Waspada Gunung Merapi, Rangkuman Informasi Untuk Warga Dan Pendatang

Wednesday, May 30, 2018

Sudah beberapa hari ini Gunung Merapi berada dalam status waspada setelah beberapa kali terjadi letusan freatik. 


taman bermain kaliurang dekat gunung merapi


Melalui artikel ini, saya mencoba merangkum informasi yang sudah tersebar di internet untuk bersama-sama warga dan pendatang memahami keadaan. Karena itu, mohon dimaklumi ya jika saya keluar sebentar dari niche DIY dan craft. Anggap saja sebagai sumbangan yang tak seberapa dibandingkan dengan teman-teman yang terjun langsung ikut #RondaMerapi tiap malam.

Seorang netizen yang juga anak kos berdoa di twitter, "Sabar ya Merapi, sebentar lagi ujian skripsi."

Lebay nggak sih itu? Menurut saya sama sekali tidak lebay. Letusan freatik saja abu dan pasirnya bisa menjangkau sekian jauh, bagaimana jika gunung Merapi benar-benar meletus secara magmatik? Meski teknologi sudah maju sehingga bisa meramalkan sebesar apa letusan magmatik yang akan terjadi, namun waktu letusan belum bisa diprediksi. Aliran lahar juga bisa diperkirakan tapi sejarah membuktikan bahwa Merapi bisa membuat jalan sendiri. Jika sebelumnya pemerintah membangun dam sabo besar-besaran di Kali Krasak, tapi pada letusan tahun 2010 lahar justru merusak jalan dan jembatan Kali Putih yang berada di utara Kali Krasak dan mengakibatkan jalur Jateng - DIY putus.


peringatan dini gunung berapi
Status Gunung Merapi per tanggal 29 Mei 2018 ini ada di level 2 (Waspada)

Jadi, daripada ngatain lebay, lebih baik kita bersama-sama memahami apa yang sedang terjadi sekalian mengecek kesiapan diri. Jangan-jangan kita sudah lengah. Kata mbah Rono kesayangan kita semua, aktivitas Merapi tidak bisa ditentukan. Yang bisa dilakukan oleh vulcanologist seperti beliau adalah menterjemahkan dan menyampaikan tanda-tanda yang telah diberikan oleh Merapi.

Warga Jogja lama bukannya tidak was-was dengan kondisi Merapi. Beberapa wawancara di media online menunjukkan bahwa warga lama masih trauma dengan letusan terakhir. Tapi warga Jogja lama sudah teruji dengan berbagai bencana besar, seperti gempa, puting beliung dan terbaru tahun ini adalah banjir. Jogja sudah merasakan pedihnya menghapus 6000 lebih nama dari daftar kependudukan karena tewas dalam gempa tahun 2006. Tapi dengan doa yang tak henti dipanjatkan dan sikap rendah  hati karena menyadari kuasa Ilahi, hidup terus berjalan. Jogja tetap penting, Jogja tetap ngangeni.

Bukti bahwa Jogja tetap penting adalah makin padat penduduknya. Kalau Merapi meletus, bagaimana? Orang-orang yang menghabiskan masa kecilnya di Jogja bercerita bagaimana dulu lelehan lava gunung Merapi justru menjadi tontonan. Jaman sekarang tentu sulit seperti itu karena selain terhalang apartemen, hotel dan baliho, penduduk yang padat akan merepotkan jika harus dilakukan evakuasi mendadak.

Namun dengan bantuan teknologi, para ahli dan pihak-pihak yang berkompeten berusaha menyampaikan informasi untuk mengurangi kebingungan warga menghadapi peningkatan status gunung Merapi.

1. SADAR POSISI

Misal kita baru pindah ke suatu kota dan mencari hunian, kita akan mencari wilayah yang hawanya enak dan tidak terlalu jauh dari kota yang sudah mahal tak terjangkau. Itulah sebabnya Sleman, menjadi wilayah idaman kedua setelah kota Jogja. Padahal disini pulalah letak gunung Merapi. Untuk itu BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) DIY membuat infografik Kawasan Rawan Bencana (KRB) berdasarkan Peraturan Bupati Sleman. 

kawasan rawan bencana gunung merapi


Beberapa universitas terkenal seperti UII berada di KRB. Otomatis disana banyak kos-kosan. Jadi teman-teman disana wajib follow akun BPBD DIY untuk mengikuti arahan. Untuk status waspada sekarang ini, warga di KRB III dilarang melakukan kegiatan sampai 3 km dari kawah.


aplikasi cek posisi terhadap gunung merapi

Teman-teman juga bisa cek posisi dari gunung Merapi secara live melalui aplikasi ini berdasarkan jarak di google map. Bagi teman-teman dari luar kota yang ingin berwisata bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut untuk memilih wilayah yang aman.

2. TAS SIAGA

Hasil dari pelatihan gempa 2006 adalah saya selalu siap tas berisi dompet, kunci mobil dan ponsel dengan flash light. Kunci rumah selalu terpasang. Bensin tidak boleh mepet dan ponsel selalu terisi baterai. Jadi, saya tidak peduli dengan kata pakar-pakar untuk mematikan ponsel ketika tidur. Jika tidak mau stress, ya jangan ngintip-ngintip ponsel, segera tidur saja.

Sejalan dengan makin baiknya penanganan bencana di Jogja, beberapa pihak membagikan infografik tas siaga yang lebih lengkap. Tas ini tidak hanya untuk menyelamatkan diri tapi juga siap untuk mengungsi pada hari-hari pertama karena bantuan logistik tidak bisa langsung datang. Pengiriman bantuan perlu persiapan lebih dahulu. Salah satu infografik tersebut adalah dari Tagana kota Yogyakarta ini.

tas siaga bencana gunung merapi


3. HORMATI KEARIFAN LOKAL

@Puthutea : Orang Yogya punya istilah khusus ketika Merapi meletus: Merapi nduwe gawe. Merapi punya hajat. Karena punya hajat, mereka harus menghormati dan memahaminya. Orang Yogya tidak menganggapnya sebagai bencana.

Cuitan tersebut setidaknya sebagai gambaran kepada para pendatang yang heran mengapa warga Yogya seperti tenang-tenang saja, tidak terpengaruh. Sementara mereka sudah heboh packing dan ditelpon saudara dari kota lain.

Sebenarnya warga lereng Merapi yang berhadapan langsung tidak tenang-tenang saja tapi juga tidak heboh berlebihan. Mereka berjaga tiap malam dan berusaha memahami Merapi melalui tanda-tanda alam, doa-doa dan berbagai ritual lainnya. Mereka sudah berada disana turun-temurun sehingga mereka titen, berusaha menyelaraskan apa yang terjadi sekarang dengan yang sudah terjadi berkali-kali dulu. Sementara BPPTKG bekerja profesional sesuai dengan keilmuannya tapi tetap merangkul masyarakat setempat untuk menyamakan pandangan mereka akan keadaan Merapi. Kerjasama antara warga sekitar, relawan dan BPPTKG menciptakan suasana yang waspada tapi tetap tenang.

Karena itu, jika teman-teman datang kesana, hormati pula yang sudah berjalan dengan baik disana. Jangan kemaki, jangan nggaya, jangan meremehkan, jangan menyepelekan. Ikuti aturan atau arahan yang biasanya sudah disebarkan lewat media sosial atau di pos-pos pendakian. Kalau ada apa-apa dengan kalian, bikin repot warga sana saja.

4. KOORDINASI LINGKUNGAN PERUMAHAN

Sebagai wilayah hunian favorit kedua di DIY setelah kota Yogyakarta, perumahan tumbuh subur dari KRB I hingga II. Belakangan di KRB III, utamanya ke arah Taman Wisata Kaliurang juga makin hidup dengan bangunan baru. Siapakah penghuninya? Ya, mayoritas pendatang.

Perumahan-perumahan yang dihuni pendatang seringkali kurang memiliki keakraban satu dengan yang lainnya. Apalagi orang jaman sekarang sibuk diluar rumah sepanjang waktu. Paling banter ngobrol di group WA. Sayangnya, banyak group WA yang menjadi tempat penyebaran berita hoax. Sulit sekali meminta kesadaran anggota group, terutama yang sudah nenek-nenek untuk tidak cepat panik dan menyebar berita copasan tanpa cek kebenarannya. 

Jika perumahan yang teman-teman tinggali masih baru sehingga belum ada organisasi yang memadai, sebaiknya segera membentuk kepengurusan serta berkoordinasi dengan RT dan dukuh. Di Sleman, kepala dukuh masih berpengaruh. Dukuh itu wewenangnya dibawah kelurahan, diatas RT. Koordinasi bencana seringkali lebih cepat lewat dukuh. Di perumahan saya, satpam kompleks memegang radio komunikasi yang dikoordinasikan oleh pak dukuh. Ketika letusan freatik pertama terjadi, kami langsung mendapat berita valid dari satpam, yang kemudian disebar di group WA kompleks. Ini untuk mendahului berita hoax yang biasanya menyebar tak lama sesudah suatu peristiwa terjadi.

Kok mereka bisa sesigap itu? Karena mereka sudah mendapatkan banyak latihan dan pengarahan rutin sebagai wilayah KRB. Apalagi di dekat rumah saya ada sungai kecil yang sejak puluhan tahun sudah ditambang pasirnya dan tidak pernah habis. Semoga tidak pernah dilewati lahar. Aamin. 

Berdasarkan pengalaman gempa dulu, keberadaan radio komunikasi atau HT sangat penting. Waktu itu semua sinyal ponsel hilang hingga berhari-hari. Mungkin teknologi sekarang sudah jauh lebih maju tapi tak ada salahnya berjaga-jaga. 

Selain masalah komunikasi, masalah lain yang perlu dikoordinasikan adalah air. Sebenarnya, selama beberapa kali pindah keliling Indonesia, PDAM sini adalah yang terbaik. Airnya jenih dan deras. Jika air mati dan kita telepon PDAM, selalu diterima dengan penjelasan yang memadai. Namun, sumber utama PDAM yang mengalir kesini adalah Umbul Wadon di Kali Kuning. Sudah beberapa kali pipa disana rusak karena longsor akibat hujan deras. Jika sudah begitu, pemulihannya sekitar 3 hari. Semoga tidak terdampak bila Merapi erupsi karena pemulihannya bisa lebih lama. 

Tapi jika itu terjadi, warga kampung kami memanfaatkan air sungai dan air sumur. Yap, sungai dekat rumah saya masih digunakan untuk mencuci oleh beberapa warga kampung. Warga juga memanfaatkan sumur tetangga, karena itu perlu identifikasi siapa saja yang punya sumur dan bersikap baiklah dengan mereka. Tak semua warga punya sumur karena sumbernya cukup dalam berhubung konturnya tinggi dan banyak batu didalam tanah sehingga mahal. Kira-kira butuh dana sekitar 4-6 juta rupiah untuk membuat satu sumur tanpa jaminan akan langsung mendapatkan air.

Hal lain yang sangat penting adalah jalur evakuasi. Apakah teman-teman sudah tahu jalur evakuasi di sekitar teman-teman? Memang sulit mengingat jalur evakuasi jika sedang panik. Karena itu, pasang saja plang yang menunjukkan ke arah mana kita harus pergi. Plang jalur evakuasi kami seragam sehingga mudah dilihat karena merupakan program KKN Universitas Janabadra. Sebelum KKN, koordinator pasti akan datang lebih dulu untuk mendata kebutuhan warga. Masukkan saja plangisasi jalur evakuasi sebagai salah satu kebutuhan tersebut. Sepertinya plangisasi adalah program KKN yang selalu ada di perguruan-perguruan tinggi Yogyakarta sejak saya masih kuliah dulu.

5. JANGAN JADI PENONTON

Penasaran dengan gunung meletus itu wajar karena peristiwa yang sangat langka, terlebih bagi yang belum pernah tinggal dekat dengan gunung berapi aktif. Tapi jangan sampai itu melemahkan sisi kemanusiaan kita. Janganlah menjadikan korban sebagai tontonan juga. Datanglah untuk membantu, bukan cuma untuk selfie. Masih teringat betapa sedihnya teman-teman korban gempa dulu tiap mendengar istilah "wisata bencana". Wisata itu adalah kegiatan yang menyenangkan. Bencana itu sama sekali tak menyenangkan bagi si korban. Sekarang mungkin ditambah dengan kalimat-kalimat receh, lebay dan nyinyir di media sosial.

Saat ini banyak relawan yang datang kesana untuk membantu ronda tiap malam. Jika hanya dilakukan oleh warga saja tentu tak sanggup karena melelahkan, sedangkan siangnya masih bekerja. Salut kepada para relawan dan keluarga mereka yang ikhlas ditinggalkan tiap malam. 

Merapi juga merekam sejarah rewang ketika Merapi duwe gawe, alias saling bantu ketika Merapi punya hajat. Pada letusan tahun 2010 lalu, warga Jogja diluar KRB gotong royong membuat nasi bungkus setiap hari, tiga kali sehari bagi para pengungsi untuk meringankan beban dapur umum. Itulah yang membuat warga Jogja, baik asli maupun pendatang, bertahan melewati semua peristiwa alam. Semoga semangat itu tetap dijaga.

Di masa tenang (beberapa hari tidak ada letusan) meski status waspada ini, apa sih yang bisa kita lakukan? Banyak! Saya yakin teman-teman sudah banyak membantu meski tanpa publikasi. Tak ada bantuan yang terlampau kecil, semua bermanfaat. Beberapa bungkus kopi dan gula juga sangat bermanfaat lo untuk bapak-bapak yang setiap malam ronda. 

Anak saya sempat survey juga dengan teman-temannya dan saya sarankan untuk membantu adik-adik yang mau ujian. Konsentrasi mereka mungkin kocar-kacir karena sekolah jadi tempat pengungsian. Tapi ternyata masa ujian sudah usai. Di letusan tahun 2010, ibu saya yang sudah nenek-nenek menjadi relawan mengajari menyulam ibu-ibu ketika siang hari di pengungsian agar tidak bosan karena masa pengungsian yang cukup lama. Untuk masa waspada ini, kebanyakan masih pulang ke rumah di siang hari. Terus terang saya malu dengan mereka karena belum memberi manfaat apa-apa. Masih muda atau sudah nenek-nenek tidak masalah jika ingin bermanfaat.

Semoga rangkuman informasi ini bisa memberikan manfaat. 

Berikut saluran-saluran informasi yang bisa teman-teman ikuti untuk mengkonfirmasikan setiap berita yang masuk:

Twitter:
@BPPTKG (official)
@BNPB_Indonesia (official)
@humas_jogja (official)
@TRCBPBDDIY 
@vulkanologi_mbg
@pusdalops_diy
@jalimerapi (komunitas)
@merapi_news (media)
@starjogja (media)
@JogjaUpdate (media)

Radio:
BPPTKG: 16.5075 MHz
Pusdalops_diy: 170.300 MHz, -5.000, tone 88,5Hz

Hashtag:
#waspadamerapi
#rondamerapi
#SalamTangguh
#SiapUntukSelamat

You Might Also Like

10 comments

  1. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Alloh SWT. Terima kasih tulisannya makLus, poin kunci dan tasnya sehati ya kita. Sejak gempa itu, traumanya nggak hilang sampai sekarang utk saya.

    ReplyDelete
  2. makasih sharingnya, lengkap banget

    ReplyDelete
  3. Iya, jadi ingat saat Merapi meletus beberapa tahun silam, di mana mbah Marijan tetap setia dengan Merapi hingga akhir hayatnya. Semoga Yogyakarta dan sekitarnya baik2 saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin. Sekarang digantikan anaknya.

      Delete
  4. Alhamdulillah postnya lengkap sekali. Semoga merapi selalu dijaga dan tidak membahayakan. Aamiin.

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.