Percaya Diri Kembali Berbisnis Kerajinan Tangan Dengan Konsep Berbeda

Friday, January 25, 2019

Kembali memiliki usaha kerajinan tangan adalah resolusi bisnis tahun 2019 yang sedang saya kejar dengan percaya diri, tapi kali ini fokus mengikuti tren belanja online.

lomba blog ralali


Tidak mudah untuk kembali berjualan kerajinan tangan setelah lama vakum. Banyak yang menghantui pikiran sebelum memulai, antara lain menemukan produk yang bisa dikuasai, tren jauh berbeda dan tentu saja cara bertransaksi yang sudah banyak berubah. Jangankan untuk segera berkreasi, memikirkan jalan panjang yang kembali harus ditempuh dengan ketabahan saja seringkali sudah membuat badan malas bergerak.

pameran inacraft
Kenangan dahulu pernah ikut pameran Inacraft.

Saya dulu pernah berjualan kerajinan tangan secara offline. Awal ikut pameran saya hanya menyewa satu meja seharga Rp 50.000,- untuk setengah hari. Itupun mejanya tidak penuh dengan produk. Usaha tersebut terus berkembang hingga saya mampu menyewa outlet di sebuah mall di Pekanbaru yang sewanya jutaan per bulan. Belum lagi ikut pameran di lantai utama mall-mall yang harga sewanya stannya bisa dua kali lipat dari outlet reguler. Sayang, usaha tersebut harus berhenti karena pindah ke daerah lain dan saya tidak punya orang kepercayaan untuk diberi mandat.

stan inacraft kukm
Kenangan kolaborasi dengan sahabat dan mendapat bantuan stan gratis di Inacraft dari Kementrian KUKM

Setelah itu, saya berusaha lagi dengan menjual produk tersebut secara online. Produk-produk saya dahulu memang tidak saya kerjakan sendiri, melainkan diselesaikan oleh supplier. Kesulitan dengan supplier tersebut adalah tidak bisa diajak mengembangkan produk baru. Pasukan mereka hanya melayani pesanan borongan sehingga menghambat keinginan untuk tampil beda. Selain itu, jika pesanan meningkat, mereka tidak bisa langsung menaikkan kapasitas. Lucunya, meski tidak sanggup, mereka tidak mau pula berbagi order dengan pengrajin lain. Kondisi tersebut tidak sehat bagi saya yang merupakan garda terdepan yang berhadapan dengan pelanggan sehingga saya memutuskan tidak melanjutkan kerjasama tersebut.

Meski begitu, saya sudah kadung suka dengan dunia kerajinan, baik proses maupun penjualannya. Saya sama sekali tidak kapok. Bahkan setelah sekian lama vakum, saya masih punya impian untuk memulai usaha itu kembali. Di tahun 2019 ini, saya tidak mau menundanya lagi. Rencana untuk bangkit memiliki usaha kerajinan tangan kembali sudah saya pikirkan sejak tahun lalu dan tertuang dalam resolusi bisnis 2019.

resolusi bisnis 2019
Garis besar resolusi bisnis 2019.

PERSIAPAN PRODUK


Tahun 2018 sudah saya habiskan untuk menjajaki produk yang cocok untuk saya jual sehingga saya berharap tahun 2019 tinggal memperbanyak saja. Ada perbedaan besar antara usaha saya sekarang dengan yang dulu. Dahulu saya menjalankan usaha yang masif, karenanya hanya berkonsentrasi pada penjualan. Sayangnya ketergantungan terhadap supplier membuat saya tidak punya kendali di sisi produksi. Ketika usaha berkembang pesat, supplier tak bisa mengimbanginya.

Tahun 2019 saya punya visi untuk mengembangkan usaha yang lebih personal. Meski omset tidak sebesar dulu tapi saya berharap marjin keuntungan dan pelayanan akan lebih baik. 


Saat ini semua produk adalah buatan saya sendiri. Jika usaha ini berkembang, saya akan merekrut pengrajin yang langsung dibawah pengawasan saya. Saya tidak berencana mendirikan workshop karena biayanya akan besar sekali. Pengrajin boleh membawa pekerjaannya pulang ke rumah tapi mereka akan lapor langsung pada saya. Pengalaman dengan supplier dulu, saya yang harus mengikuti dengan jadwal mereka karena mereka tidak hanya mengerjakan pesanan dari saya. Itu sangat menyulitkan komunikasi saya dengan pelanggan.

Tema produk saya tetap storage atau penyimpanan karena saya sudah punya dasarnya. Hanya saja bahan dan fungsi produk tersebut menyesuaikan dengan kemampuan saya. Dahulu produk saya berhubungan dengan triplek, karton tebal, kulit sintetis dan berkilo-kilo lem. Tentusaja saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan berat itu sendiri sekarang. Jadi saya beralih ke storage dari kain atau kulit sintetis yang bisa dijahit dengan mesin jahit portable.

menerima pesanan souvenir
Memanfaatkan akun instagram pribadi untuk menyebarkan product knowledge.

Pada tahap persiapan ini, saya mencari banyak referensi baik dari intenet maupun dari komunitas. Setelah itu saya memilih beberapa gaya yang kemungkinan bisa masuk pasar saya sesuai dengan pengalaman saya dulu. Jadi, semua yang telah saya pelajari itu tidak saya telan mentah-mentah. Konsumen pasar saya dulu umumnya menyukai design yang sederhana, praktis dan fungsional. Mereka tidak akan mengerti jika misalnya saya tambahkan rumbai-rumbai sebagai hiasan di tote bag yang saya jual.

MENYIMAK TREN


Dalam dunia bisnis, jika gagal mengerti tren, maka bubarlah semuanya. Suka maupun tidak, tren harus disimak dan dipelajari. Karena kita yang butuh pasar tersebut berarti kitalah yang harus menyesuaikan diri.

Tren sekarang harus dekat dengan calon pelanggan maupun yang sudah menjadi pelanggan, terutama jika pada masa-masa awal usaha. Jangan mempersulit pelanggan untuk membeli produk kita dengan berbagai peraturan. Misalnya komunikasi hanya melalui format pemesanan yang telah ditetapkan. Peraturan-peraturan tersebut, kecuali soal pembayaran, bisa ditunda nanti jika sudah kewalahan menangani pesanan. Pelanggan harus kita bantu untuk mewujudkan keinginannya. Dengan komunikasi yang jujur dan santai, pelanggan akan mengerti jika ada perubahan, penundaan bahkan pembatalan karena mereka memahami prosesnya.

jual dekorasi rumah
Membuat akun instagram khusus sebagai etalase produk.

Tren yang berhubungan dengan produk adalah pesatnya perkembangan pecinta dekorasi rumah atau home decor. Storage yang saya jual dahulu lebih terlihat resmi dan elegan. Sekarang, para home decor lover cenderung memenuhi rumah dengan pernak pernik yang hommy sehingga rumah terkesan hangat. Rumah jaman sekarang benar-benar berdandan, tidak hanya diisi dengan perabotan fungsional. Pajangan atau minimal sentuhan pribadi seperti wall lettering selalu terselip diantara perabotan fungsional. Ini bagus sekali untuk bisnis di tahun 2019 karena berarti belanja kerajinan tangan konsumen meningkat.

MEMPELAJARI INTERAKSI ONLINE


Interaksi online ini meliputi bagaimana menjangkau pelanggan dan transaksinya. Interaksi yang paling banyak membuahkan hasil adalah melalui media sosial. Pelanggan bisa mengenal produk dengan cara yang sangat mudah melalui instagram dan facebook. Pemilik usaha tidak hanya sekedar memajang dagangan tapi mereka juga bisa menyebarkan product knowledge agar bisa lebih diterima pasar.

Saya sendiri membuat akun instagram @beyourselfwoman untuk product knowledge dan @beyouprojects khusus sebagai etalase. Dengan berani pula saya fokuskan blog www.beyourselfwoman.com ke niche craft & DIY (Do It Yourself) untuk mendukung produk dan jasa saya.

home decor lover
Senangnya ikut menjadi bagian hobi fotografi sahabat.

Bagaimana dengan e-commerce website


Saya dulu punya website jualan. Namun, keranjang belanja lebih banyak menganggurnya. Pelanggan lebih suka melalui jalur pribadi untuk berkomunikasi langsung dengan pengelola website. Beberapa orang yang saya tanya mengatakan bahwa mereka ragu dengan pengelolaan website tersebut. Mereka khawatir akan terjadi kekacauan setelah mengisi keranjang belanja karena website tidak didukung oleh tim yang memadai. Contohnya website saya itu meski dibuatkan tapi sehari-hari memang saya kelola sendiri. Jadi ternyata bukan semata-mata tidak percaya pada kejujuran pemilik website tapi juga karena alasan teknis.

Sekarang, daripada mengelola e-commerce website sendiri yang sangat ribet dan tidak efektif, para pemilik usaha lebih suka bergabung dengan marketplace seperti Ralali.com. Dengan bergabung di marketplace, kita tidak perlu pusing dengan masalah teknis sehingga bisa fokus dengan produk. Pelanggan juga lebih percaya karena marketplace didukung oleh tim yang berkompetensi tinggi. Apalagi marketplace jugalah yang memastikan tidak ada pihak yang tertipu, baik dalam hal pembayaran maupun kualitas barang.

book sleeve
Testimoni dari teman-teman pengguna sangatlah berharga.

Selain menjual, bergabung dengan marketplace akan memudahkan saya mendapatkan alat dan bahan. Kalau sudah duduk menyelesaikan jahitan, saya praktis tidak bisa diganggu. Mengesalkan sekali kalau harus beranjak, ganti baju dan pergi ke toko hanya untuk membeli resleting. Banyak waktu yang terbuang mengingat saya tidak punya asisten. Jahitan tidak segera selesai. Belum lagi harga resleting yang cuma Rp 2.500 harus membayar parkir Rp 2.000,-. Sebel banget, nggak sih?

FOKUS BERJUALAN


Dari rangkaian perencanaan, pengamatan dan percobaan diatas, tujuan akhirnya adalah berjualan. 


Maka saya tidak boleh terlalu asik utak-atik masalah teknis dan gimmick. Tangan dan kaki harus segera beroperasi memproduksi stok produk.

Mulai tahun 2019 ini, saya mewajibkan diri untuk posting stok baru seminggu sekali di akun @beyouprojects dan 2-3 posting product knowledge di akun @beyourselfwoman dan blog beyourselfwoman. 

pouch waterproof
Menggunakan blog untuk menyebarkan product knowledge.

Etalase online yang bersirkulasi akan terlihat lebih menggoda. Sama seperti ketika saya berjualan baju batik secara offline dulu. Ya, saya juga sempat berjualan batik di pameran untuk mengisi space stan kerajinan saya. Ketika itu saya meminta karyawan saya merotasi baju yang dipakai manekin tiap 2 jam. Biasanya baju di manekin itulah yang laku terlebih dulu.

Satu lagi langkah yang ada di to do list saya adalah berburu pop up market. Pop market adalah pasar atau pameran yang buka singkat yaitu setengah hari saja. Meski fokus bisnis sekarang adalah online, tapi pameran offline akan menambah jangkauan dan liputan dari media setempat dan media sosial pengunjung. Jadi secara tak langsung akan mempopulerkan akun-akun online saya.

Saya memperlakukan diri sedang merangkak lagi dari bawah sehingga pop up market lebih masuk akal daripada langsung membuka outlet di mall. Saya dulu memulai usaha dengan ikut pop up market di halaman perpustakaan Soeman HS Pekanbaru yang sewa stannya Rp 50.000.- saja untuk setengah hari. Saya akan melakukan lagi hal yang sama tapi beda konsep. Jika dulu hanya melihat banyak sedikitnya konsumen yang akan datang, sekarang juga memperhatikan tema pop up market tersebut. Dengan pemilihan tema tersebut, pelanggan akan tersaring dengan sendirinya. Ini lebih baik daripada pengunjung datang berduyun-duyun tapi tidak antusias dengan produk saya.

MERAMBAH JASA


Setelah memilih produk, menyimak tren dan belajar interaksi online, saya berencana masuk lebih dalam lagi dengan menyiapkan ruang untuk merekam video DIY (Do It Yourself) dan craft. Sekarang sudah bukan jamannya lagi cuma menjual barang jika bisa menjual jasa juga. Bahkan jasa endorsement sedang menjadi idaman netizen.

Tidak pernah merasa rugi berbagi tutorial di youtube.

Saat ini saya memang sudah mulai sering membuat video tapi kualitasnya belum maksimal. Dengan kualitas yang lebih baik, saya yakin bisa menarik lebih banyak perhatian pelanggan untuk mengenal produk saya lebih jauh lagi. Saya sama sekali tidak khawatir membocorkan banyak tutorial pembuatan produk saya karena selain akan ada pesaing, yang tidak sempat membuat sendiri masih lebih banyak lagi sehingga mereka tetap akan memesan pada saya. Kebutuhan akan video ini sejalan dengan tren netizen dalam memahami product knowledge yang lebih menyukai gambar bergerak daripada membaca teks, ditunjang dengan sinyal yang makin cepat.

Dengan video yang bagus, saya berharap juga dapat menarik perhatian pemilik brand alat dan bahan jahit yang saya gunakan. Jadi saya tidak hanya menjadi konsumen mereka saja tapi saya juga berharap mendapat manfaat menjadi endorser mereka. Saya juga membuka diri jika ada yang ingin belajar crafting sesuai dengan level ketrampilan saya. Produk dan jasa saya akan tetap berhubungan.

Demikianlah resolusi bisnis 2019 saya secara garis besar. Meski tak akan mudah karena makin banyak pesaing dari kreator muda dengan energi yang masih segar, tapi saya optimis karena saya mencintai dunia kerajinan tangan. Mohon doa restunya, ya.

Terima kasih sudah berkunjung di blog beyourselfwoman.

You Might Also Like

55 comments

  1. Wuih detil sekali mbak penjelasannya. Sebagai orang yang awam di dunia bisnis aku jadi dapat banyak pencerahan. Selama ini aku mikirnya kalau mau jualan ya sok mangga langsung jualan aja, tapi ternyata pengelolaan bisnis yg baik nggak sesimpel itu ya, harus ada perencanaan yang matang. Semoga rencana bisnis di 2019 sukses ya Mb Lusi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya bisa dibikin simple juga. Ini biar jelas mana yg sudah & belum dilakukan. Makasih doanya :))

      Delete
  2. Keinginan kita kadang gak bisa terpenuhi oleh suplier ya mbak, jadi tergantung banget. Kagum sama mbak Lusy yang selalu semangat bikin krajinan tangan sendiri. Produk2 dari Mbak Lusy masih aku simpan & pakai loh :) Sekarng sih enak ya bisa memasarkan produk UKM di Ralali. SUkses terus ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Terharu :)) Makasih doanya maklid.

      Delete
  3. keren banget mbak.. Semoga bisnisnya sukses terus, resolusi tercapai sempurna dengan segala kemudahannya...

    ReplyDelete
  4. Mak Lusi yang aku kenal adalah orang yang fokus dan paham banget dengan target dan pencapaiannya. Semangat, Mak. Semoga sukses dengan usahanya ya. Semoga dilancarkan semuanya 🤗😘

    ReplyDelete
  5. Kalau mempertimbangkan keinginan pasar dengan apa yang kita sukai, bisa gak siih kak Lusi?
    Seringnya, kita jualan karena kita suka dan ingin berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh hihihiii jualan & berbagi mah beda riset pasarnya. Kalau barang nggak laku, nggak bisa berbagi dong. Kalau niatnya berbagi juga pasti nggak tega ambil untung, trus makan apa? Yang bisa dilakukan menyisihkan sekian persen keuntungan untuk disedekahkan. Atau dengan cara mengajari dhuafa ketrampilan, trus mengajak mereka kerjasama. Bisa juga dengan cara membeli bahan baku dari pengusaha kecil. Tapi kalau pasar ya tetap sasarannya yg suka barang kita & punya duit.

      Delete
  6. salut sama kerja keras mbak, klo tergantung sama supplier kadang memang repot, semoga makin sukses ya mbak usahanya.. cerita mbak ini bnr2 menginspirasi :)

    ReplyDelete
  7. semoga resolusi bisnisnya tercapai ya mba, keren ih bisa bgecraft jadi bisnis

    ReplyDelete
  8. Masya Allah, semoga sukes selalu, Mak Lusi..

    Tentang berbisnis kalau kita terlalu mengandalkan supplier kadang memang bikin nyesek. Pas orderan banyak, eh supplier enggak bisa menyuplai barang, kan bikin kecewa konsumen juga.

    Salut sama Mak Lusi, kreatif bikin DIY dan buka usaha kerajinan. Semoga lancar terus, Mak...

    ReplyDelete
  9. Bagus banget ya ada Rarali ini, membantu para pengusaha kecil untuk makin berkembang

    Btw, produk-produk craftnya mbak Lusi keren-keren ya.

    ReplyDelete
  10. OOh mbak Lusi aku koq seperti mendapat cubitan keras yaa membaca postingan ini. Rasanya kayak dibangunkan dari leha-leha gak jelas selama ini sudah mengkaramkan passion sejati aku. Padahal beberapa waktu terakhir ini aku sudah mulai mengurangi kerjaan desain karena kepengen fokus di passion craft dan mulai bikin kelas home decor. Cup cup sayang deeh buat kamu mbak Lusi sudah memberi semangat untuk mulai mengejar passion akuuuh.

    ReplyDelete
  11. Waahh ini sih keren banget. Aku suka dengan rencana bisnisnya yang detail dan rapi itu...jadi pengen niru. Sukses terus Mak Lus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah serapi pelaksanaannya juga ya hehehee

      Delete
  12. Sukses trus yah Mba dengan produk produk nya dan trus berkembang di tahun 2019 ini

    ReplyDelete
  13. Sayang sekali ya Mbak, udah segitu majunya harus ditutup. Semoga terwujud dan lebih sukses di 2019 ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah takdirnya mbak. Doain bisa bikin lagi ya :))

      Delete
  14. saya doakan, semoga resolusi bisnisnya tercapai ya mba, keren ih bisa bgecraft jadi bisnis

    ReplyDelete
  15. sepertinya mba semakin dekat dengan gaya blogger luar. punya produk di blognya, dijual dimana-mana...keren sekaaali

    ReplyDelete
  16. Wow keren planningnya. Good luck ya Lusi,ku tunggu produk-produk barunya,nanti ku beli deh :)

    ReplyDelete
  17. Bagian ini aku setuju banget!

    "... Dalam dunia bisnis, jika gagal mengerti tren, maka bubarlah semuanya. Suka maupun tidak, tren harus disimak dan dipelajari. Karena kita yang butuh pasar tersebut berarti kitalah yang harus menyesuaikan diri!"

    ReplyDelete
  18. Semoga semuanya dilancarkan dan usahanya makin sukses ya mbak Lusi. Senang ya kalo bisa bikin kerajinan tangan gini, selain bisa bikin2 buat di rumah sendiri juga bisa dipasarkan.
    Minggu lalu, anakku kls 12 ujian praktik, untuk pel senibudaya itu bikin suatu produk dari kain batik yang sudah dibuat siswa sendiri di sekolah. Produknya bisa bikin sendiri atau minta dibikinkan orang. Berhubung mamanya ini nggak bisa jahit2 akhirnya pergi ke penjahit, bikin produk clutch. Kalo buat mbak Lusi sih, gampang nih ya hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih mbak. Sejujurnya aku cuek, nggak pernah bantuin anak2 prakarya. Wkwkwk

      Delete
  19. Kudoakan resolusi mengaktifkan kembali usaha kerajinan tangan kak Lusi berhasil sukses, amin.
    Keren, ternyata pernah ikut innacraft artinya kualitas produksi sudah diakui qualified.

    Ntar kalau usaha kak Lusi udah berkembang, rekrut aku ya kak jadi salah satu pengrajinnya.
    Serius, aku dari dulu tertarik dengan kerajinan tangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wouw .. kaget#

      Hahahaha ...
      Aku kan ngga nentuin gaji gede, kak.
      Sing penting ono kegiatan nyalurin hobi :D

      Delete
  20. Sukses mba buat rencana2 baiknya. Aku jg lg mulai terjun ke bisnis nih :D

    ReplyDelete
  21. Usaha kerajinan memang menyenangkan sekali dan impian saya sekali

    ReplyDelete
  22. Sukses ya mbak dengan bisnisnya. Dan terimakasih juga telah berbagi ilmunya disini. Saya jadi tahu sedikit seluk beluk tentang bisnis dan usaha kerajinan. Abis ini mau main-main ke IG nya, menyegarkan mata

    ReplyDelete
  23. Masya Allah, so inspiring mbak. Berbisnis itu memang butuh kerja keras, semangat dan tekad yang kuat ya..Semoga resolusi bisnis 2019nya segera terwujud. aamiin :)

    ReplyDelete
  24. Yuhu, usaha kerajinan tangan memang untuk orang-orang yang sabar dan teliti. Kalo gak sabar, wassalam deh, hehehe. Lanjutkan Mak Lusi, semoga usahanya maju, terkenal dan disukai banyak orang. :)

    ReplyDelete
  25. Mbak Lusi sudah matang benar persiapannya untuk kembali membuka usaha kerajinan. Memang produk di bawah pengawasan kita sendiri hasilnya akan memuaskan. Kalaupun tidak bisa di komunikan langsung. Selnat berjuang Mbak. Insya Allah kembali sukses seperti usaha kerajinan sewaktu di Pekanbaru. Amin

    ReplyDelete
  26. betul sekali mak, jangan pernah merasa rugi berbagi DIY di Youtube. Makin sering berbagi makin banyak berkah yang didapat

    ReplyDelete
  27. Sejak dulu aku udah kagum sama mba Lusi, yang terampil bikin DIY dari bahan sederhana. Hasilnya bisa apik, kekinian, dan ada manfaatnya, kayak tempat gunting, jarum, dan lainnya. Semoga sukses dengan usahanya ya mba

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentar teman-teman. Maaf komentar dimoderasi. Jika ingin berkomunikasi lebih lanjut silakan email ke beyoumails@gmail.com.