Tuesday, June 18, 2013

Wiwik Mahdayani: The Green Traveler


Animo masyarakat untuk berwisata akhir-akhir meningkat tajam baik bepergian didalam negeri maupun keluar negeri. Berbagai cara dilakukan orang untuk berwisata atau berpetualang, mulai dari booking resort eksklusif, hunting tiket pesawat murah atau backpacker-an. Salah satu alternatif berwisata adalah ekowisata, dimana sambil berwisata kita juga mendapatkan hikmah dari budaya setempat dan  memupuk kecintaan kita pada alam, anugrah terindah dan terkomplit Tuhan pada manusia.
Karena itu saya ingin menampilkan sosok yang telah lama saya kenal melalui twitternya @_GreenTraveler. Yuk kita simak.

Nama: Wiwik Mahdayani
Profesi: Consultant on sustainable tourism of http://desmacenter.com
Buku:

  • The Green Traveler Indonesia

  • The Natural Guide to Bali-Lombok-Sumbawa-Sumba-Flores series
Blog: www.mytravelnotes.web.id

Wawancara online:
Lusi: Apakabar mbak? Sehat?

Wiwik: Baik, Alhamdulillah. Semoga Mbak Lusi juga sehat.

Lusi: Sustainable tourism itu bagaimana dalam bahasa yang mudah dipahami awam?

Wiwik: Disebut pariwisata berkelanjutan, kegiatan pariwisata yang memperhatikan keseimbangan lingkungan, budaya, dan ekonomi agar kegiatan pariwisata terus berlanjut.

Pariwisata berkelanjutan diterapkan pada semua jenis destinasi dan semua aktivitas wisata, agar pengelolaan dan pengembangan destinasi, dan wisatawan yang berkunjung lebih bertanggung jawab. Konsep ini lebih ditujukan untuk pengelola destinasi seperti pemerintah, pihak swasta, atau kelompok masyarakat pengelola kegiatan wisata, untuk mengendalikan pengelolaan destinasi wisata mereka.

Banyak destinasi wisata yang rusak alam dan budayanya, sehingga menjadi jenuh. Akhirnya wisatawan bosan/kapok, dan mencari tempat baru. Destinasi seperti ini tidak berkelanjutan karena selain tidak lagi memberikan keuntungan secara ekonomi, juga butuh biaya untuk renovasi, baik kondisi fisik yang menurun dan sosial, atau ubah strategi. Konsep pariwisata berkelanjutan untuk mencegah hal ini terjadi jauh sebelumnya.

Lusi: Jika saya datang ke suatu object wisata alam? Apa yang bisa saya dapatkan?

Wiwik: Tergantung motivasi dan tipe wisata alamnya. Dampak berwisata salah satunya adalah terhibur.

Lusi: Jika saya datang ke suatu object wisata alam, apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan?

Wiwik: Membaca kondisi lingkungan dan cuaca tempat yang akan dikunjungi, kondisi tubuh sehat sehingga tidak menyulitkan orang lain. Objek wisata alam banyak tipenya. Naik gunung, menjelajah hutan, atau menyelam, tentu berbeda dengan bersepeda di kebun raya atau piknik di taman kota. Mengetahui kondisi alam yang akan didatangi itu penting, terutama obyek wisata alam yang masih alami dan jauh dari fasilitas.

Lusi: Persiapan apa yang harus dilakukan jika berwisata alam?

Wiwik:  Persiapan wisatawan independen yang pergi sendiri, berpasangan, atau kelompok teman berbeda dengan wisatawan keluarga. Terutama dengan anak kecil. Tidak semua orang tua merasa aman dan nyaman membawa anak kecil. Dan tidak semua destinasi cocok untuk keluarga. Jika mengunjungi taman kota, atau kebun raya, tentu tidak butuh persiapan fisik dan lainnya. Tapi jika akan mendaki gunung, menjelajah hutan, snorkeling, kano atau kayak di laut, penting untuk membaca/mengetahui kondisi tempat dan cuaca saat akan berkunjung. Kondisi fit, logistik cukup, dan siap mental.

Lusi: Banyak yang berwisata alam tapi lebih asyik mengejar pemandangan bagus untuk berfoto daripada mengenal alam disekitarnya. Komentar mbak?

Wiwik: Setiap wisatawan punya motivasi dan minat berbeda. Mengapreasi alam/tempat yang dikunjungi bukan hal yang harus dipaksakan pada tiap orang, karena tidak semua orang ingin mengenal tempat yang didatangi. Pengalaman yang diinginkan juga berbeda-beda. Semua pilihan berpulang pada masing-masing wisatawan.

Lusi: Green traveler itu apa mbak?

Wiwik: istilah populer untuk menyebut wisatawan yang berwisata secara bertanggung jawab terhadap lingkungan dan budaya pada destinasi wisata yang dikunjunginya, tanpa kehilangan tujuannya berlibur.

Sejauh apa tanggung jawabnya terhadap tempat yang dikunjungi dan aktivitas wisata yang dilakukannya, pilihan ada pada masing-masing wisatawan.

Lusi: Orang Indonesia banyak yang lebih suka pergi ke tempat-tempat wisata yang populer dengan fasilitas hiburan lengkap daripada ke tempat wisata yang masih alamiah seperti gunung atau hutan. Komentar mbak?

Wiwik: Setiap wisatawan punya motivasi dan minat beda. Salah satu tujuan berwisata memang mencari hiburan dan melepas kejenuhan. Tidak semua orang mendapat kesenangan dan lepas jenuh dengan naik gunung atau menjelajah hutan.

Wisatawan tentu memiliki alasan beragam, kebanyakan karena merasa tak kuat mengeluarkan energi/tenaga lebih untuk berwisata ke tempat yang alami. Sebagian lagi karena tidak tertarik karena sudah biasa melihat alam dan pegunungan. Ada juga karena waktu yang singkat, tidak ada pilihan ke destinasi wisata alam yang dekat sehingga akhirnya sarana hiburan di kota adalah pilihan paling cepat, aman, dan disukai.

Lusi: Apakah ada perbedaan signifikan antara wisata alam di dalam dan di luar negeri?

Wiwik: Perbedaaan dalam hal apa ya? luar negerinya juga di setiap negara berbeda-beda. Untuk Asia Tenggara, tipenya hampir sama. Kalau dibandingkan dengan Indonesia yang lebih luas, negara-negara lain di Asia Tenggara lebih mudah dalam hal akses karena jarak yang relatif lebih pendek daripada di Indonesia. Infrastruktur dan sarana yang dimiliki negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura sudah terintegrasi dengan baik. Vietnam, Laos, dan Kamboja juga mulai mengintegrasikan infrastruktur dengan strategi kepariwisataan mereka. Untuk negara lain di Asia, atau Australia, dan Eropa, kondisi wisata alamnya juga punya ciri khas masing-masing. Dari segi akses, banyak yang sulit dicapai karena jauh dari kota besar terdekat dan ketersediaan transportasi umum.

Lusi: Sekarang kita ke woman traveler. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan perempuan jika berwisata alam, terutama dari segi keamanan dan sanitasi?

Wiwik: Banyak kasus yang terjadi karena ketidaktahuan dan tidak waspada terhadap kondisi sekitar. Ini bisa terjadi di mana saja. Persiapan yang cukup, punya informasi awal, selalu waspada terhadap lingkungan sekitar, dan yang pasti, selalu kelola sampah sendiri.

Lusi: Untuk mendukung penyebaran informasi tentang sustainable tourism, apa yang bisa dilakukan wisatawan?

Wiwik: Untuk wisatawan yang ingin bertanggung jawab, yang penting bukan sekedar slogan, lebih penting lagi ikut melakukan, walau dalam bentuk paling sederhana sekalipun semisal menjaga sampahnya. Inti dari pariwisata berkelanjutan adalah tanggung jawab dan rasa hormat terhadap destinasi yang dikunjunginya.

Sebagai contoh, berwisata alam ke pantai Kuta, Bali tentu berbeda dengan berwisata alam di pantai Pink, Taman Nasional Komodo. Jangan berharap hal-hal yang ditemukan di pantai Kuta bisa ditemukan di pantai Pink karena pantai pink terletak dalam kawasan taman nasional yang punya aturan khusus untuk wisatawannya.

Pengelola destinasi wisata (pemerintah, swasta) harusnya juga turut membantu penyebaran informasi, dan mengendalikan/mengatur kegiatan kepariwisataan di daerah mereka, dan yang pasti, mendapat dukungan dari wisatawan yang kemudian membantu penyebaran informasinya.

Lusi: Pendidikan dan pengalaman mbak sangat mengesankan di dunia ekowisata. Sudah puaskah?

Wiwik: Terima kasih mbak, kalau dianggap begitu. Saya masih terus belajar. Masih banyak hal yang belum saya lakukan.

Lusi: Terima kasih, mbak sudah meluangkan waktu mengisi wawancara online ini. Semoga informasi yang mbak berikan bermanfaat bagi para peminat wisata alam maupun mereka yang masih penasaran tapi belum melakukannya. Sukses selalu untuk program-program mbak. J

Wiwik: Sama-sama mbak. Terima kasih dan sukses selalu untuk usaha kreatifnya.

11 comments:

  1. wisata alam mana yang cocok kalau jalan bareng anak balita mbak?

    ReplyDelete
  2. wah sangat inspiratif nih :)

    salam kenal mbak wiwik

    ReplyDelete
  3. hrsnya green traveler ini udah jd kesadaran byk pihak. silakan berfoto2, tp jgn s merusak alam itu sendiri. Sy juga lagi ngobrolin ttg green traveler ini sm suami, berakitan dg rencana jalan2 kami dlm wkt dekat. Insya Allah :)

    ReplyDelete
  4. Wah, keren nih..senang juga ada yang peduli dengan kondisi tempat wisata di negeri ini.

    ReplyDelete
  5. Saya sukaa :), seringnya ke wisata alam tapi yang ada fasilitasnya.

    ReplyDelete
  6. Dunia perlu nih orang2 kayk gini :D

    ReplyDelete
  7. wah, bagus nih, buat mengenalkan anak untuk lebih mencintai lingkungan. mumpung lagi libur :)

    ReplyDelete
  8. Akuh... akuh.. pengin mulai backpackeran, berwisata sekaligus mendapatkan sesuatu di suatu tempat, tapi belum tau mesti ngikut kemana? minimal yang udah kenal gitu ya. Jadi oengin kenal sama mba Wiwik nih. Tfs ya, mak Lus

    ReplyDelete
  9. wah, informasi yang lengkap sekali dari Mbak Wiwik, jadi tambah pengetahuan deh tentang green traveler, dan juga apa yang boleh dan tak boleh dilakukan saat berwisata. Ternyata tergantung pada tujuan dan jenis wisatanya juga ya, Mbak. Tak bisa memukulratakannya, karena medannya sendiri juga berbeda.

    Salam kenal, Mbak Wiwik, trims untuk informasinya. :)
    Trims juga untuk Mak Lusi yang telah menggelar informasi ini. Sukses selalu, Mak Lusi!

    ReplyDelete
  10. Sustainable Tourism itu seringnya hanya dijadikan bahan diskusi anak2 sekolah disini nih. Kalau melihat perkembangan Bali Selatan sekarang, rasanya ingin nangis, kangen masa-masa dulu belum terlalu banyak eksploitasi. Salam kenal mba Wiwik. Thank's Bu Lusi untuk sharing. Glad to know that actually there are a lot of people care about green tourism.

    ReplyDelete
  11. Mbak Lusi, Maaf saya baru lihat postingan ini setelah tadi ngobrol. Terima kasih mbak, salam kenal untuk semua dan Mama obito, Mbak Alaika, Mbak Mira Sahid, dan mbak ajengk.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.