Monday, December 04, 2017

Plus Minus Belanja Bahan Dan Alat Kerajinan Online Vs Offline

Jaman digital, mengapa belaja offline masih menjadi pilihan selain belanja onlineketika butuh bahan dan pernak-pernik kerajinan? Saya mau cerita pengalaman saya.

online vs offline


Hobi kerajinan itu membuat kebutuhan belanja bahan meningkat dan menjadi salah satu kegiatan utama selain proses pengerjaannya. Kalau kegiatan belanja terhambat, proses pengerjaannya pun terhambat. Kalau tidak ada deadline selesai, bikin malas bangkit dan mengerjakan lo ketika bahan tersebut sudah tersedia.

Belanja online dan offline punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak bisa digeneralisasi bahwa belanja online lebih praktis, nggak macet, nggak bingung parkir, bla bla bla. Jadi, belanja itu juga tergantung kebutuhan kita sebagai crafter, apakah demi hobi yang dinikmati sendiri ataukah sudah dijual juga.

Untuk hobi yang dinikmati sendiri, biasanya kita nggak mau ribet datang ke toko-toko. Cukup search instagram atau google. Tapi jika sudah dijual, tentu kita berpikir ekonomis juga agar dengan mutu yang sama bagus, harganya bersaing dengan produk serupa.

1. BELANJA BAGI PEMULA

Untuk pemula, saya sarankan belanja secara online saja. Biasanya pemula hanya meng-copy pola yang sudah ada. Jadi, semua bahan dan ukuran disamakan dengan tutorial. Kita tinggal search dengan kata kunci sesuai nama bahan atau alat tersebut, lalu mencocokan foto yang muncul dengan foto di tutorial. Di toko offline, itu butuh kesabaran karena banyaknya barang yang bertumpuk.
Perlu diingat bahwa mbak-mbak di toko bahan itu hanya karyawan, bukan crafter. Mereka tahu nama-nama bahan dan alat dari kebiasaan pembeli atau diberitahu bossnya. Karena jenis barang di toko itu umumnya sangat banyak, tak semua sudah mereka ketahui. Padahal seringkali ada perbedaan istilah antara komunitas crafter dan para pengrajin borongan yang biasa belanja ke toko-toko. Jadi, walaupun tokonya besar, bisa saja si mbak tidak tahu apa yang kita cari meskipun disitu ada.
Tipsnya, meskipun belanja offline, tetap tunjukkan foto di tutorial daripada menyebutkan nama benda tersebut.

2. VISUALISASIKAN KETERANGAN FOTO

Meski belanja online lebih mudah bagi pemula, tapi penting banget untuk memvisualisasikan keterangan foto berkaitan dengan ukuran. Saya pernah membeli tempat bobin yang saya sangka ukurannya cukup besar karena fotonya demikian. Ternyata ketika datang kecil saja, walaupun sudah besar berisi 25 bobin seperti yang disebutkan. Seandainya saya memvisualisasikan lebih dulu, saya akan membeli yang ukurannya lebih besar agar seragam ketika ditumpuk dengan wadah peralatan saya yang lain.
Begitu pula dengan tali, pita dan sejenisnya. Ambil meteran dirumah dan perhatikan ukurannya.
Teman-teman yang hobi bahan kain tentu memperhatikan bahwa pemilik olshop sering meletakkan uang logam di atas kain. Itu bukan untuk menghindari copas foto oleh maling digital melainkan usaha para pemilik olshop untuk membantu konsumen memvisualisasikan seberapa besar motif kainnya.

3. PAHAMI JENIS DAN FUNGSINYA

Saya pernah membeli plier (pembolong kulit) hanya karena teman di komunitas beli juga. Padahal yang saya cari adalah pembolong sekaligus untuk memasang mata sapi atau eyelets. Jelas keduanya beda dan sampai sekarang plier itu belum pernah saya gunakan. Sementara eyelets yang telanjur saya beli belum dipakai juga karena belum menemukan alat pemasang untuk eyelets selebar itu. Kebanyakan alat yang ada untuk eyelets ukuran sedang. Nah, buang-buang uang, kan?
Jadi, memahami fungsinya itu wajib. Setelah itu, lihat pula pilihan-pilihan alat dengan fungsi sejenis. Kadang ada satu peralatan yang bisa digunakan untuk beberapa fungsi (multifungsi atau universal). Lumayan kan, bisa ngirit.
Dengan memahami jenis dan fungsinya pula, kita bisa mengoreksi mbak toko jika memberikan bahan yang tidak sesuai dengan foto kita. Saya pernah menyodorkan foto pelapis kain pada mbak sebuah toko. Dia langsung yakin, oh trikot. Ternyata bahan itu sama sekali beda dengan foto, hanya sama-sama pelapis putih saja. Tapi tetap saya beli karena saya kurang paham dan masih ragu sama atau tidak. Sesampainya dirumah, saya amati memang benar-benar beda.

4. TOKO OFFLINE LEBIH MURAH?

Sebagian besar memang demikian. Ini karena item bahan dan alat kerajinan itu sangat banyak sehingga untuk olshop rumahan tidak mungkin bisa menyamai toko karena keterbatasan ruang. Untuk mencapai harga yang sama dengan toko, pemilik olshop harus membeli langsung dari distributor atau produsen dalam jumlah besar. Padahal kebanyakan pemilik olshop menggunakan rumah mereka seperti basis operasi usahanya. Yang terjadi, mereka membeli dari toko offline secara grosir, lalu mengemasnya lagi dalam bentuk eceran. Dengan marjin tak jauh dari harga toko, sistem eceran ini membuat mereka bisa untung kumulatif.
Bagi yang sudah intensif menjalani hobi seperti saya, tentu lebih menguntungkan jika belanja langsung ke toko offline. Macet, susah parkir, bensin dan uang parkir masih impas dengan jumlah pembelian dibandingkan dengan beli di toko offline ditambah ongkos kirim.
Sebenarnya, toko offline sudah mulai menerima pembelian dengan aplikasi ojek online. Sayangnya, fotonya tidak sebagus dan selengkap offline shop. Jadi, jadi opsi saya cuma dua, yaitu beli online dan offline. Belanja via ojek online belum menjadi pilihan saya. Mungkin nanti kalau ada order besar dan bahan kurang sehingga tinggal repeat order bahan yang sama, tidak perlu cuci mata dulu.
Untuk bahan dan alat yang tidak umum namun sering disebut di komunitas, lebih baik cari secara online saja. Ini karena crafter Indonesia sering berpatokan dengan tutorial dari luar negeri yang ada di youtube, pinterest maupun buku. Kadang teman-teman sendiri pemilik olshopnya, jadi mereka paham apa yang kita maksud. Sedangkan yang di toko offline umumnya untuk konsumsi pengrajin borongan. Begitu pula dengan motif-motif kain, yang ada di toko offline adalah yang paling laris di pasaran agar space mereka cepat kosong dan bertukar dengan motif baru. Karenanya, kalau ingin mencari motif unik, cari saja di olshop. Seringkali bahan di olshop itu impor atau sebaliknya diproses sendiri, contohnya kain shibori. Memang lebih mahal tapi jarang yang nyamain atau nggak pasaran.

5. BELANJA DI WAKTU YANG TEPAT

Seharusnya sih belanja di waktu kapan kita butuh ya. Tapi dunia memang tidak sempurna. Daripada pundung karena tidak bisa segera mengeksekusi rencana kita, lebih baik cermati waktu terbaik untuk belanja.
Untuk toko-toko offline, sebaiknya datang pagi. Kebanyakan toko bahan kerajinan buka lebih pagi dari toko biasa. Kalau toko biasa buka jam 10.00, toko kerajinan buka jam 08.00 atau jam 09.00. Ini karena mereka menyesuaikan dengan jam kerja pabrik atau home industry. Kalau jam 10.00 baru  mulai belanja dengan kemungkinan selesai jam 11.00, jam berapa karyawan mereka mulai kerja? Kesiangan, kan?
Semakin siang, toko akan semakin ramai karena ada saja orang yang bolak-balik beli ini itu karena stok di produksi kurang. Belum lagi para penghobi yang mulai berdatangan.
Untuk belanja online, biasanya ada periode khusus PO (Purchase Order) dan periode khusus diskon. Banyak olshop yang sesungguhnya tidak punya barang. Mungkin mereka tidak punya tempat atau modal tapi mereka punya jaringan untuk kulakan. Mereka mengumpulkan calon pembeli lebih dahulu, baru kulakan. Dengan kuantitas tersebut, mereka mendapat untung. 
Untuk crafter impulsif seperti saya, tidak punya kesabaran untuk melalui proses PO. Apalagi itu berarti proses panjang, dari nunggu masa PO habis, masa PO diproses dan proses saya sendiri berkarya. Untuk bahan yang benar-benar langka, misalnya olshop bahan kain dari Jepang, memang layak ditunggu sih. Bagus-bagus, baik mutu maupun coraknya. Begitu pula dengan batik tulis buatan teman saya yang jadi langganan para diplomat, cakep banget buat dijadikan tas.
Tapi sementara saya masih berkutat dengan bahan seadanya di sekitar. Ketrampilan saya belum sesuai untuk mengerjakan bahan yang langka dan mahal. Takut rusak. Bisa pusing menyisihkan uang belanja berbulan-bulan untuk mengganti kerugian bahannya.

Itulah pengalaman saya selama belanja bahan dan alat kerajinan online dan offline? Ceritain pengalaman teman-teman, dong.

8 comments:

  1. udah lama ga belanja bahan ngecraft. di gudang numpuk belanjaan yg belum diolah, haha.
    belanja online biasanya model yg aneh2 n ga ada di toko offline terdekat. mau murah ya ke toko offline yg jauh sekalian borong (tapi lebih sering males jalannya).

    pengen ikutin mak lusi yg rajin bebikinan. doakan daku segera dapat hidayah ya mak

    ReplyDelete
  2. udah lama banget euy nggak nge-craft. dulu sempat rajin bikin rajutan. belinya sih masih langsung ke tokonya. Kalau soal belanja apapun sebenarnya memang lebih puas belanja offline, mbak soalnya bisa lihat langsung barangnya. tapi sekarang saya malah mager banget buat ke pasar atau toko gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akupun lebih suka jualan offline lbh enak jelasinnya wkwkwkk

      Delete
  3. Pas lagi getol macrame kemarin hampir tiap hari ke Narwastu :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg dulu itu ya? Kirin cuma buat tugas sekolan Ajeng. Ternyata nyandu :))

      Delete
  4. Biasanya kalo beli bahan-bahan kerajinan, langsung beli di tokonya biar bisa melihat dan memegang barangnya secara langsung. Jadi langsung tau cocok atau enggak nya, sekaligus bisa liat2 barang lainnya lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, aku juga lebih suka datang langsung.

      Delete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.