Monday, July 11, 2011

Ber-Inovasi Di Produk Home Accessories Itu Melelahkan

Dituntut Terus Berinovasi, Pengusaha Bandung Capek. Demikian adalah judul artikel di detik.com. Terus-menerus berinovasi adalah syarat utama seorang pengusaha, karena pengusaha harus me-maintain pelanggan agar tidak beralih ke pengusaha lain. Memang ada produk kerajinan klasik, namun meskipun produk-nya sendiri tidak mengikuti trend, pengusaha
tetap harus melakukan inovasi dalam hal pelayanan, baik berupa aksesbilitas, packaging, dan sebagainya.

Ambil contoh produk home accessories. Bagi pengusaha kerajinan produk aksesori untuk rumah, inovasi mencakup trend nasional, trend internasional (jika ekspor) dan identitas diri. Untuk trend nasional biasanya disatukan dengan identitas diri, lantaran kerajinan di dalam negeri belum mengenal perubahan trend. Identitas perusahaan lebih menjual, misalnya motif natural dengan bentuk tertentu itu pasti milik A. Motif abstrak yang lucu warna-warni itu milik si B dan seterusnya. Namun bukan berarti inovasi tidak dilakukan. Pengembangan “brand’s signature” wajib untuk selalu memberi kesegaran pada koleksinya. Meskipun dikembangkan dalam berbagai variasi, brand’s signature yang kental sah-sah saja menghiasi produk tersebut, bahkan brand yang sudah melekat pada produk tertentu sering menjadi penentu bagi seseorang untuk membeli.

Sementara untuk tujuan ekspor lebih rumit, karena konsumen sudah menjadikan handicraft sebagai bagian dari gaya hidup. Karena itu, seperti halnya fashion, kerajinan juga mengenal siklus trend. Misalnya trend saat ini warna-warni, trend selanjutnya bisa saja warna-warna natural. Selain itu, musim juga menentukan pemilihan motif dan warna. Konsumen internasional tidak setia pada brand karena mereka memiliki designer sendiri. Mereka hanya perlu ditawarkan ide yang sejalan dengan trend yang akan berlaku, lalu mereka akan melakukan beberapa perubahan sesuai dengan brand mereka sendiri. Lantaran jauhnya pengiriman, mereka juga sangat menghargai inovasi yang sifatnya mekanis, misalnya box yang bisa dilipat atau furniture yang knocked-down.

Waktu inovasi juga cukup sempit. Untuk produk lokal misalnya, yang menjadi patokan adalah Incraft. Enam bulan sebelumnya, biasanya pengusaha sudah siap dengan konsep. Itu berarti sepulang dari Inacraft tahun ini, mereka langsung berpikir untuk Inacraft tahun depan, berdasarkan pengalaman tahun ini. Padahal selama itu mereka juga harus tetap memikirkan produksi sehari-hari.

Untuk tujuan ekspor, patokan biasanya adalah Ambiente di Jerman. Kerumitan terjadi karena pengusaha harus bisa meramalkan apa yang akan menjadi trend setahun kemudian. Karena pameran tersebut tidak untuk direct-selling, melainkan sebagai display produk terbaru. Setelah pameran akan dilakukan sampling dan negosiasi yang bisa memakan waktu lama dan produksi yang bisa makan waktu berbulan-bulan. Klien akan memilih produk yang bisa dipasarkan tidak untuk tahun itu tapi setahun kemudian dan harus sejalan dengan trend masa depan tersebut.

Sebenarnya kelelahan dalam berinovasi itu tidak bermakna absolute. Misalnya saja produk terbaru kita ternyata sangat laris, maka inovasi menjadi sangat menyenangkan dan menantang. Bila produk yang kita bawa kurang mendapat sambutan, rasanya sungguh penat seluruh badan dan pikiran. Dan yang paling melelahkan jiwa raga adalah jika inovasi kita dijiplak begitu saja.

Originalitas memang tantangan tersendiri di kerajinan. Tidak ada dokumentasi terhadap karya kerajinan tanpa harus mendaftarkan ke HAKI seperti halnya tulisan. Dalam karya tulis, sekali dimuat di surat kabar atau terlebih lagi dijadikan buku, maka itu sudah semacam klaim resmi. Bahkan ada ungkapan di antara pengrajin Jogja bahwa dari jarak beberapa meter saja, mereka bisa menjiplak sama persis, dengan harga yang jauh lebih murah. Tentu saja lebih murah, karena tidak ada biaya “research and development”. Pengusaha-pengusaha baru di kerajinan biasanya akan cepat meroket karena mereka membawa sesuatu yang baru dan menyegarkan. Tapi setelah beberapa siklus, mereka akan mengalami kekelehan berinovasi juga.

Menjadi pengusaha di bidang kerajinan harus memiliki ketahanan yang cukup besar untuk bisa bertahan lama. Salah satu faktor yang menguatkan tekad tersebut, saya lihat dari teman-teman saya adalah kecintaan akan hasil karya kerajinan. Dalam hal inovasi, teman saya menasehati agar berpikir saja tentang apa yang ingin kita hasilkan, jangan melihat orang-orang yang mengikuti kita. Biarkan saja para pengikut itu fokus pada langkah kita, sementara cakrawala kita terbentang luas kedepan untuk mewujudkan ide-ide kita.

Saya sendiri belum cukup berhasil untuk memberi nasehat pada teman-teman lain. Saya juga sedang berusaha, ini hanya berbagi pengetahuan dan menularkan nasehat teman saya itu. Mari ber-inovasi!

No comments:

Post a Comment

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.