Pengakuan Seorang Blogger Crafter, Benarkah Rumahnya Serapi Tipsnya?

Monday, May 21, 2018

craft corner


Artikel tentang pengakuan saya sebagai blogger crafter ini untuk menjawab rasa penasaran teman-teman baik saya yang sering berkunjung di blog beyourselfwoman. Perlu saya ingatkan lebih dulu kalau postingan ini bakal full curhat, tidak ada tutorial atau ide-ide baru. Heheheee....

Jadi, benarkah rumah blogger crafter tersebut serapi tipsnya? Jawab, "Tidaaaak...."

Sebenarnya, rasa penasaran itu sudah saya jawab di postingan-postingan lalu, tapi kok pengin blog beyourselfwoman ada artikel curhatnya juga. Biar kayak orang-orang. Jadi, ini sekalian meramu suka duka mengelola blog DIY dan craft.

Sebagai penghobi DIY dan craft, yang membuat saya semangat setiap hari adalah mewujudkan ide-ide didalam kepala, menjelajah internet untuk mencari inspirasi atau blusukan untuk mencari aspirasi. Saking banyaknya yang ingin diwujudkan, kadang tidak sempat bersih-bersih. Menyapu saja hanya jika ada kotoran yang tampak, tidak rutin setiap pagi atau sore. Kadang kalau benar-benar tidak punya tenaga, saya vacuum saja semuanya. Beres! Kalau kaki terasa ngeres, barulah saya ngepel.

Wiiih apa orang rumah nggak protes? Mereka orang aktif semua sih, jadi yang penting bisa istirahat tanpa gangguan saja di rumah. Heheheee....

Mungkin saya memberikan impresi yang salah karena sering posting DIY (Do It Yourself) tentang cara merapikan sesuatu di rumah sehingga teman-teman punya pemikiran kalau rumah saya pasti rapi. Berani memberi tips harus dipertanggungjawabkan dong? Padahal sebenarnya di sela-sela kegiatan tersebut, saya juga crafting. Jadi, di pojok sana saya merapikan tanaman, di pojok sini berantakan karena sedang menggunting kain atau busa. Begitu seterusnya. Jika sedang mendapat pesanan, pojok garden tak terurus, bahkan banyak tanaman yang mati. Jika sedang ada waktu, saya rapikan lagi pojok tersebut dan menjadi postingan baru.

For your information, saya tidak punya pembantu. Semua saya kerjakan sendiri dari mencabut rumput sampai mengecat pagar, dari setrika sampai ngosek kamar mandi. Bantuan dari orang rumah saya dapat sesekali saja kalau mereka sedang tidak ada kegiatan. Jadi, jelas saya harus memilih mana yang ingin saya kerjakan, bersih-bersih rumah atau bikin pouch. Alhamdulillah bahasanya masih "ingin", belum "harus".

Rumah saya jauh sekali dari tampilan rumah-rumah cantik para pecinta home decor di instagram. Tak ada waktu untuk menjaga agar setiap hari rumah cling. Boro-boro layak untuk difoto. Salah satu sudut rumah saya malah menyerupai bengkel. Bahkan ada rasa enggan untuk membeli perabotan baru karena perabotan lama saja jarang dijamah. Memang, perabotan rumah itu tidak sekedar fungsional tapi bisa juga menjadi estetika. Masalahnya, perabotan lama tidak ada yang ingin saya buang, sumbangkan dan jual, sehingga perabotan baru akan membuat rumah mungil saya sempit.

Lalu kemana hasil percobaan saya pergi? Tidak seperti produk pesanan, hasil percobaan saya memang tak layak jual. Namanya juga percobaan, belum rapi dan kadang juga tidak jelas fungsinya untuk apa. Tapi alhamdulillah saya punya anak-anak yang suka meminta hasil percobaan saya. Kok ya pasti ada gunanya. Wkwkwkwkk.... Kalau agak bagus, saya berikan ke teman-teman blogger.

Yang dari barang bekas bagaimana? Kalau yang dari barang bekas biasanya memang karena saya membutuhkannya. Jadi memang tidak mengejar estetika tapi lebih ke fungsinya. Karena itu jarang sekali saya berikan ke orang lain. Jika ternyata fungsinya tidak seperti yang saya harapkan, barulah saya berikan ke teman arisan saya, seorang pemulung atau ke tukang pengambil sampah warga yang juga penduduk sini.

Saya tinggal di kampung dimana anggota arisan warganya bermacam-macam, dari pejabat pertamina hingga pemulung. Beliau sering "membongkar" sampah di pagi hari. Daripada tempat sampah saya berantakan dan enggak tega juga melihat beliau memperlakukan sampahnya sebagai barang berharga, saya selalu mengumpulkan barang-barang berkas berharga di kresek tersendiri. Jadi beliau tinggal ambil saja. Barang-barang tersebut antara lain kardus, botol plastik dan kain. Meski saya memandang barang bekas itu sebagai bahan percobaan tapi saya menerapkan toleransi tertentu tentang berapa banyak dan berapa lama saya simpan. Diluar itu akan jadi jatah pemulung. Kalau tidak seperti itu, rumah saya bisa jadi pengepul barang bekas dong.

Belakangan memang ada wacana menata rumah. Saya ulangi, wacana. Ya, baru wacana. Ini karena progressnya tidak sesuai harapan saya. Butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk mengumpulkan meja dan peralatan craft dalam satu sudut. Penginnya sih kalau teman-teman main ke rumah saya untuk ngecraft atau ngeblog bareng, tidak perlu panik beres-beres. Selain itu, saya memang punya goal untuk memoncerkan channel craft saya di youtube. Ya Tuhan, berilah saya kekuatan untuk membuang rasa malas dan merelakan barang-barang nggak jelas yang membuat rumah berantakan.

Saya memang akan terus fokus di DIY dan craft. Belakangan saya sudah berhenti membahas orang, dari sisi manapun, baik pekerjaan, hobi, entertainment, gosip, karakter dan sebagainya. Kalau masih kadang-kadang keprucut, itu karena saya masih manusia biasa. Masih bisa hilang kendali. Tapi saya akan terus berusaha untuk fokus. Dunia maya sudah berkembang ke arah yang tak terbayangkan sebelumnya. Bicara sedikit dan tanpa maksud apa-apa tapi bisa tiba-tiba masuk framing pihak tertentu, entah menjadi ikon perjuangan mereka atau menjadi musuh bersama. Makanya paling aman memang ngrasani barang bekas, kain, mesin jahit, gunting, lem dan sejenisnya. Memang sih tetap ada dramanya karena kita tidak sepenuhnya terisolasi dari manusia lain, tapi setidaknya bisa meminimalkan.

Jadi begitu ya pengakuan saya. Kalau ada umur panjang datang ke rumah saya, jangan heran, jangan pula menuduh pembohongan publik. Hahahahaaa.... Tapi nyatanya saya memang bukan pecinta home decor melainkan pencipta home decor. Dengan kata lain, saya adalah tukang bagi teman-teman yang memesan produk saya. Tapi bisakah mencipta tanpa mencintai? Hmmm... ambigu loh ini. Bisa jadi pertanyaan lagi. Wkwkwkwk.... Okey dijawab sekarang saja. Saya juga mencintai home decor kok, tapi saya lagi butuh transferan, jadi saya lebih suka menciptanya saja.

You Might Also Like

6 comments

  1. Saya juga suka gitu mba nyimpan barang bekas karena mikirnya bisa dibikin craft apa gitu eh berbulan-bulan ternyata cuma niat tapi nggak terealisasi :(

    Mba setrong syekali mengerjakan semua sendiri.

    ReplyDelete
  2. "saya memang bukan pecinta home decor melainkan pencipta home " decor statement-nya udah jelas banget itu mbak lusi, kalau aq sebaliknya deh..

    ReplyDelete
  3. Rumahku asli lebih berantakan lagi deh. Nyapu pasti tiap hari ya, ngepel kadang seminggu sekali aja. Rumput aku biarin, ntar sebulan baru manggil bapak becak buat nyabut rumput di halaman hehe.

    ReplyDelete
  4. hahaha tenang aja mbaaa. aku mengerti bangeet...aku suka crafting walaupun selalu kehabisan waktu. Yang pasti selama di NYC aku pun ngerjain semua sendiri, berdua suami :)

    ReplyDelete
  5. Menjaga kebersihan rumah memang suatu tugas melelahkan juga ...

    ReplyDelete
  6. Rapi itu indah dipandang. Dan semrawut itu sangat menjengkelkan...

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.