Saturday, May 12, 2018

Mematahkan Mitos Seputar Kiranti Di Yoga Festival 2018 Yogyakarta



Pembaca setia blog beyourselfwoman yang mayoritas perempuan, pasti sudah pernah mendengar nama Kiranti. Sebagian malah mengkonsumsinya secara rutin ketika sedang datang bulan atau menstruasi, seperti saya. Kiranti dan haid seperti sudah menyatu, mengiringi masa pertumbuhan perempuan remaja dan dewasa Indonesia. Di Yoga Festival 2018, Prambanan, Yogyakarta, saya mendapatkan pencerahan bahwa Kiranti lebih dari itu.

YOGA FESTIVAL 2018

Senang sekali langit Jogja sore tadi cerah ditimpa semilir angin. Suasana tegang dan udara yang berdebu akibat letusan gunung Merapi sehari sebelumnya tidak berbekas lagi. Eh, masih ada bekasnya ding. Mobil saya masih bedakan karena belum sempat dicuci. Kondisi ini membuat Yoga Festival 2018 yang diselenggarakan Kiranti disambut antusias oleh Kaum Yogis (penggiat yoga). Bahkan karena kemarin adalah Jumat kejepit, yang berarti banyak yang cuti, peserta pun berdatangan dari kota lain. Peserta bisa ikut yoga sekalian berwisata ke Jogja.

Mengambil tempat di Candi Brahma, belakang Candi Prambanan, peserta bisa menikmati udara segar tanpa kepanasan karena masih banyak pohon. Candi Brahma bisa diakses dari pintu timur, tepatnya utara pintu masuk utama Candi Prambanan, sehingga tidak terganggu oleh padatnya pengunjung Prambanan di waktu long weekend tak resmi ini. Dengan membayar parkir Rp 10.000,- dan boleh keluar masuk beberapa kali asal bilang ke mas parkirnya, kita sudah bisa langsung masuk ke area yoga dan gegulingan di atas rumputnya yang terpelihara dengan baik.

Gerakan yoga saat menstruasi dari booklet Kiranti. Meski keterangan gambarnya tidak jelas tapi gerakannya cukup jelas, kan? Semoga bermanfaat. 

Saya datang ke Yoga Festival 2018 sebagai blogger, jadi tidak siap kostum yoga. Agak menyesal tidak membawa matras karena ternyata acaranya keren, enggak berat sampai kayang yang ajaib, bisa diikuti siapa pun juga. Peserta yang hadir bermacam-macam, ada laki-laki, perempuan, aktivis yoga, nenek-nenek, remaja dan sebagainya. Bagi yang ketinggalan, event ini sudah diadakan sejak tahun 2016 dan direncanakan menjadi ajang tahunan Kiranti. Semoga tahun depan ada lagi ya, jadi kita semua bisa ikut.

Beda dengan event lain, di Yoga Festival 2018 ini, blogger mendapat kesempatan khusus untuk wawancara langsung dengan bapak Harianus Zebua, Head of Corporate and Marketing Communication OT Group selaku produsen Kiranti. Jadi kami bebas bertanya. Biasanya blogger nebeng wartawan.

Saya bertanya, mengapa yoga yang dijadikan kegiatan utama Kiranti? Beliau mengatakan bahwa awal pemilihan yoga tersebut dilandasi dengan pemikiran sederhana saja, yaitu yoga adalah olahraga yang paling mungkin dilakukan oleh perempuan yang sedang datang bulan atau haid. Olahraga lain tetap bisa sih, tapi yoga bisa dilakukan oleh siapapun yang paling malas sekalipun. Penyakit perempuan sebelum haid itu biasanya marah-marah enggak jelas atau disebut PMS (Pre Menstruation). Sehari sebelum haid, badan pegal-pegal dan terasa sangat capek. Tapi ketika haid sedang terjadi, biasanya perempuan itu berubah menjadi malas minta ampun. Kondisi-kondisi tersebut bisa disalurkan melalui yoga, agar emosi lebih terkendali dan badan tetap bugar. 



Haid memang cuma 1/4 bagian dari satu bulan. Tapi di era modern ini, sehari saja terasa sayang sekali dilalui dengan kondisi emosi dan fisik yang tidak menentu.
KIRANTI DAN PEREMPUAN INDONESIA

Kebiasaan minum Kiranti untuk generasi saya sudah menurun ke anak-anak lo karena rata-rata perempuan seusia saya sudah punya anak remaja. Kiranti sendiri sudah ada sejak tahun 1999 atau sudah 23 tahun, dan mendapatkan Top Brand selama 9 tahun berturut-turut sejak tahun 2008. Apalagi jaman sekarang, haid pertama anak-anak makin maju. Usia sekolah dasar saja banyak yang sudah haid. Selama ini, kebanyakan kita minum Kiranti di hari pertama haid atau datang bulan, yaitu ketika perut dan mood sedang benar-benar enggak enak. Kiranti yang barusaja diambil dari kulkas itu adalah mood booster yang tidak ada tandingannya.

Pak Harianus tersenyum mendengar cerita kami. Kata beliau, Kiranti itu sebenarnya sama dengan jamu tradisional lainnya. Tapi memang ada banyak hal yang membedakannya sehingga Kiranti begitu melekat dengan perempuan Indonesia yang sedang haid. Misalnya rasanya yang persis dengan jamu tradisional tapi dalam kemasan yang lebih higienis, mudah dibawa dan mudah ditemukan di semua swalayan.

Kiranti adalah satu-satunya OHT (Obat Herbal Terstandar) untuk kategori minuman sehat wanita. Padahal dalam kondisi tubuh yang sulit dipahami oleh pemiliknya sendiri, keberadaan OHT menjadi sangat penting. Otomatis mereka akan langsung mencari Kiranti. Botol kaca yang berat tidak membuat Kiranti membebani pembeli karena tujuannya adalah untuk melindungi isi dari paparan matahari yang dapat menurunkan kualitasnya. Justru botol plastiklah yang membuat saya sering tidak jadi membeli jamu keliling. Saya selalu memilih penjual jamu keliling yang masih menggunakan botol kaca karena biasanya mereka mencuci botol tersebut dengan air panas. Saya sudah langsung khawatir melihat botol plastik bekas air mineral yang sedikit mleyok, apalagi disuruh meminum isinya. Sayang, penjual jamu dengan botol kaca sudah makin sedikit. Lagipula botolnya tebal kok, nggak mudah pecah.



Pak Harianus juga rasan-rasan kalau sebenarnya pengin mengajak blogger melihat pabrik Kiranti di Surabaya tapi belum ada kesempatan yang pas. Disana kita bisa melihat bagaimana bahan baku didatangkan dari petani atau pekebun setempat dan melewati berbagai proses sebelum siap dipasarkan. Semoga terlaksana, ya. Heheheee....

KIRANTI YANG SEBENARNYA

Minum Kiranti Datang Bulan pada hari pertama atau kedua haid sudah menjadi semacam mitos yang kita yakini akan menyelesaikan masalah kondisi tubuh yang tak menentu dalam sekejap. Padahal Kiranti bisa menjaga kebugaran kita sejak masa PMS, yaitu 3 hari sebelum haid dan mengembalikan stamina kita sampai 3 hari setelah haid. Pasti masalahnya haid nggak teratur atau malah tidak mencatat siklus haid, ya? Jadi enggak tahu deh kapan itu 3 hari sebelum haid. Tapi setelah menjadi wanita dewasa bertahun-tahun, kita pasti bisa merasa bahwa sedang berada dalam masa-masa PMS, kan?

Mitos lain adalah jamu itu pasti pahit, iyuuuh banget. Saya sendiri nggak masalah dengan Kiranti Original. Menurut saya, Kiranti Original itu segar sekali, terutama jika baru keluar dari kulkas. Padahal kalau sedang haid itu enaknya minum yang hangat agar perut nyaman. Tapi khusus Kiranti, lebih nikmat diminum ketika dingin. Masalahnya, orang kalau sudah enggak suka jamu, enggak bisa dipaksa. Karena itu, Kiranti mengalah dengan memproduksi Kiranti Orange. Sekali lagi, pada dasarnya ini sama dengan dengan kalau minum jamu tradisional yang diberi perasan jeruk nipis untuk menyamarkan rasa pahit. Jadi, Kiranti itu ada yang enggak pakai semburat pahit meski sebenarnya yang original pun sudah enggak terlalu pahit.



Mitos yang satu ini baru saya ketahui di Yoga Festival tersebut, yaitu ketika melihat peserta yoga laki-laki minum Kiranti. Ternyata mereka minum Kiranti Pegal Linu yang bisa diminum setiap hari. Jadi, tidak benar kalau Kiranti itu hanya untuk haid. Kiranti Pegal Linu memang kalah pamor dari Kiranti Datang Bulan tapi saya sudah mencicipinya. Rasanya segar semriwing karena ada jahenya. Pak Harianus menambahkan bahwa quality control staff di pabrik banyak yang laki-laki dan mereka harus mencoba rasanya tiap batch untuk memastikan sudah sesuai dengan resep produk. Jadi, enggak perlu tertawa kalau ada teman laki-laki ada yang nitip minta dibelikan Kiranti. Biasa waelah. Heheheee.... 

Info selengkapnya ada di www.diarykiranti.com.

Sore tadi saya sudahi dengan berjalan kesana kemari enggak jelas karena senang melihat padang rumput yang luas, beda dengan rumah saya yang gersang karena air PDAM mati sejak pagi. Tapi kemudian saya bertemu dengan teman blogger yang jalan bareng hingga parkiran. Mendadak saya jaga image. Hahaaa.... Satu hal yang sangat saya sesali dari event ini adalah saya lupa memotret matahari terbenam. Matahari yang tenggelam di seputar Prambanan ini sangat magis. Matahari segede tampah meluncur cepat di cakrawala dan menghilang sebelum saya sadar dan membuka kamera. Hadeeeh....

3 comments:

  1. He eh. Aku dah nyoba yang pegel linu..enak! Pedes2 semriwing gitu mba.. jahe+kencur sepertinya yang dominan..

    ReplyDelete
  2. Aku kemarin juga cobain kiranti pegel linu dan ternyata rasanya enak ya:)

    ReplyDelete
  3. Aaaakk, seru bangeeettt
    Aku kalo lagi mens sakjane juga pengin yoga, tapi gerakan2nya itu lho maaak, bikin pusing dan nafsu makan semakin menggila hehehehe
    Biasanya aku ganti pilates

    Btw, kenapa Kiranti ngga bikin event di Surabaya yak?

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.