Friday, May 09, 2014

Aset Komunitas

Sebuah usaha sudah pasti memiliki aset, baik berupa barang bergerak, tak bergerak dan sumber daya manusia. Semua itu bisa dihitung, diperhitungkan dan dijadikan modal untuk menggerakkan usaha. Lalu, aset seperti apakah yang bisa digunakan untuk menggerakkan sebuah komunitas?


Seharian ini saya hanya sempat memperhatikan 3 emak dari Kumpulan Emak Blogger (KEB). Bukannya yang lain tidak penting, tapi karena akhir-akhir ini banyak waktu tersita oleh kegiatan pribadi. 3 emak itu adalah mak Ida Laila, mak Indah Nuria dan mak Ferdias. Pagi-pagi saya menyempatkan diri untuk posting artikel mak Ida tentang pendidikan seksual yang sebenarnya sudah dikirim sejak beberapa hari lalu. Mak Ida ini bukanlah orang selo karena berputra putri 6 (ENAM!), seorang apoteker dan konsultan rumah tangga. Tapi beliau rajin ngeblog dan tak segan pula mengirimkannya untuk website KEB. Mak Indah mengharu biru KEB sepanjang hari karena keberangkatan beliau ke pos baru di New York sebagai diplomat. Beliau ini sangat ringan langkah, selalu datang ke acara KEB dimanapun asal bisa menyisip diantara jadwal kantor dan hobinya traveling. Larut malam, saya masih sempat membaca blog mak Ferdias tentang perjalanannya ke daerah suku Tibetan.


Beliau bertiga itulah aset KEB. Ya, aset sebuah komunitas itu adalah anggotanya. Merekalah yang menggerakkan dinamika komunitas. Seberapa jauh atau seberapa tinggi dinamika sebuah komunitas, tergantung dari bagaimana aset tersebut dikelola dan sebesar apa antusiasmenya. Dan mengelola sekumpulan orang yang memiliki minat sama itu tidak serta merta mudah karena yang sama hanyalah satu minat, selebihnya tetap manusia biasa yang memiliki banyak keinginan dan idealisme.


Tentu saja ada komunitas yang sampai memiliki bangunan, misalnya komunitas seni yang mendapat hibah tempat latihan. Tapi banyak komunitas yang tidak memiliki hal lain kecuali anggota. Berbeda dengan usaha, dimana aset dikelola untuk mendatangkan keuntungan finansial, aset komunitas dikelola untuk menggerakkan kegiatan yang telah ditetapkan atau disepakati. Bukannya komunitas tidak mungkin mendapatkan keuntungan finansial, tapi sifatnya lebih ke kebersamaan atau digunakan untuk mengembangkan kegiatan yang ada. Lagipula, bagi yang lebih punya banyak kegiataan pengelolaan kekayaan sebuah kelompok untuk tujuan non bisnis dianjurkan membentuk yayasan saja.


Sebuah komunitas akan mendapat keuntungan besar jika memiliki anggota yang antusias. Potensi besar tapi tanpa antusiasme tak akan menggerakkan apa-apa. Pengalaman atau kualifikasi anggota yang jauh lebih tinggi dari pengurus jangan malah membuat minder. Pengurus memiliki tugas memfasilitasi semua anggota agar mendapatkan manfaat satu dengan yang lainnya. Lebih jauh lagi, pengurus juga bertugas mengkoordinir anggota agar bermanfaat bagi masyarakat diluar komunitas. Jadi, pengurus tak harus lebih hebat dari anggota. Namun ia wajib baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, heheheee maaf bercanda sedikit. Keberadaan pengurus lebih untuk menempatkan aset-aset tersebut ditempat yang tepat.


Aset sebaiknya tidak dilihat dari kedekatan psikologis atau sosial, latar belakang yang tidak ada hubungannya dengan fokus komunitas, kemampuan bergaul dan sebagainya. Karena tiap anggota adalah aset, maka mereka semua memiliki sesuatu yang bisa menggerakkan komunitas, hanya tempatnya yang berbeda-beda. Misalnya di KEB sendiri ada emak-emak yang informatif sehingga teman-teman bisa langsung mendapat manfaat dari tips atau pengalaman yang dibaginya. Sebaliknya banyak pula emak yang diam-diam memiliki banyak pengetahuan tapi harus dibantu untuk membawanya ke permukaan karena sayang jika didiamkan.


Bagaimana jika anggotanya ribuan? Tentu saja bukan pekerjaan mudah. Tak mungkin mendatangi anggota satu persatu untuk mengenali potensinya. Yang akan tertangkap adalah mereka yang antusias, dan yang antusias ini memerlukan (kadang malah menuntut) perhatian ekstra pengurus. Namun, perlu sesekali pengurus keluar dari hiruk pikuk, melihat bagian-bagian yang sepi. Kadang penemuan yang didapatkan cukup mengejutkan, kadang juga tidak menemukan apa-apa.




Pada akhirnya, karena aset komunitas adalah anggota, sedangkan komunitas itu bukanlah organisasi berbadan hukum, yang diharapkan dari pengelolaan asetnya adalah manfaat dan kenyamanan bersama. Cheers :D



14 comments:

  1. Kedekatan sosial atau latar belakang yang tidak ada hubungannya dengan fokus komunitas ini, bisa jadi bumerang, lho.. Terkadang sebagian anggota komunitas (secara tidak sadar) menunjukkannya berlebihan, sehingga anggota lainnya merasa 'tersisih' atau tidak nyaman. Pernah sih, ngalamin yg beginian ini.

    ReplyDelete
  2. Tak ada komunitas tanpa keberadaan orang-orang yang menggerakkan didalamnya. jadi teringat konsep imagined communities-nya Anderson, lewat media, kita bisa menciptakan komunitas imajinasi meskipun kita tidak pernah bertemu secara langsung, tapi kita memiliki ketertarikan yang hampir mirip dan bagian dari bangsa yang sama.
    Selamat mengelola aset komunitas.. artikel yang bagus mak ^_^b

    ReplyDelete
  3. Saya belajar banyak tentang 'jalan' sebuah komunitas dari Mak Lusi. makasih ya Mak :*
    kapan ke magelang, sekalian ke Wonosobo hehehe

    ReplyDelete
  4. kalau saya, dibeberapa komunitas yang diikuti lebih banyak jadi pengamat saja. dan dari hasil pengamatan saya, tetep ada sih blok ini blok itu dalam sebuah komunitas, dan susah nembusnya bagi orang baru.

    ReplyDelete
  5. saya termasuk aset KEB dong,asssiikkk hehehe...banyak ilmu pas masuk komunitas

    ReplyDelete
  6. cheess...juga! berarti anggota "mahal" ya mak Lusi <3

    ReplyDelete
  7. Berarti aku mahal yo...karena anggota *langsung berubah jadi guci cantik
    hihi
    yanh penting tempate nyaman..sendirinya biasanya anggotanya mau g mau antusias mb

    ReplyDelete
  8. Semoga saja, beberapa emak di KEB yang antusias tidak menyurutkan semangat emak lainnya untuk sama-sama menebat manfaat dan inspirasi. Nice sharing mak

    ReplyDelete
  9. Benar banget. Menurut saya, ini aset yang tak bisa dibeli malah ya, Mba. :)

    ReplyDelete
  10. salut dengan mereka, salut juga buat Mbak Lusy

    ReplyDelete
  11. Saya ini aset abal2 mak Lusi hihihiii... suka sekali deh baca postingan ini :)

    ReplyDelete
  12. wah aku salah satunya yang sempat tenggelam kesibukan jd ngga bisa beredar di KEB :p

    ReplyDelete
  13. aaa mb lus, tulisan ini ngena banget:(

    ReplyDelete
  14. biasanya yang tersisish karena adanya blok2an itu pada akhirnya mencari wadah aktualisasi yang baru, mak. pengalaman gitu

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.