Saturday, February 16, 2019

Jamu, Warisan Leluhur Di Tangan Entrepreneur Keren

Di tangan entrepreneur keren, jamu tak lagi sekedar minuman tradisional. Jamu bisa berdampingan dengan kehidupan modern dan punya potensi tambahan yang berdampak lebih luas.


jamu cair dusun watu
Stan Pengrajin Jamu Tradisional Dusun Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta

Tiap jam 15.00 ada mbak jamu berkeliling kompleks rumah kami dengan menuntun sepeda. Si mbak ini berwajah ayu, berkulit cerah dan bertubuh langsing sehingga ibu-ibu kompleks percaya bahwa jamunya memang benar-benar joss. Saya termasuk yang selalu beli jika kebetulan sedang di rumah. Jamu si mbak ini masih hangat, yang berarti belum lama dimasak sehingga citarasanya menyegarkan. Aroma rempahnya membuat badan dan pikiran lega.

Sayangnya, saya jarang di rumah jadi jarang pula membelinya. Terpikir untuk membeli agak banyak dan disimpan di dalam kulkas. Tapi si mbak sendiri tidak bisa menjamin sampai kapan bisa tahan karena tidak pernah bereksperiman. Si mbak memang polos, tidak memiliki dorongan untuk melakukan inovasi. Saya tidak suka membeli di sembarang tukang jamu karena pernah mendapat yang rasa manisnya mencurigakan dan berakhir dengan batuk-batuk. Sedangkan si mbak tadi tidak mungkin berani menggunakan bahan sembarangan karena tinggal dekat kompleks yang tentu saja bakal didatangi ibu-ibu kompleks jika jamunya malah bikin sakit.

Tanggal 15 Februari 2019 pagi, saya datang ke workshop fotografi menggunakan smartphone sebagai bagian dari Expo UKM Istimewa yang diselenggarakan oleh Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau PLUT-KUKM DI Yogyakarta di Jl HOS Cokroaminoto. Ketika melihat stan jamu disana, seketika pandangan saya terhadap jamu berubah.


MENGENAL JAMU 


jamu pasar tradisional
Jamu di pasar tradisional.

Pengertian jamu dalam Permenkes No.003/Menkes/Per/I/2010 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Dahulu, sebelum dunia medis dan farmasi maju, jamu digunakan sebagai obat. Sekarang, jamu lebih sebagai minuman herbal, pencegahan penyakit dan dimanfaatkan untuk pengobatan alternatif. Penyuka jamu sudah terbiasa merasakan efek langsungnya sebagai minuman herbal yang menyegarkan sehingga mengemas jamu dalam bentuk yang lebih praktis seperti halnya obat-obatan farmasi kurang bisa diterima. Itu sebabnya, produsen jamu pabrikan raksasa tetap mengemasnya sebagai minuman seduh.

Yogyakarta atau Jogja adalah salah satu propinsi dengan kebiasaan minum jamu masyarakat yang masih cukup terjaga. Selain penjual jamu keliling, kita dapat menemui penjual jamu di pasar-pasar pada pagi hari dan di pinggir-pinggir jalan di malam hari. Masih banyak warga yang mencari jamu watukan jika batuk, cekokan jika anak susah makan dan sebagainya. Resep jamu ala putri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga masih ampuh dijadikan patokan persiapan pernikahan para gadis. 

Dusun Watu, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul adalah salah satu sentra jamu di DI Yogyakarta yang masih bertahan hingga sekarang.


Karena itulah Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta memberikan perhatiannya sehingga industri jamu mendapat kesempatan pengembangan yang sama seperti UKM lainnya.

JAMU DALAM KEHIDUPAN MODERN


Dalam kehidupan modern yang serba bergerak cepat, jamu perlu menyesuaikan diri tanpa kehilangan keistimewaannya sebagai minuman herbal. 

jamu instan jogja
Kiri jamu cair, kanan jamu instan. Foto tidak bisa seluruhnya kelihatan dari depan karena terhalang tiang tenda.

Jamu harus tampil lebih praktis hingga bisa dibawa kemana-mana dan siap diminum. Kemasan dalam botol sudah dijadikan pilihan sejak lama untuk jamu cair siap minum. Namun tak semua penjual jamu sudah punya pengetahuan akan kadar gizi dan kebersihan selama proses. Belum lagi penggunaan botol bekas air mineral yang sudah tidak dibenarkan. Masyarakat modern makin paham dan makin cerewet (dalam artian baik) terhadap semua yang mereka konsumsi. Mereka akan memastikan semua yang masuk ke tubuh mereka memenuhi standar higienis.

Jamu juga harus cukup praktis untuk disimpan dalam waktu yang sangat lama di rumah. Manusia modern tidak setiap sore berada di rumah dan tidak setiap hari berbelanja karena bekerja di luar rumah atau banyaknya kegiatan. Ibu-ibu jaman sekarang banyak yang berbelanja mingguan saja untuk bahan makanan segar dan sebulan sekali untuk bahan makanan yang lebih awet. Akan sangat menyenangkan jika bisa membeli jamu instan dalam jumlah banyak pada saat belanja. Jamu instan tersebut bisa diseduh kapan saja diinginkan.

Kelompok Pengrajin Jamu Tradisional Jati Husada Mulya Dusun Watu sudah menyadari tuntutan kehidupan modern terhadap usaha jamu tersebut. Untuk jamu cair, mereka mengemas dalam botol baru dan bersih yang mencantumkan kandungan dan tanggal kedaluarsa. Untuk jamu instan, sudah ada produk siap seduh. Semua bersertifikat P-IRT (Pangan-Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.

jamu jati husada mulya
Ragam produk jamu Jati Husada Mulya.

JAMU SEBAGAI WISATA EDUKASI


Sebagai warisan budaya, jamu tak seharusnya hanya menjadi produk jualan karena akan mudah menghilang jika promosi kendor. Perlu usaha untuk mendekatkan jamu dengan masyarakat agar masyarakat mengerti khasiatnya dan punya rasa memiliki.

Untuk itu, berdirilah Rumah Jamu di Jalan Monumen Brimob, Dusun Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta.


Rumah Jamu adalah cermin betapa kerennya jiwa entrepreneur ibu-ibu pembuat jamu di dusun tersebut. Memang, keberadaan Rumah Jamu ini tak lepas dari dukungan program CSR (Corporate Social Resposibility) PT Pertamina (Persero) TBBM Rewulu. Tapi bila tanpa tekad kuat dari warga Dusun Watu untuk maju, Rumah Jamu tersebut tak akan terwujud.

Rumah Jamu menyediakan paket-paket wisata edukasi pembuatan jamu yang cukup murah bagi anak-anak. Selama belajar membuat jamu, mereka akan diperkenalkan pada berbagai bahan jamu. Anak-anak sering ditakut-takuti dengan jamu pahit jika tidak patuh pada orang tua. Padahal sebagian jamu itu rasanya enak dan menyegarkan. Tak beda jauh dengan berbagai merk minuman kemasan lainnya. 

paket wisata edukasi jamu
Paket-paket Belajar Jamu Herbal di Rumah Jamu. Bagaimana? Murah, kan?

Ketidaksukaan anak-anak terhadap jamu karena ditakut-takuti seperti itu tak lantas hilang dengan membaca buku pelajaran sekolah tentang jamu. Tapi dengan melihat sendiri prosesnya, mereka akan berubah pikiran, bahkan diharapkan juga tertarik dengan pengembangan tanaman untuk bahan jamu jika mereka sudah besar nanti.

Saya berharap, pemerintah desa sekitar DIY mau mengirimkan para tukang jamu seperti mbak jamu di komplek saya ke Dusun Watu untuk belajar membuat jamu yang sesuai dengan standar P-IRT agar mereka juga bisa berkembang dan memperbaiki kesejahteraan.

Beruntung sekali kemarin pagi saya menemukan stan jamu ini. Banyak pengetahuan yang saya peroleh dari dua ibu penjaga stan tersebut. Mereka adalah dua dari seluruh ibu-ibu entrepreneur keren dari Dusun Watu. 

Sekarang, saya harus berhenti mengetik untuk menikmati jamu beras kencur dan jamu kunir asem dari kulkas yang masing-masing tinggal sekitar seperempat botol karena sudah diminum anak-anak. Mereka suka! Jangan sampai saya tidak kebagian.

Semoga artikel ini bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung di blog beyourselfwoman.

11 comments:

  1. Saya kemarin ke sini pas hari pertama. Stand jamu memang termasuk yang paling banyak di serbu..minum jamu memang menyegarkan..

    ReplyDelete
  2. Bagus banget ni mba event2 kayak gini...manfaatnya biar semakin banyak masyarakat yang tau, dan industri2 lokal pun makin maju. *Nyesel deh kemaren aku ga datang ke pameran ini... (Pengen mbeli kencur+kunir asem juga padahal๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€)

    ReplyDelete
  3. Di komplek perumahan kak Lusi masih ada penjual jamu keliling ?.
    Wah keren tradisi itu masih tetap bertahan sampai sekarang, kak.
    Dikotaku sudah sama sekali ngga pernah ada atau terlihat pedagang jamu bakulan keliling.
    Yang ada jamu traditional tersedia di pedagang pasar.

    Bagus ya ada kegiatan Rumah Jamu di Sleman..., kapan-kapan aku mampir kesana karena aku memang suka minum jamu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya disini masih ada yg keliling. Padahal juga nggak pinggir2 amat, masih mepet kota tapi didalam kampung. Jadi kehidupannya masih seperti jaman dulu.

      Delete
    2. Bayangin suasananya kayaknya asri gitu :)

      Kak Lusi pasti tau pasar di Magelang yang ada penjual jamunya, pasar Tukangan dan pasar Rejowinangun yang dulu sempat kebakaran itu.
      Ning Magelang wis ora ono mbok jamu kelilingan :(

      Delete
  4. Aku suka bgt jamu tp yg gak pait, hihi. Sekarang lbh suka beli jamu yg udh dikemas bgs, biasanya di mall2 gitu jual kan, enak seger

    ReplyDelete
  5. karena gak suka arsa pahit jamu aku suka jamu yang berbentuk pil

    ReplyDelete
  6. Wah di Sedayu ada juga tho, selama ibi Kalau yg di Bantul paling terkenal yg daerah Kiringan Jetis mak Lus, sudah dari jaman Mbah2 sebagai daerah penghasil jamu, semoga makin banyak sentra jamu ya biar kita bisa trs minum jamu dan sehat

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.