Hadiah Anak Diterima di PTN: Mobil untuk Kuliah atau Dibangunkan Kos-kosan?

Konten tentang fenomena orang tua memberi hadiah kos-kosan atau bisnis kepada anak yang diterima di perguruan tinggi negeri
Konten tentang fenomena orang tua memberi hadiah kos-kosan atau bisnis kepada anak yang diterima di perguruan tinggi negeri.

Judul artikel ini juga merupakan judul dari konten carrousel saya di akun Instagram @beyourselfwoman. Konten tersebut dipicu oleh sebuah unggahan di X (Twitter) tentang seorang anak yang diterima sebagai mahasiswa baru di UGM. Alih-alih mencari kos, orang tuanya akan membangunkannya sebuah kos-kosan.

Tak disangka, konten hasil renungan itu mendapat views hingga puluhan ribu, di-quote ribuan kali dan di-repost ratusan kali. Terus terang saya grogi juga karena ini merupakan respon terbanyak di akun IG saya dan saya khawatir akan menimbulkan pro kontra. Alhamdulillah sejauh ini semua komentar menjurus ke tukar pikiran.

Menjadi mahasiswa merupakan tangga kehidupan baru yang sangat penting untuk menuju kedewasaan dan kemandirian. Oleh karena itu, saya ingin merangkumnya dalam bentuk artikel agar bisa dibaca lebih banyak orang.

Hadiah Bagi Mahasiswa Baru dari Orang Tua

Diterima di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) merupakan hasil perjuangan keras pelajar sejak bertahun-tahun. Banyak orang tua yang ingin memberikan hadiah untuk menghargai hasil perjuangan tersebut. Namun dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu ini, mereka berusaha memikirkan hadiah yang lebih bermanfaat bagi masa depan anak-anak mereka.

Orang tua mahasiswa saat ini adalah generasi yang pernah melewati krisis ekonomi, reformasi, pandemi, hingga berbagai disrupsi. Mereka memahami betul bahwa kondisi dapat berubah dengan sangat cepat. Pengalaman itulah yang membuat banyak dari mereka ingin menyiapkan anak-anak menghadapi masa depan dengan lebih matang.

Karena itu, banyak orang tua yang memilih memberikan hadiah berupa aset produktif atau bisnis. Apalagi ada beberapa berita viral yang menunjukkan bahwa hadiah berupa barang mewah justru merupakan penyebab terjadinya petaka.

Mereka tidak memberi mobil untuk dipakai tapi malah membangunkan kos-kosan. Ternyata, pemikiran seperti itu terjadi di banyak skala usaha, dari kios es teh hingga penyewaan peralatan berat. Akhirnya, konten di IG @beyourselfwoman tersebut menjadi ajang tukar pengalaman yang penuh insight bagus.

Warung Pecel sampai Car Wash

Di konten tersebut, saya menceritakan tentang pengalaman orang-orang di sekitar saya lebih dulu. Dahulu, ketika masa anak kami menjadi maba (mahasiswa baru), ada temannya yang mendapat hadiah berubah usaha di bidang kuliner. Saya pikir, temannya dibuatkan usaha online yang mudah dipantau sambil kuliah. Ternyata usaha yang dimaksudkan adalah warung nasi pecel! Ini usaha yang tidak mudah karena harus bergerak tiap hari untuk menyiapkan sayuran segar.

Kemudian cerita bergeser tentang pengalaman saya cuci mobil di sebuah franchise. Cuci mobil juga ada franchise-nya loh. Tempat ini cukup ramai karena tempatnya simpel, modern, bersih dan murah, khas produk franchise. Lalu mata saya menangkap sesosok anak muda yang tampak menonjol karena paling glowing. Dia sedang melatih salah satu karyawan cara menggunakan lap. Ternyata dia adalah owner car wash itu. Sedangkan car wash itu merupakan hadiah dari ortunya karena diterima di PTN.

Dari dua contoh tersebut, saya paham komentar yang akan timbul, yaitu soal modal. Jangankan memberi hadiah berupa kos-kosan atau car wash, untuk membayar UKT dan IPI saja kelimpungan. Jadi, saya membuat pertanyaan untuk mengetahui apa sebenarnya hadiah yang ingin sekali mereka berikan pada anak-anak. Agar mereka menjawab sejujurnya, saya menambahkan kalimat “seandainya uang bukan masalah”.

Mungkin Ini Bukan Tentang Kemewahan

Tadinya saya was-was terhadap respon negatif yang menganggap konten tersebut “tidak napak tanah”. Namun ini sebenarnya bukan soal status owner sebuah bisnis, melainkan pelatihan manajerial dan kepemimpinan yang nyata. Para orang tua yang merespon konten tersebut sudah sangat siap dan penuh perhitungan. Bagi mereka, bisnis bukan soal kemewahan karena justru merupakan awal perjuangan

Saya terpana karena dari 200 lebih komentar yang masuk, ternyata hampir semuanya tidak berandai-andai, melainkan sudah melaksanakannya atau dalam perencanaan. Meski biaya sebagai maba itu luar biasa di kondisi ekonomi sekarang, banyak ortu yang berpikir jauh ke depan. Mereka mempersiapkan rencana tersebut jauh-jauh hari, serta menyesuaikan dengan bidang yang telah mereka geluti, minat anak dan jumlah dana yang bisa disediakan. 

Saya tak berhenti kagum karena cakupan bidangnya sangat luas, antara lain sewa mobil pickup hingga truk, sewa forkcliff, student room, stan es teh, kelas gambar teknik, bisnis mainan dan sebagainya. Teman-teman silakan baca sendiri di IG @beyourselfwoman untuk mendapatkan banyak sekali insight menarik dari para orang tua tersebut.

Sebagian dari mereka bahkan tidak membatasi seandainya setelah lulus anak mereka bekerja di tempat lain sesuai dengan program studinya. Mereka juga menempatkan usaha ini sebagai investasi jangka panjang yang bisa dijual kembali, dipantau dari jarak jauh atau diteruskan oleh ortu yang telah pension.

Dunia Anak Kita Berbeda dengan Dunia Kita Dulu

Dunia anak kita sekarang jauh dengan dunia kita dulu. Mereka menghadapi perubahan yang berjalan cepat dan persaingan yang sangat tajam. Contohnya, baru semester awal sudah harus memikirkan magang sana sini. Mereka dituntut untuk menyeimbangkan teori dengan pengalaman nyata sejak awal masa kuliah.

Namun keuntungannya, mereka terbiasa dengan kerja keras, capek, kolaborasi dan kreativitas. Mereka punya energi lebih untuk main, traveling, magang atau kerja paruh waktu sambil kuliah. Karena itu, banyak ortu yang tidak ragu memberikan hadiah berupa sebuah bisnis. Makin jarang ortu yang menganggap bahwa satu-satunya kegiatan mahasiswa adalah belajar di kampus agar cepat lulus. 

Ortu menyadari bahwa pengalaman, networking dan keterampilan untuk survive berpengaruh banyak terhadap eksistensi anak di masa depan sehingga IPK tinggi saja tidak cukup. Mahasiswa perlu mengikuti organisasi, komunitas atau kompetisi. Menjalankan bisnis hadiah ortu merupakan salah satu cara mendapatkan pengalaman dan networking tersebut.

Keterampilan untuk survive ini juga berguna sebagai safety net terhadap dunia yang serba tidak pasti ini. Contohnya, banyak perubahan besar yang melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), bukan karena bangkrut tapi karena akan menggantikan sebagian SDM dengan otomatisasi. Dengan begitu, kegiatan operasional akan lebih efisien sehingga dapat memperbesar keuntungan.

Mengajarkan Cara Memanfaatkan Privilege

Kata privilege atau privilese sering mendapat konotasi negatif. Menurut KBBI (Kabur Besar Bahasa Indonesia), arti privilese adalah hak istimewa. Karena istimewa, maka tidak semua orang memilikinya. Karena istimewa itu pula, sebagian menggunakannya untuk flexing.

Flexing dapat mendatangkan rasa iri, bahkan niat jahat dari seseorang. Karena itu, banyak ortu yang memberikan privilege itu kepada anak bersamaan dengan manfaat dan tanggung jawab yang besar. Dengan demikian, memiliki privilege bukanlah masalah asal mengerti bagaimana menggunakannya.

Orang tua zaman sekarang mulai menggeser pola pikir dengan memberi hadiah yang lebih produktif. Mereka tidak sekadar memberikan alat, tetapi memberikan sistem. Bukan hanya memberi ikan, tetapi memberi kolam sekaligus mengajarkan cara mengelolanya.

Karena ketika seorang anak diberi usaha kecil, aset, atau modal, mereka akan belajar dan praktik sekaligus cara:

  • mengambil keputusan.
  • menghadapi risiko.
  • mengelola orang.
  • mengatur keuangan.
  • bertanggung jawab terhadap hasilnya.
  • menghasilkan keuntungan.

Praktik-praktik seperti itu kadang tidak ditemukan di ruang kelas.

Tidak Harus Kos-kosan atau Bisnis Besar

Tentu saja tidak semua orang tua bisa membangun kos-kosan. Dan sebenarnya tidak harus seperti itu. Esensi utamanya bukan pada besarnya skala bisnis. Judul konten tersebut saya maksudkan sebagai pemantik diskusi.

Banyak sekali dukungan yang bisa diberikan orang tua kepada anak-anaknya, antara lain berupa:

  • modal usaha.
  • dukungan untuk menjual karya.
  • kursus keterampilan.
  • investasi.
  • alat yang mendukung potensi anak.

Penutup

Pada akhirnya, mungkin hadiah terbaik bukan sesuatu yang membuat hidup anak lebih nyaman hari ini, tetapi sesuatu yang membantu mereka lebih siap menghadapi masa depan. Bentuknya bisa bisnis, modal usaha kecil, kursus, alat kerja, atau sekadar kepercayaan penuh dari orang tua. Karena terkadang hadiah terbesar bukan benda yang diberikan, tetapi keyakinan bahwa anak dipercaya untuk bertumbuh.

Di kolom komentar artikel ini, teman-teman juga dapat merespon pertanyaan tentang seandainya uang bukan masalah, hadiah apa yang akan teman-teman berikan ketika anak diterima di perguruan tinggi?

Post a Comment for "Hadiah Anak Diterima di PTN: Mobil untuk Kuliah atau Dibangunkan Kos-kosan?"