Semua Bergerak Untuk Sastra Indonesia: Puisi Di Jejaring Sosial

Menulis essai saja sudah ngeri buat saya, apalagi essai tentang sastra. Dalam fiksi, kita mengajak pembaca memasuki negeri imajinasi dengan kebebasan yang tanpa batas. Kita tidak protes dengan imajinasi pembaca yang terbatas. Kita juga tidak perlu menangkis imajinasi pembaca yang liar. Kita bahkan puas jika pembaca terbuai dengan imajinasi masing-masing yang dituntun oleh deskripsi kita. Tapi dalam essai, kita seperti seorang tertuduh yang bersiap mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita. Hahahaaa…. Lebai kalau ini sih.

buku semua bergerak untuk sastra

Tapi yang jelas, deg-degannya luar biasa, takut kalau yang kita tulis berdasarkan landasan yang kurang kuat, takut didebat dan kita tidak bisa menjawab, takut terlihat cetek pengetahuannya, takut mengundang kontroversi, takut menyinggung pihak lain, dan kecemasan lainnya. Apalagi saya tidak mengenal sastra secara ilmu. Saya hanya pernah membaca beberapa karya sastra, baik berupa prosa maupun puisi. Belum lagi para sastrawan terkenal kritis dan jarang mau berkompromi dalam berpendapat.

Ketika itu Bergerak Sastra menghimpun sukarelawan untuk menghimpun dana bagi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Salah satunya menerbitkan buku yang seluruh pemasukkannya disumbangkan. Untuk proyek buku ini sukarelawan boleh memilih menulis essai, cerpen atau puisi. Entah mengapa saya langsung terbayang untuk menulis essai. Meski itu sama saja nekad, tapi saya yakin sekali bahwa saya harus menulis essai.

Waktu itu timeline twitter saya dipenuhi oleh orang-orang puitis. Dari pagi sampai pagi lagi, mereka bersahut-sahutan ngetweet puisi. Lalu saya berpikir, begitu mudahnya sekarang orang berpuisi. Dari mulai 4l4y sampai kakek-kakek tak sungkan-sungkan berpuisi di jejaring sosial. Jaman saya muda dulu (“Sekarang sudah tua ya, mbak?” “Emboh.” Heheheee…), berpuisi itu dilakukan dengan malu-malu sangat karena berpuisi jaman dulu penuh dengan dramatisasi. Tapi sekarang, puisi itu seperti ungkapan rasa dengan cara yang lebih menyentuh. Tidak lagi sesuatu yang dramatis.

Karena ini sebuah essai, maka saya harus membaca beberapa pendapat sastrawan yang sarat ilmu dan beberapa pendapat sastrawan yang lebih popular sebagai penyeimbang. Terus terang, karena takut salah tadi, saya berhati-hati sekali berpendapat, berusaha berada ditengah untuk menjaga kenetralan. Ini khas seorang penulis essai yang kurang mengusai ilmunya. Apalagi kutipan-kutipan essai saya ditweet untuk bahan promosi buku tersebut. Jadi gak tenang, takut didebat, takut dibully, takut diajak tweet war dan sebagainya. Super lebai memang. Untunglah tidak terjadi dan malah ada yang me-retweet. Jika menguasai ilmunya, pasti tidak takut menyatakan pendapatnya sendiri, meskipun bertentangan dengan pendapat umum.

Kutipan dari essai saya ditaruh paling atas di halaman belakang buku. Saya menulis:

Karya terbaik bukan lagi ditentukan oleh sastrawan senior, komunitas atau pun dewan redaksi. Karya terbaik ditentukan oleh khalayak. Khalayak seperti saya banyak mengandalkan rasa dibanding makna atau tujuan sesungguhnya dari puisi tersebut. Kata-kata yang lebih lugas, tidak terlalu banyak diksi, menjadi lebih menyatu dengan hati khalayak.

Essai saya sendiri diletakkan di halaman pertama buku tersebut, diikuti oleh enam essai lainnya, sepuluh cerpen dan dua puluh dua puisi.

Dalam pembukaan bab Essai, Seno Gumira Ajidarma menulis:

Perangkat sastra seperti kertas dan disket bisa terpendam, dilupakan dan dimusnahkan, tapi kesusastraan akan tetap hadir sebagai kebenaran dari pojok bisu mana pun, karena kehidupan sastra berada di dalam pikiran. (Kehidupan Sastra dalam Pikiran).

Beda ya, pendapat awam dengan pendapat sastrawan asli heheheee….. Buku ini masih bisa dibeli dengan sistem printed on demand di www.nulisbuku.com.

Post a Comment

0 Comments