Wednesday, October 04, 2017

Social Experiment Dengan Jilbab Tsunami

Jilbab tsunami adalah istilah lama untuk salah satu jenis jilbab instan. Jilbab instan jaman sekarang bagus-bagus, bahkan ada yang modelnya sangat keren untuk dipakai ke pesta.

Foto: www.grosircimahi.com

Jilbab tsunami yang saya maksudkan ini lebih merujuk ke jilbab instan yang dipakai sehari-hari untuk ke tetangga, ke warung atau antar jemput sekolah tanpa harus turun dari kendaraan. Jilbab yang bakal kita samber begitu saja sambil berlari keluar rumah untuk suatu kegiatan. Modelnya sederhana, tapi kalau tak pandai memilih, fatal juga akibatnya di wajah. Saya termasuk yang tak pandai memilih jilbab jenis ini. Makanya saya tak punya banyak. Kalau ada rencana ke rumah teman, kantor tertentu atau jalan-jalan ke mall, saya akan mengenakan jilbab jenis lain.

Meski tak punya banyak, nyatanya saya lebih sering menggunakan jilbab tsunami daripada jenis lain. Ini karena kegiatan saya tidak membuat saya banyak melakukan pertemuan resmi atau berada di tempat mewah, kecuali sedang ada event blogger. Tapi kadang tanpa rencana, saya terpaksa masuk mall atau perkantoran dengan tampilan buat belanja itu. Jika itu terjadi, saya harus bersiap untuk lebih bersabar karena ternyata jilbab tsunami tersebut membuat orang memperlakukan saya dengan cara yang berbeda.

Hari ini lain. Saya mengenakan jilbab tsunami termurah saya secara sadar dan berencana masuk ke supermarket kecil tapi ramai dan langsung menuju ke bagian kosmetik. Saya cuma berbedak tipis dan menggunakan lipstick termurah saya, tanpa eye liner ataupun blush on. Tampilan saya benar-benar seperti emak-emak yang hendak keluar masuk pasar becek.

Pertama-tama saya berjalan melewati semua outlet kosmetik. Nobody noticed! 

Lalu saya mendekat ke etalase dan melihat-lihat. Tak ada yang menyapa!

Okey, saya lanjutkan dengan bertanya. Saya katakan bahwa saya perlu lipstick yang nude, ringan dan tahan lama. SPG pertama memberikan warna muda tapi sama sekali bukan nude. Untuk membantunya memberi alternatif yang benar, saya katakan bahwa lipen itu bukan untuk saya, melainkan untuk kuliah anak saya. Dia kembali menyodorkan warna yang tidak sesuai. Saya berasumsi dia tak paham seperti apa suasana kuliah atau mungkin di kampusnya dulu wajar saja berdandan agak mencolok. Jadi, saya tinggalkan dia.

SPG kedua sama sekali tidak bangkit dari kursinya. Dia bertanya apa mau saya dari tempat duduknya. Saya deskripsikan persis seperti kepada SPG pertama. Dia berdiri. Kemudian dengan ajaibnya dia meminta saya memilih sendiri warna yang saya maui, baru kemudian dia akan mengambilkan testernya. Perlu diketahui, lipen berada dalam kemasan yang sulit diketahui warnanya. Saya harus mengangkat satu persatu untuk melihat swatch warna di tutupnya karena berada dalam etalase yang tinggi sejajar mata saya. Sedangkan tester berada jauh dibelakang lipen dalam kemasan tersebut. 

Secara acak, saya tunjuk satu warna. Dia menyodorkan sebuah lip cream yang... isinya sudah kosong atau kering. Saking terlalu menjiwai peran saya, saya sampai menggosokkan kuasnya ke tangan saya karena berpikir mungkin ini lipen gaya baru. Wkwkwkwk.... Tentu saja tak keluar warna apapun. Lalu saya menunjuk warna lain. Lagi-lagi dia melakukan hal yang sama, bahkan sambil memandang saya dengan aneh. Sayapun kesal lalu menunjukkan rasa kesal saya itu dengan nada tinggi, "Sudahlah!"

SPG tersebut terkejut dengan reaksi tak terduga saya. Dia mencuri-curi pandang mengikuti kepergian saya ke SPG ketiga. Di SPG ketiga saya mengubah strategi. Saya menduga, SPG kedua tadi menganggap tampilan saya tak cocok untuk membeli lipen yang sedang hits tersebut sekalipun saya katakan untuk anak saya. Kebetulan pula anak saya menyusul. Jadi, didepan SPG ketiga saya buka dengan mengungkapkan kekesalan saya pada SPG kedua tadi pada anak saya. "Dikira mamah nggak sanggup beli apa?"

SPG ketiga rupanya cepat tanggap bahwa dia nggak boleh sembarangan dengan emak-emak berjilbab tsunami ini. Dengan ramah, dia membuka semua tester dan mencobakan pilihan warna-warna nude ke punggung tangan saya. Sebagai hadiah atas kesadaran dia sebagai seorang SPG, saya membeli beberapa produk disana yang ternyata sedang diskon. Saya ngirit, SPG tersebut dapat poin. Sama-sama untung.

Seminggu sebelumnya, di sebuah outlet besar sebuah brand disebuah mall, saya membeli satu item yang nominalnya tak seberapa dibandingkan dengan di supermarket tadi. Tapi saya mendapatkan pelayanan bak istri raja minyak. Begitu pula ketika saya masuk ke bagian supermarket di mall tersebut. Saya disambut ramah begitu memasuki gerbang, dan mereka mengucapkan terima kasih meski saya meninggalkan tempat itu tanpa membawa belanjaan apapun.

Untuk apa sih saya bikin social experiment segala? Niat amat nyari bahan konten blog? Sebenarnya itu bukan sengaja untuk bahan blog, melainkan karena memang saya suka penasaran seperti itu. Kalau pada akhirnya jadi sebuah postingan, itu karena hasilnya kebalikan dari yang saya perkirakan. Saya mengira akan mendapatkan perlakukan kurang menyenangkan di outlet mewah atau di mall, bukan di supermarket kecil tadi.

Secara tak terduga saya mendapati bahwa di tingkat marjinal (supermarket kecil) harus lebih struggle karena masih banyak yang me-matching-kan tampilan kita dengan kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Jika tampilan kita remeh, orang punya kesempatan pula untuk meremehkan. Mereka masih menggunakan pemikiran sederhana berdasarkan yang tampak saja.

Sedangkan di tataran yang sering kita sebut hedon, ternyata justru lebih pragmatis. Tidak penting anda seperti apa, yang penting anda sanggup bayar. Kesadaran ekonomi mereka sudah tinggi.

Mungkin itu sebabnya yang susah tetap susah, yang kaya tambah kaya. Yang susah sering tertipu penampilan dan mengkotak-kotakkan kesempatan, sedangkan yang kaya selalu berusaha menggali lebih dalam dan terbuka untuk semua kemungkinan.

Hasil terpenting dari social experiment itu sebenarnya bukan untuk menunjukkan bahwa SPG yang satu kurang pelatihan dan motivasi jika dibandingkan dengan yang lain, melainkan apa yang bisa saya adopsi kedalam tingkah laku saya sendiri.

Saya mendapat pelajaran bahwa diremehin orang karena penampilan itu sangat menyakitkan, maka saya tidak boleh sekali-kali meremehkan orang lain seperti itu juga. Saya harus mengenal dulu orang-orang yang baru bertemu sebelum memastikan sikap saya terhadap mereka. Yang terakhir, saya harus menghargai semua pertemuan dengan semua orang sepanjang orang tersebut tidak berniat jahat, sekalipun tidak menghasilkan keuntungan ekonomi bagi saya.


23 comments:

  1. Dont judge book by its cover memang cuma mitos..
    Sampai saat ini, sya kalau mau belanja dimanapun musti dandan rapi. Rasanya jengkel, kerja susah cari duit, terus mau beli sesuatu yabg diinginkan tapi nggak dapat pelayani bagus,dikira nggak punya duit :D

    ReplyDelete
  2. Aq dari tadi kepo pic nya Mak Lusi pas pakai jilbab tsunami yang dimaksud, hehe. Tapi memang sih nyatanya pandangan pertama itu penting

    ReplyDelete
  3. Penasaran sama jilbab tsunaminya, wah kalo aku dulu hobi banget pake sendal jepit kmn, terus pas belanja baju anak di sebuah toko yg banyak barang brandednya nggak dipeduliinm pas lihat aku belanja banyak baru deh.,,,duh ilfil banget sama pdlayan kaya gitu

    ReplyDelete
  4. hahaha saya baru tahu ada istilah jilbab tsunami mbak, btw penampilan memang seringkali jadi "raja" kalau udah ngomongin public service di Indonesia, ditambah lagi ada istilah Jawa tentang Ajining diri soko busono .. bahwa orang dinilai dari pakaiannya, tapi bukan itu sih pointnya dari filosofi jawa .. but selamat ya mbak udak sukses bikin social experiment, next time pake video juga mbak lebih seru :D

    ReplyDelete
  5. Yaasih, aku pernah ngalamin juga kaya gitu. Dan betul juga, tempat yang keliatannya "mewah" dan tadinya kepikir bakal diremehin nyatanya malah bisa lebih merasa dihargai ketimbang tempat yang kita pikir awalnya, orangnya bakal ramah-ramah nih nyatanya.. yaa begitulah seperti si SPG kedua itu huhu

    ReplyDelete
  6. nahhh,,,aku sering kayak gitu mba. kadang pas ke mall pake baju ala anak2 ABG suka ga ditanggepin. giliran pake baju ala mba2 atau pake seragam...beuuh

    ReplyDelete
  7. Bener bingit mb lus, aku klo pke bergo dipandang remeh pas bli kosmetik dikira emak2, bulukan hohooo, trus dipanggile ba bu ba bu, #eh..
    sekalinya pke jilbab segiempat en dandan dikit baru deh pd menyat nglayanin wkwkkk

    ReplyDelete
  8. Betul banget Mak...wis sering ngalami itu. Jadi tau banget gaya SPG nyebelin itu seperti apa. Keren eksperimennya.

    ReplyDelete
  9. aq baru tahu kalau jilbab instan yg seperti itu istilahnya jilbab tsunami... hahaha
    tp bener sih mbak, aq juga kalo cm ke warung/supermarket sering pake jilbab begitu tp menurut aq mbak spg di supermarket sm di toko kosmetik itu beda loh perlakuannya, kl yg di supermarket wl pun penampilan kita sekadarnya mrk ttp ramah, nyapa atau bantu kalo kita perlu bantuan, tp kl spg kosmetik itu lbh srgnya aq temui kl kita kece br kita di ladenin gitu deh, tp kl tampilan emak2 dg jilbab tsunami kayanya mrk pikir spertinya si ibu ini cuma liat2 doang gak mo beli, jd mrk mls layanin..

    ini sih pengalaman aq aja yah mbak,, hehehe
    seru juga yah mbak social experiment begitu.

    ReplyDelete
  10. Tulisan yang menarik, Mbak. Kepikiran juga bikin social experience. Aku juga jadinya terus mengingat-ingat kalau ke toko atau supermarket dengan jilbab tsunami apa aja respon penjual atau SPG-nya. Sekali-kali boleh juga nih diadopsi social experience-nya.

    ReplyDelete
  11. Social experimennt nya bermanfaat mbak. Dan ya.. aku setuju. Untuk perlakuan berbeda di SPG itu benar banget. Kadang mereka ogah-ogahan. Kadang mereka sengaja terlihat lebih galak dan niat mengusir halus.
    Karena pnampilan ku seperti anak skolah yang ga mungkin beli. Padahal aku sudah bekerja. Diremehin duluan. Edan... bikin emosi.
    Tapi kemudian yaitu tadi... darisitu kesimpulanku sama dengan mbak.
    Btw, aku bukan sengaja nge-sosial experiment. Tapi ga sengaja social experiment beberapa kali.

    ReplyDelete
  12. Waaaa, makasih udah bikin tulisn ini mbaaa, aku jadi ngikik ngikik sekaligus dapat ilmu filsafat yang luaarrrr biasa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  13. kalau aku memang ga pernah pake bergo kalau keluar rumah. Kecuali angkat jemuran misalnya hahahaha. Alasannya sih sederhana kalau pakai bergo ngeplak di bagian dada hahahaha.
    Kalau dulu sering lo maklus muslimah yg jilbabnya lebar2 gitu dicuekin kalau mau beli kosmetik atau skincare mungkin mikirnya untuk apa gitu kali ya, tapi sejak trend hijab syar'i itu skincare menyasarnya mamah-mamah muda yg berhijab syar'i itu soalnya mereka kan modis2 ya. Tapi tetep aja kalau aku yang nanya SPG-nya sampai dua kali ngeliat aku :D. Kayak ga punya tampang bisa beli gitu kayaknya

    ReplyDelete
  14. Saya, sering. Mungkin krn wajah ndeso saya dan tampilan ala kadarnya. Heuheu

    ReplyDelete
  15. kalau aku nyebutnya bergo,, makenya simpel tinggal disarungin aja,,
    tapi ya itu jadi kaya ibu-ibu,,kadang aku suka combine pake daster,,,
    makin kaya ibu2 lah..dan kalau gak sengaja masuk mall atau supermarket,,
    sering banget gak dilayanin,,disangka orang gak punya,,

    beda dengan kalau kita penampilan rapi,,banyak yang layanin

    ReplyDelete
  16. Saya seriiing banget disepelekan ama SPG karena wajah dan penampilan biasa. Pernah ke mall ama pak suami, mampir ke elektronik, SPG-nya ngeliatin dari atas sampai bawah. Akhirnya males beli.

    Pernah juga pak suami pake kaos biasa cuma ditambah jaket kulit, kami masuk ke brand ternama, dilayani baik bgt. Padahal itu cm liat2 doang. Haha.

    ReplyDelete
  17. Saya pernah ngalamin. Kesel banget, sih. Kalau kebawa keselnya, saya suka jadi belanja hehehehe

    ReplyDelete
  18. nice sharing.

    Aku suka merhatiin dan mengalami, secara kendaraan yang dipakai merk sejuta umat, sering diremehin dibandingkan mereka yg naik mobil di atas 400 juta. padahal bisa jadi tips saya lebih besar krn mobil mahal kan disetirin pak sopir yang belum tentu mau kasih tips kecuali ada majikannya,:(

    ReplyDelete
  19. Sering mbak ketemu spg kosmetik yg nyebelin n liat penampilan pelanggan yg cuma pakai sendal jepit, dikira gak sanggup beli kali ya.

    ReplyDelete
  20. wah sy sih kalau keluar gak bisa kalau asalan saja, kl suami sih langusng cus saja

    ReplyDelete
  21. Di bank tempat aku kerja, sekali aja aku tau ada anak buahku yg melayani nasabah sembarangan, tidak mengikuti standard yg ditetapkan, dia bakal aku ksh SP. Kita pernah kedatangan nasabah, dengan baju kaos gombal, udah tua, dan menurut security bapaknya dtg naik sepeda. Bawa kresek pula. Tp anehnya si bapak lgs naik ke tempat nasabah prioritas. Dan ternyata dia memang nasabah premier kita. 1 bukti utk jd pelajaran semua staffku, jgn prnh remehin penampilan nasabah :)

    Btw, aku jg ga terlalu bnyk punya jilbab tsunami krn jrg ada yg cocok ama wajahku mba hahahahaha.. Kan ada tuh orang yg mau pake jilbab model apapun, cantik2 aja :p. Aku lgs ga cocok blass pake jilbab gitu

    ReplyDelete
  22. Lhoooo.. itu namanya jilbab tsunami ya mak? Punyaku malah dominan yang kayak gitu. Kemana2 pake itu... ke pasar, ke sekolah, ke acara blogger pun pernah pake, ke mall juga sering... Ditambah pake sandal gunung. Emang jarang dilirik wkwkwk

    ReplyDelete
  23. Kadang emang gitu :((( suka dilabellin pdhl kadang yg tadinya pengen beli jadi g pengen

    Ini echa mak lus ga login gmail xD

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.