, siapkan kamera ponsel, lalu rekam gerakan peserta lain yang lebih terampil.

5. Jika mentor seorang diri, cepat-cepat cari tempat duduk sedekat mungkin dengan mentor. Jika sudah keduluan, cari teman yang kira-kira cepat menangkap pelajaran.

6. Ini workshop, bedakan dengan kopdar. Jadi yang penting bukan foto-foto melainkan benar-benar bisa menguasai pelajarannya. Jika panitia sibuk mengambil foto, itu wajar karena untuk dokumentasi dan promosi.

7. Meski workshop, menambah networking tetap penting. Jangan lupa bertukar nomor ponsel. Senang sekali kemarin saya mendapat kenalan seorang ibu perajut yang sudah berpengalaman mencari informasi program-program pemerintah daerah serta seorang ibu yang berbisnis sepatu rajut yang hasil karyanya khas dan keren banget.

8. Sesampainya dirumah, buka internet lalu pelajari sendiri teknik dan pengembangan desainnya.

Meski di internet hampir semua pengetahuan bisa diperoleh tapi saya sangat suka ikut workshop karena semangatnya beda. Paling tidak kuasai teknik termudahnya dulu dengan mentor langsung. Gregetnya akan tetap terasa ketika kita browsing mencari tutorial online-nya.


7 comments:

  1. Aq ingat belajar macrame ini waktu smp, eh skrg booming lg, jd pgn ikutan workshop jg biar inget lagi cara2nya... Sandal jepitnya naik kelas yah mbak sesudah dgn macrame... Xixixi

    ReplyDelete
  2. Aih penasaran pengen mencova nih mba. Kayaknya pas juga buat anakku yang suka kreatif seperti ini mba

    ReplyDelete
  3. Ah ya, itu dia kelakuan menyebalkan yang biasa kita temui dalam mengikuti workshop. Kenapa siih mba Lusi gak protes aja sambil mengangkat gunting dan senjata lem panasnya disertai mata melotot ke arah yang terlambat itu.
    Aku belum pernah ikutan workshop macrame, masih fokus sama crochet yang benang-benang katunnya semakin mencuri perhatian.* di IG cewek2 Jepang.
    Kayaknya kepengen juga ikutan workshop macrame untuk dibuat pot gantung. Oh ya ngomong2 soal pot gantung , sudah pernah liat kokedama yang sekarang lagi heits sebagai hiasan interior?

    ReplyDelete
  4. Aku ketinggalan jaman kayanya deh. Tau istilah makrame baru kemarin2 karena temenku ada yg usaha bikin DIY makrame. Ternyata udag booming dari dulu ya? Mkasih sharingnya ya mak

    ReplyDelete
  5. dulu saya pernah belajar saat SMA , sekarang sdh lupa

    ReplyDelete
  6. Kebayang serunya kumpul bareng mentor dan peserta lain terus langsung beajar ilmu baru.. I am really into craft mba, tapi waktunya ngg lapaaang ;(

    ReplyDelete
  7. Kamu mirip mamaku yg seneng ikutan workshop kerajinan gini mba :) .. Banyak tuh hasil karya mama di rumah. Sayangnya telatennya mama mempeljari DIY gini ga nurun ke kita anak2nya :D. Lgs ga sabaran mempelajari tekniknya -_-. Pdhl kdg kalo liat orang2 yg membuat kerajinan gini, aku nya udh semangat di awal utk ikut belajar :p

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.