Ngebloglah Dengan Ndableg

Ketika itu saya berdiri didepan warung pak Masduki di Pekalongan, memegang kamera, dengan mata berkaca-kaca karena kesal. Masalahnya sepele saja, saya diolok-olok seperti wartawan gagal hanya karena saya suka sekali memotret sudut-sudut unik atau kejadian-kejadian menarik. Saya jarang sekali memotret diri sendiri karena kurang percaya diri dan hasil foto saya banyak dikomentari karena uniknya, bukan karena keindahannya. Saya buta fotografi. Semua foto saya dari kamera otomatis atau smartphone. Tapi kejadian sepele itu membuat kesal lantaran mereka tidak bisa mengerti kegemaran saya menuliskan perjalanan-perjalanan unik disertai foto yang unik juga.

ngeblog
Photo by Suzy Hazelwood from Pexels

Saya memang hobi blogging karena saya memang suka bercerita tapi tidak pandai merangkai atau mendramatisir kata untuk menjadikan buku. Saya juga tidak suka ngobrol lama-lama dengan orang lain. Maka ngeblog itu benar-benar jodoh saya. Dalam blogging, saya menomorsatukan kelegaan setelah menulis. Meski demikian, tidak semua yang saya tulis adalah curhat. Ada yang karena ingin berpendapat terhadap kejadian tertentu tapi tidak enak dengan yang bersangkutan, maka saya ulas secara anonim. Ada yang karena ingin memberikan sudut pandang yang berbeda dari suatu peristiwa. Ada juga tentang pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan saya selama ini. Meski saya tidak bekerja dibidang akademik ataupun sebagai motivator, tapi saya yakin ada beberapa yang saya alami, dengar atau lihat yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Nah apa hubungannya dengan kejadian di paragraf awal? Sesampainya dirumah, foto-foto saya tata dan cerita-cerita saya tulis lalu saya upload. Beberapa waktu kemudian, salah satu pengolok itu membuat website berbayar yang jauh lebih bagus dari blog saya karena dia memang pandai grafis. Tapi saya punya yang dia tidak punya, yaitu seabrek foto-foto menarik. Diapun harus permisi untuk menggunakan foto-foto saya. Tentusaja saya jual mahal heheheee….

Di lain waktu, seorang teman, sesama pedagang kerajinan yang belum pernah ngeblog, mengkritik website saya yang katanya tidak jelas. Saya kesal karena saya memang tidak mengejar visitor tapi semata-mata demi kesenangan. Saya juga tidak peduli dengan cemoohan seorang motivator, “Apa gunanya menulis artikel banyak-banyak jika tidak ada yang membaca?” Well, setidaknya ada satu orang yang pasti membaca, yaitu diri saya sendiri heheeee…. Eh, teman saya itu malah melanjutkan bahwa dia tidak punya waktu untuk ‘beginian’, mendingan jemput bola langsung ke customer. “Yang pasti-pasti saja.”

Namun meski website ini saya pisahkan dengan website bisnis saya, ternyata artikel-artikel saya juga berperan menaikkan omset online saya dengan adanya link-link antara keduanya. Suatu hari, teman saya itu menghubungi saya untuk menanyakan contact person pembuat website saya dan harga pembuatannya. Tentu saya berikan, meski dengan sedikit sebal dan tidak mau memberikan keterangan lebih dari alamat kontak.

Blogger itu macam-macam. Ada yang ngaku blogger tapi kerjanya kopdar terus, tidak pernah menulis lagi selama berbulan-bulan. Ada yang ngaku blogger tapi menulis hanya jika ada lomba saja. Ada pula blogger yang isi blognya curhat dan narsis total. Itu hak masing-masing untuk menyandang sebutan blogger. Toh sebutan blogger tidak didapat dari jalur pendidikan formal dan tidak ada sanksi jika diterjemahkan menurut kebutuhan masing-masing, termasuk untuk mencari penghasilan dari dalam maupun luar ngeblog.

Tapi jika masih suka ngeblog, ngebloglah dengan ndableg sesuai dengan hati nurani (jiah) dan minat anda. Karena ngeblog itu seperti pertemanan. Anda akan benci blog anda sendiri jika itu tidak mencerminkan diri anda, meski visitor banyak karena mengikuti SEO dan semua yang google friendly. Meski anda mencari penghasilan dari blog tersebut dan membanggakan jumlah dollar darinya, saya yakin jika tidak ada sedikitpun karakter diri anda disana, itu akan menjadi pekerjaan yang membosankan dan membuat lelah, sama seperti pekerjaan-pekerjaan lain yang dilakukan hanya karena butuh gaji.

Seperti pertemanan pada umumnya, kadang ngeblog mendatangkan keuntungan langsung maupun tidak langsung. Tapi yang jelas, ngeblog dengan ndableg mendatangkan kesenangan bagi diri sendiri.

Post a Comment

0 Comments