Thursday, June 13, 2013

Menghargai Privacy Anak di Internet

Petrosains 4
Siang tadi ketika menjalankan tugas sebagai admin KEB dan terlibat diskusi tentang diary, ada pengalaman menarik dari seorang ibu. Dia dulu menjadikan blog sebagai semacam diary yang menceritakan tentang perkembangan anaknya. Kegiatan itu berhenti ketika si anak mulai besar dan keberatan. Aaah... yaaa... sudahkah kita memperhatikan hak anak di internet? Kemudian saya mengembangkannya dalam diskusi khusus tentang hak anak di internet di group KEB. Ternyata emak-emak sudah memiliki pandangan yang sangat maju tentang hal ini, yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Karena itu, saya merasa wajib untuk membaginya disini untuk para orang tua lainnya.

Dunia anak sangat menarik untuk dijadikan bahan tulisan karena tak pernah habis dan selalu memunculkan pertanyaan baru setiap pertanyaan sebelumnya terjawab. Eksplorasi tanpa akhir oleh anak-anak menjadi sumber inspirasi bagi para orangtua untuk mendokumentasikannya. Tak hanya dalam bentuk tulisan, foto-foto mereka dalam berbagai pose baik ketika sedang ceria, marah maupun ngambek, tetap lucu untuk ditampilkan. Tapi, apa ya yang ada dalam pikiran anak-anak ketika melihat apapun tentang diri mereka bisa diakses oleh orang sedunia? Untuk anak-anak yang lebih besar bisa kita tanya, tapi bagaimana dengan yang masih bayi? Nah, berikut beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan berdasarkan diskusi siang tadi:

NIAT ORANGTUA

Kebanyakan niat orangtua posting tentang anak mereka adalah untuk merekam perkembangan mereka. Bagi yang anak-anaknya masih kecil, merekam celoteh lucu sangatlah berharga karena momen seperti itu tak akan terulang lagi sejalan dengan pertumbuhan si anak. Rekaman itu menjadi dokumentasi manis keluarga yang tidak hanaya bisa dinikmati oleh keluarga inti saja, melainkan juga oleh kakek, nenek dan saudara-saudara yang jauh, seperti yang dilakukan mak Nieke.

Yang sedikit beda adalah mak Myra, yang juga menampilkan masalah yang dihadapi oleh anak-anaknya, tetapi menunggu masalah tersebut mendapatkan solusi. Setelah mendapatkan solusi, barulah posting dilakukan, sehingga blognya tidak hanya menampilkan cerita tapi juga memberi pencerahan bagi pembacanya.

IJIN PADA ANAK

Ijin pada anak secara langsung memang tidak dilakukan, tapi anak-anak (yang lebih besar) tahu bahwa mereka ada dalam postingan blog orangtuanya. Penghargaan dari mereka sudah menunjukkan apakah mereka setuju atau tidak menjadi tema postingan blog orangtua mereka. Ekspresi anak-anak setelah membaca blog orangtua sudah menggambarkan setuju atau tidaknya mereka dengan postingan tersebut. Seperti anak-anak mak Donna yang tak ragu memberikan apresiasi jika mereka terharu dengan tulisan ibunya tentang mereka.

Untuk anak-anak yang sudah remaja memang harus lebih berhati-hati karena remaja memegang erat privacy mereka. Mereka sudah memiliki dunia sendiri yang tak boleh sembarangan kita masuki tanpa ijin mereka. Ini berkaitan dengan hubungan mereka dengan teman-teman mereka. Kehati-hatian ini yang dijaga benar oleh mak Sary dan mak Alaika.

Agak berbeda dengan anak-anak Bunda Lahfy yang malah memberi tahu teman-temannya sehingga teman-teman anaknya juga menjadi pengunjung blognya. Bahkan ketika blog itu akhirnya menjadi buku, anak-anak Bunda Lahfy dengan bangga berpromosi ke teman-temannya. Begitu pula dengan mak Nchie, yang mengajak putrinya untuk mengakrabi blognya, sampai-sampai mengenal teman-teman blogger ibunya.

Untuk anak yang masih bayi tentu saja tidak bisa ditanyai atau dilihat responnya. Tapi orangtua bisa menyeleksi apa yang mungkin dikehendaki si anak dari reaksi si anak. Mak Isnuansa mencontohkan ada anak kembar tiga, dimana salah satunya selalu membelakangi kamera jika difoto. Ini adalah salah satu bentuk keberatan yang harus dipahami orang tuanya. Orang tua harus menempatkan diri pada posisi si anak dan mengikuti perkembangan keinginan si anak. Bisa saja di kemudian hari si anak tidak lagi keberatan, atau sebaliknya seperti cerita diatas, yang tadinya tidak apa-apa kemudian malah protes.

KONTEN

Kebanyakan orangtua menulis tentang keseharian anak-anak. Tiap anak memiliki keunikan. Apa yang kita anggap keseharian itu bukanlah sesuatu yang biasa dan membosankan jika menyangkut anak-anak. Selalu ada yang beda dan tak sama sejalan dengan tahap eksplorasi mereka terhadap kehidupan, seperti yang dilakukan oleh mak Novia dan mak Shinta. Meski demikian, banyak yang mengenakan batasan-batasan yang ketat terhadap konten mereka, misalnya hanya memuat yang sifatnya umum dan tidak terlalu terbuka karena tidak mempercayai keamanan dunia maya. Mak Fenny mengatakan bahwa tak ada salahnya orangtua mengajak anak menulis postingan.

Yang silakukan mak Alaika unik karena seringkali konten postingan merupakan pesanan buah hati yang beranjak dewasa dan terpisah jarak. Jika sang putri mengalami kesulitan memahami pelajarannya, dia akan meminta sang ibu mencarikan informasi dan menulisnya di blog. Gaya bahasa sang ibu tentulah lebih mudah dipahami si anak daripada buku. Hasil postingan tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan anak dengan ibunya, sekaligus bisa bermanfaat bagi orang lain yang mencari topik yang sama.

KEAMANAN

Orang bilang, "Namanya juga dunia maya, apapun bisa terjadi, makanya hati-hati." Kalimat itu diperhatikan benar oleh emak-emak KEB. Mak Mayya misalnya, menggunakan nama lain bagi anak dan suaminya di blog. Sedangkan yang lain menyortir foto-foto yang dirasa tidak pantas untuk ditampilkan. Jika si anak sekarang berjilbab, maka foto-foto masa kecil yang belum berjilbab dihapus.

Saya sendiri merasa para orangtua Indonesia masih banyak yang belum berhati-hati. Saking lucunya, orangtua Indonesia sering menampilkan foto-foto anak-anaknya hanya mengenakan baju dalam, bahkan ada pula yang tanpa baju. Saya memang belum pernah melihatnya di blog, terutama blog emak2 KEB, tapi saya sering melihatnya dari status facebook teman-teman saya yang lain. Di luar negeri, terutama di negara-negara maju, hal ini sudah menjadi keprihatinan karena banyak foto anak-anak yang demikian, dicopas dan di posting di situs-situs pedhopilia.

Ada masukan yang penting untuk diperhatikan dari mak Riana, yaitu bahwa orangtua harus berhati-hati meng-upload foto yang berisi informasi penting di kecil ke internet, misalnya yang dengan latar belakang papan nama sekolah dan letak persis rumah. Ini untuk melindungi anak dari bahaya penculikan. Penculikan anak saat ini bisa terjadi pada siapapun juga, tidak harus anak dari keluarga konglomerat, tapi terutama pada anak-anak yang orangtuanya lengah.

KESIMPULAN

Meskipun itu adalah anak kita, tapi anak bukanlah milik kita sepenuhnya, mereka tetap memiliki hak untuk keberatan apabila kehidupan mereka diunggah orangtuanya di internet. Jika kita harus menghargai privacy kehidupan pribadi orang lain, maka kita harus melakukannya lebih baik lagi pada anak-anak kita sendiri. Karena selain orangtua harus menghargai privacy anak-anak mereka sama seperti penghargaan pada orang lain pada umumnya, orangtua juga memiliki kewajiban melindungi keamanan anak-anaknya di dunia maya. :)

10 comments:

  1. Sepakat banget dengan kesimpulannya tuh, Mak. Anak juga manusia, walau mungkin umur mereka masih sangat-sangat minim, tapi pada saatnya, beranjaknya umur, akan menuntun mereka untuk mengerti akan privacynya, yang harus dilindungi, diapresiasi, terutama oleh keluarga terdekatnya, sebagai pengaman dan pelindung utama diri si anak. Mak Lusy emang kereeen! Diskusi dan sharing berbuah postingan apik. Tak salah deh menjadi Emak Of The Month, juga as KEB admin. :)

    ReplyDelete
  2. betul, Mak. Sebaiknya postingan ttg anak juga selektif utk menjaga privacy mereka :)

    ReplyDelete
  3. Wuih tampilan blognya keren, lebih rapi :)
    Btw, kalau anak2ku sih pada narsis, malah senang ada tulisan tentang mereka, tapi akunya yang sekarang males nulis tentang anak-anak khawatir emaknya kepedeaan, kesombongan :))

    ReplyDelete
  4. Betul mak, anak pun butuh privacy. Ada hal2 yg bisa ditulis di blog dan ada yg tidak, harus dipilah2 dulu baru share :)

    ReplyDelete
  5. Iya Mak.. keluargaku suka "nagih" apdetan soal anak.. kalo cuma cerita di tlp gak pernah cukup kata mereka, soalnya ga bisa liat video dan photo2nya. Jadinya jaga2 aja sama apa yg ditulis dan ditampilin dan blognya ga dikoar2in. Pengen deh dibuat lebih private lagi, suatu hari nanti semoga bisa nemuin solusinya yang jg ga ribet untuk para kakek nenek. Btw, setuju sama mba InJul, templet yg ini lebih keren Mak! :)

    ReplyDelete
  6. biasanya foto Pascal mbak yang harus minta ijin dulu karena ada beberapa foto yang dia gak mau dipublish :)

    ReplyDelete
  7. *celingak-celinguk lihat suasana baru blog Mak Lusi*
    Wah, keren mak postingannya :) Hihi, asyik, ada sayah :p
    Betul, Mak. Harus lebih menghargai privasi anak. Saya juga minta ijin dulu sebelum publish tulisan di blog. Kalo dia ga suka, ya ga jadi dipublish :)

    ReplyDelete
  8. Semua postingan tentang anakku, selalu dibaca olehnya dan tentu saja seijinnya.
    Untuk identitas diri aku selama ini sudah sangat hati2 untuk tidak membukanya di dunia maya. Dulu, ada seorang blogger yang ingin memuata profil anakku sebagai "blogger cilik" namun dengan halus aku tolak karena dia meminta data yang detil sampai data ttg sekolah anakku juga.
    Untuk foto, sejauh ini aku berusaha untuk memilah foto yang pantas untuk diupload.
    Anyway postinganku tentang anakku adalah salah satu upayaku untuk mengenang berbagai kejadian yang menurutku menarik utk aku kenang... dan juga untuk dia kenang saat dia dewasa kelak, karena mungkin kejadian2 itu akan terlupakan olehnya seiring berjalannya waktu.

    ReplyDelete
  9. Betul sekali. Saya setuju bahwa privacy anak harus dijaga, untuk menghindari hal-hal negatif. Blogging bukan untuk media narsis para emak (walaupun saya juga narsis-hati hati banget). Lebih bagus memang kalau blogging untuk sharing dan memberikan banyak manfaat pada pembaca. Yuk, blogging yang sehat.

    ReplyDelete
  10. Saya sama seperti Mbak Nieke, semua tulisan di blog tentang anak tujuannya untuk berbagi cerita dengan keluarga di seberang pulau, terutama dengan keluarga besar. Tapi juga untuk merekam tumbuh kembang anak, sekaligus jadi referensi kalau punya anak kedua, hehehe. Biar ingat juga. Menulis untuk mengingat, sebelum lupa, maklum saya makhluk visual :)
    Mungkin nanti seiring semakin besar si anak, pasti artikelnya akan lebih bervariasi ya, nggak melulu soal anak. Maklum, ibu baru, jadi lagi seneng2nya cerita soal anak. Kadang inspirasi post itu lebih banyak dari anak daripada hal-hal lain, hihihi. Terima kasih untuk artikelnya, Mak Lusi!

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.